Pak R., 54 tahun, karyawan swasta di Medan, sudah tujuh tahun hidup dengan diabetes melitus tipe 2. Obatnya metformin dan glimepirid; HbA1c terakhirnya 8,2%. Tinggi badannya 165 cm, berat badannya 98 kg—indeks massa tubuh (IMT) sekitar 36 kg/m². Lututnya mulai nyeri, dan ia bertanya kepada dokternya, “Dok, katanya ada suntikan baru yang menurunkan gula sekaligus berat badan sampai 20 persen. Betul?” (Ilustrasi fiktif untuk keperluan edukasi.)
Pertanyaan semacam ini kian sering muncul di ruang praktik, dari Medan hingga Makassar, sejak Eli Lilly mengumumkan hasil rinci uji klinis fase 3 TRIUMPH-2 pada 29 September 2026. Obat yang diuji adalah retatrutide, agonis tiga hormon (GIP, GLP-1, dan glukagon) yang disuntikkan sekali seminggu. Hasilnya dipaparkan pada pertemuan tahunan ke-62 European Association for the Study of Diabetes (EASD) di Milan dan terbit serentak di jurnal The Lancet (Bellido et al., 2026; Eli Lilly and Company, 2026a). Mari kita baca angkanya dengan teliti, termasuk bagian yang jarang masuk judul berita.

Dua Penyakit, Satu Masalah yang Saling Menguatkan
Obesitas dan diabetes tipe 2 ibarat dua sisi koin yang sama. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas dewasa naik dari 21,8% (2018) menjadi 23,4%, dengan obesitas sentral 36,8% pada usia di atas 15 tahun. IDF Diabetes Atlas edisi ke-11 memperkirakan 20,4 juta orang Indonesia hidup dengan diabetes, terbanyak kelima di dunia (Kontan, 2025). Kementerian Kesehatan sudah menerbitkan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Obesitas Dewasa lewat KMK HK.01.07/MENKES/509/2025 (Kementerian Kesehatan RI, 2025). Di tingkat global, Standards of Care in Diabetes—2026 dari American Diabetes Association (ADA) mengutamakan obat yang menurunkan glukosa sekaligus berat badan pada penyandang diabetes tipe 2 dengan kelebihan berat badan atau obesitas, yaitu agonis reseptor GLP-1 dan agonis ganda GIP/GLP-1 (American Diabetes Association, 2026). Retatrutide mencoba melangkah satu tingkat lebih jauh dengan menambahkan jalur ketiga.
Satu Molekul, Tiga Jalur
Retatrutide adalah satu peptida yang mengaktifkan reseptor GIP, GLP-1, dan glukagon (Jastreboff et al., 2023). Dua jalur pertama sudah dikenal dari obat seperti semaglutide dan tirzepatide. Jalur glukagon yang membedakannya: pada uji fase 2, kadar lemak hati turun rata-rata sekitar 82% pada dosis 8–12 mg setelah 24 minggu pada peserta dengan metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) (Sanyal et al., 2024). Pada penyandang diabetes tipe 2, dosis tinggi juga dikaitkan dengan berkurangnya rasa lapar dan kecenderungan makan berlebih (Kanu et al., 2025).
Gambar 1. Tiga jalur hormon pada retatrutide (diolah dari Jastreboff et al., 2023; Sanyal et al., 2024; Kanu et al., 2025).
Retatrutide masih berstatus investigational: belum disetujui otoritas regulator mana pun dan, menurut Lilly, belum boleh dijual atau dipasarkan secara sah untuk manusia (Eli Lilly and Company, 2026a).
Bagaimana TRIUMPH-2 Dilakukan
TRIUMPH-2 adalah uji fase 3 tersamar ganda, berkelompok paralel, dan terkontrol plasebo di 92 pusat di delapan negara. Sebanyak 1.152 orang dewasa dengan IMT ≥27 kg/m² dan diabetes tipe 2 (HbA1c 6,5–10,5%) diacak 1:1:1:1 untuk menerima retatrutide 4 mg, 9 mg, 12 mg, atau plasebo, disuntikkan sendiri sekali seminggu selama 80 minggu. Dosis dinaikkan bertahap setiap empat minggu, dimulai dari 2 mg. Peserta harus sedang memakai terapi stabil berupa diet/olahraga saja atau maksimal tiga obat diabetes oral, jadi pengguna insulin tidak termasuk (Bellido et al., 2026).
Rata-rata usia peserta 55,1 tahun, 48% perempuan, 58% berkulit putih, IMT 38,2 kg/m², HbA1c 7,71%, dan lama diabetes median 5,6 tahun. Sebanyak 92% memakai obat diabetes oral saat awal studi. Titik akhir utamanya adalah persentase perubahan berat badan pada minggu ke-80 untuk dosis 9 mg dan 12 mg dibanding plasebo; dosis 4 mg menjadi titik akhir sekunder kunci (Bellido et al., 2026).
Hasil Utama: Berat Badan dan Gula Darah
Angka yang paling sering dikutip berasal dari efficacy estimand, yaitu perkiraan hasil seandainya semua peserta tetap memakai obat selama 80 minggu tanpa memulai terapi penurun berat badan lain (Eli Lilly and Company, 2026a). Dari rata-rata berat awal 106,4 kg, peserta pada dosis tertinggi kehilangan sekitar 22,5 kg.
| Indikator pada minggu ke-80 | 4 mg | 9 mg | 12 mg | Plasebo |
|---|---|---|---|---|
| Perubahan berat badan (%) | −12,7 | −19,1 | −20,8 | −4,0 |
| Perubahan berat badan (kg) | −13,5 | −20,6 | −22,5 | −4,2 |
| Perubahan HbA1c (poin persen) | −1,4 | −1,6 | −1,5 | −0,2 |
| Peserta dengan HbA1c ≤6,5% (%) | 73,1 | 79,2 | 79,0 | 26,3 |
| Peserta dengan HbA1c <5,7% (%)* | 28,4 | 40,0 | 39,3 | 4,4 |
| Penurunan berat badan ≥15% (%) | 36,6 | 62,2 | 67,0 | 6,4 |
| Penurunan berat badan ≥20% (%) | 24,0 | 45,3 | 52,0 | 1,5 |
| Penurunan berat badan ≥25% (%) | 10,8 | 30,6 | 34,9 | 0,8 |
Pada peserta dengan IMT awal ≥35 kg/m², dosis 12 mg menurunkan berat badan rata-rata 23,4%, dan 59,5% peserta pada dosis ini tidak lagi memenuhi kriteria IMT obesitas di akhir studi (Eli Lilly and Company, 2026a). Menariknya, efek pada HbA1c tampak tidak bertambah dengan dosis yang lebih tinggi, berbeda dengan efeknya pada berat badan (Taylor, 2026).
Gambar 2. Persentase penurunan berat badan pada minggu ke-80 menurut dua pendekatan analisis (Bellido et al., 2026; Eli Lilly and Company, 2026a).
Mengapa ada dua rangkaian angka? Makalah The Lancet melaporkan analisis utama dengan treatment-regimen estimand, yang menghitung semua peserta yang diacak, termasuk mereka yang berhenti atau mengubah terapi. Pendekatan ini lebih konservatif dan lebih dekat dengan gambaran praktik sehari-hari, karena hanya 84% peserta menyelesaikan masa pemberian obat studi (Bellido et al., 2026). Keduanya sahih, tetapi menjawab pertanyaan berbeda.
| Perubahan berat badan (%) | 4 mg | 9 mg | 12 mg | Plasebo |
|---|---|---|---|---|
| Efficacy estimand (Lilly) | −12,7 | −19,1 | −20,8 | −4,0 |
| Treatment-regimen estimand (The Lancet) | −11,9 | −16,8 | −18,8 | −5,1 |
| Selisih terhadap plasebo, treatment-regimen (IK 95%) | −6,9 (−8,7 s.d. −5,1) | −11,8 (−13,7 s.d. −9,8) | −13,8 (−15,8 s.d. −11,8) | — |
Faktor Risiko Kardiovaskular: Menjanjikan, tetapi Belum Terbukti
Pada dosis 12 mg, rata-rata trigliserida turun 39,5%, kolesterol non-HDL 19,6%, tekanan darah sistolik 10,8 mmHg, lingkar pinggang 16,9 cm (6,7 inci), dan high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP) 58,3% (Eli Lilly and Company, 2026a). Angka-angka ini adalah penanda pengganti (surrogate marker), bukan kejadian penyakit. Ringkasan publik yang tersedia tidak memuat pembanding plasebo untuk penanda tersebut, dan belum ada data kejadian kardiovaskular mayor seperti serangan jantung atau stroke; uji khusus luaran kardiovaskular dan ginjal retatrutide masih berjalan (Eli Lilly and Company, 2026a).
Satu kekhawatiran klasik pada penurunan berat badan besar adalah hilangnya massa otot. Substudi fase 2 pada penyandang diabetes tipe 2 menunjukkan massa lemak turun 23,2% pada dosis 12 mg di minggu ke-36, dengan proporsi massa tanpa lemak yang hilang setara dengan obat obesitas lain (Coskun et al., 2025).
Efek Samping dan Keamanan
Efek samping yang paling sering adalah gangguan saluran cerna, sejalan dengan obat sekelas. Kejadiannya meningkat seiring dosis dan umumnya ringan hingga sedang (Eli Lilly and Company, 2026a).
| Kejadian (%) | 4 mg | 9 mg | 12 mg | Plasebo |
|---|---|---|---|---|
| Diare | 27,4 | 33,5 | 33,6 | 13,2 |
| Mual | 13,7 | 20,8 | 28,0 | 8,0 |
| Sembelit | 14,0 | 16,2 | 16,8 | 9,4 |
| Nafsu makan menurun | 5,8 | 12,3 | 17,1 | 4,5 |
| Muntah | 5,5 | 10,2 | 15,7 | 4,2 |
| Disestesia | 4,5 | 5,6 | 7,3 | 0,7 |
| Infeksi saluran kemih | 3,8 | 6,3 | 8,0 | 6,6 |
| Berhenti karena efek samping | 3,8 | 11,6 | 7,7 | 4,9 |
Ada tiga hal yang layak dicermati. Pertama, disestesia, yaitu sensasi kulit yang tidak biasa seperti kesemutan atau rasa terbakar, lebih sering muncul pada kelompok retatrutide; makna klinis jangka panjangnya masih perlu dipantau. Kedua, hipotensi juga lebih sering dilaporkan (1%, 5%, dan 6% pada dosis 4, 9, dan 12 mg dibanding kurang dari 1% pada plasebo) (Bellido et al., 2026). Ketiga, tingkat penghentian karena efek samping tertinggi justru pada dosis 9 mg (11,6%), bukan 12 mg, sehingga hubungannya dengan dosis tidak sederhana. Sepanjang studi, tujuh peserta meninggal (dua pada 4 mg, tiga pada 9 mg, satu pada 12 mg, dan satu pada plasebo); penelitinya menilai semuanya tidak terkait obat studi (Bellido et al., 2026).
Uji fase 2 sebelumnya mencatat peningkatan denyut jantung yang bergantung dosis, memuncak pada minggu ke-24 lalu menurun, serta keluhan cerna yang lebih ringan bila terapi dimulai dari 2 mg dibanding 4 mg (Jastreboff et al., 2023). Titrasi bertahap dari 2 mg serupa dipakai pada TRIUMPH-2 (Bellido et al., 2026).
Menempatkan Hasil dalam Perspektif
Hasil TRIUMPH-2 konsisten dengan studi retatrutide sebelumnya. Pada uji fase 2 penyandang diabetes tipe 2, HbA1c turun 2,02 poin pada dosis 12 mg setelah 24 minggu (Rosenstock et al., 2023). Pada TRANSCEND-T2D-1, uji fase 3 selama 40 minggu dengan retatrutide sebagai monoterapi pada 537 orang, HbA1c turun 1,94 poin (versus 0,81 pada plasebo) dan berat badan turun 15,3% (versus 2,6%), tanpa hipoglikemia berat (Bajaj et al., 2026).
Penurunan berat badan pada TRIUMPH-2 secara numerik lebih kecil daripada hasil 28,3% pada dosis 12 mg di TRIUMPH-1 yang melibatkan peserta tanpa diabetes (AllSci Editorial, 2026). Pola ini lazim: penyandang diabetes cenderung kehilangan berat badan lebih sedikit dibanding mereka yang tidak diabetes. Perbandingan lintas studi dengan tirzepatide juga menggoda, tetapi berisiko menyesatkan. Laporan pers mencatat 34% peserta tirzepatide mencapai penurunan berat ≥20% pada minggu ke-72 di studi lain, dibanding 52% pada retatrutide 12 mg di minggu ke-80 (Taylor, 2026). Populasi, durasi, dan metode analisis berbeda, dan belum ada uji yang membandingkan keduanya secara langsung.
Apa Artinya bagi Pasien dan Klinisi di Indonesia
Belum ada yang bisa diresepkan. Lilly berencana mengajukan Biologics License Application ke FDA Amerika Serikat pada kuartal pertama 2027 (Eli Lilly and Company, 2026a). Pemasaran di Indonesia akan memerlukan izin edar dari BPOM; sampai saat itu, retatrutide hanya dapat diperoleh secara sah melalui uji klinis.
Waspadai produk “retatrutide” yang beredar di pasar daring. Produk semacam itu tidak melalui evaluasi mutu dan keamanan. Untuk konteks risiko obat penurun berat badan racikan, baca Waspadai Pemasaran Obesitas: Memahami Obat Kompaun GLP-1 dan Peringatan FDA serta ulasan usulan larangan peracikan massal semaglutide dan tirzepatide.
Pedoman yang berlaku tidak berubah. Pilihan terapi saat ini tetap merujuk pada PNPK Obesitas Dewasa (Kementerian Kesehatan RI, 2025), pedoman PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2021), dan rekomendasi ADA 2026. Perbandingan pedoman Indonesia dengan pedoman internasional dapat dibaca di Panduan Diabetes Tipe 2: NICE vs Indonesia dalam Era Terapi Kardiorenal-Metabolik.
Bagi fasilitas pelayanan primer, pelajaran praktisnya bersifat kelas obat. Keluhan cerna berat seperti diare dan muntah dapat menyebabkan dehidrasi hingga gangguan ginjal pada obat sekelas (Eli Lilly and Company, 2026a), sehingga edukasi hidrasi dan pemantauan fungsi ginjal pada pasien berisiko menjadi bagian dari rencana, bila kelak obat ini tersedia.
Kembali ke Pak R. di Medan. Jawaban jujurnya: suntikan itu belum ada di apotek. Yang dapat dilakukan sekarang adalah mengoptimalkan terapi sesuai pedoman, antara lain mengevaluasi obat yang cenderung menaikkan berat badan seperti sulfonilurea dan mempertimbangkan obat yang menurunkan glukosa sekaligus berat badan, sambil tetap memperkuat pola makan, aktivitas fisik, dan pendampingan perilaku. Kalau pun retatrutide kelak disetujui, Pak R. tergolong mirip dengan peserta TRIUMPH-2, tetapi hasil pada pengguna insulin belum diteliti di studi ini.
Keterbatasan yang Perlu Diingat
- Didanai oleh produsen. Studi dibiayai Eli Lilly, dan sejumlah penulis adalah karyawan Lilly (Bellido et al., 2026). Replikasi independen akan menambah keyakinan.
- Populasi terbatas. Pengguna insulin tidak diikutkan, dan mayoritas peserta berkulit putih; representasi populasi Asia Tenggara belum jelas dari ringkasan yang tersedia.
- Durasi pendek untuk penyakit kronik. Pengamatan lanjutan setelah obat dihentikan hanya empat minggu (Eli Lilly and Company, 2026a), sehingga nasib berat badan dan gula darah sesudahnya belum diketahui.
- Data hipoglikemia belum terbaca. Karena 92% peserta memakai obat oral dan sebagian mungkin sulfonilurea, risiko hipoglikemia perlu dicermati begitu data lengkap tersedia.
- Luaran keras belum ada. Manfaat pada serangan jantung, stroke, gagal jantung, dan penyakit ginjal masih menunggu uji khusus.
Pesan Utama
- Retatrutide menurunkan berat badan dan HbA1c secara bermakna pada penyandang diabetes tipe 2 dengan obesitas selama 80 minggu.
- Besar efek bergantung pada cara analisis: 20,8% (hasil bila semua tetap memakai obat) atau 18,8% (seluruh peserta teracak) pada dosis 12 mg.
- Efek samping utama adalah gangguan pencernaan; disestesia dan hipotensi perlu dipantau.
- Obat ini belum disetujui di mana pun dan belum tersedia secara sah di Indonesia.
Catatan Transparansi
Artikel ini disusun dari abstrak makalah The Lancet yang terindeks di PubMed (Bellido et al., 2026), siaran pers Eli Lilly tertanggal 29 September 2026, dan liputan pers. Teks lengkap makalah tidak saya akses; karena itu detail seperti data hipoglikemia, komposisi peserta per negara, dan hasil apnea tidur tidak dapat dinilai. Angka dalam Tabel 1 dan 3 berasal dari siaran pers produsen (efficacy estimand), bukan analisis utama jurnal. Data prevalensi SKI 2023 dan IDF Diabetes Atlas dikutip dari pemberitaan (Kontan, 2025), bukan dokumen primer. Isi ADA Standards of Care 2026 diambil dari ringkasan sekunder, bukan dari dokumen lengkapnya. Angka perbandingan dengan tirzepatide dan hasil TRIUMPH-1 bersumber dari liputan media (Taylor, 2026; AllSci Editorial, 2026), bukan dari publikasi asli, dan tidak boleh dianggap perbandingan langsung. Perincian pada tokoh “Pak R.” bersifat fiktif. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter.
Ringkasan
Uji fase 3 TRIUMPH-2 menunjukkan retatrutide, agonis tiga hormon sekali seminggu, menurunkan berat badan hingga 20,8% dan HbA1c hingga 1,6 poin pada 1.152 penyandang diabetes tipe 2 dengan obesitas. Efek samping terutama pencernaan. Obat ini belum disetujui, dan pertanyaan keamanan serta penerapannya di populasi Asia masih perlu dijawab studi lanjutan.
Daftar Pustaka
AllSci Editorial. (2026, 30 September). Lilly’s retatrutide delivers 20.8% weight loss in Phase III diabetes-obesity trial. AllSci. https://allsci.com/news/clinical-trials/retatrutide-weight-loss-diabetes-lillys-achieves/
American Diabetes Association. (2026). Standards of care in diabetes—2026. Diabetes Care, 49(Suppl. 1), S1–S377.
Bajaj, H. S., Welch, M., Shah, P., Luna, E., Jaouimaa, F.-Z., Liu, B., Liu, R., Chen, Y., Patel, H., & Bartee, A. (2026). Efficacy and safety of retatrutide, a GIP, GLP-1, and glucagon receptor agonist, in people with type 2 diabetes and inadequate glycaemic control with diet and exercise (TRANSCEND-T2D-1): A double-blind, randomised, phase 3 trial. The Lancet, 407(10546), 2402–2413. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(26)00967-0
Bellido, V., le Roux, C. W., Ekinci, E. I., Bjornstad, P., Frías, J. P., Giblin, K., Eyde, S., Park, S. Y., Ferro, J., Johnson, C., & Taylor, A. (2026). Retatrutide in adults with obesity and type 2 diabetes (TRIUMPH-2): A double-blind, parallel-group, randomised, placebo-controlled, phase 3 trial. The Lancet. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(26)01861-1
Coskun, T., Wu, Q., Schloot, N. C., Haupt, A., Milicevic, Z., Khouli, C., & Harris, C. (2025). Effects of retatrutide on body composition in people with type 2 diabetes: A substudy of a phase 2, double-blind, parallel-group, placebo-controlled, randomised trial. The Lancet Diabetes & Endocrinology, 13(8), 674–684. https://doi.org/10.1016/S2213-8587(25)00092-0
Eli Lilly and Company. (2026a, 29 September). Lilly’s triple agonist, retatrutide, delivered substantial weight loss and A1C reduction, underscoring its potential promise for people with obesity and type 2 diabetes [Siaran pers]. https://investor.lilly.com/news-releases/news-release-details/lillys-triple-agonist-retatrutide-delivered-substantial-weight
Jastreboff, A. M., Kaplan, L. M., Frías, J. P., Wu, Q., Du, Y., Gurbuz, S., Coskun, T., Haupt, A., Milicevic, Z., & Hartman, M. L. (2023). Triple–hormone-receptor agonist retatrutide for obesity—A phase 2 trial. The New England Journal of Medicine, 389(6), 514–526. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2301972
Kanu, C., Boye, K. S., Poon, J. L., Goetz, I., Williamson, S., Lou, J., Hartman, M. L., Martin, C. K., & Coskun, T. (2025). Appetite, eating attitudes, and eating behaviours during treatment with retatrutide in adults with type 2 diabetes: Results of a phase 2 study. Diabetes, Obesity and Metabolism, 27(12), 6988–6998. https://doi.org/10.1111/dom.70097
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/509/2025 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa. https://keslan.kemkes.go.id/unduhan/KMK%20No.%20HK.01.07-MENKES-509-2025.pdf
Kontan. (2025, 19 November). Indonesia masuk lima besar kasus obesitas, perlu aksi bersama lintas sektor. https://nasional.kontan.co.id/news/indonesia-masuk-lima-besar-kasus-obesitas-perlu-aksi-bersama-lintas-sektor
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2021). Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di Indonesia 2021. PB PERKENI.
Rosenstock, J., Frias, J., Jastreboff, A. M., Du, Y., Lou, J., Gurbuz, S., Thomas, M. K., Hartman, M. L., Haupt, A., Milicevic, Z., & Coskun, T. (2023). Retatrutide, a GIP, GLP-1 and glucagon receptor agonist, for people with type 2 diabetes: A randomised, double-blind, placebo and active-controlled, parallel-group, phase 2 trial conducted in the USA. The Lancet, 402(10401), 529–544. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)01053-X
Sanyal, A. J., Kaplan, L. M., Frias, J. P., Brouwers, B., Wu, Q., Thomas, M. K., Harris, C., Schloot, N. C., Du, Y., Mather, K. J., Haupt, A., & Hartman, M. L. (2024). Triple hormone receptor agonist retatrutide for metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease: A randomized phase 2a trial. Nature Medicine, 30(7), 2037–2048. https://doi.org/10.1038/s41591-024-03018-2
Taylor, N. P. (2026, 30 September). Lilly sets up next-gen obesity battle with full phase 3 retatrutide data. Fierce Biotech. https://www.fiercebiotech.com/biotech/eli-lilly-sets-next-gen-obesity-battle-full-phase-3-retatrutide-data





Tinggalkan Balasan