Seorang ibu berusia 62 tahun di Banyuwangi terbangun dini hari dengan nyeri hebat di mata kanan dan sakit kepala yang menjalar ke dahi. Ia mual, muntah dua kali, dan melihat lingkaran pelangi di sekitar lampu kamar. Keluarga mengira itu migrain atau masuk angin, sehingga ia dibawa ke IGD dengan keluhan “sakit kepala dan muntah”. Cerita ini hanya ilustrasi, tetapi pola seperti ini sangat dikenal dan sering salah arah. Penyebabnya bisa jadi glaukoma sudut tertutup akut, kedaruratan mata yang jika terlambat dapat merenggut penglihatan dalam hitungan hari.

Apa yang terjadi di dalam mata?

Mata terus-menerus memproduksi cairan bening bernama aqueous humor (cairan akuos) yang mengisi ruang di depan lensa. Cairan ini mengalir melewati celah pupil, lalu keluar lewat saluran penyaring di sudut antara iris (bagian berwarna) dan kornea. Pada mata dengan sudut yang sempit, iris dapat menempel pada lensa dan menyumbat celah pupil (pupillary block). Cairan terperangkap di belakang iris, iris terdorong ke depan, dan sudut tertutup. Akibatnya cairan tak bisa keluar, sementara produksinya berlanjut, sehingga tekanan bola mata (tekanan intraokular, TIO) melonjak dalam waktu singkat.

Lonjakan tekanan itu membuat kornea sembap, saraf optik terdesak, dan aliran darah ke saraf mata terganggu. Karena itu kerusakan dapat terjadi cepat, bukan perlahan seperti glaukoma sudut terbuka yang biasanya tanpa gejala.

KeadaanAliran cairan mataDampak
Sudut terbuka (normal)Cairan lewat pupil, keluar bebas di sudutTekanan bola mata stabil
Sudut sempit tanpa seranganAliran masih cukup, tetapi jalurnya rawan tersumbatBiasanya tanpa gejala
Sudut tertutup akutPupil terblokade, sudut tertutup mendadakTekanan melonjak, nyeri, penglihatan kabur, risiko buta

Spektrum penyakit sudut tertutup

Serangan akut hanyalah satu bagian dari spektrum yang disebut primary angle-closure disease. Pedoman Preferred Practice Pattern dari American Academy of Ophthalmology (AAO) membedakan beberapa tahap (Gedde et al., 2020).

IstilahCiri utama
Primary angle-closure suspect (PACS)Sudut menyempit dan bersentuhan dengan iris lebih dari 180 derajat, tekanan normal, saraf optik sehat
Primary angle closure (PAC)Ada perlekatan iris dan sudut atau tekanan tinggi, tetapi belum ada kerusakan saraf optik
Primary angle-closure glaucoma (PACG)Seperti PAC, disertai kerusakan saraf optik
Acute angle closure (serangan akut)Sudut tertutup dengan tekanan tinggi dan gejala yang jelas

Dalam skala dunia, kondisi ini bukan perkara kecil. Tinjauan terbaru memperkirakan lebih dari 18,5 juta orang di Asia akan hidup dengan PACG pada tahun 2050 (Friedman et al., 2025). Di Indonesia, kita berada di kawasan dengan risiko anatomi sudut sempit yang tinggi.

Siapa yang berisiko?

Faktor risiko yang paling konsisten ialah keturunan Asia, rabun dekat atau hipermetropia (mata “plus”), usia lanjut, jenis kelamin perempuan, bola mata yang pendek, serta lensa yang tebal dan terletak lebih ke depan (Gedde et al., 2020). Sebuah studi multisenter di 23 rumah sakit di Tiongkok yang melibatkan 2.626 pasien serangan akut mendukung gambaran ini: 76% pasien perempuan dengan usia rerata 66,8 tahun (Wang et al., 2026). Pemicu serangan dapat berupa ruangan gelap atau remang yang membuat pupil melebar, stres, serta obat-obatan yang melebarkan pupil, termasuk tetes mata pelebar pupil yang dipakai pada pemeriksaan mata, dan sebagian obat dengan efek antikolinergik atau dekongestan pada orang yang sudutnya sudah sempit.

Gejala yang perlu dikenali

Gambaran klasiknya ialah nyeri mata yang hebat dan mendadak, penglihatan kabur, halo berupa lingkaran pelangi di sekitar cahaya, sakit kepala di daerah dahi, serta mual dan muntah. Pada pemeriksaan tampak mata merah, pupil setengah melebar dan tidak bereaksi terhadap cahaya, kornea tampak keruh karena sembap, dan tekanan bola mata sering melebihi 35 mmHg (Royal Victoria Eye and Ear Hospital, 2022; Gedde et al., 2020).

Masalahnya, gejala di luar mata sering menutupi gejala di mata. Laporan kasus tahun 2026 di Inggris menggambarkan seorang perempuan 65 tahun dengan sakit kepala hebat yang awalnya diperiksa sebagai kemungkinan penyebab saraf, lengkap dengan CT scan kepala, sebelum pemeriksaan mata menunjukkan tekanan sekitar 39 dan 40 mmHg pada kedua mata (Karumannan et al., 2026). Pelajarannya sederhana: pada pasien lansia dengan sakit kepala dan muntah, lihat matanya.

Keluhan atau kondisi yang miripPembeda yang membantu
MigrainTidak ada kornea keruh dan pupil lebar-kaku; mata biasanya tidak merah
Nyeri kepala klasterPupil cenderung mengecil dan kelopak turun, bukan pupil lebar-kaku
Konjungtivitis (mata merah biasa)Ada kotoran atau gatal, penglihatan biasanya baik, tidak ada halo berat
Uveitis anteriorPupil cenderung kecil, tekanan biasanya tidak setinggi serangan sudut tertutup
Gangguan perut atau "masuk angin"Tidak disertai mata merah, nyeri mata, dan penglihatan kabur

Bagaimana diagnosisnya ditegakkan?

Dokter spesialis mata mengukur tekanan bola mata dan memeriksa sudut dengan gonioskopi, yaitu lensa khusus untuk melihat sudut langsung. Bila kornea terlalu keruh untuk gonioskopi, kedalaman bilik mata depan dapat diperkirakan dengan lampu celah (Royal Victoria Eye and Ear Hospital, 2022). Di fasilitas yang belum memiliki spesialis mata, tanda-tanda klinis di atas sudah cukup kuat untuk mencurigai serangan akut dan memulai rujukan.

Penanganan: turunkan tekanan, buka sudut, cegah kambuh

Menurut AAO, penanganan awal memakai kombinasi obat penekan produksi cairan mata, obat golongan parasimpatomimetik (misalnya pilokarpin), dan obat osmotik untuk menurunkan tekanan, dilanjutkan dengan tindakan laser untuk membuka jalur aliran, serta pencegahan pada mata sebelahnya bila diperlukan (Gedde et al., 2020). Contoh protokol rumah sakit mata merinci pereda nyeri dan antimuntah, asetazolamid (sistemik), tetes mata penurun tekanan seperti penyekat beta, steroid tetes untuk meredakan radang, dan pilokarpin setelah tekanan turun cukup rendah, lalu iridotomi laser secepat kornea memungkinkan (Royal Victoria Eye and Ear Hospital, 2022). Jenis dan dosis obat ditentukan dokter karena ada pertimbangan, misalnya fungsi ginjal, alergi sulfa, serta gagal jantung pada pemberian obat osmotik.

LangkahTujuanContoh
1. Redakan gejalaKenyamanan pasienPereda nyeri, antimuntah
2. Turunkan produksi cairan dan tekananCepat menurunkan tekananAsetazolamid, tetes penyekat beta, agonis alfa, obat osmotik pada kasus tertentu
3. Kecilkan pupil bila tekanan sudah turunMenarik iris menjauh dari sudutPilokarpin tetes
4. Redakan radangMelindungi jaringan mataSteroid tetes
5. Buat jalur aliran permanenMencegah serangan ulangIridotomi perifer dengan laser (LPI)
6. Lindungi mata sebelahRisiko serangan di mata yang lain tinggiLPI profilaksis sebelum pasien pulang

Bila tekanan tidak turun dengan obat, dokter dapat melakukan parasentesis bilik mata depan atau tindakan bedah lain sebagai penyelamat. Laporan kasus di atas, misalnya, memerlukan parasentesis darurat dan iridotomi pada hari yang sama setelah obat gagal menurunkan tekanan (Karumannan et al., 2026).

Setelah serangan: laser, operasi lensa, dan bukti terbaru

Iridotomi laser tetap menjadi tindakan standar setelah serangan akut. Untuk pasien dengan PAC atau PACG yang berusia 50 tahun ke atas, uji klinis EAGLE yang melibatkan 419 peserta di 30 rumah sakit mata menunjukkan bahwa pengangkatan lensa jernih (clear-lens extraction) memberi kualitas hidup yang lebih baik, tekanan bola mata rerata 1,18 mmHg lebih rendah, dan lebih hemat biaya dibanding iridotomi laser dengan obat tetes, sehingga layak dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama (Azuara-Blanco et al., 2016). Untuk orang dengan sudut sempit yang belum bergejala (PACS), uji ZAP pada 889 orang di Guangzhou menemukan manfaat pencegahan iridotomi yang kecil: kejadian penyakit sudut tertutup 4,19 per 1.000 mata-tahun pada mata yang dilaser dibanding 7,97 pada mata yang tidak dilaser. Karena angka kejadian keseluruhan sangat rendah, penulisnya tidak merekomendasikan iridotomi profilaksis secara luas (He et al., 2019). Tinjauan dua dekade penelitian sudut tertutup menyimpulkan bahwa cakupan iridotomi profilaksis untuk sudut sempit tanpa gejala menyempit, sedangkan ekstraksi lensa jernih menjadi intervensi terapeutik utama pada penyakit sudut tertutup (Friedman et al., 2025). Keputusan untuk tiap pasien tetap dibuat dokter spesialis mata dengan mempertimbangkan usia, kondisi saraf optik, dan ketersediaan layanan.

Mengapa waktu begitu menentukan?

Studi di Tiongkok yang disebut sebelumnya menemukan hanya 34,3% pasien datang berobat dalam 72 jam sejak gejala muncul. Saat datang, 28,6% mata sudah buta menurut ukuran tajam penglihatan terkoreksi; setelah laser atau operasi angka itu turun menjadi 16,4%, tetapi tetap tinggi, dan kebutaan dikaitkan kuat dengan keterlambatan datang (Wang et al., 2026). Pedoman praktis untuk dokter umum di Australia pun menegaskan bahwa glaukoma sudut tertutup akut memerlukan rujukan di hari yang sama (Eiselen et al., 2026).

Peran dokter dan fasilitas kesehatan primer

  • Curigai pada pasien paruh baya hingga lansia, terutama perempuan, dengan mata merah nyeri, penglihatan kabur, halo, sakit kepala, atau muntah.
  • Jangan teteskan obat pelebar pupil pada mata yang dicurigai, dan hindari memberi obat yang dapat melebarkan pupil.
  • Rujuk segera di hari yang sama ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis mata, misalnya dari puskesmas atau klinik pratama di Wonosobo, Kupang, atau Palangka Raya ke RS rujukan terdekat.
  • Mulai terapi awal sesuai kewenangan dan protokol setempat selama rujukan disiapkan, serta catat waktu mulai gejala.
  • Periksa mata sebelah dan keluarga dekat, karena sudut sempit cenderung diwariskan dalam keluarga.

Kapan harus segera ke IGD?

  • nyeri mata hebat yang muncul mendadak, terutama bila disertai mata merah;
  • penglihatan kabur tiba-tiba atau melihat lingkaran pelangi di sekitar lampu;
  • sakit kepala hebat di sekitar dahi atau mata yang disertai mual dan muntah;
  • gejala di atas muncul setelah berada di tempat remang atau setelah memakai obat tetes pelebar pupil atau obat flu tertentu.

Pesan penutup

Glaukoma sudut tertutup akut sering menyamar sebagai sakit kepala atau gangguan lambung, padahal ia bisa dikenali dari mata yang merah, nyeri, dan pupil yang melebar kaku. Penurunan tekanan yang cepat dan laser iridotomi tepat waktu menentukan seberapa banyak penglihatan dapat diselamatkan. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan serta pengobatan oleh dokter spesialis mata.

Daftar pustaka

Azuara-Blanco, A., Burr, J., Ramsay, C., Cooper, D., Foster, P. J., Friedman, D. S., Scotland, G., Javanbakht, M., Cochrane, C., & Norrie, J. (2016). Effectiveness of early lens extraction for the treatment of primary angle-closure glaucoma (EAGLE): A randomised controlled trial. The Lancet, 388(10052), 1389–1397. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)30956-4

Eiselen, C., Chong, E. W., Tse, J., & Atik, A. (2026). Glaucoma in general practice: An updated framework for Australian general practitioners. Australian Journal of General Practice, 55(7), 443–448. https://doi.org/10.31128/AJGP-10-25-7883

Friedman, D. S., Aung, T., He, M., & Foster, P. J. (2025). Two decades of angle-closure glaucoma research. Ophthalmology Glaucoma, 8(5S), S45–S48. https://doi.org/10.1016/j.ogla.2025.07.006

Gedde, S. J., Chen, P. P., Muir, K. W., Vinod, K., Lind, J. T., Wright, M. M., Li, T., & Mansberger, S. L. (2020). Primary angle-closure disease Preferred Practice Pattern. Ophthalmology, 128(1), P30–P70. https://doi.org/10.1016/j.ophtha.2020.10.021

He, M., Jiang, Y., Huang, S., Chang, D. S., Munoz, B., Aung, T., Foster, P. J., & Friedman, D. S. (2019). Laser peripheral iridotomy for the prevention of angle closure: A single-centre, randomised controlled trial. The Lancet, 393(10181), 1609–1618. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(18)32607-2

Karumannan, V., Nauman, K., & Zachariah, S. (2026). Atypical cause of headache: A potential diagnostic pitfall in acute medicine. Cureus, 18(5), e108412. https://doi.org/10.7759/cureus.108412

Royal Victoria Eye and Ear Hospital. (2022). Clinical guideline: Acute angle closure glaucoma. https://rveeh.ie/app/uploads/2022/06/Clinical-Guideline-Acute-Angle-Closure-Glaucoma-Final-2022.pdf

Wang, X., Tian, A., Zhang, S., Qu, B., Zhao, L., Pan, X., … Liang, Y. (2026). Acute angle closure and blindness in China: A multicenter retrospective study on treatment effectiveness and visual outcomes. Ophthalmology Glaucoma, 9(4), 431–439. https://doi.org/10.1016/j.ogla.2026.01.012

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca