Seorang perempuan berusia 52 tahun datang ke poliklinik hanya untuk kontrol tekanan darah rutin. Ia tidak mengeluhkan apa pun yang berarti—hanya sesekali merasa lebih cepat lelah dan pandangan sedikit kabur, yang ia anggap wajar karena “sudah menua”. Saat dilakukan pemeriksaan gula darah sewaktu sebagai bagian dari skrining penyakit tidak menular, hasilnya 265 mg/dL. Pemeriksaan HbA1c menyusul: 9,8%. Ia terkejut—tidak pernah merasa “sakit diabetes” seperti yang dibayangkannya, padahal secara diam-diam kadar gula darahnya sudah tinggi bertahun-tahun, cukup lama untuk mulai merusak pembuluh darah kecil di matanya.
Kisah seperti ini adalah wajah paling umum dari diabetes melitus tipe 2 (DMT2): penyakit yang berkembang perlahan, sering tanpa gejala mencolok, namun berdampak besar begitu terdeteksi—dan Indonesia kini menghadapinya dalam skala yang semakin besar.
Apa yang Membedakan Diabetes Tipe 2?
Diabetes melitus secara umum adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai peningkatan kadar gula darah akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Pada DMT2, masalah utamanya bukan ketiadaan insulin seperti pada tipe 1, melainkan kombinasi antara resistansi insulin—kondisi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara efektif—dan penurunan bertahap kemampuan sel beta pankreas untuk mengompensasinya. Faktor risiko utamanya erat kaitannya dengan gaya hidup: obesitas, pola makan tinggi kalori dan rendah serat, serta kurangnya aktivitas fisik, meski predisposisi genetik dan penuaan juga berperan penting.
Skala Masalah di Indonesia
Data terbaru menegaskan bahwa DMT2 adalah beban kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes melitus meningkat dari 5,7% pada 2007 menjadi 11,7% pada 2023 di antara penduduk usia 15 tahun ke atas berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah. Dari seluruh jenis diabetes, tipe 2 tetap mendominasi dengan proporsi 50,2% dari total kasus, dan paling banyak dialami kelompok usia lanjut—65–74 tahun (52,5%), 55–64 tahun (51,8%), dan 75 tahun ke atas (50,8%).
Indonesia menempati posisi kelima negara dengan jumlah penyandang diabetes melitus terbanyak di dunia menurut data International Diabetes Federation 2021, dengan proyeksi peningkatan dari 19,5 juta menjadi 28,6 juta penyandang pada 2045 apabila tidak ditangani secara serius. Yang tak kalah mengkhawatirkan adalah kesenjangan deteksi: hanya satu dari 4–5 penyandang diabetes yang mengetahui dirinya menderita penyakit ini, dan proporsi yang sama kecilnya yang benar-benar mendapatkan tata laksana di fasilitas pelayanan kesehatan. Artinya, sebagian besar penyandang DMT2 di Indonesia berjalan tanpa diagnosis—persis seperti kasus ibu pada pembuka artikel ini—hingga komplikasi mulai muncul.
Kriteria Diagnosis dan Skrining
Sesuai Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia yang diterbitkan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), diagnosis DMT2 ditegakkan melalui salah satu dari empat jalur pemeriksaan laboratorium darah: glukosa plasma puasa, glukosa plasma 2 jam pascabeban pada uji toleransi glukosa oral, HbA1c, atau glukosa plasma sewaktu disertai gejala klasik. Pedoman ini merupakan revisi ketujuh sejak dirintis PERKENI pada 1993, dengan edisi 2021 dan pembaruan 2024 yang memuat evaluasi medis komprehensif, strategi skrining populasi berisiko, serta algoritma terapi farmakologis terkini.
Skrining pada kelompok berisiko—usia di atas 40 tahun, obesitas, riwayat keluarga diabetes, hipertensi, atau riwayat diabetes gestasional—menjadi kunci mengingat gejala DMT2 seringkali tidak khas pada tahap awal. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas Kementerian Kesehatan turut menjadi salah satu pintu masuk deteksi dini di tingkat populasi, sejalan dengan temuan bahwa obesitas kini masuk dalam lima besar masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa hingga lanjut usia di Indonesia.
Pilar Pengelolaan: Dari Gaya Hidup hingga Farmakoterapi
Tata laksana DMT2 mengikuti pendekatan bertahap. Terapi non-farmakologis berupa edukasi, terapi nutrisi medis, dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama sebelum atau bersamaan dengan farmakoterapi. Ketika modifikasi gaya hidup saja belum cukup mengendalikan glikemik, obat antihiperglikemia oral (OAD)—dengan metformin sebagai lini pertama yang tersedia luas dan terjangkau melalui BPJS Kesehatan—menjadi andalan, dapat dikombinasikan dengan sulfonilurea maupun golongan lain sesuai profil pasien.

Era Baru: SGLT2 Inhibitor dan GLP-1 Receptor Agonist
Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap terapi DMT2 secara global mengalami pergeseran signifikan dengan munculnya dua golongan obat baru: inhibitor sodium-glucose co-transporter 2 (SGLT2i) dan agonis reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1 RA). Golongan SGLT2i bekerja dengan mengurangi absorpsi kembali glukosa di ginjal sehingga kelebihan gula dibuang lewat urine, sementara GLP-1 RA meniru kerja hormon inkretin alami dengan meningkatkan sekresi insulin, menekan sekresi glukagon, memperlambat pengosongan lambung, dan meningkatkan rasa kenyang.
Panduan pembaruan dari National Institute for Health and Care Excellence (NICE) Inggris pada 2026 bahkan telah menempatkan SGLT2i setara metformin sebagai terapi lini pertama sejak awal diagnosis untuk seluruh pasien dewasa, dan merekomendasikan terapi tripel bagi pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik. PERKENI 2024 turut mengakui peran SGLT2i dan GLP-1 RA dalam algoritma kardiorenal-metabolik, sejalan dengan bukti manfaat kardiovaskular dan renal golongan obat ini di luar sekadar penurunan gula darah.
Namun demikian, kesenjangan implementasi di Indonesia masih nyata. Baik dapagliflozin maupun empagliflozin (golongan SGLT2i) serta semaglutide (golongan GLP-1 RA) telah mengantongi izin edar BPOM, namun sistem pembiayaan JKN/BPJS Kesehatan belum menanggung golongan obat yang relatif baru ini. Dengan harga SGLT2i generik lokal berkisar Rp450.000–600.000 per bulan dan semaglutide dapat mencapai lebih dari Rp1–2 juta per bulan, kesenjangan aksesibilitas antara metformin dan sulfonilurea yang tersedia gratis melalui BPJS dengan golongan obat baru ini menjadi tantangan nyata dalam praktik klinis sehari-hari, khususnya di layanan primer dan FKTP.
Peran Prolanis dan Rujukan Berjenjang
Dalam skema JKN, pengelolaan DMT2 tanpa komplikasi umumnya ditangani di tingkat FKTP (Puskesmas atau klinik pratama) melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), dengan rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL) diperlukan bila kontrol glikemik tidak tercapai setelah penggunaan satu hingga dua OAD dalam tiga bulan, HbA1c di atas 9% yang memerlukan insulin, atau bila muncul komplikasi. Struktur rujukan berjenjang ini penting dipahami oleh dokter umum sebagai penapis pertama, khususnya dalam menentukan kapan pasien perlu dieskalasi ke layanan spesialistik.
Komplikasi: Mengapa Deteksi Dini Krusial
DMT2 yang tidak terkendali secara kronis berdampak pada berbagai organ—mata (retinopati), ginjal (nefropati), saraf tepi (neuropati), serta risiko kardiovaskular yang meningkat tajam berupa penyakit jantung koroner dan stroke. Karena onsetnya perlahan dan sering asimtomatik pada tahap awal, banyak pasien—seperti pada kasus pembuka artikel ini—baru terdiagnosis setelah komplikasi mikrovaskular mulai berkembang. Inilah yang menjadikan program skrining populasi, edukasi tenaga kesehatan primer, dan penguatan Prolanis sebagai instrumen kebijakan yang strategis, bukan sekadar administratif.
Menutup: Beban yang Bisa Dicegah dan Dikelola
Diabetes melitus tipe 2 adalah salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar Indonesia saat ini—didorong oleh transisi epidemiologis, urbanisasi, dan perubahan pola makan, namun sebagian besar kasusnya sesungguhnya dapat dicegah atau dideteksi jauh lebih dini. Kesenjangan antara kemajuan terapi global dan implementasi di layanan kesehatan nasional tetap menjadi pekerjaan rumah bersama—bagi pembuat kebijakan dalam memperluas akses pembiayaan, maupun bagi dokter di garis depan layanan primer dalam mengenali dan menindaklanjuti kasus sedini mungkin.
Daftar Pustaka
Alomedika. (2025). Pedoman standar manajemen diabetes – Ulasan guideline terkini. https://www.alomedika.com/pedoman-standar-manajemen-diabetes-ulasan-guideline-terkini
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. (2024). Potret sehat Indonesia dari kacamata SKI 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id
Databoks (Katadata Insight Center). (2024). Diabetes tipe 2 paling banyak diderita orang Indonesia pada 2023. https://databoks.katadata.co.id
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2021). Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di Indonesia 2021. PB PERKENI.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2024). Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di Indonesia 2024. PB PERKENI. https://pbperkeni.or.id/wp-content/uploads/2025/08/DMT2-2024-Protected.pdf
Pasien Sehat. (2024). Daftar obat yang ditanggung BPJS Kesehatan berdasarkan Formularium Nasional. https://www.pasiensehat.com
PKM Mengkubang, Dinas Kesehatan Belitung Timur. (2024). Jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat. https://pkm-mengkubang.beltim.go.id
CNA Indonesia. (2025, Desember 8). Obat diet viral GLP-1 untuk terapi obesitas? Ini kata Kemenkes. https://www.cna.id/lifestyle/kemenkes-kaji-obat-glp-1-untuk-terapi-obesitas-41746
Legawa.com. (2026). Panduan diabetes tipe 2: NICE vs Indonesia dalam era terapi kardiorenal-metabolik. https://legawa.com
Catatan Transparansi
Sebagian data mengenai perbandingan panduan NICE 2026 dan implementasi PERKENI 2024 dirujuk dari artikel legawa.com sebelumnya yang membahas tema serupa; data harga obat golongan SGLT2i dan GLP-1 RA (dalam Rupiah) bersumber dari situs komersial/apotek daring dan bersifat indikatif, dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan distributor dan nilai tukar. Status penanggungan BPJS terhadap golongan obat baru (SGLT2i, GLP-1 RA) merujuk pada kondisi kebijakan hingga pertengahan 2026 dan berpotensi berubah seiring proses Health Technology Assessment yang sedang berjalan di Kementerian Kesehatan. Artikel ini membahas DMT2 pada populasi dewasa; DMT2 pada anak dan remaja—yang juga menunjukkan tren peningkatan di Indonesia—memerlukan pembahasan tersendiri mengingat perbedaan pendekatan diagnosis dan tata laksananya.





Tinggalkan Balasan