Bayangkan Bu Ratna, guru di Magelang berusia 32 tahun. Suatu pagi ia bangun dengan mata kiri yang seperti tertutup kabut. Warna merah pada tas sekolahnya tampak pudar, dan setiap kali bola matanya digerakkan ke samping, ada nyeri tumpul di balik mata. Tidak ada mata merah, tidak ada kotoran mata. Ia mengira hanya kurang tidur. Dua hari kemudian, penglihatannya justru makin buruk.

Gambaran seperti ini khas untuk neuritis optik, yaitu peradangan pada saraf optik, kabel yang menghantarkan sinyal penglihatan dari mata ke otak. Kondisi ini paling sering menyerang dewasa muda usia 20–40 tahun, lebih banyak pada perempuan, dan biasanya hanya mengenai satu mata.

Apa yang sebenarnya terjadi pada saraf optik?

Serabut saraf optik dibungkus selubung lemak bernama mielin, seperti isolasi pada kabel listrik. Pada neuritis optik, sistem kekebalan tubuh keliru menyerang selubung ini sehingga hantaran sinyal melambat atau terputus. Akibatnya, otak menerima gambar yang buram, pudar, atau berlubang di bagian tengah.

Sebagian besar kasus bersifat demielinasi (autoimun), dan sering menjadi gejala pertama penyakit yang lebih luas di sistem saraf pusat. Penyebab lain yang lebih jarang meliputi infeksi (sifilis, tuberkulosis, penyakit Lyme, infeksi virus), sarkoidosis, lupus, serta efek samping beberapa obat.

Ilustrasi penampang mata dengan saraf optik yang meradang, menggambarkan neuritis optik
Ilustrasi peradangan saraf optik pada neuritis optik.

Gejala yang perlu dikenali

Gejala klasik berkembang dalam beberapa jam hingga beberapa hari, mencapai puncak sekitar satu hingga dua minggu, lalu membaik perlahan dalam berminggu-minggu. Yang paling khas adalah penglihatan buram pada satu mata, nyeri di dalam atau di belakang bola mata yang memburuk saat mata bergerak, warna tampak pudar (desaturasi warna, terutama merah), serta bintik gelap atau area buta di tengah lapang pandang. Sebagian orang juga melihat kilatan cahaya saat menggerakkan mata. Penglihatan dapat memburuk sementara ketika tubuh panas, misalnya setelah olahraga atau mandi air hangat, yang dikenal sebagai fenomena Uhthoff.

Dokter mata biasanya menemukan relative afferent pupillary defect (respons pupil yang melemah pada mata yang sakit). Pada kebanyakan kasus, bagian belakang mata tampak normal karena peradangan terjadi di belakang bola mata, sehingga ada ungkapan klasik: pasien tidak melihat apa-apa, dan dokter pun tidak melihat apa-apa.

Bagaimana dokter menegakkan diagnosis?

Diagnosis utama bersifat klinis, ditunjang pemeriksaan tajam penglihatan, uji penglihatan warna, lapang pandang, dan pemeriksaan pupil. Magnetic resonance imaging (MRI) otak dan orbita dengan kontras sangat penting untuk melihat saraf optik yang meradang sekaligus mencari lesi demielinasi di otak yang menandai risiko multipel sklerosis. Pemeriksaan darah dapat mencakup antibodi anti-aquaporin-4 (AQP4) dan anti-MOG, serta skrining infeksi dan penyakit autoimun sesuai gambaran klinis. Tomografi koherensi optik (OCT) membantu menilai penipisan serabut saraf retina setelah serangan.

JenisCiri khasPrognosis penglihatan
Terkait multipel sklerosisSatu mata, nyeri saat gerak, lesi di otak pada MRIUmumnya pulih baik, tetapi risiko serangan baru
NMOSD (anti-AQP4)Dapat dua mata, serangan berat, sering menyertai mielitisRisiko kerusakan menetap lebih besar; perlu terapi khusus
MOGAD (anti-MOG)Sering dua mata, pembengkakan papil, nyeri jelasRespons baik pada steroid, tetapi dapat kambuh
Infeksi atau penyebab lainDisertai demam, ruam, atau penyakit sistemikBergantung pada penyebab

Tata laksana: steroid dosis tinggi mempercepat, bukan mengubah hasil akhir

Penelitian klasik Optic Neuritis Treatment Trial menunjukkan bahwa metilprednisolon intravena dosis tinggi mempercepat pemulihan penglihatan, tetapi tidak banyak mengubah ketajaman penglihatan akhir setelah beberapa bulan. Penglihatan sebagian besar pasien tetap pulih baik secara spontan (Beck dkk., 1992). Pada praktik klinis, steroid biasanya diberikan pada serangan yang cukup berat atau mengganggu aktivitas, sementara steroid oral dosis rendah tunggal tidak dianjurkan karena pernah dikaitkan dengan kekambuhan lebih sering. Untuk serangan berat yang tidak membaik atau dicurigai NMOSD, dokter saraf dapat mempertimbangkan pertukaran plasma dan terapi imunosupresan jangka panjang.

Hubungannya dengan multipel sklerosis

Kekhawatiran terbesar pasien adalah apakah neuritis optik berarti multipel sklerosis (MS). Studi tindak lanjut 15 tahun dari kelompok ONTT mendapati bahwa risiko MS mencapai sekitar 25% pada orang dengan MRI otak normal, dan sekitar 72% pada mereka yang sejak awal memiliki satu lesi atau lebih pada MRI (Optic Neuritis Study Group, 2008). Karena itu, hasil MRI otak menentukan perlunya pemantauan dan pertimbangan terapi pengubah perjalanan penyakit oleh dokter saraf. Perlu dibedakan pula MS dari NMOSD yang kriteria diagnosisnya berbeda (Wingerchuk dkk., 2015) dan dari MOGAD yang memiliki kriteria diagnosis internasional tersendiri (Banwell dkk., 2023), sebab terapi dan risiko kekambuhannya tidak sama.

Kapan harus segera ke dokter?

Penglihatan yang menurun mendadak pada satu mata tidak boleh ditunggu sampai “sembuh sendiri”. Segera periksakan diri ke dokter umum atau dokter mata, misalnya di puskesmas atau rumah sakit terdekat di Yogyakarta, Semarang, maupun Surakarta, bila Anda mengalami:

  • penglihatan buram atau gelap mendadak pada satu atau kedua mata, terutama bila nyeri saat mata digerakkan;
  • warna tampak pudar atau ada bintik buta di tengah pandangan;
  • kelemahan, kesemutan, atau gangguan keseimbangan yang menyertai keluhan mata;
  • serangan kedua, atau serangan pada kedua mata sekaligus.

Dokter perlu menyingkirkan kondisi yang mirip, seperti glaukoma akut, penyumbatan pembuluh darah mata, atau tekanan pada saraf optik oleh tumor, yang penanganannya sangat berbeda.

Pesan utama

Neuritis optik umumnya memiliki prognosis penglihatan yang baik, tetapi ia sering menjadi “pintu masuk” yang mengungkap penyakit saraf yang lebih luas. Pemeriksaan cepat, MRI, dan pemantauan oleh dokter mata serta dokter saraf adalah kunci agar penglihatan terlindungi dan penyebab di baliknya tidak terlewat. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca