Seorang pengemudi ojek daring berusia 34 tahun datang ke unit gawat darurat dengan keluhan yang aneh: sejak dua hari lalu, ia melihat kilatan cahaya di sudut mata kanan seperti kamera yang menyala berulang kali. Malam sebelum ia datang berobat, muncul bayangan hitam seperti tirai yang perlahan menutupi separuh bagian bawah lapang pandangnya. Ia mengira itu hanya kelelahan setelah seharian mengemudi. Riwayat matanya: minus tinggi sejak SMA, sekitar -8,00 dioptri, tanpa pernah kontrol rutin ke dokter mata. Pemeriksaan funduskopi menemukan robekan retina perifer disertai pelepasan retina yang meluas hingga mendekati makula. Ia dirujuk cito ke rumah sakit dengan layanan vitreoretina, dan menjalani operasi dalam 48 jam berikutnya.
Kasus semacam ini bukan hal langka di praktik sehari-hari, terutama pada populasi dengan prevalensi miopia tinggi seperti Indonesia. Namun keterlambatan mengenali gejalanya masih menjadi masalah nyata—bahkan di kalangan tenaga medis sekalipun.
Apa Itu Ablasio Retina?
Retina adalah lapisan jaringan saraf tipis yang melapisi bagian belakang bola mata, berfungsi menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal saraf yang dikirim ke otak. Ablasio retina (retinal detachment) terjadi ketika lapisan retina sensoris terpisah dari lapisan di bawahnya, yaitu epitel pigmen retina (RPE). Ketika terpisah dari RPE, retina kehilangan pasokan oksigen dan nutrisi sehingga jaringan di dalamnya dapat mengalami kematian sel jika tidak segera ditangani.
Secara klinis, ablasio retina dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu regmatogen, traksional, dan eksudatif. Ablasio regmatogen berkaitan dengan adanya robekan retina, ablasio traksional disebabkan oleh tarikan jaringan fibrosa di atas permukaan retina, sedangkan ablasio eksudatif muncul akibat penumpukan cairan di bawah retina tanpa robekan. Ablasio regmatogen adalah bentuk yang paling sering dijumpai di praktik klinis dan menjadi fokus utama artikel ini.
Mengapa Retina Bisa Robek dan Lepas?
Proses yang mendasari sebagian besar ablasio regmatogen dimulai dari perubahan alami pada vitreus (badan kaca) seiring bertambahnya usia. Cairan vitreus yang semula seperti gel mengalami pencairan (syneresis) dan akhirnya terlepas dari permukaan retina, kondisi yang disebut ablasio vitreus posterior (posterior vitreous detachment/PVD). Pada sebagian kecil kasus, proses pelepasan ini menarik retina cukup kuat hingga menimbulkan robekan.
Ada beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini:
Miopia tinggi
Studi pada anggota militer Amerika Serikat menunjukkan derajat kesalahan refraksi berhubungan dengan risiko ablasio regmatogen atraumatik, dengan analisis regresi Poisson multivariat digunakan untuk memperkirakan risiko relatifnya. Bola mata yang lebih panjang pada miopia tinggi membuat retina lebih tipis dan rentan terhadap robekan, sebuah pola yang juga tercatat berulang kali dalam laporan kasus di Indonesia, termasuk pada pasien muda dengan miopia berat yang mengalami ablasio setelah aktivitas mengangkat beban berat (Kurniawan et al., 2018; Budhiastra et al., 2016).
Riwayat operasi intraokular
Tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap lebih dari 8,5 juta mata menemukan bahwa ablasio retina tetap merupakan komplikasi yang jarang namun nyata baik setelah operasi katarak maupun pertukaran lensa refraktif. Katarak hipermatur yang dibiarkan lama juga tercatat sebagai faktor risiko penting pada beberapa seri kasus rumah sakit mata di Indonesia.
Usia, trauma, dan riwayat keluarga
Proses penuaan vitreus umumnya dimulai pada dekade kelima hingga keenam kehidupan. Trauma tumpul pada mata, riwayat ablasio retina pada mata sebelahnya, serta riwayat keluarga dengan kondisi serupa turut meningkatkan kewaspadaan klinis yang diperlukan.
Beban Global dan Potret di Indonesia
Estimasi insidensi ablasio retina regmatogen bervariasi cukup lebar antarnegara, mulai dari sekitar 5,3 per 100.000 penduduk pada populasi Indian Amerika hingga 26,2 per 100.000 penduduk di Belanda. Variasi ini sebagian besar dijelaskan oleh perbedaan prevalensi miopia, struktur usia populasi, dan akses terhadap layanan mata yang memungkinkan diagnosis dini.
Data epidemiologi ablasio retina yang spesifik di tingkat nasional Indonesia sayangnya belum tersedia secara komprehensif. Yang ada saat ini adalah data gangguan penglihatan secara umum: berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi disabilitas penglihatan pada penduduk usia di atas satu tahun tercatat sebesar 0,4 persen, dengan proporsi penggunaan alat bantu lihat sebesar 11,9 persen. Indonesia sendiri tercatat sebagai negara dengan prevalensi kebutaan dan gangguan penglihatan tertinggi kedua di dunia setelah Ethiopia, berdasarkan survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) 2014–2016 yang melaporkan prevalensi kebutaan sebesar 3 persen di 15 provinsi. Katarak yang tidak tertangani masih menjadi penyebab kebutaan terbanyak, sementara data granular tentang kontribusi ablasio retina terhadap angka tersebut belum terpetakan secara nasional.
Pada level rumah sakit rujukan, gambarannya lebih jelas. Seri kasus di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung dan RSUP Sanglah Denpasar secara konsisten menempatkan miopia tinggi sebagai salah satu faktor risiko dominan pada pasien ablasio retina regmatogen yang datang berobat (Fakhri et al., 2019; Wibowo et al., 2021). Kesenjangan antara data nasional yang umum dan data institusional yang spesifik ini menegaskan perlunya registri ablasio retina yang lebih sistematis di Indonesia.
Mengenali Sinyal Bahaya
Tiga gejala klasik yang perlu dikenali oleh siapa pun—baik oleh masyarakat awam maupun tenaga kesehatan primer—adalah munculnya bintik-bintik hitam yang melayang (floaters), kilatan cahaya (photopsia), dan bayangan seperti tirai atau gorden yang menutupi sebagian lapang pandang secara progresif.
Pasien yang datang dengan PVD akut tanpa disertai robekan retina memiliki risiko kecil, sekitar 2 persen, untuk mengalami robekan retina dalam beberapa minggu berikutnya. Sementara itu, di antara pasien dengan PVD simtomatik yang sudah ditemukan robekan retina pada kunjungan awal, sebanyak 5 hingga 14 persen akan mengalami robekan tambahan pada masa pemantauan jangka panjang. Karena itu, panduan praktik terbaru merekomendasikan pemeriksaan ulang dalam waktu enam minggu atau lebih cepat jika muncul gejala baru pada pasien dengan faktor risiko tertentu, seperti adanya pigmen vitreus atau perdarahan (Kim et al., 2025).
Sayangnya, kesadaran terhadap gejala ini masih rendah bahkan di lingkungan pendidikan kedokteran. Sebuah studi potong lintang pada mahasiswa kedokteran di Arab Saudi menemukan bahwa meski mayoritas telah menyelesaikan mata kuliah oftalmologi, hanya sebagian kecil yang pernah menjumpai kasus ablasio retina secara langsung, dan gejala yang paling dikenali hanyalah kilatan cahaya serta floaters. Temuan ini relevan bagi konteks layanan primer di Indonesia, tempat dokter umum dan bidan di fasilitas kesehatan tingkat pertama sering menjadi kontak pertama pasien sebelum dirujuk ke layanan spesialistik.
Diagnosis: Dari Oftalmoskopi hingga Kecerdasan Buatan
Baku emas diagnosis ablasio retina tetap pemeriksaan funduskopi indirek dengan pelebaran pupil oleh dokter spesialis mata, yang memungkinkan visualisasi retina perifer tempat sebagian besar robekan bermula. Di sisi lain, teknologi pencitraan lapang luas (ultra-widefield/UWF) dipadukan dengan kecerdasan buatan mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan sebagai alat bantu skrining. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 11 studi menemukan sensitivitas gabungan model pembelajaran mendalam pada citra UWF sebesar 0,95 dan spesifisitas 0,99 dalam mendeteksi ablasio retina. Meskipun demikian, heterogenitas antarstudi masih tinggi, sehingga penerapannya di layanan primer Indonesia masih memerlukan validasi lebih lanjut sebelum dapat diandalkan sebagai alat skrining mandiri.

Pilihan Tata Laksana: Vitrektomi, Scleral Buckle, atau Pneumatic Retinopexy?
Setelah diagnosis ditegakkan, terdapat tiga pendekatan bedah utama untuk merekatkan kembali retina.
Vitrektomi pars plana (PPV) kini menjadi pilihan utama pada banyak kasus. Prosedur ini memiliki angka keberhasilan anatomis tertinggi di antara semua teknik, dengan tingkat reattachment pascaoperasi rata-rata mencapai 93,3 persen pada evaluasi seluruh bentuk dan derajat keparahan ablasio retina regmatogen primer.
Scleral buckle (SB) menggunakan pendekatan dari luar bola mata tanpa masuk ke rongga vitreus, sementara pneumatic retinopexy (PnR) menyuntikkan gelembung gas ke dalam vitreus untuk menekan retina kembali ke posisinya, dipadukan dengan laser atau krioterapi.
Sejumlah uji klinis menunjukkan hasil visual pascaoperasi pneumatic retinopexy sebanding dengan scleral buckle, bahkan berpotensi lebih baik dibandingkan vitrektomi primer pada kasus-kasus yang sesuai indikasi, dengan morbiditas yang lebih rendah dan pemulihan penglihatan yang lebih cepat. Pemilihan teknik idealnya mempertimbangkan lokasi dan luas robekan, status lensa mata, serta pengalaman operator.
Dari perspektif pembiayaan kesehatan, sebuah model mikrosimulasi ekonomi menyimpulkan bahwa meskipun biaya awalnya lebih tinggi dibandingkan pneumatic retinopexy, vitrektomi pars plana justru paling cost-effective dalam jangka panjang dibandingkan scleral buckle maupun pneumatic retinopexy pada ambang 50.000 dolar AS per QALY. Pertimbangan semacam ini relevan bagi perencanaan layanan JKN/BPJS Kesehatan di Indonesia, mengingat operasi vitreoretinal termasuk tindakan dengan tarif INA-CBGs yang cukup tinggi dan hanya tersedia di rumah sakit rujukan tertentu.
Di Indonesia sendiri, tata laksana ablasio retina regmatogen mengacu pada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran yang diterbitkan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), yang menetapkan alur diagnosis dan pemilihan teknik bedah sesuai kondisi klinis pasien (Kurniawan et al., 2018).
Prognosis: Mengapa Kecepatan Penanganan Menentukan Segalanya
Diagnosis dini ablasio retina regmatogen penting karena angka keberhasilan penempelan kembali retina lebih tinggi dan hasil penglihatan lebih baik apabila perbaikan dilakukan lebih awal, terutama sebelum ablasio meluas mengenai makula. Status makula pada saat operasi—apakah masih utuh (macula-on) atau sudah terkena (macula-off)—merupakan prediktor tunggal terpenting bagi pemulihan tajam penglihatan akhir.
Meski begitu, keberhasilan anatomis bukan jaminan hasil fungsional yang sempurna. Kekambuhan tetap mungkin terjadi pada semua teknik, dan pemantauan jangka panjang tetap diperlukan pada mata yang telah dioperasi, termasuk pemantauan mata sebelahnya mengingat risiko ablasio bilateral yang tidak dapat diabaikan.
Catatan untuk Layanan Kesehatan Primer di Indonesia
Bagi dokter umum, bidan, dan tenaga kesehatan di Puskesmas maupun klinik pratama, peran paling krusial bukanlah menegakkan diagnosis definitif, melainkan mengenali gejala kunci—floaters mendadak, kilatan cahaya, dan bayangan tirai—sebagai kegawatdaruratan mata yang memerlukan rujukan segera ke layanan spesialis mata, idealnya dalam hitungan jam hingga beberapa hari, bukan minggu. Keterbatasan distribusi dokter spesialis vitreoretina yang masih terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan Denpasar menjadikan kecepatan deteksi dan rujukan berjenjang di tingkat primer semakin menentukan nasib penglihatan pasien.
Kisah pengemudi ojek daring di awal artikel ini berakhir baik: retinanya kembali menempel, dan penglihatannya pulih hampir sepenuhnya karena ia tidak menunda mencari pertolongan lebih dari dua hari. Namun banyak pasien lain tidak seberuntung itu, bukan karena keterbatasan teknologi kedokteran, melainkan karena tirai gelap yang mereka lihat dianggap sekadar kelelahan mata. Mengenali kapan sebuah gejala mata sederhana sesungguhnya adalah sinyal darurat—itulah yang sering membedakan antara penglihatan yang terselamatkan dan yang hilang selamanya.
Daftar Pustaka
Blair, K., & Czyz, C. N. (2024). Retinal detachment. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551502/
Budhiastra, P., Sovani, I., Kartasasmita, A. S., Iskandar, E., Virgana, R., & Paramita, R. P. (2016). Ablasio retina regmatogen pada penderita miopia di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo periode Oktober 2015–Maret 2016. Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK Universitas Padjadjaran.
Fakhri, D. M., Sutadipura, N., & Putri, M. (2019). Karakteristik pasien ablasio retina regmatogen di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung tahun 2019. Prosiding Pendidikan Dokter. https://karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/dokter/article/view/26481/pdf
International incidence and temporal trends for rhegmatogenous retinal detachment: A systematic review and meta-analysis. (2023). Survey of Ophthalmology. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0039625723001595
Kawamoto, C., Mizuki, Y., Horita, N., Kuramochi, Y., Kanasashi, S., Kawagoe, T., & Mizuki, N. (2026). Diagnostic accuracy of deep learning using ultra-widefield fundus imaging for retinal detachment: A systematic review and meta-analysis. BMC Ophthalmology. https://doi.org/10.1186/s12886-025-04605-8
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, Oktober 7). Kemenkes ungkap prevalensi gangguan mata pada anak sekolah RI [Siaran pers]. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/4381678/kemenkes-ungkap-prevalensi-gangguan-mata-pada-anak-sekolah-ri
Kim, S. J., Bailey, S. T., Kovach, J. L., Lim, J. I., Vemulakonda, G. A., Ying, G. S., & Flaxel, C. J.; American Academy of Ophthalmology Preferred Practice Pattern Retina/Vitreous Committee. (2025). Posterior vitreous detachment, retinal breaks, and lattice degeneration Preferred Practice Pattern®. Ophthalmology. https://doi.org/10.1016/j.ophtha.2024.12.023
Kurniawan, A. H., Djatikusumo, A., Sovani, I., & Firmansjah, M. (2018). Pedoman nasional pelayanan kedokteran: Ablasio retina regmatogen. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI).
Long-term redetachment rates of pneumatic retinopexy versus pars plana vitrectomy in retinal detachment. (2024). Ophthalmology Retina. https://www.ophthalmologyretina.org/article/S2468-6530(24)00397-X/fulltext
Passaro, M. L., Kilic, D., Virgili, G., Romano, V., Lucenteforte, E., Dick, B., & Taneri, S. (2025). Retinal detachment incidence in refractive lens exchange versus cataract surgery: Uncommon versus rare—systematic review and meta-analysis. British Journal of Ophthalmology, 109(7), 756–764. https://doi.org/10.1136/bjo-2024-326592
Pneumatic retinopexy for rhegmatogenous retinal detachment outcomes. (2024). Ophthalmology Retina. https://www.ophthalmologyretina.org/article/S2468-6530(24)00526-8/fulltext
Rumah Sakit Umum Pusat Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM. (2022, Januari 20). Indonesia menempati urutan tertinggi kedua gangguan penglihatan di dunia. FK-KMK UGM. https://fkkmk.ugm.ac.id/indonesia-menempati-urutan-tertinggi-kedua-gangguan-penglihatan-di-dunia/
Cost-utility of rhegmatogenous retinal detachment repair with pars plana vitrectomy, scleral buckle, and pneumatic retinopexy: A microsimulation model. (2023). American Journal of Ophthalmology. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0002939423002350
Effect of surgical timing in 23-g pars plana vitrectomy for primary repair of macula-off rhegmatogenous retinal detachment, a retrospective study. (2022). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8957134/
Awareness of retinal detachment symptoms among medical students: A cross-sectional study. (2024). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC12039965/
Wibowo, M. D., Putu Budhiastra, I., Jayanegara, W., Mas, A. A., & Triningrat, P. (2021). Karakteristik ablasio retina rhegmatogenous di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar pada tahun 2018. Jurnal Kesehatan, 10(4).
Catatan transparansi: Sebagian besar data epidemiologi global dan bukti klinis mengenai teknik bedah dalam artikel ini bersumber dari studi tinjauan sistematis, meta-analisis, dan pedoman praktik dari jurnal serta organisasi profesi bereputasi (American Academy of Ophthalmology, BMJ, American Journal of Ophthalmology, dan Ophthalmology Retina). Data epidemiologi nasional Indonesia tentang ablasio retina secara spesifik masih terbatas—yang tersedia adalah data gangguan penglihatan secara umum dari SKI 2023 dan RAAB, serta seri kasus dari beberapa rumah sakit rujukan (Cicendo Bandung, Sanglah Denpasar). Pembaca yang membutuhkan panduan tata laksana klinis definitif tetap disarankan merujuk pada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran PERDAMI dan berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis mata.





Tinggalkan Balasan