Ilustrasi berikut fiktif, disusun dari pola yang lazim dijumpai di ruang rawat.
Kamar VIP di sebuah rumah sakit swasta di Denpasar itu memanjakan mata. Dinding di belakang tempat tidur dihiasi relief batu paras bermotif dedaunan. Di meja ada buket mawar dan gerbera segar kiriman keluarga. Di sudut ruangan, sirih gading tumbuh subur dalam pot bertanah, dan bingkai kayu berukir di atas kepala tempat tidur memajang lukisan sawah berundak. Penghuninya, bapak berusia 58 tahun, sedang menjalani kemoterapi untuk leukemia dan hitung neutrofilnya rendah.
Bagi tamu yang menjenguk, kamar itu indah. Bagi perawat pencegah dan pengendali infeksi (infection prevention and control nurse, IPCN), kamar yang sama adalah daftar pertanyaan. Kapan air vas terakhir diganti? Siapa yang menyiram tanah pot itu? Debu di sela pahatan relief diseka dengan apa?
Mengapa Benda “Tak Bernyawa” Masuk Radar Pencegahan Infeksi?
Pedoman CDC dan HICPAC menyebut lingkungan fasilitas kesehatan jarang terlibat dalam penularan penyakit, kecuali pada pasien imunokompromais. Bagi mereka, paparan tak disengaja terhadap patogen lingkungan seperti Aspergillus dan Legionella dapat berakibat serius (Sehulster dkk., 2003). Jadi pertanyaan kuncinya bukan seberapa “kotor” sebuah hiasan, melainkan seberapa rentan pasien yang berbaring di dekatnya.
Sebuah hiasan menjadi masalah bila tiga hal bertemu. Ada tempat mikroba bersarang (reservoir), ada jalur ke pasien (tangan, sentuhan, udara), dan ada pejamu yang rentan. Di Indonesia, seluruh program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) wajib diterapkan rumah sakit, puskesmas, klinik, dan praktik mandiri. Ruang lingkupnya mencakup kewaspadaan isolasi, surveilans, penilaian risiko (infection control risk assessment, ICRA), dan audit berkala (Kemenkes RI, 2017).
Bunga Potong: Air Vas yang Menyimpan Miliaran Bakteri
Vas bunga di rumah sakit telah dicurigai sebagai reservoir patogen sejak awal 1970-an (Taplin & Mertz, 1973). Kates dkk. (1991) menganalisis 60 sampel air vas dari berbagai lingkungan, termasuk rumah sakit. Mereka mengidentifikasi 41 spesies bakteri, 12 di antaranya Pseudomonas, dengan rerata 4,5 × 10⁸ organisme per 500 mL dan resistensi antibiotik yang tinggi. Bakteri itu ternyata bawaan bunga itu sendiri, bukan berasal dari ruangan tempat bunga diletakkan. Air vas dari bunga yang disterilkan nyaris hanya berisi bakteri pembentuk spora, sedangkan bunga alami membawa campuran bakteri Gram-negatif, stafilokokus, dan jamur.
Apakah itu berarti bunga menularkan infeksi? Sejauh ini bukti penularannya belum ada. Gould dkk. (2005) menyimpulkan air vas memang dapat menjadi reservoir bakteri patogen potensial, tetapi tidak ada bukti bunga pernah menyebabkan infeksi didapat di rumah sakit, dan risikonya bisa ditekan dengan langkah sederhana. Tinjauan Sal Moslehian dkk. (2023) merangkum hal serupa. Salah satu studi lama membandingkan bakteri dari 60 vas di sembilan bangsal dengan 46 infeksi luka operasi dari 880 operasi dan tidak menemukan korelasi yang pasti.
Penting dicatat, studi-studi itu sebagian besar dilakukan pada pasien imunokompeten. Uji klinis untuk pertanyaan seperti ini sulit dilakukan karena butuh sampel besar dan terbentur etika (Gould dkk., 2005). Jadi “tidak terbukti” belum sama dengan “terbukti aman”, terutama bagi pasien seperti bapak di Denpasar tadi.
Di Indonesia ada lapisan risiko yang jarang muncul dalam literatur Barat, yaitu genangan air. Kemenkes mengingatkan bahwa nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di genangan air bersih (Kemenkes RI, 2023a). Materi edukasi dinas kesehatan mencantumkan vas bunga sebagai wadah nonharian yang berpotensi menjadi sarang jentik. Rumah sakit dan puskesmas disebut sebagai tempat umum yang berpotensi menjadi lokasi penularan DBD di wilayah endemis (Dinkes Kab. Ciamis, 2020). Vas berisi air yang dibiarkan berhari-hari di ruang rawat di daerah endemis DBD karena itu bukan sekadar soal bakteri.
Tanaman Pot: Tanah, Spora, dan Pasien Neutropenia
Tanah adalah gudang mikroba, termasuk jamur seperti Aspergillus dan Fusarium. CDC mencatat pot tanaman, bunga potong, dan rangkaian bunga kering dapat menjadi reservoir jamur. CDC juga merujuk studi epidemiologi molekuler yang menemukan tipe Aspergillus terreus identik pada sampel lingkungan dan pasien keganasan hematologi (CDC, 2024a).
Studi itu dilakukan Lass-Flörl dkk. (2000). Selama tiga tahun, sembilan pasien penyakit hematologi pascakemoterapi mieloablatif meninggal karena aspergilosis invasif akibat A. terreus, dan jamur yang sama dikultur dari tanaman pot di dekat pasien. Menurut rangkuman Sal Moslehian dkk. (2023), tanaman itu dinilai sumber paling mungkin pada empat dari sembilan pasien. Para penulis sendiri mengakui sebagian infeksi mungkin bukan didapat di rumah sakit. Bukti lingkungan sering seperti ini: kuat sebagai petunjuk, jarang tuntas sebagai pembuktian.
Survei lain menguatkan bahwa tanah pot di rumah sakit memang sarang jamur. Di sebuah rumah sakit tersier di Tiongkok, A. fumigatus (106 isolat) ditemukan pada mayoritas dari 58 pot di 18 departemen, termasuk indikasi ketahanan terhadap azol (dirangkum Sal Moslehian dkk., 2023). Risiko tampaknya meningkat ketika tanah kering atau terganggu, misalnya saat diaduk atau dipindahkan. Kondisi itu memudahkan spora terlepas ke udara.
Bagaimana panduan global menyikapinya? Tinjauan Bamber dkk. (2025) atas 75 dokumen panduan dari 24 negara menemukan bahwa pengecualian bunga dari bangsal hematologi atau penghindaran tanaman pot dan tanah dibahas pada 8 dari 23 dokumen panduan klinis. Faktor lingkungan yang paling sering dibahas justru pekerjaan konstruksi (12 dari 23). Artinya, tanaman bukan ancaman utama, tetapi tetap masuk daftar kewaspadaan untuk pasien berisiko tertinggi.
Iklim tropis yang lembap seharusnya menguntungkan pertumbuhan jamur pada media tanam basah. Namun saya tidak menemukan studi lokal yang mengukur beban spora dari tanaman di ruang rawat Indonesia. Ini celah riset yang layak ditindaklanjuti.
Dinding Hijau (Vertical Garden): Niat Baik yang Perlu Diuji
Surial dkk. (2022) dari Rumah Sakit Universitas Bern menilai sebuah dinding tanaman seluas 6 m² di ruang tunggu tanpa jendela seluas 11 m². Setelah instalasi, konsentrasi bakteri dan jamur di udara serta pada dinding meningkat. Lalat Drosophila muncul setelah empat minggu, dan biofilm terbentuk di tangki irigasi pada minggu keenam. Air buangan mengandung banyak Mycobacterium avium complex. Setelah dinding dibangun ulang dengan tanaman Tillandsia dan sukulen serta irigasi yang lebih sedikit, kadar jamur turun. Namun A. terreus terdeteksi di udara dua minggu kemudian, dan bakteri udara tetap tinggi. Komite PPI rumah sakit itu akhirnya menghentikan rencana instalasi tanaman dalam ruangan berikutnya.
Studi ini punya keterbatasan. Ia berupa surat ke editor di satu lokasi, tanpa data kejadian infeksi, dan konstruksi serta kelembapan bangunan mungkin memengaruhi hasil. Sebaliknya, studi di ruang kerja melaporkan dinding hijau tidak melepaskan spora jamur di atas batas pedoman WHO (dirangkum Sal Moslehian dkk., 2023). Pelajarannya jelas: memasang dinding hijau di lingkungan perawatan perlu dinilai lewat ICRA dan dipantau, bukan sekadar dianggap aman karena “alami”.
Bingkai, Poster, dan Hiasan Dinding: Musuh yang Tak Kasat Mata Bernama Debu
Saya tidak menemukan penelitian yang secara langsung mengaitkan bingkai atau poster dengan infeksi pasien. Karena itu bagian ini bertumpu pada prinsip kebersihan permukaan dan panduan desain, bukan pada bukti kejadian infeksi.
Prinsipnya begini. Sisi atas bingkai, celah antara bingkai dan dinding, serta bagian belakang bingkai adalah tempat debu mengendap. Di area pasien imunosupresi berat, CDC menganjurkan (kategori IB) penyekaan basah permukaan horizontal setiap hari dengan kain yang dilembapkan deterjen atau disinfektan. Metode yang menyebarkan debu, seperti kemoceng bulu, dihindari (CDC, 2024b). Untuk area perawatan umum, dinding, tirai, dan penutup jendela dibersihkan bila tampak berdebu atau kotor (kategori II). Hiasan yang menyulitkan penyekaan pada dasarnya menyulitkan kedua prinsip itu.
Untuk memilih bahan, otoritas kesehatan di Kanada punya kerangka yang berguna. Alberta Health Services menyusun matriks penilaian risiko PPI untuk karya seni (Alberta Health Services, n.d.), dan Island Health mengadaptasinya (Island Health, n.d.). Ruang rawat inap masuk kategori point-of-care dengan risiko sangat tinggi. Karya yang dapat diterima di sana harus mudah dibersihkan dan didisinfeksi, berbahan tak berpori, halus, tanpa sambungan, tidak mengumpulkan debu, dan kedap air. Contohnya cetakan yang tertanam pada permukaan monolit atau panel pelindung dinding, atau karya berbingkai tertutup. Stiker dinding hanya dipertimbangkan di area klinis tanpa tindakan langsung ke pasien. Panduan ini bukan regulasi Indonesia, tetapi logikanya mudah diadopsi.
Bagaimana dengan bunga atau tanaman artifisial? Tidak ada risiko air dan tanah, tetapi ia tetap menampung debu. Dalam uji acak di ruang perawatan jantung Australia (122 pasien), bunga artifisial menurunkan gejala depresi pada analisis per-protokol tanpa efek bermakna pada kecemasan (dirangkum Sal Moslehian dkk., 2023). Artinya, manfaat psikologisnya mungkin tidak sepenuhnya bergantung pada tanaman hidup.
Relief Dinding: Keindahan Tiga Dimensi, Tantangan Pembersihan Tiga Dimensi
Sama seperti bingkai, saya tidak menemukan studi yang menguji relief dinding dan infeksi. Yang bisa dinilai adalah sifat materialnya. Batu paras, semen ekspos, dan cat tekstur cenderung berpori dengan permukaan bergelombang. Pori dan alurnya sulit diseka dengan kain, dan bahan berpori lebih mudah menyerap lembap. Lembap yang menetap adalah undangan bagi jamur, terutama di iklim tropis.
Untuk lembap, CDC punya patokan (kategori IB). Material struktural penyerap air, seperti karpet, papan gipsum, dan pelapis dinding, dibuang bila tidak dapat dibersihkan dan dikeringkan tuntas dalam 72 jam (CDC, 2024b). Batas itu dirancang untuk kebocoran atau banjir, tetapi logikanya jelas: bahan dinding yang sulit dikeringkan adalah risiko. Metode pembersihan yang membuat kabut atau menyebarkan debu juga dihindari di area perawatan (CDC, 2024b). Menggosok relief kering dengan sikat bukan pilihan yang baik.
Sebagai alat bantu, berikut empat pertanyaan cepat untuk menilai hiasan di ruang rawat. Ini saran praktis penulis, bukan standar baku.
- Bisakah seluruh permukaannya diseka basah tanpa meninggalkan serpihan atau serat?
- Apakah materialnya kedap air dan tidak menyerap lembap?
- Adakah celah, alur, atau bagian belakang yang tak terjangkau kain?
- Apakah tersedia jadwal dan penanggung jawab pembersihan yang jelas?
Jika dua jawaban pertama “tidak” atau dua jawaban terakhir “ya”, hiasan itu patut dikaji ulang bersama tim PPI.
Aturan Main di Indonesia: yang Ada dan yang Belum
PMK 27/2017 menjadi payung PPI di fasilitas pelayanan kesehatan dan mewajibkan SPO pembersihan serta disinfeksi permukaan lingkungan, termasuk tempat tidur dan peralatan di sekitarnya (Kemenkes RI, 2017). Untuk kesehatan lingkungan rumah sakit, Permenkes 7/2019 adalah rujukan yang lazim dikutip. Menurut basis data JDIH BPK, peraturan ini telah dicabut sebagian oleh Permenkes 2/2023 (sepanjang mengatur baku mutu dan persyaratan kesehatan media lingkungan di rumah sakit) dan oleh Permenkes 3/2026, kecuali Pasal 3, 10, 11 beserta lampirannya (Kemenkes RI, 2019, 2023b, 2026). Konsolidasi regulasi ini pernah saya ulas di Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026.
Dari regulasi yang bisa saya telusuri, tidak ada ketentuan nasional yang secara eksplisit mengatur bunga, tanaman, atau hiasan dinding di ruang rawat. Kebijakan itu praktis diserahkan ke masing-masing rumah sakit melalui ICRA, SPO, dan keputusan tim PPI. Celah ini justru alasan untuk menyusun kebijakan internal yang berbasis risiko.
Merancang Kebijakan: Zonasi Risiko, Bukan Larangan Buta
Larangan total sulit dipertahankan. CDC menyatakan bunga dan tanaman pot tidak perlu dibatasi di area pasien imunokompeten, tetapi tidak boleh ada bunga segar, bunga kering, maupun tanaman pot di area perawatan pasien imunosupresi. Keduanya berkategori II, yaitu dianjurkan dan ditopang bukti suggestif atau alasan teoretis, bukan bukti kuat (CDC, 2024b). Panduan Clinical Excellence Commission (Australia) dan ISID, seperti dirangkum Sal Moslehian dkk. (2023), sejalan: bagi mayoritas pasien bunga dan tanaman bukan risiko, tetapi tidak boleh masuk ke ICU dan ruang pasien imunokompromais.
Tabel 1. Ringkasan bukti dan risiko per jenis hiasan
| Jenis hiasan | Mekanisme risiko | Kekuatan bukti | Kelompok paling rentan |
|---|---|---|---|
| Bunga potong segar | Air vas menjadi reservoir bakteri Gram-negatif; genangan menjadi sarang jentik Aedes | Kontaminasi air vas kuat; penularan ke pasien tidak terbukti | Imunosupresi berat, ICU, luka bakar |
| Bunga kering | Permukaan dapat membawa spora Aspergillus | Rekomendasi CDC (kategori II) berbasis bukti suggestif | Imunosupresi berat |
| Tanaman pot bertanah | Tanah menyimpan jamur; spora terlepas saat tanah kering atau terganggu | Kluster dan studi molekuler terbatas, sebagian tidak konklusif | Neutropenia, HSCT, transplantasi, penyakit paru kronik |
| Dinding hidup | Media lembap, air irigasi, biofilm, serangga | Satu studi lapangan kecil: bakteri dan jamur meningkat | Semua pasien risiko tinggi |
| Bingkai dan poster | Debu pada permukaan, sisi atas, dan bagian belakang | Belum ada studi langsung; dasar prinsip kebersihan permukaan | Area imunosupresi berat |
| Relief atau tekstur dinding | Pori dan alur menyimpan debu dan lembap; sulit diseka | Belum ada studi langsung; ekstrapolasi | Area imunosupresi berat |
| Tanaman artifisial | Menampung debu; tanpa risiko air atau tanah | Manfaat psikologis dari uji kecil; risiko debu belum diteliti | Area imunosupresi berat |
Berikut usulan kerangka zonasi hasil sintesis penulis dari rujukan di atas. Ini bukan regulasi.
Tabel 2. Usulan kebijakan hiasan berdasarkan zona risiko
| Zona | Contoh area | Bunga potong | Tanaman pot | Bingkai atau poster | Relief atau tekstur |
|---|---|---|---|---|---|
| A. Risiko sangat tinggi | Unit HSCT atau transplantasi, ruang isolasi protektif, kamar neutropenia berat, ICU | Tidak diizinkan (segar maupun kering) | Tidak diizinkan | Hanya cetakan yang menyatu dengan permukaan atau bingkai tertutup rapat; seka basah harian pada permukaan horizontal | Tidak dianjurkan |
| B. Ruang rawat umum | Bangsal bedah, penyakit dalam, anak, kamar VIP | Boleh bersyarat: air diganti harian, vas dicuci di luar area pasien, perawatan oleh petugas nonklinis | Sebaiknya dihindari; bila ada, media tertutup dan tanpa penyiraman berlebih | Bingkai kaca atau akrilik tertutup, permukaan halus, jadwal seka | Hindari; jika sudah terpasang, pertimbangkan pelapis kedap dan jadwal seka |
| C. Area publik | Lobi, ruang tunggu, selasar, taman | Boleh; jauhkan dari pintu bangsal risiko tinggi | Boleh dengan pengelolaan oleh pihak terlatih di luar jam ramai | Bebas dengan kebersihan berkala | Boleh dengan pembersihan terjadwal |
Beberapa catatan praktis melengkapi tabel itu:
- Perawatan tanaman. CDC menganjurkan perawatan bunga dan tanaman diserahkan ke petugas yang tidak terlibat langsung dalam perawatan pasien. Jika perawat terpaksa melakukannya, mereka memakai sarung tangan dan melakukan kebersihan tangan sesudahnya (CDC, 2024b). Tinjauan Sal Moslehian dkk. (2023) menambahkan penjadwalan di luar jam operasional, akses terpisah dari area klinis, media tanam yang ditutup lapisan kerikil atau bahan steril, dan irigasi dari bawah.
- Hiasan berair. CDC menganjurkan (kategori IB) tidak menempatkan air mancur dekoratif dan akuarium di area perawatan pasien (CDC, 2024b). Kluster penyakit Legionnaires akibat air mancur rumah sakit sudah dilaporkan (Surial dkk., 2022).
- Pasien yang berubah status. Bapak di Denpasar tadi mungkin awalnya tidak imunosupresi. Saat kemoterapi dimulai, hiasan di kamarnya perlu ditinjau ulang. Skrining risiko saat masuk dan saat kondisi berubah menjadi bagian dari kebijakan.
- Renovasi dan desain interior. CDC menganjurkan tim multidisiplin yang melibatkan staf PPI sejak awal proyek (CDC, 2024b). Pemasangan relief atau dinding hijau sebaiknya melewati ICRA, bukan baru dikonsultasikan setelah terpasang.
- Budaya menjenguk dan praktik ibadah. Tradisi membawa bunga sulit dilarang tanpa penjelasan. Sediakan titik penerimaan di lobi, papan edukasi yang ramah, dan ruang tunggu keluarga yang boleh dihias. Bagi pasien atau keluarga yang beribadah dengan bunga atau sesajen, misalnya canang sari di Bali, siapkan ruang doa atau area yang ditentukan. Pendekatan berempati lebih efektif daripada larangan tanpa penjelasan.
Alternatif yang tetap menghadirkan “alam”. Manfaat psikologis tanaman memang ada. Uji acak pada pasien pascabedah melaporkan nyeri, kecemasan, dan penggunaan analgesik lebih rendah pada ruang bertanaman, tetapi tinjauan Sal Moslehian dkk. (2023) menilai bukti manfaat fisik masih terbatas. Hanya tiga studi manfaat yang berupa uji acak, dan temuannya lebih banyak berupa respons fisiologis terhadap efek psikologis. Studi di ruang tunggu radiologi Belanda menemukan poster tanaman dan tanaman asli sama-sama menurunkan stres lewat persepsi keindahan ruangan (dirangkum dalam tinjauan yang sama). Studi klasik Ulrich (1984) juga melaporkan luaran pemulihan yang lebih baik pada pasien pascabedah dengan pemandangan pohon dari jendela. Poster berlaminasi, cetakan yang menyatu dengan dinding, dan jendela menghadap taman adalah cara menghadirkan keindahan tanpa menambah reservoir.
Poin-Poin Kunci
- Risiko terbesar bunga, tanaman, dan hiasan dinding ada pada pasien imunosupresi berat dan ICU. Bagi mayoritas pasien, bukti bahayanya lemah.
- Air vas dan tanah pot terbukti menjadi reservoir mikroba. Bukti penularan ke pasien terbatas pada laporan kasus dan studi molekuler yang tidak selalu tuntas.
- Untuk bingkai dan relief, tidak ada bukti infeksi langsung. Alasannya berbasis prinsip kebersihan permukaan, yaitu bahan halus, kedap, dan mudah diseka.
- Zonasi risiko lebih realistis daripada larangan total atau kebebasan penuh.
- Indonesia belum punya ketentuan eksplisit soal hiasan ruang rawat. Kebijakan internal berbasis ICRA dan keterlibatan tim PPI menjadi kunci.
Catatan Transparansi
- Tidak ada studi yang saya temukan tentang bingkai atau relief dinding dan infeksi pasien. Bagian tersebut adalah ekstrapolasi dari prinsip PPI dan panduan desain Kanada, bukan temuan uji klinis.
- Bukti tentang bunga dan tanaman didominasi studi observasional, sebagian sudah lama, dan surat ke editor (Surial dkk., 2022). Pedoman CDC yang dirujuk terbit 2003 dan versi daringnya ditinjau Januari 2024; rekomendasi terkait bunga dan tanaman berkategori II.
- Beberapa data dikutip secara sekunder dari Sal Moslehian dkk. (2023): studi tanah pot di Tiongkok, uji acak manfaat tanaman, studi vas di sembilan bangsal, dan pernyataan Clinical Excellence Commission dan ISID. Studi primernya tidak saya telaah langsung.
- Matriks risiko karya seni berasal dari otoritas kesehatan Kanada (Alberta Health Services, Island Health), bukan regulasi Indonesia.
- Saya tidak menemukan studi lokal tentang beban spora atau kontaminasi air vas di ruang rawat Indonesia. Saya juga belum menelaah isi Lampiran Permenkes 7/2019 yang masih berlaku.
- Ilustrasi pembuka adalah fiktif. Pembahasan tidak menguraikan ketentuan khusus untuk pasien anak atau neonatus.
- Artikel ini bukan pengganti kebijakan PPI di masing-masing fasilitas.
Referensi
Alberta Health Services. (n.d.). Infection prevention and control healthcare facility design requirements (Appendix E: IPC risk assessment matrix for artworks). https://www.albertahealthservices.ca/assets/healthinfo/ipc/hi-ipc-hcf-design.pdf
Bamber, S., Haiduven, D., & Denning, D. W. (2025). Survey of current national and international guidance to reduce risk of aspergillosis in hospitals. Journal of Hospital Infection, 159, 124–139. https://doi.org/10.1016/j.jhin.2025.02.015
Centers for Disease Control and Prevention. (2024a). E. Environmental services. https://www.cdc.gov/infection-control/hcp/environmental-control/environmental-services.html
Centers for Disease Control and Prevention. (2024b). Part II. Recommendations for environmental infection control in health-care facilities (Guidelines for Environmental Infection Control in Health-Care Facilities, 2003). https://www.cdc.gov/infection-control/hcp/environmental-control/recommendations.html
Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis. (2020, 28 Januari). 3M Plus. https://dinkes.ciamiskab.go.id/tag/3m-plus/
Gould, D., Chudleigh, J., Gammon, J., & Ben Salem, R. (2005). The evidence base and infection risks from flowers in the clinical setting. British Journal of Infection Control, 6(3). https://doi.org/10.1177/14690446050060030501
Island Health. (n.d.). Infection prevention & control (IPAC) & artwork in healthcare design. https://www.islandhealth.ca/sites/default/files/cowichan-district-hospital-replacement-project/Files/art-at-cdh-ipac.pdf
Kates, S. G., McGinley, K. J., Larson, E. L., & Leyden, J. J. (1991). Indigenous multiresistant bacteria from flowers in hospital and nonhospital environments. American Journal of Infection Control, 19(3), 156–161. https://doi.org/10.1016/0196-6553(91)90022-5
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 857). https://peraturan.bpk.go.id/Details/112075/permenkes-no-27-tahun-2017
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. https://peraturan.bpk.go.id/Details/111721/permenkes-no-7-tahun-2019
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023a, 22 Juni). Pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M Plus. Ayo Sehat. https://ayosehat.kemkes.go.id/pemberantasan-sarang-nyamuk-dengan-3m-plus
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023b). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan. https://peraturan.bpk.go.id/Details/245563/permenkes-no-2-tahun-2023
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2026 tentang Penanggulangan Penyakit (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2026 Nomor 173). https://peraturan.go.id/id/permenkes-no-3-tahun-2026
Lass-Flörl, C., Rath, P.-M., Niederwieser, D., Kofler, G., Würzner, R., Krezy, A., & Dierich, M. P. (2000). Aspergillus terreus infections in haematological malignancies: Molecular epidemiology suggests association with in-hospital plants. Journal of Hospital Infection, 46(1), 31–35. https://doi.org/10.1053/jhin.2000.0799
Sal Moslehian, A., Roös, P. B., Gaekwad, J. S., & Van Galen, L. (2023). Potential risks and beneficial impacts of using indoor plants in the biophilic design of healthcare facilities: A scoping review. Building and Environment, 233, Article 110057. https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2023.110057
Sehulster, L., Chinn, R. Y. W., CDC, & HICPAC. (2003). Guidelines for environmental infection control in health-care facilities: Recommendations of CDC and the Healthcare Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC). MMWR Recommendations and Reports, 52(RR-10), 1–42. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12836624/
Surial, B., Vázquez, M., Steiger, W., Rolli, E., Brand, S., Mühlethaler, K., & Marschall, J. (2022). Assessing the infection risk of a vertical garden in a hospital setting. Infection Control & Hospital Epidemiology, 43(2), 273–275. https://doi.org/10.1017/ice.2020.1421
Taplin, D., & Mertz, P. M. (1973). Flower vases in hospitals as reservoirs of pathogens. The Lancet, 302(7841), 1279–1281. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(73)92866-3
Ulrich, R. S. (1984). View through a window may influence recovery from surgery. Science, 224(4647), 420–421. https://doi.org/10.1126/science.6143402





Tinggalkan Balasan