Ibu Rahmawati (61), penjual kue basah di Banjarmasin, sudah dua belas tahun hidup dengan diabetes tipe 2. Kini ia memakai metformin dan insulin kerja panjang (basal) setiap malam. Tiga kali kontrol berturut-turut di puskesmas, HbA1c-nya berkisar 9%. Pernah sekali ia terbangun dini hari dengan keringat dingin dan tangan gemetar. Karena strip gula darah mahal, ia hanya memeriksa sendiri satu atau dua kali seminggu.
Dokter di puskesmas hanya melihat beberapa angka lepas. Pola gula darah Ibu Rahmawati sepanjang siang dan malam tidak tampak sama sekali. Seandainya pola itu bisa dilihat, keputusan menaikkan atau menurunkan dosis insulin mungkin lebih tepat. Kesenjangan semacam inilah yang disasar pernyataan ilmiah baru dari American Diabetes Association (ADA). Ibu Rahmawati adalah tokoh ilustrasi fiktif.
Apa yang diterbitkan ADA?
Pada 28 September 2026, ADA menerbitkan Diabetes Technology in the Primary Care Setting, pernyataan ilmiah (scientific statement) pertamanya yang khusus membahas teknologi diabetes di layanan primer. Naskah ini terbit serentak di Diabetes, Obesity, and CardioMetabolic CARE dan Journal of Diabetes Science and Technology (American Diabetes Association [ADA], 2026a). Latar belakangnya: sebagian besar perawatan diabetes berlangsung di layanan primer, tetapi teknologinya belum terintegrasi secara konsisten. Penulis menyebut hambatan tenaga, pelatihan, waktu, infrastruktur data, dan asuransi yang membuat akses serta adopsi tidak merata (Ebekozien et al., 2026).
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Penyusun | Panel lintas profesi beranggotakan 32 pakar; didukung sembilan organisasi profesi dan Komite Praktik Profesional ADA (ADA, 2026a) |
| Terbit | 28 September 2026 |
| Metode | Panel bertemu langsung pada Diabetes Technology Meeting (Oktober 2025), menelaah bukti terbitan 2020–2025, lalu melanjutkan dengan rapat daring selama sekitar dua bulan (Ebekozien et al., 2026) |
| Hasil | 16 pernyataan konsensus dan 10 rekomendasi kunci |
| Cakupan | Akses dan adopsi, alur kerja tim, pemantauan glukosa kontinu, penghantaran insulin terhubung, serta hambatan dan peluang |
| Jenis dokumen | Pernyataan ilmiah berbasis konsensus panel, bukan uji klinis |
Mengapa layanan primer menjadi sorotan
Menurut siaran pers ADA, tiga dari empat wilayah setingkat kabupaten (county) di Amerika Serikat tidak memiliki endokrinolog yang berpraktik. Teknologi yang selama ini terpusat di klinik spesialis karena itu perlu dibawa ke layanan primer (ADA, 2026a). Seorang penyaji sesi ADA bahkan menyebut hingga 90% penyandang diabetes dirawat di layanan primer (ADA, 2026b). Angka itu keterangan penyaji, bukan temuan pernyataan ilmiah.
Rincian di Indonesia berbeda, tetapi arahnya mirip. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes 11,7% pada penduduk usia 15 tahun ke atas berdasarkan pemeriksaan gula darah (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI], 2026). International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sekitar 20,4 juta orang dewasa Indonesia hidup dengan diabetes pada 2024, dan sekitar 73,2% di antaranya belum terdiagnosis (IDF, n.d.). Secara global, estimasi IDF mencapai 589 juta orang dewasa (IDF, 2025). Pedoman nasional terbaru menempatkan dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama sebagai ujung tombak (Kemenkes RI, 2026). Saya tidak menemukan data berapa persen penyandang diabetes di Indonesia dirawat di layanan primer, maupun berapa yang memakai pemantauan glukosa kontinu.
Tiga teknologi yang dibahas
Pernyataan ini mencakup alat pemantau glukosa dan alat penghantar insulin (ADA, 2026a). Berikut penjelasan singkatnya dalam bahasa sehari-hari.
| Teknologi | Cara kerja singkat | Yang dapat dilihat tim |
|---|---|---|
| Pemantauan glukosa kontinu (continuous glucose monitoring, CGM) | Sensor kecil di kulit, biasanya di lengan, membaca glukosa cairan jaringan terus-menerus dan mengirimkannya ke ponsel atau alat baca | Pola sepanjang siang dan malam, waktu dalam rentang target (time in range), hipoglikemia yang tidak terasa |
| Pena insulin terhubung | Pena suntik yang merekam dosis dan waktu penyuntikan | Dosis terlewat atau ganda, kesesuaian dosis dengan pola glukosa |
| Sistem insulin otomatis (automated insulin delivery, AID) | Algoritme mengatur pemberian insulin berdasarkan data CGM | Penyesuaian insulin otomatis; lebih kompleks sehingga butuh pendampingan dan akses ke spesialis |
Pernyataan ini melanjutkan sikap lama ADA: semua penyandang diabetes sebaiknya memiliki akses tanpa hambatan ke teknologi berbasis bukti, termasuk CGM, pena insulin terhubung, sistem insulin otomatis, aplikasi seluler, dan pendampingan jarak jauh (Medscape, 2026). Position statement EASD–ADA pada Maret 2026 menambahkan catatan penting. Tidak ada pendekatan satu untuk semua, teknologi harus sesuai kebutuhan, kemampuan, dan preferensi masing-masing orang, dan disparitas harus dihindari, termasuk kesenjangan digital (digital divide) (Bruttomesso et al., 2026).
Apa yang diminta dari tim layanan primer
Siaran pers ADA merinci empat langkah praktis bagi tim layanan primer (ADA, 2026a):
- pelatihan staf;
- pembagian peran yang jelas;
- pemasangan dan orientasi perangkat bagi pengguna;
- peninjauan data teknologi secara rutin untuk memandu perawatan.
ADA menyebut spesialis edukasi dan perawatan diabetes, apoteker, perawat praktisi, asisten dokter (physician associate), dan anggota tim lain dapat membantu praktik mendukung para pengguna (ADA, 2026a). Abstrak naskahnya menyimpulkan bahwa teknologi diabetes dapat diintegrasikan ke layanan primer dengan aman dan efektif bila ditopang alur kerja terstandar, pelatihan memadai, peran tim yang jelas, dan akses ke keahlian spesialis (Ebekozien et al., 2026). Diagram berikut merangkum alurnya secara sederhana.
Pemikiran saya: di Indonesia, peran-peran itu mungkin dijalankan perawat, bidan, apoteker, atau ahli gizi yang sudah terlibat dalam program pengelolaan penyakit kronis seperti Prolanis. Ini tafsiran saya, bukan isi pernyataan ADA.
Hambatan: yang tertulis dan yang terasa di sini
Pernyataan ADA menyebut hambatan tenaga, pelatihan, waktu, data, dan asuransi. Naskahnya juga menyinggung keterjangkauan, literasi digital, akses internet pita lebar, interoperabilitas, dan pengembangan tenaga kerja (Ebekozien et al., 2026). Kolom kanan tabel di bawah adalah analisis saya untuk konteks Indonesia, bukan isi pernyataan.
| Hambatan | Gambaran di Indonesia (analisis penulis) |
|---|---|
| Tenaga dan waktu | Konsultasi singkat dan antrean panjang di puskesmas membuat peninjauan data sulit terselip |
| Pelatihan | Membaca laporan CGM memerlukan keterampilan baru; sejauh yang saya temukan, pedoman nasional terbaru belum membahasnya |
| Infrastruktur data dan konektivitas | Sinyal dan kuota di daerah terpencil, serta pertukaran data perangkat dengan rekam medis fasilitas |
| Pembiayaan dan keterjangkauan | Status pembiayaan sensor dan perangkat dalam JKN tidak saya temukan pada sumber yang dapat diverifikasi; fasilitas perlu mengonfirmasi langsung ke BPJS Kesehatan |
| Literasi digital | Sebagian pengguna lansia belum nyaman memakai ponsel dan aplikasi, sehingga keluarga perlu dilibatkan |
Teknologinya sendiri bukan hal asing di Indonesia. Laporan media menyebut salah satu sistem CGM telah diluncurkan di Indonesia dengan dukungan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) (Vistika, n.d.).
Tuntutan bagi pembayar, sistem kesehatan, dan industri
Pernyataan ini tidak hanya membebankan tugas kepada klinisi. ADA meminta pembayar, sistem kesehatan, dan produsen teknologi mengurangi kesenjangan terkait pertanggungan, biaya, dukungan perangkat, dan akses ke data (ADA, 2026a). Pembayar pemerintah maupun swasta disebut sebaiknya memberi akses dan membatasi hambatan terhadap teknologi diabetes, termasuk CGM (Medscape, 2026). Pesan ini relevan bagi Indonesia: tanpa pembiayaan yang jelas, pelatihan terbaik pun tidak akan sampai ke pasien.
Bagaimana posisi Indonesia?
Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tatalaksana Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa, yang ditetapkan lewat KMK Nomor HK.01.07/MENKES/302/2026, menjadi acuan resmi bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan (Kemenkes RI, 2026). Dalam telaah saya sebelumnya, saya tidak menemukan pembahasan pemantauan glukosa kontinu di dalamnya; ulasannya ada di artikel pendamping tentang pedoman nasional tersebut. Itu bukan kesalahan, hanya celah: teknologi bergerak lebih cepat daripada pedoman.
Rujukan regional yang dapat dipakai adalah konsensus Asia-Pasifik 2023. Konsensus ini merekomendasikan CGM berkelanjutan bagi penyandang diabetes dengan terapi insulin intensif yang kendali glukosanya belum optimal atau berisiko tinggi mengalami hipoglikemia bermasalah. Konsensus ini juga menyebut CGM terus-menerus atau berkala dapat dipertimbangkan pada diabetes tipe 2 dengan insulin basal yang kendalinya belum optimal (Kong et al., 2023). Kelompok terakhir inilah yang paling mirip dengan Ibu Rahmawati. Panelnya berasal dari delapan negara atau wilayah dan, dilihat dari afiliasi penulis, tampaknya tidak mencakup Indonesia, sehingga penerapannya perlu disesuaikan.
Bagi manajer fasilitas, beberapa langkah yang saya bayangkan (bukan isi pernyataan ADA):
- menyusun standar prosedur operasional (SPO) orientasi perangkat bagi pengguna baru;
- menetapkan penanggung jawab dan jadwal peninjauan data;
- memastikan kompetensi staf yang membaca laporan;
- mencatat kejadian hipoglikemia dan menjadikannya bahan evaluasi mutu;
- menyepakati jalur konsultasi atau rujukan ke spesialis.
Bila aplikasi atau perangkat lunak pembaca data dipakai di fasilitas, kerangka izin edar alat kesehatan berbasis perangkat lunak yang saya bahas dalam artikel tentang KMK 951/2026 kemungkinan relevan; status tiap produk perlu dicek langsung pada regulator. Untuk dasar berbagai jenis pemeriksaan glukosa, baca juga panduan pemeriksaan kadar gula darah.
Hal yang perlu diwaspadai
- Pernyataan ilmiah ini berbasis konsensus panel dan bukti 2020–2025. Kekuatan tiap rekomendasi perlu dilihat pada teks lengkapnya.
- Konteksnya Amerika Serikat. Asuransi, sebaran spesialis, dan jenis tenaga kesehatan berbeda dari Indonesia.
- Teknologi tidak menggantikan edukasi, pola makan, aktivitas fisik, dan obat. Sensor menampilkan angka, sedangkan keputusan terapi tetap di tangan tenaga kesehatan bersama pasien.
- Data yang banyak tanpa waktu untuk meninjaunya dapat menjadi beban baru bagi tim dan pasien.
- Sebagian pengguna mengalami iritasi kulit akibat perekat sensor atau merasa kewalahan oleh angka yang terus muncul.
Kembali ke Ibu Rahmawati
Dalam skenario ideal, sensor yang dipakai beberapa pekan memungkinkan tim puskesmas melihat apakah kadar rendah muncul pada dini hari, dan apakah HbA1c 9% berasal dari lonjakan setelah makan atau dari kadar tinggi sepanjang hari. Informasi itu membantu dokter menimbang penyesuaian terapi bersama Ibu Rahmawati dan keluarganya. Tanpa pelatihan, pembagian peran, dan jalur pembiayaan, sensor yang sama hanya menjadi data yang tak terbaca. Itulah inti pesan pernyataan ADA: teknologi saja tidak cukup, sistem di sekelilingnya yang menentukan.
Poin penting
- ADA menerbitkan pernyataan ilmiah pertamanya yang khusus membahas teknologi diabetes di layanan primer (28 September 2026).
- Isinya 16 pernyataan konsensus dan 10 rekomendasi kunci dari panel 32 pakar lintas profesi.
- Kuncinya: pelatihan staf, peran yang jelas, orientasi perangkat, peninjauan data rutin, dan akses ke spesialis.
- Hambatannya (tenaga, waktu, data, pembiayaan, literasi digital) mirip dengan tantangan di Indonesia.
- Pedoman nasional 2026 belum membahas CGM menurut telaah saya; keputusan memakai teknologi tetap individual bersama dokter.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter.
Ringkasan
ADA menerbitkan pernyataan ilmiah pertamanya tentang teknologi diabetes di layanan primer. Pemantauan glukosa kontinu, pena insulin terhubung, dan insulin otomatis diharapkan masuk praktik sehari-hari lewat pelatihan, pembagian peran, dan peninjauan data rutin. Artikel ini menimbang relevansinya bagi puskesmas dan klinik di Indonesia, serta kesenjangan akses dan pembiayaan yang perlu dijembatani.
Catatan Transparansi
- Sumber pernyataan ADA. Saya membaca abstrak naskah (PubMed), siaran pers ADA, dan cuplikan laporan Medscape. Teks lengkap naskah tidak dapat saya akses, sehingga 16 pernyataan dan 10 rekomendasi tidak saya uraikan satu per satu dan saya tidak mengklaim kriteria rinci (misalnya siapa yang layak memakai CGM) dari dokumen itu. Laman Medscape tidak dapat dibuka penuh, jadi saya hanya memakai cuplikannya.
- Dua DOI. Naskah terbit serentak di dua jurnal. Siaran pers ADA menautkan DOI 10.2337/doci26-0005 untuk versi CARE, sedangkan PubMed mencatat DOI 10.1177/19322968261489568 untuk versi Journal of Diabetes Science and Technology. Daftar pustaka memakai DOI yang saya verifikasi di PubMed.
- Angka 90%. Berasal dari profil penyaji sesi ADA, bukan dari pernyataan ilmiah.
- Data Indonesia. Angka SKI 2023 dan estimasi IDF untuk Indonesia saya ambil sebagaimana dikutip dalam artikel pendamping di legawa.com dan tidak saya buka ulang dari sumber aslinya.
- Pembiayaan dan ketersediaan CGM. Saya tidak menemukan sumber terverifikasi tentang pertanggungan CGM dalam JKN. Informasi peluncuran sistem CGM berasal dari laporan media yang tanggalnya tidak saya verifikasi.
- Analisis penulis. Kolom kanan tabel hambatan, usulan langkah bagi manajer fasilitas, dan tafsiran peran tim di Indonesia adalah pendapat saya, bukan isi pernyataan ADA.
- Rekomendasi Asia-Pasifik 2023. Saya hanya membaca abstraknya. Keterangan bahwa Indonesia tampaknya tidak termasuk dalam panel saya simpulkan dari afiliasi penulis.
- Konflik kepentingan. Saya tidak membaca bagian pengungkapan kepentingan naskah ADA; pembaca perlu memeriksanya sendiri pada teks lengkap.
- Tokoh ilustrasi. Ibu Rahmawati adalah tokoh fiktif untuk keperluan penjelasan. Gambar unggulan adalah ilustrasi buatan AI.
Daftar Pustaka
American Diabetes Association. (2026a, September 28). New ADA scientific statement: Diabetes technology in primary care [Press release]. https://diabetes.org/newsroom/press-releases/new-ada-scientific-statement-diabetes-technology-primary-care
American Diabetes Association. (2026b). Presenter profile: CGM in primary care. ADA Scientific Sessions. https://www.adameetingnews.org/presenter-profile-md/
Bruttomesso, D., Petrie, J. R., Evans, M., Fleming, G. A., Hanaire, H., Holl, R. W., Sherr, J. L., Bergenstal, R. M., Heinemann, L., & Peters, A. L. (2026). Challenges in and opportunities for individualizing diabetes technology: A position statement by the European Association for the Study of Diabetes (EASD) and the American Diabetes Association (ADA) Diabetes Technology Working Group. Diabetes Care, 49(6), 916–930. https://doi.org/10.2337/dci26-0018
Ebekozien, O., Akturk, H. K., Aloi, J. A., Bellini, N., Bluml, B. M., Brady, V. J., Cassarino, D., Clement, S. C., Demeterco-Berggren, C., D’Onfro, K. C., Isaacs, D., Jones, C. W., Johnson, P., Johnson, Z., Kerr, D., Kruczek, C., Leal, S., MacLeod, J., Martens, T. W., . . . Wright, E. (2026). Diabetes technology in the primary care setting: An American Diabetes Association scientific statement. Journal of Diabetes Science and Technology. https://doi.org/10.1177/19322968261489568
International Diabetes Federation. (n.d.). Indonesia: Diabetes country report 2000–2050. IDF Diabetes Atlas. https://diabetesatlas.org/data-by-location/country/indonesia/
International Diabetes Federation. (2025). IDF Diabetes Atlas (11th ed.). https://diabetesatlas.org
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/302/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tatalaksana Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa. https://kemkes.go.id/id/pnpk-tatalaksana-diabetes-melitus-tipe-2-dewasa
Kong, A. P. S., Lim, S., Yoo, S.-H., Ji, L., Chen, L., Bao, Y., Yeoh, E., Chan, S.-P., Wang, C.-Y., Mohan, V., Cohen, N., McGill, M. J., & Twigg, S. M. (2023). Asia-Pacific consensus recommendations for application of continuous glucose monitoring in diabetes management. Diabetes Research and Clinical Practice, 201, Article 110718. https://doi.org/10.1016/j.diabres.2023.110718
Medscape. (2026). ADA issues primary care guidance on diabetes technology use. https://www.medscape.com/viewarticle/ada-issues-primary-care-guidance-diabetes-technology-use-2026a100109s
Vistika, F. B. (n.d.). Bukan cuma lihat angka, ini manfaat teknologi CGM bagi pasien diabetes. Momsmoney.id. https://momsmoney.kontan.co.id/news/bukan-cuma-lihat-angka-ini-manfaat-teknologi-cgm-bagi-pasien-diabetes





Tinggalkan Balasan