Sabtu Sepenggal Sastra — menikmati sastra di akhir pekan. Setiap Sabtu, satu penggal sastra dari penjuru dunia, dibaca pelan-pelan.
Ada puisi yang membuka diri dengan gagasan besar. Ada pula yang membuka diri dengan sebuah bunyi. “Sheng Sheng Man” (声声慢) karya penyair perempuan Tiongkok, Li Qingzhao, termasuk yang kedua. Baris pertamanya hanya terdiri atas empat belas aksara yang disusun sebagai tujuh pasang kata ulang: sebuah gerak mencari, sebuah suasana dingin dan sepi, lalu sebuah keadaan batin yang pedih dan murung. Tiga tahap itu ditempuh tanpa satu pun kata kerja yang rumit. Pembaca langsung diseret masuk ke dalam rumah yang sudah kosong.
Asal-usul penggalan ini
Li Qingzhao (sekitar 1084 hingga sekitar 1155) lahir pada masa Dinasti Song Utara dalam keluarga terpelajar. Ia menikah dengan Zhao Mingcheng, seorang pejabat sekaligus kolektor prasasti perunggu dan batu, dan keduanya hidup dalam kegemaran bersama akan buku, lukisan, dan benda antik. Segalanya runtuh ketika pasukan Jurchen menyerbu utara pada 1127. Mereka mengungsi ke selatan, sebagian besar koleksi hilang atau terbakar, dan Zhao Mingcheng wafat pada 1129. Li Qingzhao menghabiskan sisa hidupnya sebagai pengungsi dan janda, dan dari masa inilah lahir puisi-puisinya yang paling gelap.
Puisi ini berbentuk ci (词), jenis puisi yang semula ditulis untuk dinyanyikan mengikuti melodi tertentu. “Sheng Sheng Man” sebenarnya nama melodinya, bukan judul isi; kerangka nadanya sudah ada dan penyair mengisinya dengan kata. Bentuk ini lazim disebut ci dengan larik panjang-pendek yang tak seragam, berbeda dengan shi klasik yang lebih ajek. Perlu diketahui pula bahwa para sarjana memperdebatkan keotentikan sebagian karya yang dinisbatkan kepada Li Qingzhao, dan tahun penulisan puisi ini umumnya diperkirakan berada pada masa kejandaannya di selatan, meski tidak pernah dapat dipastikan.
Apa yang terjadi di dalam puisi
Karena hak cipta tidak lagi menjadi soal bagi karya sepuluh abad lalu, tetapi urusan terjemahan masih ada pemiliknya, saya memilih menuturkan isinya dengan kata-kata saya sendiri dan mengajak Anda membaca teks lengkapnya dari sumber yang saya cantumkan di bawah.
Sesudah pembukaan beruntun itu, sang penyair berbicara tentang cuaca: hawa yang tiba-tiba menghangat lalu mendingin lagi, masa yang paling sulit untuk mengatur tubuh agar nyaman. Ia mencoba menenangkan diri dengan beberapa cawan arak encer, tetapi angin petang yang datang terlalu kencang untuk dilawan. Lalu angsa liar melintas, dan hatinya terguncang karena ia mengenali mereka sebagai burung-burung lama, yang dulu pernah membawa kabar baginya. Di bawah jendela, krisan menumpuk gugur dan layu, dan tak ada lagi seseorang yang pantas memetiknya. Ia duduk menjaga jendela seorang diri, menunggu hari gelap yang tak kunjung tiba. Rintik hujan jatuh pada daun-daun wutong hingga senja. Puisi ditutup dengan pertanyaan yang tidak menunggu jawab: keadaan seperti ini, bagaimana mungkin sebuah kata, yaitu duka, sanggup menampungnya?
Membaca lebih dekat
Bunyi sebagai perasaan. Dalam bahasa Tionghoa, pengulangan aksara pada pembukaan itu juga mengulang bunyi. Banyak aksara dalam rentetan itu memakai bunyi sibilan dan konsonan sempit yang terdengar seperti desis atau helaan napas. Terjemahan mana pun akan kehilangan sebagian besar efek ini, dan itulah sebabnya para penerjemah berlomba-lomba menemukan padanan dalam bahasa mereka, dari yang setia pada makna sampai yang berusaha meniru gemanya. Pelajaran bagi pembaca Indonesia: puisi ini paling baik dinikmati dengan dua pintu sekaligus, yaitu terjemahan untuk maknanya, dan lafal Mandarin yang dibacakan penutur untuk bunyinya.
Benda kecil, beban besar. Li Qingzhao nyaris tidak pernah menyebut peristiwa besar. Tidak ada kata tentang invasi, kota yang jatuh, atau kematian suami. Yang ada hanyalah arak encer, angin senja, angsa, krisan, jendela, dan hujan di daun. Di sinilah kekuatan puisi ini: sejarah dipadatkan menjadi suasana, dan pembaca diminta menyusun sendiri apa yang hilang. Inilah teknik yang sering disebut para kritikus menyatakan perasaan melalui pemandangan, dan di tangan Li Qingzhao ia terasa sangat pribadi, bukan hiasan.
Angsa dan kabar. Dalam tradisi sastra Tiongkok, angsa liar yang terbang membawa citra surat dan kabar dari jauh. Karena itu, hati yang terguncang saat melihatnya bisa dibaca dengan dua cara. Yang pertama, ia teringat pada masa ketika ada seseorang yang dapat dikirimi dan dinanti kabarnya. Yang kedua, lebih pahit: angsa itu terbang di langit yang sama, tetapi sudah tidak ada surat yang akan sampai. Kata “lama” yang melekat pada burung-burung itu membuka kemungkinan tafsir ketiga, bahwa justru hal-hal yang tetap kembali setiap tahun itulah yang paling menyakitkan bagi orang yang kehilangan.
Kalimat terakhir yang menolak menutup. Pertanyaan penutup tentang satu kata yang tak muat menampung semuanya dapat dibaca sebagai pengakuan kekalahan bahasa. Tetapi dapat pula dibaca sebaliknya: puisi ini justru telah berhasil mengisi “satu kata itu” dengan seluruh isinya. Pembaca yang sampai di titik ini sudah tahu persis apa isi duka tersebut. Ironi inilah yang menjadikan penutup ini begitu efektif, sebab ia mengaku tak mampu, padahal sedang membuktikan kemampuannya.
Tafsir yang tidak tunggal. Sebagian pembaca menekankan sisi biografisnya: ratapan seorang janda pengungsi. Sebagian lain, termasuk banyak kritikus modern, menolak membacanya semata sebagai catatan harian, dan menilainya sebagai kerja bahasa yang sangat sadar. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Barangkali kita bisa mengatakan bahwa pengalaman pribadi memberi bahannya, sedangkan keahlian membentuknya, dan puisi yang bertahan hampir seribu tahun pasti lebih dari sekadar curahan.
Mengapa layak dibaca hari ini
Di zaman ketika kita dilatih untuk menjelaskan perasaan dengan cepat dan lengkap, puisi ini mengingatkan bahwa ada duka yang paling jujur ketika ia tidak dijelaskan. Yang kita dapat lakukan hanyalah menunjuk pada jendela, hujan, dan sebuah rumah yang sunyi. Bagi siapa pun yang pernah kehilangan, rasa itu tidak asing, dan itulah alasan sebuah puisi dari Dinasti Song masih terasa seperti ditulis untuk kita.
Di mana membaca versi utuhnya
- Teks asli Mandarin: tersedia di berbagai arsip puisi klasik daring, misalnya Chinese Text Project (ctext.org) dan situs puisi klasik seperti gushiwen.cn; cari “声声慢 李清照”.
- Terjemahan Inggris: Li Ch’ing-chao: Complete Poems, diterjemahkan Kenneth Rexroth dan Ling Chung (New Directions); serta The Complete Ci-Poems of Li Qingzhao, terjemahan Jiaosheng Wang.
- Kajian: Ronald Egan, The Burden of Female Talent: The Poet Li Qingzhao and Her History in China (Harvard University Asia Center), untuk riwayat hidup dan perdebatan tafsirnya.
Catatan: ringkasan isi di atas adalah parafrasa saya, bukan kutipan terjemahan resmi. Rincian biografis dan tahun mengikuti kesepakatan umum para sarjana dan dapat berbeda antarsumber; periksa pustaka di atas bila Anda membutuhkan ketepatan akademis.
Sabtu depan, kita akan membaca penggal sastra dari belahan dunia lain.





Tinggalkan Balasan