A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang laki-laki berusia 47 tahun, seorang PNS di sebuah kantor kecamatan, datang ke Poliklinik Penyakit Dalam setelah gula darah sewaktunya tercatat 280 mg/dL saat pemeriksaan kesehatan ulang tahun. Ia terkejut karena merasa tidak gemuk dan tidak banyak makan manis. “Dokter, saya kan tidak gendut, kok bisa kena diabetes? Bukannya diabetes itu penyakit orang gemuk yang doyan gula?” tanyanya. Ia juga sempat menunda pengobatan karena tetangganya menyarankan minum air rebusan daun tertentu yang “katanya bisa menyembuhkan kencing manis total”. Percakapan semacam ini terjadi setiap hari di ruang praktik dokter di seluruh Indonesia—mencerminkan betapa banyak mitos yang masih membayangi salah satu penyakit tidak menular paling umum di negeri ini.

Secara global, diabetes melitus (DM) semakin prevalen, dan begitu pula mitos yang menyertainya. Di Indonesia, kondisi ini bahkan lebih mendesak: prevalensi DM berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah pada penduduk usia ≥15 tahun melonjak dari 10,9% (Riskesdas 2018) menjadi 11,7% (SKI 2023), sementara Indonesia kini menempati posisi kelima dunia dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak—20,4 juta orang pada 2024, dan diproyeksikan mencapai 28,6 juta pada 2050 (PB PERKENI, 2024). Artikel ini membedah sebelas mitos populer seputar diabetes dengan bukti ilmiah terkini serta konteks epidemiologi dan regulasi kesehatan Indonesia.

Sebagai pengantar singkat: diabetes tipe 1 adalah penyakit autoimun akibat kerusakan sel penghasil insulin di pankreas, umumnya muncul pada usia lebih muda. Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan cukup insulin, tidak merespons insulin dengan baik, atau keduanya—dan merupakan tipe yang paling banyak ditemukan di Indonesia, mencakup 50,2% dari seluruh kasus DM terdiagnosis (Databoks, 2024). Diabetes gestasional muncul selama kehamilan akibat kebutuhan insulin yang meningkat namun tidak terpenuhi, dan meski umumnya menghilang setelah persalinan, tetap membawa risiko DM tipe 2 di kemudian hari.

1. “Makan Gula Menyebabkan Diabetes”

Konsumsi gula tidak secara langsung menyebabkan diabetes. Namun, pola makan tinggi gula dapat memicu kelebihan berat badan dan obesitas—faktor risiko utama diabetes tipe 2 (Tim Newman, Medical News Today, 2020). Ini adalah mitos yang bisa dimaklumi mengingat kadar gula darah memang berperan sentral dalam diabetes, tetapi gula itu sendiri bukan faktor kausal langsung. Sebuah studi besar tahun 2013 menemukan bahwa konsumsi minuman bersoda tetap berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 bahkan setelah mengontrol asupan energi dan indeks massa tubuh (IMT)—asosiasi ini tidak ditemukan pada minuman berpemanis buatan atau jus buah (Tim Newman, Medical News Today, 2020). Mekanisme pasti penyebab diabetes tipe 1 pada sebagian orang dan tidak pada yang lain juga belum sepenuhnya dipahami, namun asupan gizi bukan merupakan faktor risikonya.

2. “Diabetes Bukan Penyakit yang Serius”

Barangkali karena begitu umum, sebagian orang menganggap diabetes bukan penyakit serius. Ini keliru. Diabetes tidak memiliki obat penyembuh (cure), dan berbagai komplikasi dapat terjadi bila kondisi tidak dikelola dengan baik—mulai dari penyakit kardiovaskular, kerusakan saraf, kerusakan ginjal, kebutaan, gangguan kulit, hingga gangguan pendengaran (Tim Newman, Medical News Today, 2020). WHO memperkirakan diabetes menyebabkan 1,6 juta kematian secara global pada 2016.

Di Indonesia, keseriusan diabetes tercermin jelas dari data komplikasi. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa di RSCM pada 2023, persentase komplikasi DM meliputi neuropati (43,71%), nefropati (45,57%), retinopati (21,58%), dan penyakit arteri perifer (8,5%) (Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/302/2026). Beban ekonominya pun besar: klaim BPJS Kesehatan untuk peserta penyandang diabetes meningkat dari Rp4,9 triliun (2018) menjadi Rp6,4 triliun (2022), dengan proyeksi mencapai Rp23,59 triliun pada 2045 jika tren ini berlanjut tanpa intervensi (Jurnal Klinik, t.t.). Yang lebih memprihatinkan, hanya sekitar satu dari empat hingga lima penyandang diabetes yang mengetahui dirinya menderita kondisi ini, dan proporsi yang sama pula yang benar-benar mendapatkan tata laksana di fasilitas kesehatan (VOA Indonesia, 2024)—menunjukkan besarnya kesenjangan deteksi dini di lapangan.

3. “Diabetes Hanya Menyerang Orang dengan Obesitas”

Kelebihan berat badan dan obesitas memang merupakan faktor risiko diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional, namun kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja terlepas dari berat badannya. Data CDC menunjukkan 11% penyandang diabetes tipe 2 di Amerika Serikat tidak mengalami kelebihan berat badan maupun obesitas, sementara diabetes tipe 1 sama sekali tidak berkaitan dengan berat badan (Tim Newman, Medical News Today, 2020).

Data Indonesia turut menguatkan hal ini. Sebuah studi analisis spasial menemukan bahwa obesitas meningkatkan risiko DM hingga sembilan kali lipat melalui mekanisme resistensi insulin (Jerkin.org, t.t.)—namun studi yang sama menunjukkan wilayah dengan pola makan tradisional dan aktivitas fisik tinggi, seperti Nias, Pakpak Bharat, dan Nias Selatan, justru mencatat kasus diabetes paling rendah, mengindikasikan bahwa gaya hidup secara keseluruhan—bukan semata berat badan—menjadi penentu utama.

4. “Obesitas Selalu Berujung Diabetes”

Meski obesitas meningkatkan risiko, ia tidak serta-merta menyebabkan diabetes. Di Amerika Serikat, diperkirakan 39,8% orang dewasa mengalami obesitas, namun hanya 13% yang menyandang diabetes (Tim Newman, Medical News Today, 2020)—menunjukkan bahwa faktor genetik, gaya hidup, dan lingkungan turut berperan dalam menentukan siapa yang akhirnya berkembang menjadi diabetes.

5. “Penyandang Diabetes Tidak Boleh Makan Gula Sama Sekali”

Penyandang diabetes memang perlu mengelola pola makan secara cermat, terutama memantau asupan karbohidrat, namun mereka tetap bisa menikmati makanan manis sesekali. American Diabetes Association menjelaskan bahwa kuncinya adalah mengonsumsi porsi sangat kecil dan menyimpannya untuk kesempatan khusus, sehingga menu harian tetap berfokus pada makanan yang lebih sehat (Tim Newman, Medical News Today, 2020). Mitos terkait lainnya adalah anggapan bahwa penyandang diabetes wajib membeli produk “khusus diabetes” yang sering kali lebih mahal dan, dalam beberapa kasus, tetap dapat menaikkan kadar glukosa.

Dalam konteks Indonesia, PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) melalui Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2024 menekankan perencanaan makan (meal planning) yang individual sebagai bagian dari tata laksana nonfarmakologis, bukan penghindaran gula secara mutlak (PB PERKENI, 2024). Sayangnya, data menunjukkan hanya sepertiga dari pasien yang menjalani pengobatan berhasil mencapai kontrol gula darah yang baik (PB PERKENI, 2024)—sebuah kesenjangan yang sebagian besar bersumber dari kesalahpahaman mengenai pengelolaan pola makan itu sendiri.

6. “Diabetes Selalu Berujung Kebutaan dan Amputasi”

Untungnya, ini adalah mitos. Memang benar diabetes dapat menyebabkan kebutaan dan amputasi pada sebagian kasus, namun bukan merupakan keniscayaan—terutama bagi mereka yang mengelola kondisinya dengan cermat. Data CDC menunjukkan 11,7% orang dewasa dengan diabetes di AS mengalami gangguan penglihatan pada tingkat tertentu, sementara amputasi ekstremitas bawah terjadi pada sekitar 0,56% penyandang diabetes (Tim Newman, Medical News Today, 2020). Faktor risiko komplikasi meliputi obesitas, merokok, kurang aktivitas fisik, hipertensi, dan kolesterol tinggi.

Data komplikasi RSCM 2023 yang disebutkan sebelumnya—dengan retinopati mencapai 21,58%—menegaskan bahwa risiko komplikasi mata memang nyata di Indonesia, namun angka ini juga menyiratkan bahwa mayoritas penyandang diabetes yang terpantau tidak sampai mengalami kebutaan. Kuncinya tetap pada deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko yang konsisten, sejalan dengan rekomendasi PERKENI.

7. “Penyandang Diabetes Tidak Boleh Mengemudi”

Diagnosis diabetes tidak secara otomatis berarti seseorang harus berhenti mengemudi. American Diabetes Association menegaskan bahwa mayoritas penyandang diabetes dapat mengoperasikan kendaraan bermotor dengan aman tanpa menciptakan risiko cedera yang berarti bagi diri sendiri maupun orang lain, meski penilaian individual tetap diperlukan bila muncul kekhawatiran tertentu, seperti hipoglikemia berat atau gangguan penglihatan (Tim Newman, Medical News Today, 2020).

Di Indonesia, ketentuan mengenai kelayakan mengemudi bagi penyandang kondisi kesehatan tertentu diatur melalui pemeriksaan kesehatan dalam proses pembuatan/perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM), namun tidak terdapat larangan blanket bagi penyandang diabetes yang terkontrol baik. Konsultasi rutin dengan tenaga kesehatan tetap dianjurkan bagi pengemudi dengan riwayat hipoglikemia berulang.

8. “Prediabetes Pasti Berkembang Menjadi Diabetes”

Prediabetes adalah kondisi ketika kadar gula darah lebih tinggi dari normal namun belum cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes. Bila dibiarkan, prediabetes memang dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2—namun ini bukan sebuah keniscayaan. Perubahan gaya hidup, termasuk aktivitas fisik teratur dan pola makan yang lebih sehat, dapat menghentikan perkembangannya (Tim Newman, Medical News Today, 2020).

Kementerian Kesehatan RI merespons persoalan ini melalui program skrining kesehatan ulang tahun yang mulai dilaksanakan sejak 2025, yakni pemeriksaan kesehatan gratis setiap kali seseorang berulang tahun, sebagai upaya deteksi dini prediabetes dan diabetes (VOA Indonesia, 2024). Program ini penting mengingat rendahnya kesadaran diagnosis di Indonesia—sebagian besar kasus prediabetes yang tidak terdeteksi berpotensi berkembang tanpa disadari menjadi diabetes tipe 2 yang bergejala.

9. “Penyandang Diabetes Tidak Bisa Aktif Berolahraga”

Sekali lagi, ini tidak benar. Justru olahraga merupakan komponen penting dalam pengelolaan diabetes—membantu penurunan berat badan, menurunkan tekanan darah, dan membantu tubuh menggunakan insulin secara lebih efektif (Tim Newman, Medical News Today, 2020). Namun, olahraga dapat memengaruhi kadar gula darah secara bervariasi, kadang meningkatkannya dan kadang menurunkannya, sehingga pemantauan gula darah selama beraktivitas serta pencatatan responsnya menjadi penting untuk didiskusikan dengan dokter. Bagi yang berisiko hipoglikemia, membawa sumber karbohidrat kerja cepat dan mengenakan identitas medis (medical identification) turut dianjurkan.

10. “Diabetes Bisa Menular”

Ini adalah mitos. Diabetes tidak disebabkan oleh patogen, sehingga tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain. Diabetes diklasifikasikan sebagai penyakit tidak menular (PTM)—kategori yang sama dengan hipertensi dan penyakit jantung dalam kerangka epidemiologi Kementerian Kesehatan RI (Tim Newman, Medical News Today, 2020).

11. “Ada Produk Herbal Alami yang Bisa Menyembuhkan Diabetes”

Hingga saat ini, tidak ada obat yang dapat menyembuhkan diabetes secara total. Klaim bahwa suatu produk dapat “menyembuhkan” diabetes adalah keliru, dan sejumlah produk herbal atau alami tidak memberikan efek berarti—bahkan dalam sejumlah kasus dapat membahayakan, terutama karena interaksi dengan obat antidiabetes (termasuk insulin) yang dapat meningkatkan efek hipoglikemik dan menurunkan gula darah ke tingkat yang berbahaya (Tim Newman, Medical News Today, 2020).

Ini bukan kekhawatiran teoretis di Indonesia. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2023, klaim seperti “jamu untuk diabetes” atau “jamu penurun gula darah” dilarang keras untuk kategori jamu; hanya produk fitofarmaka yang telah melalui uji klinis lengkap yang boleh menggunakan klaim medis semacam ini (PT Gika Global Farmateknologi, 2026). Sayangnya, pengawasan BPOM berulang kali menemukan produk “obat bahan alam” ilegal dengan klaim kencing manis yang justru dicampur bahan kimia obat (BKO) seperti glibenklamid tanpa pengawasan dosis medis (Kompas.com, 2026)—praktik yang sangat berbahaya karena dapat memicu hipoglikemia berat yang tidak terpantau. Pelaku usaha yang terbukti melakukan hal ini dapat dijerat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara hingga 12 tahun dan/atau denda hingga Rp5 miliar (Kompas.com, 2026). BPOM secara konsisten mengimbau masyarakat melakukan “Cek KLIK”—Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa—sebelum mengonsumsi produk berbahan alam apa pun, termasuk yang mengklaim mampu mengatasi diabetes (BPOM, 2026).

Implikasi bagi Layanan Kesehatan Primer di Indonesia

Diabetes adalah penyakit yang kompleks namun umum, dan seiring meningkatnya prevalensi, upaya meluruskan mitos menjadi semakin mendesak. Kesenjangan deteksi dini—hanya satu dari empat-lima penyandang yang terdiagnosis—serta rendahnya angka kontrol gula darah yang baik pada pasien yang sudah menjalani pengobatan menunjukkan bahwa edukasi pasien di layanan primer bukan sekadar pelengkap, melainkan komponen inti pengelolaan diabetes di Indonesia. Program skrining kesehatan ulang tahun Kemenkes serta pedoman PERKENI 2024 memberi kerangka kerja yang jelas, namun keberhasilannya bergantung pada kemampuan tenaga kesehatan primer meluruskan mitos-mitos di atas secara konsisten pada setiap kesempatan konsultasi.


Daftar Pustaka

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2026, 10 Februari). BPOM temukan 41 obat herbal ilegal mengandung bahan kimia berbahaya, ini daftarnya. Kompas.com. https://health.kompas.com/read/26B11123058868/bpom-temukan-41-obat-herbal-ilegal-mengandung-bahan-kimia-berbahaya-ini-daftarnya

Databoks (Katadata). (2024, 26 Juli). Diabetes tipe 2 paling banyak diderita orang Indonesia pada 2023. https://databoks.katadata.co.id/layanan-konsumen-kesehatan/statistik/66a322ac66f68/diabetes-tipe-2-paling-banyak-diderita-orang-indonesia-pada-2023

Jerkin.org. (t.t.). Analisis spasial kasus diabetes melitus dan faktor risiko. https://jerkin.org/index.php/jerkin/article/download/1683/1276

Jurnal Klinik. (t.t.). Faktor risiko kejadian diabetes melitus tipe 2 pada pegawai pemerintah. https://journalcenter.org/index.php/klinik/article/download/4641/3589/18070

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/302/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa. https://keslan.kemkes.go.id/unduhan/fileunduhan1777518085_672976.pdf

Newman, T. (2020, 16 November). Medical myths: All about diabetes. Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/medical-myths-all-about-diabetes

PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia). (2024). Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di Indonesia 2024. https://pbperkeni.or.id/wp-content/uploads/2025/08/DMT2-2024-Protected.pdf

PT Gika Global Farmateknologi. (2026). Klaim aman untuk diabetes di BPOM: Panduan lengkap regulasi dan strategi komunikasi 2026. https://www.gikaglobalfarma.co.id/klaim-aman-untuk-diabetes-di-bpom/

Rumah Sakit Akademik UGM. (2024, 30 November). Yuk, kenalan dengan diabetes melitus tipe 2. https://rsa.ugm.ac.id/yuk-kenalan-dengan-diabetes-melitus-tipe-2/

VOA Indonesia. (2024, 21 November). Jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat. https://www.voaindonesia.com/a/jumlah-penderita-diabetes-di-indonesia-terus-meningkat/7870777.html


Catatan transparansi: Bagian mitos dan bukti ilmiah global dalam artikel ini diadaptasi dari artikel Medical News Today karya Tim Newman (2020), yang merujuk pada data CDC, WHO, dan American Diabetes Association—sumber sekunder ini belum diverifikasi langsung dari publikasi aslinya. Data konteks Indonesia bersumber dari SKI 2023, pedoman PERKENI 2024, serta pemberitaan media arus utama (Kompas, VOA, Databoks) yang mengutip pernyataan resmi Kemenkes dan BPOM; data komplikasi RSCM 2023 dan klaim BPJS bersifat spesifik institusi/kelompok tertentu dan belum tentu merepresentasikan gambaran nasional secara menyeluruh. Regulasi mengenai kelayakan mengemudi bagi penyandang diabetes di Indonesia dijelaskan secara umum karena belum ditemukan ketentuan teknis rinci yang setara dengan pedoman ADA di AS.

Artikel Baru Terbit

  • Diabetes: Membongkar Mitos yang Masih Dipercaya di Indonesia
    Sebelas mitos seputar diabetes—dari anggapan gula sebagai penyebab langsung hingga klaim obat herbal penyembuh instan—dibedah dengan bukti ilmiah dan data terbaru. Prevalensi diabetes Indonesia mencapai 11,7% (SKI 2023), namun mayoritas penyandang belum terdiagnosis. BPOM memperingatkan bahaya produk herbal ilegal yang mengklaim menyembuhkan “kencing manis”.
  • Bukan Sekadar Ramah di Loket: Memahami Patient-Centered Care sebagai Sistem Kerja
    Patient-centered care kerap disalahpahami sebagai keramahan petugas atau kelengkapan berkas akreditasi. Artikel ini menelusuri definisi, bukti ilmiah terbaru, dan payung regulasi Indonesia — UU 17/2023, STARKES KMK 1596/2024, serta indikator nasional mutu — lalu menawarkan langkah praktis tiga lapis bagi klinisi, kepala unit, dan manajemen fasilitas kesehatan.
  • Hari Keberapa Demamnya? Cara Membaca Pemeriksaan Penunjang Dengue, DBD, dan Sindrom Syok Dengue Secara Tepat
    Diagnosis dengue bergantung pada hari demam. NS1 dan RT-PCR berguna pada hari 1–7, serologi IgM setelah hari ke-7. Di Indonesia, sensitivitas NS1 RDT hanya 73–80%, sehingga hasil negatif tidak menyingkirkan dengue. Kombinasi NS1+IgM meningkatkan sensitivitas. Pemantauan hematokrit dan trombosit serial tetap penentu utama keselamatan pasien.
  • Membaca Demam yang Tak Kunjung Turun: Peta Lengkap Pemeriksaan Penunjang Demam Tifoid
    Diagnosis demam tifoid bertumpu pada pemeriksaan yang lambat namun akurat, atau cepat namun meleset. Artikel ini membedah kultur darah, kultur sumsum tulang, Widal, Tubex, Typhidot, dan PCR — sensitivitas, spesifisitas, teknik pengambilan sampel, serta cara membacanya bersama probabilitas pra-uji agar antibiotik tidak diberikan sia-sia.
  • What the Elder Leaves Unsaid
    What does a wise elder truly leave the young? Not rules, but roots. Drawing from Wulangreh, Kalatidha, Confucius, Laozi, Rumi, the Dhammapada, and Marcus Aurelius, this essay follows a bronze-caster and his apprentice toward one quiet truth: the deepest teaching asks to be forgotten, so the student can call it their own.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca