A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang laki-laki berusia 54 tahun dengan riwayat diabetes melitus tipe 2 selama 12 tahun datang untuk kontrol rutin ke Puskesmas. Selama ini ia merasa penglihatannya baik-baik saja dan tidak pernah memeriksakan mata secara khusus sejak terdiagnosis diabetes. Saat mengikuti program skrining retinopati diabetik yang diselenggarakan di layanan primer, hasil foto fundus menunjukkan adanya perdarahan retina, pelebaran vena, serta area iskemik yang mengarah pada retinopati diabetik nonproliferatif berat—kondisi yang berisiko tinggi berkembang menjadi tahap proliferatif dalam waktu dekat bila tidak segera ditangani. Ia terkejut, karena selama ini tidak merasakan gangguan penglihatan sama sekali.

Kisah ini mencerminkan salah satu ciri paling berbahaya dari retinopati diabetik: penyakit ini dapat berkembang jauh sebelum pasien menyadari adanya gangguan pada penglihatannya.

Apa Itu Retinopati Diabetik?

Retinopati diabetik adalah mikroangiopati progresif yang ditandai oleh kerusakan dan penyumbatan pembuluh darah retina, sebagai dampak berkelanjutan dari hiperglikemia kronis pada diabetes melitus. Manifestasi klinisnya meliputi mikroaneurisma, pelebaran vena, perdarahan vitreus, serta eksudat keras, yang pada akhirnya dapat memengaruhi ketajaman penglihatan pasien.

Secara klasifikasi, retinopati diabetik dibagi menjadi retinopati diabetik nonproliferatif (nonproliferative diabetic retinopathy, NPDR) dengan derajat ringan, sedang, dan berat, serta retinopati diabetik proliferatif (proliferative diabetic retinopathy, PDR) yang ditandai oleh pertumbuhan pembuluh darah baru abnormal (neovaskularisasi). Edema makula diabetik (diabetic macular edema, DME) dapat menyertai derajat retinopati manapun dan juga diklasifikasikan menjadi ringan, sedang, dan berat. Kondisi yang secara klinis paling perlu diwaspadai disebut retinopati diabetik yang mengancam penglihatan (visual threatening diabetic retinopathy, VTDR), yang mencakup NPDR berat, seluruh kasus PDR, dan semua retinopati diabetik disertai edema makula.

Seberapa Sering Terjadi?

Secara global, prevalensi retinopati diabetik pada penyandang diabetes melitus diperkirakan mencapai 34,6%, dengan prevalensi neovaskularisasi hingga 6,9%, edema makula diabetik hingga 6,8%, dan retinopati yang mengancam penglihatan sekitar 10,2% dari seluruh kasus retinopati diabetik pada populasi dewasa usia 20–79 tahun secara global. Berdasarkan tipe diabetesnya, prevalensi global retinopati diabetik mencapai 77,3% pada penyandang diabetes tipe 1 dan 25,1% pada penyandang diabetes tipe 2.

Di Indonesia, angka yang dilaporkan cukup bervariasi antarstudi—berkisar 10–32% dari keseluruhan penderita diabetes melitus, sementara studi lain melaporkan prevalensi lebih tinggi mencapai 30,7% pada penyandang diabetes tipe 2, dengan sebagian kasus di antaranya sudah tergolong mengancam penglihatan. Studi Sasongko dkk. (2017) bahkan menemukan bahwa satu dari empat pasien diabetes melitus di Indonesia memiliki kondisi retinopati diabetik yang mengancam penglihatan. Data skrining berbasis Puskesmas di wilayah Bandung Raya pada 2019–2020 terhadap 1.835 pasien diabetes menunjukkan prevalensi retinopati diabetik sebesar 19,46% dan VTDR sebesar 7,68%—konsisten dengan temuan bahwa sekitar satu dari empat pasien diabetes pada populasi tersebut mengalami retinopati diabetik.

Mengapa Skrining Rutin Sangat Penting?

Retinopati diabetik sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga pasien baru menyadari adanya masalah ketika penglihatan sudah sangat terganggu. Karena itu, skrining berkala menjadi strategi utama untuk mendeteksi penyakit ini sebelum menimbulkan kerusakan permanen.

Panduan American Academy of Ophthalmology (AAO) dan Standards of Care in Diabetes 2026 dari American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan penyandang diabetes tipe 1 menjalani skrining tahunan dimulai lima tahun setelah diagnosis ditegakkan, sementara penyandang diabetes tipe 2 disarankan menjalani skrining segera sejak diagnosis ditegakkan dan diulang setidaknya setiap tahun setelahnya. Pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan setiap 1–2 tahun bila hasil pemeriksaan mata sebelumnya normal, dengan pertimbangan efektivitas biaya. Ibu hamil dengan diabetes tipe 1 maupun tipe 2 juga perlu menjalani skrining segera setelah konsepsi atau pada awal trimester pertama, mengingat kehamilan dapat mempercepat progresivitas retinopati diabetik.

Baku emas skrining adalah pemeriksaan funduskopi dengan pelebaran pupil (dilated fundus examination), meski pencitraan digital tervalidasi juga dapat menjadi metode deteksi yang efektif, khususnya pada layanan primer dengan keterbatasan akses ke dokter spesialis mata. Sayangnya, secara global hanya sekitar 60% penyandang diabetes yang menjalani skrining retinopati diabetik tahunan sesuai rekomendasi, menandakan masih besarnya kesenjangan implementasi meski pentingnya deteksi dini sudah dipahami secara luas.

Di Indonesia, keterbatasan sarana dan prasarana diagnostik serta distribusi tenaga medis mata yang tidak merata menjadi hambatan signifikan dalam pelaksanaan skrining retinopati diabetik secara efektif, terutama di luar kota-kota besar. Kondisi ini mendorong pengembangan sistem deteksi otomatis berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) dan deep learning sebagai alat bantu skrining, mengingat penilaian citra fundus secara manual oleh dokter mata memakan waktu, bersifat subjektif, dan rentan terhadap variabilitas antarpengamat—suatu keterbatasan yang semakin terasa mengingat jumlah dokter spesialis mata yang tersedia relatif terbatas dibandingkan beban kasus diabetes yang terus meningkat.

Bagaimana Tata Laksananya?

Pengelolaan glikemik yang intensif dengan target mendekati normal terbukti mencegah dan menunda onset serta progresivitas retinopati diabetik, dengan target HbA1c yang dianjurkan berkisar 6–7% untuk sebagian besar pasien, disesuaikan secara individual berdasarkan kondisi klinis masing-masing. Kontrol tekanan darah yang baik turut berperan penting dalam memperlambat progresivitas penyakit, mengingat hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama yang dapat dimodifikasi.

ADA 2026 merekomendasikan rujukan segera ke dokter spesialis mata yang berpengalaman dalam tata laksana retinopati diabetik bagi individu dengan edema makula diabetik derajat apapun, NPDR sedang atau lebih berat, maupun PDR jenis apapun. Terapi fotokoagulasi laser panretinal diindikasikan untuk mengurangi risiko kehilangan penglihatan pada individu dengan PDR berisiko tinggi, dan pada beberapa kasus NPDR berat. Injeksi intravitreus agen anti-vascular endothelial growth factor (anti-VEGF) menjadi alternatif yang wajar dibandingkan fotokoagulasi laser panretinal konvensional bagi sebagian individu dengan PDR, serta turut menurunkan risiko kehilangan penglihatan.

Perkembangan terapi anti-VEGF dalam beberapa tahun terakhir cukup signifikan, dengan tersedianya opsi dosis tinggi yang memungkinkan interval pemberian lebih jarang pada sebagian pasien, memberikan keseimbangan lebih baik antara efektivitas terapi dan kenyamanan pasien dalam menjalani pengobatan jangka panjang. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Panduan Nasional Praktik Klinis untuk retinopati diabetik (KMK Nomor HK.01.07/MENKES/1914/2023), yang mengatur alur diagnosis dan tata laksana, termasuk pertimbangan penggunaan fotokoagulasi laser standar, injeksi anti-VEGF sebagai terapi tambahan, hingga tindakan bedah pada kasus dengan komplikasi seperti perdarahan vitreus yang berat dan lama atau ablasio retina.

Retinopati Diabetik

Mengapa Deteksi Dini Menjadi Kunci Mencegah Kebutaan

Retinopati diabetik dapat berpotensi mengancam penglihatan bahkan sebelum manifestasi klinis yang cukup parah muncul, sehingga pencegahan melalui skrining dini, edukasi pasien, dan intervensi tepat waktu menjadi pendekatan tata laksana terbaik. Pasien yang telah terdiagnosis retinopati diabetik memerlukan tindak lanjut pengobatan sesuai derajat keparahannya, baik berupa laser, injeksi, maupun operasi.

Bagi layanan kesehatan primer di Indonesia, integrasi program skrining retinopati diabetik ke dalam layanan rutin penyandang diabetes—sebagaimana telah dirintis di beberapa Puskesmas—menjadi langkah strategis untuk menjangkau lebih banyak pasien sebelum kondisi mereka berkembang menjadi tahap yang mengancam penglihatan. Edukasi kepada pasien mengenai pentingnya pemeriksaan mata rutin, terlepas dari ada tidaknya keluhan penglihatan, tetap menjadi kunci utama pencegahan kebutaan akibat diabetes.


Catatan Transparansi

Data prevalensi retinopati diabetik di Indonesia bervariasi cukup lebar antarstudi (10–32%, 19,46%, hingga 30,7%) karena perbedaan populasi penelitian, wilayah geografis, dan metode skrining yang digunakan; belum tersedia data prevalensi nasional yang representatif dan diperbarui secara berkala. Artikel ini tidak membahas retinopati diabetik dalam konteks pengobatan spesifik per kasus individu, dan pembahasan tata laksana bersifat gambaran umum berdasarkan panduan klinis, bukan rekomendasi pengobatan personal.


Referensi

American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). 12. Retinopathy, neuropathy, and foot care: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care, 49(Suppl. 1), S261–S274. https://doi.org/10.2337/dc26-S012

American Academy of Ophthalmology. (2025). Diabetic retinopathy preferred practice pattern [Guideline summary]. Guideline Central. https://www.guidelinecentral.com/guideline/10563/

Alomedika. (2026). Skrining retinopati diabetik: Kapan dan bagaimana? https://www.alomedika.com/cme-skp-skrining-retinopati-diabetik-kapan-dan-bagaimana

Alomedika. (2025). Epidemiologi retinopati. https://www.alomedika.com/penyakit/oftalmologi/retinopati/epidemiologi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1914/2023 tentang Panduan Nasional Praktik Klinis Retinopati Diabetik. https://kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16998447006551925ccaae04.63843720.pdf

Muhajir, dkk. (2025). Rancang bangun prototipe sistem deteksi dini retinopati diabetik menggunakan deep learning. Jurnal Algoritma, 22(1), 234–244. https://jurnal.itg.ac.id/index.php/algoritma/article/download/2255/1314/12666

Oktaryona, T., dkk. (n.d.). Retinopati diabetik yang mengancam penglihatan. Jurnal Medula. https://journalofmedula.com/index.php/medula/article/download/1070/843/6559

[Penulis]. (2022). Prevalensi retinopati diabetik di Bandung Raya. eJKI, 10(1), 39. https://ejki.fk.ui.ac.id/index.php/journal/article/download/119/45/685

Sasongko, M. B., dkk. (2017). [Studi prevalensi retinopati diabetik yang mengancam penglihatan di Indonesia].

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca