Diperbarui: 5 November 2026.
Bapak Wayan, 58 tahun, petani di pinggiran Pontianak, datang ke Puskesmas karena pandangan kirinya terasa “berkabut” sejak dua bulan terakhir. Ia membawa kacamata lamanya, tetapi lupa membawa obat. Saat ditanya, ia hanya ingat obat “untuk paru” yang diminum enam bulan ini dan obat gula dari klinik. Ayahnya, katanya, “dulu juga buta sebelah, tidak tahu penyebabnya”. Dokter jaga mencatat semuanya dengan teliti, karena dari tiga potong cerita itu (obat paru, diabetes, dan riwayat keluarga) arah pemeriksaan mata Bapak Wayan sudah mulai terbentuk.
Dalam ilmu kedokteran, kegiatan menggali cerita pasien ini disebut anamnesis. Pada penyakit mata, anamnesis punya peran besar karena banyak gangguan penglihatan berawal dari kondisi di luar mata: penyakit keturunan, penyakit kronis, atau efek samping obat. Artikel ini merangkum bagian-bagian riwayat yang lazim digali pada pasien dengan keluhan mata, ditujukan bagi pembaca umum maupun mahasiswa kedokteran yang baru belajar.

Mengapa riwayat sama pentingnya dengan alat periksa
Pedoman Comprehensive Adult Medical Eye Evaluation dari American Academy of Ophthalmology menempatkan riwayat pasien sebagai bagian dari evaluasi mata menyeluruh, berdampingan dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (Feder dkk., 2016). Alasannya praktis: alat periksa menjawab “apa yang terlihat sekarang”, sedangkan riwayat menjawab “bagaimana sampai ke sini” dan “apa yang perlu dicari”. Tanpa riwayat, dokter bisa melewatkan pemeriksaan yang sebenarnya diperlukan.
Empat kelompok riwayat yang digali
Buku ajar oftalmologi klasik (Lang, Ophthalmology: A Short Textbook, Thieme, 2000), yang menjadi dasar tulisan asli saya pada 2010, membagi riwayat pasien mata ke dalam empat kelompok. Pembagian ini masih dipakai sebagai kerangka berpikir, dan ringkasannya tersaji pada tabel berikut.
| Kelompok riwayat | Yang ditanyakan | Mengapa penting |
|---|---|---|
| Riwayat sekarang | Keluhan utama (penglihatan kabur, lapang pandang menyempit, nyeri, mata merah, penglihatan ganda), kapan mulai, apakah mendadak atau perlahan, satu atau kedua mata, kaitannya dengan cedera | Menentukan seberapa mendesak keluhan dan pemeriksaan apa yang diprioritaskan |
| Riwayat sistem mata | Kacamata atau lensa kontak, juling atau mata malas (ambliopia) sejak kecil, cedera, operasi, atau radang mata sebelumnya | Kondisi lama sering menjelaskan temuan hari ini |
| Riwayat medis umum | Diabetes, hipertensi, penyakit infeksi, penyakit reumatik, penyakit kulit, operasi, serta semua obat yang dipakai | Banyak penyakit sistemik menampakkan diri di mata, dan banyak obat berefek pada mata |
| Riwayat keluarga | Gangguan refraksi, juling, katarak, glaukoma, lepasnya retina, penyakit retina turunan | Sebagian penyakit mata diturunkan atau mengelompok dalam keluarga |
Riwayat sekarang: ceritakan dengan urutan waktu
Pertanyaan kuncinya sederhana: apa yang berubah, sejak kapan, dan bagaimana perjalanannya. Penglihatan yang hilang mendadak dalam hitungan jam jelas berbeda tingkat urgensinya dibanding penglihatan yang memburuk selama bertahun-tahun. Mata merah yang disertai nyeri hebat dan silau juga berbeda dengan mata merah tanpa nyeri. Sebagai contoh, uveitis anterior cenderung datang dengan mata merah, nyeri, dan silau, sedangkan perdarahan subkonjungtiva sering tampak mengkhawatirkan tetapi tidak nyeri.
Riwayat sistem mata: kacamata lama pun ada gunanya
Bawa kacamata atau lensa kontak yang sedang dipakai, termasuk resep lama bila ada. Beri tahu juga bila sejak kecil pernah juling, pernah ditutup salah satu matanya, pernah terkena benturan atau percikan bahan kimia, atau pernah menjalani operasi mata. Riwayat radang pada mata sebelumnya juga membantu dokter menilai kemungkinan kekambuhan.
Riwayat medis umum: obat termasuk di dalamnya
Mata adalah salah satu organ tempat reaksi toksik obat paling mudah terdeteksi. Tinjauan Li dkk. (2008) di jurnal Drug Safety menguraikan sejumlah contoh yang relevan di layanan primer, dirangkum pada tabel berikut.
| Obat atau golongan | Efek pada mata yang dilaporkan |
|---|---|
| Kortikosteroid (oral, tetes, atau suntik) | Peningkatan tekanan bola mata hingga glaukoma sudut terbuka pada orang yang rentan; pemakaian jangka panjang menyebabkan katarak jenis posterior subcapsular |
| Klorokuin dan hidroksiklorokuin (aminokuinolin) | Kerusakan makula berpola “mata sapi” (bull’s eye maculopathy) |
| Etambutol (obat tuberkulosis) | Neuropati optik retrobulbar: penurunan tajam penglihatan dan penglihatan warna, serta gangguan lapang pandang |
| Amiodaron (obat irama jantung) | Kemungkinan terkait neuropati optik bilateral yang mirip NAION |
| Fenotiazin (misalnya klorpromazin) | Perubahan lensa dan, pada kasus berat, retinopati akibat cahaya |
| Tamsulosin | Sindrom iris lemas saat operasi katarak (intraoperative floppy iris syndrome) |
Tabel ini bukan alasan untuk menghentikan obat sendiri. Obat-obat tersebut sering menyelamatkan nyawa, seperti obat TB atau obat jantung. Yang dibutuhkan adalah pemantauan, dan itu hanya mungkin bila dokter mata tahu obat apa yang Anda minum. Tinjauan tersebut juga mencatat bahwa satu obat dapat memengaruhi beberapa bagian mata, dan dokter dianjurkan berkonsultasi dengan dokter mata bila ragu.
Hidroksiklorokuin, yang dipakai pada lupus dan artritis reumatoid, memiliki panduan pemantauan yang paling jelas. Rekomendasi American Academy of Ophthalmology (Marmor dkk., 2016) menganjurkan dosis harian tidak lebih dari 5,0 mg per kilogram berat badan sebenarnya, pemeriksaan dasar untuk menyingkirkan kelainan makula yang sudah ada, dan pemeriksaan tahunan mulai tahun kelima pada pasien tanpa faktor risiko besar. Pada dosis yang dianjurkan, risiko toksisitas di bawah 1 persen sampai 5 tahun dan di bawah 2 persen sampai 10 tahun, tetapi naik mendekati 20 persen setelah 20 tahun. Faktor risiko utama adalah dosis tinggi, pemakaian lama, penyakit ginjal, dan pemakaian tamoksifen. Kerusakan ini tidak dapat pulih, sehingga deteksi dini penting. Pada pasien Asia, kerusakan sering berpola di luar makula sehingga pemeriksaan perlu menjangkau area yang lebih luas.
Riwayat keluarga: bukan sekadar basa-basi
Gangguan refraksi (rabun jauh, rabun dekat), juling, katarak, glaukoma, ablasio retina, dan distrofi retina dapat bersifat turunan atau berkumpul dalam satu keluarga. Bila orang tua atau saudara kandung mengalami glaukoma, misalnya, dokter akan lebih cermat memeriksa tekanan bola mata dan saraf optik Anda. Jika tidak tahu persis, cukup sampaikan apa yang diingat, misalnya “Bapak buta sebelah di usia 60-an”, karena sepotong informasi pun berguna.
Daftar persiapan sebelum ke dokter
- Tulis keluhan utama, kapan mulai, dan apakah memburuk, tetap, atau hilang timbul.
- Bawa semua obat yang sedang diminum (termasuk jamu, suplemen, tetes mata, dan obat dari klinik lain) atau foto kemasannya.
- Bawa kacamata, lensa kontak, dan resep lama.
- Catat penyakit kronis yang diderita, terutama diabetes, hipertensi, penyakit autoimun, dan TB.
- Tanyakan pada keluarga, bila memungkinkan, apakah ada yang mengalami glaukoma, katarak dini, atau kebutaan.
- Untuk pasien JKN, bawa kartu dan surat rujukan dari FKTP bila berobat ke poli mata rumah sakit.
Kebiasaan menyiapkan cerita ini sejalan dengan peran pasien dalam membantu dokter menegakkan diagnosis yang tepat. Untuk mitos dan fakta seputar mata yang sering ditanyakan, lihat juga Fakta dan Mitos seputar Kesehatan Mata.
Kapan tidak boleh menunda
Segera ke IGD atau fasilitas kesehatan terdekat bila penglihatan menurun mendadak, muncul nyeri mata hebat disertai mual, ada cedera atau percikan bahan kimia ke mata, atau muncul bayangan seperti tirai yang menutupi sebagian lapang pandang. Dalam keadaan seperti ini, riwayat dapat dilengkapi sambil pemeriksaan berjalan.
Catatan Transparansi
Tulisan asli (2010) merupakan ringkasan dari buku ajar Lang (2000) yang tidak dibaca ulang untuk pembaruan ini; kerangka empat kelompok riwayat dipertahankan dari tulisan tersebut. Rujukan penelitian dibaca dari abstrak di PubMed, bukan naskah lengkap. Pedoman AAO yang dirujuk adalah versi 2015 dan 2016; pembaruan yang lebih baru belum diperiksa. Tabel obat bersumber dari satu tinjauan tahun 2008 dan tidak memuat daftar lengkap. Tidak ditemukan data Indonesia tentang toksisitas obat pada mata; kasus Bapak Wayan bersifat ilustratif dan identitasnya fiktif.





Tinggalkan Balasan