Selasa pagi di sebuah Puskesmas di Makassar, seorang perawat berusia 29 tahun datang dengan keluhan yang biasanya ia tangani dari sisi sebaliknya: nyeri saat berkemih, sering ke kamar mandi, dan dorongan ingin berkemih lagi padahal baru selesai. Tidak ada demam, tidak ada nyeri pinggang. Ia bertanya hal yang paling manusiawi: “Dok, kira-kira kapan saya mulai enakan?”
Pertanyaan itu jarang dijawab dengan data. Sebuah studi yang terbit di JAMA Network Open pada awal September 2026 mencoba menjawabnya untuk satu obat baru, gepotidacin: lebih dari separuh perempuan dalam studi itu melaporkan gejala membaik dalam 24 jam pertama (Ramírez dkk., 2026). Angka itu menarik. Tetapi seperti kebanyakan angka menarik, ia baru berguna bila kita tahu persis apa yang diukur.
Apa yang Sebenarnya Diteliti
Gepotidacin adalah antibiotik oral golongan baru (triazaasenaftilena) yang menghambat dua enzim bakteri, DNA girase dan topoisomerase IV, melalui situs ikatan yang berbeda dari kuinolon (Ramírez dkk., 2026). Obat ini disetujui Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat pada Maret 2025 untuk infeksi saluran kemih (ISK) tanpa komplikasi pada perempuan berusia 12 tahun ke atas dengan berat badan minimal 40 kg, lalu disetujui badan regulator Inggris (MHRA) pada Agustus 2025 (Ramírez dkk., 2026).
Studi yang dibahas ini adalah uji klinis fase 3b, open-label, satu lengan (single-arm), tanpa randomisasi, di 21 lokasi di Amerika Serikat. Sebanyak 97 perempuan dengan gejala ISK dan bukti nitrit atau piuria di urin diberi gepotidacin 1.500 mg dua kali sehari selama lima hari. Empat gejala (disuria, frekuensi, urgensi, dan nyeri perut bawah) diberi skor 0–3 lalu dijumlahkan menjadi skor 0–12. Penilaian dilakukan lewat telepon oleh satu penyedia independen pada jam ke-24, 48, 72, 96, dan hari ke-10. “Membaik” didefinisikan sebagai penurunan skor total sekurang-kurangnya 1 poin tanpa antibiotik sistemik lain (Ramírez dkk., 2026).
Angka Utama
Pada populasi yang dapat dievaluasi secara klinis (sekitar 90 orang), 54,4% (IK 95%: 43,6–65,0) mengalami perbaikan pada jam ke-24. Perbaikan mencapai 79,8% pada jam ke-48 dan 90,0% pada jam ke-72. Gejala yang hilang total jauh lebih lambat: hanya 3,3% pada jam ke-24, sekitar 54% pada jam ke-96, dan 90,0% pada hari ke-10 (Ramírez dkk., 2026).
Membaca Angka 54% dengan Cermat
Judul berita yang menyebut gejala “mereda dalam 24 jam” benar dalam arti sempit, tetapi ada beberapa lapisan yang perlu dibuka.
- Ambang “membaik” rendah. Penurunan 1 poin dari skala 12 sudah dihitung. Skor rerata turun dari sekitar 7,6 menjadi sekitar 6 pada jam ke-24 (dibaca dari grafik naskah), sehingga banyak peserta masih bergejala cukup jelas. Hanya 3 dari 90 orang yang bebas gejala pada saat itu.
- Tidak semua membaik. Pada jam ke-24, 28% peserta tidak berubah, 11% memburuk, dan 7% tidak dapat ditentukan.
- Tidak ada pembanding. Tanpa kelompok kontrol, studi ini tidak dapat menyatakan gepotidacin lebih cepat daripada obat lain. Para penulis sendiri mengutip studi siprofloksasin tahun 2005 yang melaporkan perbaikan sekitar 87% pada jam ke-24, dengan desain dan definisi yang berbeda. Sebagian sistitis tanpa komplikasi juga dapat membaik tanpa antibiotik, sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari data satu lengan.
- Sampel kecil dan analisis deskriptif. Tidak ada uji hipotesis yang direncanakan; peserta dan penilai tahu obat yang diberikan.
- Populasi belum tentu mewakili kita. Seluruh lokasi berada di Amerika Serikat; 71% peserta berkulit putih, 57% Hispanik/Latin, dan perempuan berusia 65 tahun ke atas hanya 12%. Tujuh dari delapan penulis berafiliasi dengan GSK, pemegang izin edar obat ini.
Apa Kata Uji Acak yang Lebih Besar
Untuk menilai posisi gepotidacin, kita perlu menengok uji acak berpembanding yang menjadi dasar persetujuannya.
| Sumber | Desain | Temuan utama | Catatan |
|---|---|---|---|
| Ramírez dkk. (2026) | Fase 3b, satu lengan, terbuka; 97 peserta | 54,4% membaik pada jam ke-24; 90% gejala hilang total pada hari ke-10 | Tanpa pembanding; analisis deskriptif |
| EAGLE-2 dan EAGLE-3 (Wagenlehner dkk., 2024) | Dua uji acak fase 3, buta ganda, vs nitrofurantoin; 3.136 peserta | Keberhasilan terapi (klinis + mikrobiologis) 50,6% vs 47,0% (EAGLE-2) dan 58,5% vs 43,6% (EAGLE-3) | Tidak lebih rendah dari nitrofurantoin di keduanya; lebih unggul di EAGLE-3 |
| Analisis gabungan respons dini (Sheets dkk., 2026) | Gabungan EAGLE-2 dan EAGLE-3 | Lebih dari 80% membaik pada kunjungan hari ke-2–4 di kedua kelompok | Respons dini gepotidacin dan nitrofurantoin serupa |
Poin terakhir paling relevan bagi klinik sehari-hari: pada analisis gabungan, proporsi peserta yang melaporkan gejala tidak lagi mengganggu aktivitas pada kunjungan awal hampir identik, 53,2% dengan gepotidacin dan 53,6% dengan nitrofurantoin (Sheets dkk., 2026). Dengan kata lain, kecepatan perbaikan gejala bukan alasan utama memilih obat baru ini.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis tiga uji fase 3 melaporkan keberhasilan terapi gabungan yang lebih tinggi untuk gepotidacin (RR 1,20; IK 95%: 1,10–1,31), tetapi disertai diare dan mual yang jauh lebih sering (RR masing-masing 5,51 dan 2,49) (Ibrahim dkk., 2026). Perlu dicatat pula bahwa angka keberhasilan nitrofurantoin dalam EAGLE (sekitar 44–47%) jauh lebih rendah daripada studi lama, sebagian karena definisi keberhasilan yang ketat, yakni gejala hilang total ditambah eradikasi bakteri (Wagenlehner dkk., 2025).
Keamanan dan Hal Praktis
Pada studi ini, 28% peserta mengalami sedikitnya satu kejadian tidak diinginkan, terutama ringan–sedang. Diare paling sering (16%), disusul perut kembung (6%) dan pusing (5%). Tidak ada kejadian serius, tiga peserta (3%) berhenti karena efek samping, dan tidak ditemukan pemanjangan interval QT pada pemantauan elektrokardiografi (Ramírez dkk., 2026). Sampel sekecil ini tentu tidak cukup untuk menyingkirkan efek jarang.
Informasi peresepan FDA memuat peringatan pemanjangan interval QTc yang bergantung pada dosis dan konsentrasi obat, anjuran meminum tablet setelah makan untuk mengurangi gangguan lambung-usus, serta anjuran menghindari penggunaan bersama penginduksi kuat enzim CYP3A4 pada ISK (GlaxoSmithKline, 2026). Riwayat hipersensitivitas berat terhadap obat ini merupakan kontraindikasi.
Mengapa Obat Baru Tetap Penting: Peta Resistansi
Daya tarik gepotidacin ada pada aktivitasnya terhadap kuman yang sudah resistan terhadap obat lama. Dalam isolat Escherichia coli dari EAGLE-2 dan EAGLE-3, sekitar 28% resistan terhadap fluorokuinolon, 28% terhadap trimetoprim-sulfametoksazol, 15% menghasilkan extended-spectrum β-lactamase (ESBL), dan 28% bersifat resistan banyak obat. Tidak ada isolat Enterobacterales yang dinilai resistan terhadap gepotidacin (Scangarella-Oman dkk., 2025). Selama uji fase 3, hanya satu dari 1.045 pasien (0,096%) yang berpotensi mengalami perkembangan resistansi selama terapi (Weikel dkk., 2026).
Gambaran di Indonesia juga mengkhawatirkan. Studi potong lintang pada 308 isolat bakteri dari pasien ISK di Indonesia (2020–2022) menemukan E. coli sebagai penyebab terbanyak (39,6%), 35% isolat bersifat resistan banyak obat, dengan resistansi tertinggi terhadap ampisilin (60%) dan kotrimoksazol (50%) (Prastiyanto dkk., 2024). Data ini berasal dari spesimen laboratorium dan bukan khusus sistitis komunitas tanpa komplikasi, sehingga tidak bisa langsung diterapkan pada setiap pasien Puskesmas, tetapi menunjukkan mengapa pilihan empiris perlu mengikuti pola kepekaan lokal. Pembahasan lebih luas tentang resistansi bakteri di rumah sakit Indonesia dan durasi terapi dapat dibaca di artikel kami tentang ISK; perkembangan antibiotik oral baru lain dibahas di ulasan tebipenem pivoksil.
Bagaimana Posisinya bagi Praktik di Indonesia
Dalam penelusuran untuk artikel ini, saya tidak menemukan informasi izin edar gepotidacin dari BPOM, sehingga pembaca yang berpraktik perlu memeriksa ketersediaannya secara langsung. Pedoman internasional terkini, sebagaimana diulas ringkas dalam sumber berbahasa Indonesia, tetap menempatkan fosfomisin, nitrofurantoin, pivmesilinam, dan kotrimoksazol sebagai pilihan lini pertama sistitis tanpa komplikasi (Alomedika, 2024); Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) juga telah menerbitkan panduan tata laksana ISK pada 2021. Tinjauan farmakoterapi terbaru memosisikan gepotidacin sebagai tambahan selektif, bukan pengganti regimen lini pertama, dengan peran jangka panjang yang bergantung pada antimicrobial stewardship, surveilans resistansi, dan data perbandingan langsung (Saeed Akhtar, 2026).
Lima Pesan Praktis
- Jujur soal harapan. Pada studi ini, sekitar separuh pasien merasa membaik dalam sehari dan hampir 80% dalam dua hari; gejala hilang total umumnya butuh beberapa hari.
- Jangan memilih obat hanya karena “cepat”. Respons dini pada uji acak serupa dengan nitrofurantoin.
- Waspadai bukan sistitis sederhana. Demam, nyeri pinggang, kehamilan, jenis kelamin laki-laki, dan usia anak membutuhkan penilaian berbeda, termasuk kultur urin.
- Kultur urin pada kasus rekuren atau gagal terapi. Sekitar 60% peserta studi ini punya riwayat ISK berulang; di praktik, kelompok ini paling diuntungkan oleh data kepekaan.
- Simpan agen baru untuk saat yang tepat. Menggunakan obat baru untuk semua sistitis berisiko mempercepat resistansi terhadapnya.
Penutup
Kembali ke perawat di Makassar tadi. Jawaban jujur yang kini bisa diberikan lebih berimbang: dengan antibiotik yang tepat, banyak pasien mulai merasa lebih baik dalam satu hingga dua hari, tetapi bebas gejala sepenuhnya butuh waktu lebih lama. Studi gepotidacin ini memberi data berharga tentang kecepatan itu, sekaligus mengingatkan bahwa angka yang tampak impresif tetap harus dibaca bersama desain, pembanding, dan populasinya.
Catatan Transparansi
- Ilustrasi pasien di awal artikel bersifat fiktif dan hanya untuk memudahkan pembahasan.
- Angka studi utama diambil dari naskah lengkap di PubMed Central; rerata skor 24 jam dibaca kasar dari grafik. Pernyataan pendanaan tidak dapat saya verifikasi dari teks yang tersedia; yang terverifikasi adalah afiliasi tujuh dari delapan penulis dengan GSK.
- Data studi siprofloksasin tahun 2005 dikutip dari pembahasan naskah Ramírez dkk. (2026), bukan dari penelusuran naskah aslinya.
- Data Indonesia (Prastiyanto dkk., 2024) saya baca dari abstrak karena naskah lengkap terbatas aksesnya; populasinya bukan khusus sistitis komunitas tanpa komplikasi.
- Isi pedoman EAU 2024 dan keberadaan panduan IAUI 2021 saya rujuk melalui ulasan sekunder (Alomedika), bukan dokumen aslinya. Informasi label obat saya baca dari salinan label di Drugs.com sehingga sebaiknya diverifikasi dengan label resmi.
- Ketiadaan temuan izin edar BPOM berarti saya tidak menemukannya dalam penelusuran yang dilakukan, bukan bukti bahwa obat ini pasti belum terdaftar.
- Gambar unggulan dibuat dengan bantuan AI. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Daftar Pustaka
Alomedika. (2024). Pedoman tata laksana infeksi saluran kemih 2024 – Ulasan guideline terkini. https://alomedika.com/pedoman-tata-laksana-infeksi-saluran-kemih-2024-ulasan-guideline-terkini
GlaxoSmithKline. (2026). Blujepa (gepotidacin) tablets: Prescribing information [Revisi Februari 2026]. https://www.drugs.com/pro/blujepa.html
Ibrahim, T., Burhan, M., Naveed, M. A., Ali, A., Shahid, Z. U. A., Nizam, F., & Ibrahim, J. (2026). Safety and efficacy of gepotidacin in urinary tract infection: A GRADE-assessed systematic review and meta-analysis. Journal of Antimicrobial Chemotherapy, 81(2). https://doi.org/10.1093/jac/dkaf469
Ikatan Ahli Urologi Indonesia. (2021). Panduan tatalaksana infeksi saluran kemih dan genitalia pria. IAUI.
Prastiyanto, M. E., Iswara, A., Khairunnisa, A., Sofyantoro, F., Siregar, A. R., Mafiroh, W. U., Setiawan, J., Nadifah, F., Wibowo, A. T., & Putri, W. A. (2024). Prevalence and antimicrobial resistance profiles of multidrug-resistant bacterial isolates from urinary tract infections in Indonesian patients: A cross-sectional study. Clinical Infection in Practice, 22. https://doi.org/10.1016/j.clinpr.2024.100359
Ramírez, M., Gupta, K., Díaz-Regañón, J., Banerjee, R., Bablani, J., Powell, D., Hankinson, A., & Janmohamed, S. (2026). Gepotidacin and early symptom improvement in uncomplicated urinary tract infection: A nonrandomized clinical trial. JAMA Network Open, 9(9), e2634116. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2026.34116
Saeed Akhtar, M. (2026). Gepotidacin in oral antibacterial pharmacotherapy: Efficacy, safety, and clinical positioning. Expert Opinion on Pharmacotherapy, 27(11), 1197–1208. https://doi.org/10.1080/14656566.2026.2705348
Scangarella-Oman, N. E., Butler, D. L., Breton, J., Brown, D., Kasapidis, C., Millns, H., Huang, C., Perry, C. R., Sheets, A. J., Dennison, J., & Janmohamed, S. (2025). Efficacy and activity of gepotidacin against bacterial uropathogens, including drug-resistant phenotypes, in females with uncomplicated urinary tract infections: Results from two global, pivotal, phase 3 trials (EAGLE-2 and EAGLE-3). Antimicrobial Agents and Chemotherapy, 69(10), e01640-24. https://doi.org/10.1128/aac.01640-24
Sheets, A. J., Dennison, J., Pogue, J. M., Kaye, K. S., Perry, C., Millns, H., Díaz-Regañón, J., & Janmohamed, S. (2026). Early symptom response in patients with uncomplicated urinary tract infection treated with gepotidacin or nitrofurantoin: Pooled analysis from two pivotal phase 3 studies. Clinical Infectious Diseases, 82(4), e684–e692. https://doi.org/10.1093/cid/ciaf722
Wagenlehner, F., Kaye, K. S., Talan, D. A., Sheets, A. J., Scangarella-Oman, N. E., Jarvis, E., Dennison, J., Janmohamed, S., Helgeson, M., & Perry, C. (2025). Impact of updated regulatory guidelines on study results in contemporary uncomplicated urinary tract infection clinical trials and implications for trial conduct and drug development: A comparative analysis with EAGLE-2 and EAGLE-3. Contemporary Clinical Trials Communications, 48, 101572. https://doi.org/10.1016/j.conctc.2025.101572
Wagenlehner, F., Perry, C. R., Hooton, T. M., Scangarella-Oman, N. E., Millns, H., Powell, M., Jarvis, E., Dennison, J., Sheets, A., Butler, D., Breton, J., & Janmohamed, S. (2024). Oral gepotidacin versus nitrofurantoin in patients with uncomplicated urinary tract infection (EAGLE-2 and EAGLE-3): Two randomised, controlled, double-blind, double-dummy, phase 3, non-inferiority trials. The Lancet, 403(10428), 741–755. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)02196-7
Weikel, C. A., Breton, J., Butler, D., West, J., Sheets, A., Kimbrough, J. H., Castanheira, M., Mendes, R. E., & Scangarella-Oman, N. E. (2026). Characterization of isolates from two phase 3 uncomplicated urinary tract infection trials (EAGLE-2 and EAGLE-3) that show an apparent ≥4-fold increase in gepotidacin MIC between baseline and post-baseline visits. JAC-Antimicrobial Resistance, 8(5), dlag186. https://doi.org/10.1093/jacamr/dlag186





Tinggalkan Balasan