Sore itu, Bu Made (71) menutup warung canangnya di dekat pasar di Gianyar dengan langkah ragu. Tiga kali dalam seminggu ia salah memberi kembalian. Kemarin ia berdiri lama di persimpangan yang sudah dilaluinya puluhan tahun, tidak yakin ke mana harus pulang. Anak-anaknya menghibur diri: “Namanya juga sudah tua.” Baru ketika kompor menyala tanpa panci, dan ia mulai menuduh menantunya mengambil gelang, keluarga membawanya ke puskesmas.
Bu Made tokoh rekaan, tetapi pola ceritanya akrab bagi banyak dokter puskesmas, dari Aceh sampai Papua. Pertanyaannya, apa yang seharusnya terjadi di ruang periksa itu? Sejak 30 Maret 2026, jawabannya tertulis dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/273/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia. Menjelang Hari Alzheimer Sedunia (21 September), inilah rangkuman populernya.
Mengapa Pedoman Ini Ditunggu
Menurut WHO, sekitar 57 juta orang hidup dengan demensia pada 2021, hampir 10 juta kasus baru muncul tiap tahun, dan lebih dari 60% penderitanya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah (World Health Organization [WHO], 2026b). Untuk Indonesia, analisis Global Burden of Disease memperkirakan sekitar 987 ribu orang dengan demensia pada 2019. Angka itu diproyeksikan menembus 3,4 juta pada 2050 (GBD 2019 Dementia Forecasting Collaborators, 2022, sebagaimana dikutip Kementerian Kesehatan RI, 2026).
PNPK mengakui belum ada data prevalensi nasional. Beberapa studi lokal melaporkan angka tinggi, misalnya 20,1% pada lansia di DI Yogyakarta dan lebih tinggi di perdesaan. Angka seperti ini bergantung pada metode dan populasi studinya, jadi jangan langsung digeneralisasi.
Kendala di lapangan disebut terus terang dalam pedoman ini:
- Banyak rumah sakit belum punya tim atau perawat terlatih demensia.
- Dari kelompok obat antidemensia, hanya donepezil yang tercantum di Formularium Nasional.
- Tarif INA-CBG belum memadai untuk membiayai penanganan demensia.
- Stigma membuat pasien baru dibawa berobat ketika gangguan perilakunya sudah berat.
Secara hukum, PNPK ini menjadi pedoman bagi dokter dan acuan penyusunan standar prosedur operasional di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. Penyimpangan hanya boleh dilakukan pada keadaan yang memaksa demi kepentingan pasien, dan harus dicatat di rekam medis. Pembinaan dan pengawasannya dilakukan Menteri Kesehatan, gubernur, dan bupati/wali kota (Kementerian Kesehatan RI, 2026).
Untuk membaca pedoman ini, ada dua istilah yang perlu diketahui. Grade A–D menunjukkan kekuatan rekomendasi, dan Level 1–4 menunjukkan mutu bukti. Sementara itu, good practice point (GPP) adalah konsensus praktik yang tidak bersandar pada uji klinis.
Demensia: Sindrom, Bukan Satu Penyakit
Demensia adalah sindrom penurunan fungsi intelektual dari tingkat sebelumnya, cukup berat untuk mengganggu aktivitas sehari-hari, dan tidak disebabkan oleh delirium (kebingungan akut, misalnya akibat infeksi atau obat) maupun gangguan jiwa mayor. PNPK menekankan tiga domain: gangguan kognitif, gejala perilaku, dan gangguan aktivitas hidup sehari-hari. Diagnosis menuntut keterangan dari pasien dan informan tepercaya, ditambah pemeriksaan kognitif objektif, dengan gangguan pada sedikitnya dua domain (Kementerian Kesehatan RI, 2026).
Tabel 1. Subtipe demensia utama menurut PNPK
| Subtipe | Petunjuk khas | Catatan penting |
|---|---|---|
| Demensia Alzheimer (60–80% kasus) | Gangguan ingatan peristiwa baru yang makin berat | Penyakit neurodegeneratif tersering; biomarka amiloid dan tau membantu akurasi |
| Demensia vaskular | Penyakit pembuluh darah otak pada pencitraan, berkaitan waktu dengan stroke atau pola penyakit pembuluh kecil | Pengendalian faktor risiko vaskular menjadi bagian terapi |
| Demensia badan Lewy | Kesadaran dan perhatian naik-turun, halusinasi visual jelas, gangguan tidur REM, parkinsonisme | Sangat sensitif terhadap antipsikotik |
| Demensia penyakit Parkinson | Demensia pada penderita Parkinson yang gejala geraknya muncul minimal 1 tahun sebelumnya | Dibedakan dari demensia badan Lewy dengan “aturan 1 tahun” |
| Demensia frontotemporal | Perubahan perilaku atau bahasa, ingatan relatif terjaga, sering muncul sebelum usia 65 | Memantin tidak dianjurkan; SSRI dapat dipertimbangkan |
| Demensia campuran | Alzheimer bersama penyakit pembuluh darah | Patologi vaskular ditemukan pada 24–45% otopsi penderita Alzheimer |
Sebagian Risikonya Bisa Diubah
Faktor yang tak dapat diubah adalah usia, jenis kelamin (sekitar dua pertiga penyandang Alzheimer perempuan, kemungkinan karena harapan hidup yang lebih panjang), riwayat keluarga, dan genetik. Pemeriksaan gen APOE4 tidak dianjurkan rutin, kecuali untuk keamanan pemberian terapi pengubah perjalanan penyakit. Tes genetik dianjurkan pada Alzheimer awitan di bawah 65 tahun dengan riwayat keluarga (Kementerian Kesehatan RI, 2026).
Kabar baiknya, banyak faktor lain bisa dimodifikasi. PNPK mengacu pada 12 faktor dengan potensi mencegah hingga 40% kasus. Komisi Lancet 2024 kemudian menambah dua faktor, yaitu gangguan penglihatan yang tidak ditangani dan kolesterol LDL tinggi, sehingga totalnya 14 faktor dengan potensi sekitar 45% (Livingston et al., 2024). Angka itu bersifat teoretis: jika semua faktor tersebut sepenuhnya dihilangkan. WHO pada 15 Juli 2026 menerbitkan edisi kedua pedoman penurunan risiko demensia, yang memperluas cakupan, termasuk rekomendasi baru tentang paparan polusi udara (WHO, 2026a, 2026b).
Tabel 2. Anjuran PNPK untuk menurunkan risiko demensia
| Faktor | Anjuran |
|---|---|
| Tekanan darah | Turunkan variabilitas tekanan darah; obat antihipertensi golongan apa pun yang efektif dapat dipakai (Grade A) |
| Pendengaran | Alat bantu dengar bagi yang berusia paruh baya ke atas dengan gangguan pendengaran (Grade C) |
| Depresi | Tangani sejak dini, dalam 5 tahun pertama sejak awitan (Grade C) |
| Aktivitas fisik | Latihan aerobik dan/atau resistensi intensitas sedang (Grade A) |
| Stimulasi kognitif dan sosial | Aktivitas intelektual bagi lansia (Grade B); komunitas sosial bagi penyandang demensia (Grade C) |
| Diabetes | Tanyakan keluhan memori; bila ada, lakukan pemeriksaan kognitif dan perilaku (Grade C dan A) |
| Cedera kepala | Tanyakan keluhan kognitif atau perilaku; periksa lebih lanjut bila ada (Grade C dan A) |
| Polusi udara | Hindari paparan nitrogen tinggi dan partikel halus dari kendaraan maupun pembakaran kayu (Grade B) |
| Rokok, alkohol, berat badan | Berhenti merokok, hindari alkohol berlebihan, jaga IMT normal (GPP) |
Menurunkan risiko bukan berarti menjamin kebal. Namun langkah-langkah ini juga baik bagi jantung, otak, dan kualitas hidup secara umum.
Dari Puskesmas: Mengenali dan Merujuk
PNPK meminta tenaga kesehatan di layanan primer waspada terhadap tanda-tanda berikut pada lansia atau orang berisiko (Kementerian Kesehatan RI, 2026):
- laporan gejala kognitif dari pasien atau pendamping
- penurunan kemampuan aktivitas instrumental harian yang tak terjelaskan
- janji kontrol yang sering terlewat
- kesulitan mengingat instruksi atau minum obat
- penurunan kemampuan merawat diri
- menjadi korban penipuan keuangan
- perubahan perilaku baru, termasuk depresi atau kecemasan baru
Penapisan ditujukan pada kelompok berisiko: usia di atas 60 tahun, penderita diabetes, riwayat stroke atau cedera kepala, riwayat keluarga demensia, dan keluhan lupa progresif. Kajian sistematik yang dikutip PNPK tidak menganjurkan skrining massal pada orang tanpa gejala.
Tabel 3. Alat penapisan yang disebut dalam PNPK
| Alat | Cara singkat | Catatan |
|---|---|---|
| AD8-INA | Delapan pertanyaan untuk keluarga tentang perubahan sehari-hari | Titik potong > 2; pada studi di Indonesia sensitivitas 89,5% dan spesifisitas 94,7% |
| Mini-Cog | Mengingat tiga kata dan menggambar jam, 3–4 menit | Tidak banyak dipengaruhi pendidikan; spesifisitas bervariasi (27–85%) |
| MoCA-INA | Tes kognitif ringkas versi Indonesia | Lebih unggul mendeteksi gangguan kognitif ringan; untuk pendidikan > 6 tahun |
| MMSE | Skor maksimum 30 | Ambang 23/24 memberi sensitivitas dan spesifisitas sekitar 0,89; dipengaruhi usia dan pendidikan |
| Clock drawing test | Menggambar jam pukul 11.10 | Bagian dari penapisan lebih luas; tidak valid bila pendidikan formal < 4 tahun |
| GDS versi singkat | Skrining depresi | Depresi bisa menyerupai atau menyertai demensia |
Ada satu pelajaran penting dari tabel ini. Bayangkan seorang lansia petani di pedesaan Nusa Tenggara Timur yang tidak pernah bersekolah. Skor tes tertulisnya bisa rendah karena keterbatasan pendidikan, bukan demensia. Karena itu PNPK menegaskan semua tes penapisan harus divalidasi sesuai bahasa, budaya, dan tingkat pendidikan populasinya (Grade C).
Semua pasien yang dicurigai demensia dirujuk ke dokter dengan kompetensi neurologi, kedokteran jiwa, atau geriatri, atau ke klinik memori (Grade C). Pasien darurat, yaitu kesadaran menurun, gangguan menelan berat, gagal napas, atau berisiko melukai diri dan orang lain, boleh langsung ke rumah sakit.
Gambar 1. Alur skrining, diagnosis, dan rujukan pasien dengan kecurigaan demensia, diadaptasi dari Skema 1–5 PNPK Demensia (Kementerian Kesehatan RI, 2026).
Di Rumah Sakit: Mencari Jenis dan Penyebabnya
Rujukan adalah awal pemeriksaan yang lebih dalam. PNPK menganjurkan rumah sakit menyediakan klinik memori dengan tim multidisiplin (Grade C). Timnya terdiri dari neurolog, psikiater, geriatri, psikolog, perawat, terapis okupasi, dan fisioterapis, dengan dukungan gizi, farmasi, pekerja sosial, terapis wicara, dan perwakilan kelompok Alzheimer setempat.
Pemeriksaannya meliputi:
- Laboratorium: darah rutin, fungsi hati, ginjal, elektrolit, tiroid, serta vitamin B12 dan folat. Tes khusus seperti sifilis atau HIV hanya atas indikasi.
- Pencitraan: MRI lebih dianjurkan daripada CT. Fungsi utamanya menyingkirkan penyebab nonneurodegeneratif dan bedah, bukan semata-mata “menemukan Alzheimer”.
- Tes neuropsikologi lengkap: dilakukan bila diagnosis belum pasti, dan bisa memakan waktu 2–3 jam.
- Biomarka: PET, cairan serebrospinal, dan tes darah p-tau181 dapat membantu pada kasus terpilih. Pedoman Alzheimer’s Association 2025 menegaskan tes darah hanya untuk layanan spesialis pada orang yang sudah mengalami gangguan kognitif, karena kinerja antarmerek bervariasi dan hasilnya tidak menggantikan penilaian klinis menyeluruh (Palmqvist et al., 2025).
- EEG: hanya bila dicurigai kejang, penyakit Creutzfeldt-Jakob, atau delirium (Grade A).
Langkah yang tak boleh terlewat adalah mencari penyebab yang dapat diobati: depresi, delirium, gangguan tiroid, kekurangan B12, gangguan tidur, dan efek samping obat.
Terapi: Pendampingan Lebih Dulu, Obat Menyusul
Terapi non-obat
Intervensi psikososial adalah fondasi. PNPK memberi Grade A pada pendampingan aktif yang kreatif untuk mempertahankan kemandirian, terapi stimulasi kognitif, pelatihan kognitif, terapi reminiscence (mengenang masa lalu), terapi musik (manfaat tidak bertahan lama), dan aktivitas fisik. Pendekatan DICE membantu pendamping menelaah perilaku sulit: Describe (uraikan), Investigate (selidiki penyebab), Create (susun rencana), Evaluate (evaluasi).
Obat penguat kognisi
Tabel 4. Obat penguat kognisi dalam PNPK
| Obat | Dipertimbangkan pada | Catatan |
|---|---|---|
| Donepezil | Alzheimer ringan–sedang; demensia vaskular; bersama atau tanpa memantin pada Alzheimer sedang–berat | Satu-satunya obat antidemensia di Fornas |
| Rivastigmin | Alzheimer ringan–sedang; demensia badan Lewy dan Parkinson | Non-Fornas; bentuk tempelan berguna bila mual atau sulit patuh |
| Galantamin | Alzheimer ringan–sedang | Non-Fornas |
| Memantin | Alzheimer sedang–berat, atau bila obat golongan penghambat kolinesterase tak tertoleransi | Tidak dianjurkan pada demensia frontotemporal; non-Fornas |
| Penghambat kolinesterase pada MCI | Tidak dianjurkan (Grade A) | Gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment) ditangani dengan faktor risiko dan gaya hidup |
Pasien yang memakai obat penguat kognisi perlu dinilai ulang minimal setiap 6 bulan dengan ukuran psikometrik (Grade C).
Lecanemab: harapan baru dengan syarat berat
Lecanemab adalah antibodi monoklonal antiamiloid, disease-modifying therapy pertama untuk Alzheimer dini. PNPK memberinya Grade B untuk MCI dan demensia ringan akibat Alzheimer dengan bukti amiloid pada PET atau cairan serebrospinal, disertai pemeriksaan genotip APOE demi keamanan. Pemberiannya juga mensyaratkan MRI, fasilitas ICU, dan ahli yang mampu memantau amyloid-related imaging abnormalities (ARIA), yaitu pembengkakan atau perdarahan kecil otak (Kementerian Kesehatan RI, 2026).
Ekspektasi perlu realistis. Pada uji CLARITY AD (1.795 peserta, 18 bulan), penurunan skor CDR-SB berkurang 0,45 poin dibanding plasebo, atau sekitar 27% lebih lambat. ARIA-E terjadi pada 12,6% dan ARIA-H pada 17,3% peserta yang mendapat lecanemab (van Dyck et al., 2023). Lembaga penilai teknologi kesehatan Inggris, NICE, menilai manfaat itu terlalu kecil dibanding biaya penuh pemberiannya (NICE, 2025). Kajiannya masih berlanjut setelah banding, dengan konsultasi draf ketiga dibuka 31 Maret 2026 (The Pharmaceutical Journal, 2026). PNPK menggolongkan lecanemab sebagai obat non-Fornas.
Catatan kritis: ekstrak ginkgo
PNPK memberi Grade A pada ekstrak ginkgo EGb 761 240 mg/hari sebagai bagian terapi. Namun bukti di luar pedoman ini lebih beragam. Konsensus British Association for Psychopharmacology (O’Brien et al., 2017) tidak merekomendasikan ginkgo. Uji GEM pada lansia tidak menemukan pencegahan demensia (DeKosky et al., 2008), dan NCCIH (n.d.) menyimpulkan tidak ada bukti konklusif bahwa ginkgo bermanfaat untuk demensia. Diskusikan dengan dokter sebelum mengonsumsinya, terutama bila sedang memakai obat lain.
Gejala perilaku dan psikologis (BPSD)
Behavioral and psychological symptoms of dementia (BPSD), seperti gelisah, agresi, halusinasi, depresi, dan gangguan tidur, dilaporkan pada sekitar 90% penderita Alzheimer. Agitasi dan agresi ditemukan pada 30–50% penderita demensia (Kementerian Kesehatan RI, 2026).
Ambil contoh keluarga Ibu Nurhayati (rekaan) di Makassar. Beliau gelisah dan berteriak setiap malam. Sebelum menyimpulkan itu BPSD, periksa dulu nyeri, infeksi saluran kemih atau pneumonia, dehidrasi, sembelit atau retensi urin, gangguan pendengaran dan penglihatan, obat baru yang bersifat antikolinergik atau sedatif, serta lingkungan yang bising atau remang. Semua ini tercantum sebagai faktor penyumbang BPSD dalam PNPK.
Bila gejala tetap berat, obat menjadi pilihan setelah pendekatan non-obat gagal. Perlu dipahami risikonya:
- Antipsikotik membawa peringatan kotak hitam (boxed warning) karena peningkatan risiko kematian dan stroke pada lansia dengan demensia. PNPK menyebut peningkatan kematian 1,6–1,7 kali lipat.
- Haloperidol tidak lagi menjadi pilihan utama.
- Pada demensia badan Lewy, antipsikotik sebaiknya dihindari.
- Brexpiprazol hanya dianjurkan untuk agitasi pada Alzheimer, bukan pada jenis demensia lain, dan berstatus non-Fornas.
Martabat dan Keputusan
Bagian etika dan hukum PNPK layak dibaca semua keluarga, bukan hanya dokter:
- Kapasitas bergantung keputusannya. Pasien yang tak mampu memutuskan urusan keuangan belum tentu tak mampu memilih menu makan atau menyampaikan preferensi perawatan. Kapasitas dinilai dari kemampuan memilih, memahami, menghargai konsekuensi, dan bernalar. Seberat apa pun demensianya, pasien tetap dilibatkan.
- Wasiat perawatan (advance directive). Bila dibuat saat pasien masih kompeten, dokter harus menghormatinya (GPP). Bentuk lisan pun dimungkinkan.
- Persetujuan tindakan. Bila pasien tidak kompeten, persetujuan diberikan wali, pengampu, atau keluarga inti. Pada keputusan hukum, keuangan, dan berkendara yang membahayakan, pengampuan disarankan sesuai peraturan.
- Menyampaikan diagnosis. Di banyak budaya, diagnosis disampaikan ke keluarga lebih dulu. PNPK mengakui dilema ini dan menganjurkan komunikasi empatik, misalnya dengan protokol SPIKES.
- Kekerasan dan penelantaran. Dokter perlu waspada terhadap penganiayaan fisik, emosional, seksual, finansial, penelantaran, dan pengabaian. Bila dicurigai, pasien sebaiknya diperiksa terpisah dari pendampingnya.
- Akhir hayat. Pendekatan paliatif yang mengutamakan kualitas hidup menjadi pilihan (GPP).
PNPK juga menganjurkan penyebab demensia yang telah tegak dicantumkan sebagai penyebab kematian, agar data epidemiologi nasional membaik (GPP). Ia menutup dengan seruan untuk regulasi lebih jauh tentang status penyandang demensia sebagai subjek hukum.
Apa yang Bisa Dilakukan Sekarang
- Keluarga: jangan menunggu “gangguan perilaku berat”. Catat perubahan yang terlihat, dampingi ke pemeriksaan, periksa pendengaran dan penglihatan, serta bicarakan rencana perawatan selagi orang tercinta masih bisa ikut memutuskan.
- Puskesmas dan klinik: kenali tanda waspada, gunakan AD8-INA atau alat yang tersedia dengan mempertimbangkan latar pendidikan pasien, skrining depresi, lalu rujuk. Setelah diagnosis, terima rujuk balik dan lanjutkan tata laksana multimodal.
- Manajemen rumah sakit dan dinas kesehatan di Sragen, Sumbawa, Sorong, maupun daerah lain: jadikan PNPK acuan SPO, bangun klinik memori sesuai kemampuan, bahas ketersediaan obat dalam Fornas, dan pastikan pencatatan diagnosis serta penyebab kematian yang akurat.
Catatan Transparansi
- Sumber utama adalah salinan KMK HK.01.07/MENKES/273/2026 yang dibaca langsung. Studi primer yang menjadi dasar angka di dalamnya (misalnya laporan Global Burden of Disease dan tinjauan Cochrane) dikutip secara sekunder melalui PNPK, kecuali CLARITY AD, Komisi Lancet 2024, dan pedoman WHO 2026 yang diperiksa dari publikasi atau pengumuman resminya.
- Ketidakkonsistenan internal PNPK. Teksnya menyebut ambang praktis MoCA-INA < 24, sedangkan bagan skrining menuliskan < 26. Skor CDT juga berbeda (< 3 dalam teks, < 4 pada bagan rumah sakit). Bagian MCI menyatakan tidak ada obat atau suplemen yang terbukti bermanfaat, tetapi ringkasan rekomendasi memberi Grade A untuk EGb 761 pada MCI. Untuk praktik, ikuti SPO fasilitas dan pertimbangan klinis dokter.
- Ginkgo. Penilaian Grade A dalam PNPK lebih optimistis daripada sebagian pedoman internasional (lihat bagian ginkgo). Sebuah tinjauan atas 77 dokumen pedoman global juga menemukan rekomendasi yang beragam: positif, negatif, dan netral.
- Lecanemab. Penulis tidak menemukan konfirmasi status izin edar atau ketersediaannya di Indonesia; hal ini perlu dikonfirmasi ke BPOM dan fasilitas layanan. Keputusan NICE masih berkembang.
- Tes darah p-tau. PNPK menyebut p-tau181, sedangkan literatur terbaru banyak menyorot p-tau217. Ketersediaannya di Indonesia belum diperiksa.
- Bu Made dan Ibu Nurhayati adalah tokoh rekaan untuk ilustrasi.
- Pemeriksaan duplikasi: pencarian di legawa.com melalui mesin pencari web tidak menemukan artikel demensia sebelumnya. Fitur pencarian internal situs mengalihkan ke beranda sehingga tidak konklusif, jadi sebaiknya dicek ulang secara manual.
- Beberapa daftar penulis pada referensi panjang dipersingkat dan perlu diverifikasi sebelum terbit.
- Artikel ini bersifat edukasi umum, bukan pengganti pemeriksaan dan keputusan klinis dokter yang menangani.
Referensi
DeKosky ST, Williamson JD, Fitzpatrick AL, et al. Ginkgo biloba for Prevention of Dementia: A Randomized Controlled Trial. JAMA. 2008;300(19):2253–2262. doi:10.1001/jama.2008.683
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/273/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Demensia. Kementerian Kesehatan RI. https://jdih.kemkes.go.id/documents/keputusan-menteri-kesehatan-nomor-hk0107menkes2732026
Livingston G, Huntley J, Liu K et al. Dementia prevention, intervention, and care: 2024 report of the Lancet standing Commission. The Lancet, 2024; 404, 572-628
National Center for Complementary and Integrative Health. (n.d.). Ginkgo: Usefulness and safety. https://www.nccih.nih.gov/health/ginkgo
National Institute for Health and Care Excellence. (2025, June 19). Final draft guidance finds benefits of 2 Alzheimer’s treatments remain too small to justify the additional costs to the NHS. https://www.nice.org.uk/news/articles/the-benefits-of-alzheimers-treatments-donanemab-and-lecanemab-remain-too-small-to-justify-the-additional-costs-says-nice-in-final-draft-guidance
Nichols E, Steinmetz J, Vollset S et al. Estimation of the global prevalence of dementia in 2019 and forecasted prevalence in 2050: an analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet Public Health, 2022; 7, e105-e125
O’Brien JT, Holmes C, Jones M, et al. Clinical practice with anti-dementia drugs: A revised (third) consensus statement from the British Association for Psychopharmacology. Journal of Psychopharmacology. 2017;31(2):147-168. doi:10.1177/0269881116680924
Palmqvist S, Whitson HE, Allen LA, et al. Alzheimer’s Association Clinical Practice Guideline on the use of blood-based biomarkers in the diagnostic workup of suspected Alzheimer’s disease within specialized care settings. Alzheimer’s Dement. 2025; 21:e70535. https://doi.org/10.1002/alz.70535
The Pharmaceutical Journal. (2026, April 1). NICE opens consultation on previously-rejected Alzheimer’s treatments donanemab and lecanemab. https://pharmaceutical-journal.com/article/news/nice-opens-consultation-on-previously-rejected-alzheimers-treatments-donanemab-and-lecanemab
van Dyck, C. H., Swanson, C. J., Aisen, P., Bateman, R. J., Chen, C., Gee, M., … Iwatsubo, T. (2023). Lecanemab in early Alzheimer’s disease. The New England Journal of Medicine, 388(1), 9–21. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2212948
World Health Organization. (2026a). Risk reduction of cognitive decline and dementia: WHO guidelines (2nd ed.). https://www.who.int/publications/i/item/9789240123557
World Health Organization. (2026b, July 15). New WHO guidelines: Up to 45% of dementia risk could be prevented or delayed [News release]. https://www.who.int/news/item/15-07-2026-new-who-guidelines–up-to-45–of-dementia-risk-could-be-prevented-or-delayed





Tinggalkan Balasan