Seorang mahasiswa 21 tahun datang ke sebuah puskesmas di pinggiran Kabupaten Bogor pada hari kedua demam. Nyeri kepala hebat, mual, badan pegal. Dokter meminta rapid test NS1: negatif. Pasien pulang dengan parasetamol dan kalimat yang sering kita dengar, “Bukan DBD, Pak.”
Empat hari kemudian ia kembali dalam keadaan lemas, akral dingin, tekanan nadi 15 mmHg. Trombosit 28.000/µL, hematokrit melonjak dari 41% menjadi 52%. Diagnosis akhirnya jelas: sindrom syok dengue.
Kasus seperti ini berulang di banyak IGD Indonesia — dari Makassar sampai Palembang — dan penyebabnya jarang berupa kelalaian. Penyebabnya adalah salah paham mendasar tentang apa yang sebenarnya diukur oleh setiap pemeriksaan penunjang dengue, dan kapan pemeriksaan itu masih punya arti.
Artikel ini membahas seluruh perangkat diagnostik infeksi dengue secara mendalam: jenis, pengambilan sampel, akurasi, kekuatan, kelemahan, dan bagaimana semuanya diterapkan pada kenyataan fasilitas kesehatan di Indonesia.
Mengapa Diagnosis Dengue Tidak Bisa Bersandar pada Klinis Saja
Infeksi virus dengue (dengue virus, DENV) — sebuah orthoflavivirus dengan empat serotipe DENV-1 sampai DENV-4 — menimbulkan spektrum klinis yang sangat luas, dari tanpa gejala sampai disfungsi multiorgan. Diperkirakan 40–80% infeksi berlangsung tanpa gejala, dan kurang dari 5% pasien dengue berkembang menjadi penyakit berat yang mengancam jiwa (World Health Organization [WHO], 2025).
Masalahnya, gejala awal dengue nyaris tidak dapat dibedakan dari sederet penyakit demam akut lain yang juga lazim di Indonesia: demam tifoid, leptospirosis, malaria, chikungunya, rickettsiosis, influenza, bahkan infeksi Streptococcus dan sepsis dini (WHO, 2025). Karena itulah WHO menegaskan bahwa konfirmasi laboratorium diperlukan untuk menegakkan diagnosis definitif infeksi DENV.
Skala persoalannya tidak kecil. Sepanjang 2024, WHO menerima laporan 14.284.310 kasus dengue dan 10.554 kematian dari 107 negara — jumlah terbesar yang pernah tercatat (WHO, 2025). Indonesia berada di posisi kedua dunia dan tertinggi di Asia Tenggara; hingga Mei 2026 tercatat 39.672 kasus dengan 105 kematian, dengan Jawa Barat sebagai provinsi dengan beban tertinggi (RRI, 2026).
Namun ada satu prinsip yang mendahului seluruh pembahasan teknis di bawah ini, dan WHO menempatkannya di poin pertama pedomannya: pasien dengan kecurigaan dengue harus mendapat tata laksana klinis yang sesuai tanpa menunggu hasil pemeriksaan (WHO, 2025). Laboratorium mengonfirmasi; ia tidak menggantikan penilaian klinis.
Kinetika Penanda: Kunci yang Sering Terlewat
Semua kebingungan diagnostik dengue bermuara pada satu hal: penanda yang berbeda muncul pada hari yang berbeda, dan polanya berubah antara infeksi primer dan sekunder.
Pada infeksi primer, RNA virus dan antigen NS1 terdeteksi lebih dulu — RNA bertahan sampai sekitar hari ke-7, NS1 sampai hari ke-9 atau lebih. IgM baru muncul sekitar hari ke-3 sampai ke-5, memuncak kira-kira dua minggu setelah awitan gejala, lalu menurun sampai tak terdeteksi dalam dua sampai tiga bulan. IgG muncul belakangan dan bertahan lama (WHO, 2025).
Pada infeksi sekunder, polanya terbalik. IgG naik cepat dan mendominasi, memuncak 6–15 hari setelah awitan. NS1 dan RNA dibersihkan lebih cepat, dan NS1 sering tidak terdeteksi karena membentuk kompleks antigen-antibodi dengan IgG yang sudah ada sebelumnya. IgM rendah atau bahkan tidak ada sama sekali (WHO, 2025).
Ini penting karena infeksi sekunder justru yang paling berisiko menjadi dengue berat melalui mekanisme antibody-dependent enhancement — dan justru pada kelompok inilah pemeriksaan NS1 paling sering menipu.

Diagram 1 — Kinetika penanda diagnostik dengue.
Jenis Pemeriksaan Penunjang: Empat Kelompok Besar
1. Deteksi langsung virus — NAAT, RT-PCR, dan sekuensing
Nucleic acid amplification test (NAAT), yang paling umum berbentuk reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR), mendeteksi RNA virus di dalam sampel pasien. Ini adalah metode paling spesifik yang tersedia untuk praktik klinis.
Sensitivitas dan spesifisitas RT-PCR komersial dilaporkan berkisar 83,9–90,3% dan 100% (WHO, 2025). Meta-analisis Bayesian terbaru terhadap 161 artikel memperkirakan sensitivitas gabungan RT-PCR pada hari 0–4 demam sebesar 95% (interval kredibel 95%: 77–99) dengan spesifisitas 89% (60–98) (Pillay et al., 2025).
Sebagian besar RT-PCR generasi baru menyasar keempat serotipe sekaligus, dan banyak yang mampu membedakannya dalam satu reaksi. Untuk wilayah dengan sirkulasi arbovirus ganda, pendekatan multiplex yang sekaligus mendeteksi Zika dan chikungunya layak dipertimbangkan (WHO, 2025).
Untuk fasilitas dengan keterbatasan laboratorium, tersedia format NAAT yang lebih sederhana: reverse transcription loop-mediated isothermal amplification (RT-LAMP) dan reverse transcription insulated isothermal PCR. Ada pula platform sample-in-answer-out yang mengotomasi ekstraksi, amplifikasi, dan deteksi dalam waktu kurang dari satu jam.
Di tingkat surveilans, next-generation sequencing (NGS) digunakan untuk karakterisasi genom. Sampai saat ini telah teridentifikasi 19 genotipe DENV di seluruh empat serotipe (WHO, 2025). Sekuensing penting bukan hanya untuk epidemiologi: variasi genotipe dapat memengaruhi kinerja NAAT dan uji serologi itu sendiri, dan mutasi pada target primer dapat menyebabkan kegagalan deteksi.
Isolasi virus pada biakan sel mamalia atau nyamuk tetap menjadi baku emas identifikasi langsung, tetapi memakan waktu, padat karya, dan memerlukan fasilitas biosafety yang jarang tersedia — sehingga hampir tidak pernah dipakai untuk diagnosis rutin (WHO, 2025).
2. Deteksi antigen NS1
NS1 adalah glikoprotein nonstruktural yang sangat lestari, disekresikan ke dalam darah oleh sel yang terinfeksi. Karena epitopnya stabil, risiko kegagalan deteksi akibat evolusi virus relatif rendah.
NS1 terdeteksi di serum sampai sembilan hari setelah awitan gejala pada infeksi primer, tetapi deteksinya sudah menurun pada hari ke-6 sampai ke-7 pada infeksi sekunder (WHO, 2025).
Tersedia dalam dua format:
NS1 ELISA — dilaporkan sangat sensitif (mendekati 100%) dan spesifik (99,2%), setara dengan uji molekuler konvensional dalam hal spesifisitas (WHO, 2025). Meta-analisis Pillay et al. (2025) memberi estimasi yang lebih konservatif namun tetap kuat: sensitivitas gabungan 90% (68–98) dan spesifisitas 93% (71–99) pada hari 0–4. Temuan terpenting dari meta-analisis itu adalah bahwa NS1 ELISA menunjukkan akurasi diagnostik yang sebanding dengan RT-PCR — implikasi kebijakan yang besar bagi negara seperti Indonesia, karena ELISA jauh lebih murah dan lebih mudah diakses.
NS1 RDT (rapid diagnostic test) — sensitivitas 68,5–87,0% dengan spesifisitas 100% pada berbagai studi (WHO, 2025). Hasil keluar dalam 15–30 menit dan dapat memakai darah kapiler.
Titik lemah NS1 terletak pada infeksi sekunder. Sensitivitasnya turun menjadi 67,1–77,3%, dibandingkan 94,7–98,3% pada infeksi primer (WHO, 2025). Inilah alasan pasien pada vinyet pembuka kita mendapat hasil negatif palsu.
3. Serologi — IgM dan IgG
Uji serologi mendeteksi respons imun pejamu, bukan virusnya, sehingga baru berguna setelah tubuh sempat membentuk antibodi.
IgM terdeteksi pada 50% pasien di hari ke-3 sampai ke-5 (WHO, 2025). Berdasarkan data gabungan, sensitivitas IgM ELISA pada hari 1–7 hanya 71% (57–84) — dan meningkat menjadi 82% pada hari ke-5 sampai ke-14 (Pillay et al., 2025). Kesimpulan penulis meta-analisis itu tegas: IgM ELISA memiliki akurasi diagnostik yang buruk pada awal perjalanan penyakit.
Format ELISA konsisten lebih baik daripada RDT untuk serologi. Sensitivitas IgM ELISA 61,5–99,0% dengan spesifisitas 79,9–97,8%, sementara IgM RDT hanya 20,5–97,7% dengan spesifisitas 76,6–90,6% (WHO, 2025). Rentang yang sangat lebar itu sendiri adalah peringatan: kualitas antarmerek berbeda jauh.
Konfirmasi serologis yang sesungguhnya memerlukan sepasang serum — fase akut dan fase konvalesen, diambil dengan jarak 10–14 hari. Serokonversi IgM (negatif lalu positif) atau kenaikan titer empat kali lipat mengonfirmasi infeksi. Kenaikan titer IgG empat kali lipat menandakan infeksi sekunder (WHO, 2025).
Rasio IgM/IgG kadang dipakai untuk membedakan infeksi primer dan sekunder — ambang yang lazim adalah rasio densitas optik >1,2 pada pengenceran 1:100 atau >1,4 pada pengenceran 1:20 untuk infeksi primer. Namun ambang ini bergantung pada kit dan pengenceran, berbeda antarlaboratorium, dan belum terstandardisasi secara universal (WHO, 2025).
Plaque reduction neutralization test (PRNT) adalah baku emas untuk mengukur antibodi netralisasi spesifik-serotipe, tetapi laborius, memerlukan biakan virus hidup, dan praktis hanya tersedia di laboratorium rujukan.
4. Pemeriksaan penunjang non-spesifik — yang justru menentukan nasib pasien
Di sinilah sering terjadi salah tempat: klinisi memburu konfirmasi serologis, padahal yang menentukan hidup-mati pasien adalah pemantauan kebocoran plasma.
Darah perifer lengkap serial adalah pemeriksaan paling penting dalam tata laksana dengue, bukan pemeriksaan paling canggih. Tiga parameter yang dibaca bersamaan:
- Leukopenia — sering muncul lebih dulu, bahkan menjadi salah satu kriteria kasus tersangka dengue menurut WHO (2025)
- Trombositopenia progresif — penurunan cepat menandakan mendekatnya fase kritis
- Hematokrit serial — peningkatan progresif hematokrit adalah salah satu warning signs resmi WHO; kombinasi hematokrit yang naik bersamaan dengan trombosit yang turun adalah pola khas kebocoran plasma
Peningkatan hematokrit ≥20% dari nilai dasar, atau penurunan ≥20% setelah resusitasi cairan, secara klasik dipakai sebagai bukti objektif kebocoran plasma. Perlu dicatat, kaitan antara kadar hematokrit dan dengue berat masih diperdebatkan dalam literatur, dengan bukti yang bervariasi mengenai nilai prediktifnya (Shahsavand Davoudi et al., 2025) — karena itu hematokrit dibaca sebagai tren, bukan angka tunggal.
Pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi: albumin serum (turun pada kebocoran plasma), SGOT/SGPT (peningkatan AST merupakan penanda awal keparahan), profil koagulasi dan fibrinogen pada perdarahan, analisis gas darah dan laktat pada syok, elektrolit, gula darah, serta fungsi ginjal.
Pencitraan. Ultrasonografi point-of-care adalah alat yang sangat kurang dimanfaatkan di Indonesia. Penebalan dinding kandung empedu (gallbladder wall thickening, GBWT) sering mendahului munculnya efusi pleura dan asites, dan dapat terdeteksi sedini hari ke-2 atau ke-3 demam. Meta-analisis 19 studi menemukan hubungan bermakna antara GBWT dan dengue berat dengan rasio odds 2,35 (IK 95%: 1,88–2,82), sensitivitas gabungan 88% dan spesifisitas 63% (Shahsavand Davoudi et al., 2025).
Ambang yang lazim dipakai adalah 3 mm; menaikkannya ke 5 mm meningkatkan spesifisitas. Spesifisitas dapat diperbaiki dengan meminta pasien puasa 4–6 jam sebelum pemeriksaan dan mengenali pola khas honeycomb. Kelemahannya nyata: GBWT tidak spesifik dan juga ditemukan pada kolesistitis, penyakit hati, gagal jantung, leptospirosis, dan malaria (Shahsavand Davoudi et al., 2025).
Yang membanggakan, sebagian bukti kunci untuk pendekatan ini justru berasal dari Indonesia. Penelitian USG bedside harian serial pada pasien dewasa Indonesia menunjukkan nilai prediktif untuk dengue berat (Michels et al., 2013), dan studi di Jakarta memperkuat peran GBWT untuk deteksi dini kebocoran plasma pada pasien dewasa (Nainggolan et al., 2018).
Foto toraks posisi right lateral decubitus tetap berguna di fasilitas tanpa USG untuk mendeteksi efusi pleura.
Pengambilan dan Penanganan Sampel
Kesalahan praanalitik menghancurkan hasil sebaik apa pun kitnya. Serum adalah jenis sampel yang dianjurkan untuk hampir semua pemeriksaan dengue.
| Jenis sampel | Jumlah dianjurkan | Jumlah minimum | Tabung/wadah | Suhu penanganan & transpor |
|---|---|---|---|---|
| Serum | 2,5 mL | 0,5 mL | Tanpa aditif | ≤ 2–8 °C |
| Plasma | 2,5 mL | 0,5 mL | Tanpa aditif | ≤ 2–8 °C |
| Darah lengkap tanpa antikoagulan | 5 mL | 1 mL | Tabung polos | 2–8 °C |
| Darah lengkap dengan antikoagulan | 5 mL | 1 mL | EDTA atau antikoagulan lain | 2–8 °C |
| Darah kapiler | 100 µL | 20 µL | Tabung kapiler | ≤ 20–22 °C |
| Urine (porsi tengah) | 5 mL | 1 mL | Tanpa aditif | 2–8 °C |
| Cairan serebrospinal | 1 mL | 0,5 mL | Tanpa aditif | ≤ 2–8 °C |
Sumber: WHO (2025), Tabel 1.
Beberapa aturan praktis yang sering dilanggar:
- Jangan gunakan heparin sebagai antikoagulan bila sampel akan diperiksa dengan metode molekuler — heparin mengganggu reaksi RT-PCR (WHO, 2025).
- Serum yang akan diperiksa dalam 48 jam disimpan pada 2–8 °C; bila tertunda, simpan pada −20 °C atau lebih dingin.
- Darah lengkap EDTA jangan dibekukan; integritas sampel rusak.
- Plasma boleh dipakai, tetapi laju deteksinya mungkin lebih rendah dibanding darah lengkap dan serum.
- Darah kapiler dari ujung jari, cuping telinga, atau sisi lateral tumit pada bayi berguna di fasilitas terbatas dan saat wabah besar.
- RNA rentan degradasi oleh ribonuklease. Simpan dalam tabung bebas ribonuklease pada −70 °C atau lebih dingin, dalam alikuot untuk menghindari siklus beku-cair.
- Untuk pengiriman, sampel dengue tergolong Kategori B – UN3373 “Biological substance”, sedangkan biakan DENV tergolong Kategori A – UN2814. Semua memerlukan pengemasan tiga lapis, pelabelan, dan dokumentasi yang sesuai (WHO, 2025).
- Penanganan spesimen memerlukan praktik setara BSL-2; biakan virus hidup memerlukan BSL-3.
Satu catatan menarik untuk konteks Indonesia: RNA DENV pernah terdeteksi dalam urine antara hari ke-14 dan ke-32 setelah awitan demam, menawarkan kemungkinan deteksi pada fase lanjut dan tanpa rantai dingin yang ketat (WHO, 2025). Ini masih ranah penelitian, tetapi relevan untuk wilayah kepulauan dengan logistik sulit.
Ringkasan Akurasi: Angka yang Perlu Diingat
| Pemeriksaan | Jendela waktu optimal | Sensitivitas | Spesifisitas | Sumber |
|---|---|---|---|---|
| RT-PCR / NAAT komersial | Hari 0–7 | 83,9–90,3% | 100% | WHO (2025) |
| RT-PCR (meta-analisis) | Hari 0–4 | 95% (77–99) | 89% (60–98) | Pillay et al. (2025) |
| NS1 ELISA | Hari 0–9 (primer) | ~100% | 99,2% | WHO (2025) |
| NS1 ELISA (meta-analisis) | Hari 0–4 | 90% (68–98) | 93% (71–99) | Pillay et al. (2025) |
| NS1 RDT | Hari 0–7 | 68,5–87,0% | 100% | WHO (2025) |
| NS1 pada infeksi primer | Hari 0–9 | 94,7–98,3% | — | WHO (2025) |
| NS1 pada infeksi sekunder | Hari 0–6 | 67,1–77,3% | — | WHO (2025) |
| IgM ELISA | > Hari 5 | 61,5–99,0% | 79,9–97,8% | WHO (2025) |
| IgM ELISA (meta-analisis) | Hari 1–7 | 71% (57–84) | 91% (82–95) | Pillay et al. (2025) |
| IgM ELISA (meta-analisis) | Hari 5–14 | 82% (49–96) | — | Pillay et al. (2025) |
| IgM RDT | > Hari 5 | 20,5–97,7% | 76,6–90,6% | WHO (2025) |
| RDT kombinasi NS1 + IgM | Hari 0–14 | 92,6–99,1% | — | WHO (2025) |
| RDT kombinasi NS1/IgM/IgG | Hari 0–14 | 91% | 96% | WHO (2025) |
| USG — GBWT untuk dengue berat | Hari 2–6 | 88% | 63% | Shahsavand Davoudi et al. (2025) |
Data Indonesia sendiri
Angka global penting, tetapi kinerja kit di lapangan Indonesia adalah pertanyaan tersendiri, karena sensitivitas NS1 dipengaruhi oleh serotipe dan genotipe yang bersirkulasi di suatu wilayah (WHO, 2025).
Evaluasi terhadap lima merek NS1 RDT yang paling umum dipakai di rumah sakit dan puskesmas Indonesia, diuji terhadap 100 sampel dengue terkonfirmasi virologis yang mencakup keempat serotipe, menghasilkan sensitivitas 73–80% dengan spesifisitas 100%. Tidak ada perbedaan bermakna antarmerek. Sensitivitas lebih baik pada empat hari pertama demam, pada serotipe DENV-3, dan pada infeksi primer (Santoso et al., 2020).
Studi yang lebih baru di Batam, membandingkan NS1 RDT dengan RT-PCR pada 309 kasus tersangka dengue di layanan primer (2022–2024), menemukan sensitivitas 75,8%, spesifisitas 81,2%, nilai prediksi positif 62,7%, nilai prediksi negatif 88,9%, dan akurasi keseluruhan 79,6%, dengan kesesuaian sedang terhadap RT-PCR (κ = 0,54). Positivitas NS1 memuncak pada hari sakit ke-1 sampai ke-3 (Inderiati et al., 2025).
Kohort observasional multisenter di Indonesia juga telah mendokumentasikan tantangan diagnostik khas negeri ini, termasuk keragaman serotipe dan mutasi virus yang dapat memengaruhi kinerja uji (Utama et al., 2019).
Terjemahan praktisnya sederhana: dalam kondisi Indonesia, sekitar satu dari empat sampai satu dari lima pasien dengue akan lolos dari NS1 RDT. Hasil positif hampir pasti benar; hasil negatif tidak berarti apa-apa.
Kekuatan dan Kelemahan Setiap Modalitas
| Modalitas | Kekuatan | Kelemahan |
|---|---|---|
| NAAT / RT-PCR | Sensitivitas dan spesifisitas tinggi; dapat menentukan serotipe; hasil cepat pada platform dekat pasien; dapat diotomasi | Hanya pada fase akut (0–7 hari); perlu ≥0,5 mL serum; butuh fasilitas dan SDM terlatih; risiko positif palsu karena kontaminasi; tidak membedakan infeksi primer/sekunder; rentan terhadap kesalahan penyimpanan; evolusi virus dapat menyebabkan kegagalan target |
| NS1 ELISA | NS1 sangat lestari; sensitivitas dan spesifisitas tinggi; biaya relatif rendah dibanding NAAT | Hanya fase akut; perlu pengambilan darah vena dan transpor ke laboratorium; negatif palsu pada infeksi sekunder; butuh tenaga terlatih; waktu tunggu bisa beberapa hari bila kapasitas laboratorium terbatas |
| NS1 RDT | Mudah, point-of-care, dapat memakai darah kapiler, hasil 15–30 menit; spesifisitas sangat tinggi | Sensitivitas lebih rendah daripada NAAT dan ELISA; negatif palsu pada infeksi sekunder dan serotipe tertentu; kualitas sangat bervariasi antarmerek |
| Kombinasi NS1 + IgM (ELISA/RDT) | Sensitivitas jauh lebih baik daripada analit tunggal; menurunkan risiko negatif palsu; nilai prediksi positif lebih tinggi | Potensi positif palsu karena reaksi silang antar-orthoflavivirus; kinerja format RDT belum dievaluasi memadai di semua konteks epidemiologi |
| IgM/IgG ELISA | Mengidentifikasi kasus probable dari satu sampel; versi kuantitatif dapat membedakan infeksi primer/sekunder | Spesifisitas lebih rendah daripada NAAT; IgM dapat menetap lama sehingga menimbulkan positif palsu; IgM rendah pada infeksi sekunder; reaksi silang IgG tinggi; konfirmasi butuh dua sampel berjarak 10–14 hari |
| IgM/IgG RDT | Mudah, cepat, dapat memakai darah kapiler | Hasil hanya kualitatif; positif dan negatif palsu; reaksi silang antar-orthoflavivirus |
| PRNT | Baku emas kuantifikasi antibodi netralisasi spesifik-serotipe; membantu memilah reaksi silang | Perlu sampel konvalesen; protokol laborius dan lama; butuh keahlian menangani virus hidup |
| NGS | Karakterisasi genotipe, deteksi mutasi, pemantauan evolusi | Mahal; butuh infrastruktur komputasi dan keahlian; waktu tunggu panjang |
| Darah perifer lengkap serial | Murah, tersedia di mana saja, langsung memandu tata laksana cairan | Tidak spesifik untuk dengue; perlu pengulangan dan interpretasi tren |
| USG point-of-care | Mendeteksi kebocoran plasma subklinis sebelum tampak secara klinis; aman, murah, di sisi tempat tidur | Spesifisitas rendah (63%); GBWT juga muncul pada kolesistitis, penyakit hati, gagal jantung, leptospirosis, malaria; bergantung operator |
Satu catatan penting untuk pengadaan: uji diagnostik dengue belum masuk portofolio prakualifikasi WHO. Pemilihan produk harus dipandu bukti kinerja dari evaluasi independen, bukan semata klaim pabrikan (WHO, 2025).
Algoritma Praktis Berdasarkan Hari Demam
WHO menegaskan bahwa tidak ada konsensus universal tentang algoritma diagnostik optimal; algoritma harus disesuaikan dengan endemisitas lokal, sirkulasi orthoflavivirus lain, ada-tidaknya program vaksinasi, dan kapasitas laboratorium nasional (WHO, 2025). Berikut adalah kerangka yang diusulkan WHO, diterjemahkan ke konteks Indonesia.
| Fase | Analit | Metode | Hasil | Interpretasi |
|---|---|---|---|---|
| Akut (1–7 hari) | RNA | NAAT | Positif | Dengue terkonfirmasi |
| Akut (1–7 hari) | RNA | NAAT | Negatif | Dengue belum terkonfirmasi |
| Akut (1–7 hari) | NS1 | ELISA/RDT | Positif | Dengue terkonfirmasi (di daerah endemis tinggi) |
| Akut (1–7 hari) | NS1 | ELISA/RDT | Negatif | Dengue belum terkonfirmasi |
| Akut & konvalesen | NS1 & IgM | ELISA/RDT | NS1+ / IgM± | Dengue terkonfirmasi |
| Akut & konvalesen | NS1 & IgM | ELISA/RDT | NS1− / IgM− | Dengue belum terkonfirmasi |
| Akut & konvalesen | NS1 & IgM | ELISA/RDT | NS1− / IgM+ | Probable infeksi dengue baru |
| Konvalesen (>7 hari) | IgM | ELISA/RDT | Positif | Probable infeksi dengue baru |
| Konvalesen (>7 hari) | IgM | ELISA/RDT | Negatif | Dengue belum terkonfirmasi; lakukan diagnosis banding |
Sumber: WHO (2025), Tabel 3.
Beberapa catatan kaki penting dari WHO atas tabel di atas:
- NS1 RDT positif dapat dianggap sebagai kasus dengue terkonfirmasi di daerah endemis dengan prevalensi tinggi — dan Indonesia jelas masuk kategori ini. Konfirmasi NAAT dianjurkan bila sirkulasi dengue rendah atau untuk kasus pertama di suatu wilayah geografis.
- NS1 negatif dapat merupakan negatif palsu akibat rendahnya NS1 pada infeksi sekunder; konfirmasi dengan NAAT bila kecurigaan klinis tinggi.
- IgM positif tunggal dapat merupakan positif palsu akibat reaksi silang; konfirmasi dengan serokonversi pada sampel berpasangan 10–14 hari.
- Pada infeksi sekunder, IgM tumpul atau tidak ada sama sekali — negatif tidak menyingkirkan dengue.
- Positif palsu IgM dan IgG telah dilaporkan pada pasien dengan infeksi Plasmodium spp. dan leptospirosis (WHO, 2025) — dua penyakit yang juga endemis di banyak wilayah Indonesia.
Diagram 2 — Algoritma diagnostik dengue.
Penerapan di Lapangan Indonesia
Menyusun menu pemeriksaan berjenjang
WHO mengusulkan menu pemeriksaan bertingkat yang bisa diterjemahkan langsung ke struktur pelayanan kesehatan kita (WHO, 2025):
| Jenjang di Indonesia | Menu pemeriksaan yang realistis |
|---|---|
| Puskesmas, klinik pratama, praktik mandiri | RDT (NS1, sebaiknya kombinasi NS1 + IgM/IgG); darah perifer lengkap |
| Laboratorium RSUD kabupaten/kota | RDT, ELISA (NS1, IgM/IgG), NAAT bila tersedia; darah lengkap serial; USG point-of-care |
| Laboratorium provinsi / BBLK | NAAT termasuk multiplex serotipe, ELISA, RDT |
| Laboratorium rujukan nasional | NAAT, ELISA, biakan virus, NGS, PRNT |
Di layanan primer, RDT sering tersedia di luar setting laboratorium — dan itu memang sesuai desain, asalkan sampel yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dirujuk ke jenjang di atasnya (WHO, 2025).
Landasan regulasi nasional
Dua dokumen menjadi acuan resmi: Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/9845/2020 tentang PNPK Tata Laksana Infeksi Dengue pada Dewasa dan Nomor HK.01.07/MENKES/4636/2021 tentang PNPK Tata Laksana Infeksi Dengue Anak dan Remaja (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI], 2020, 2021). Keduanya mengadopsi klasifikasi WHO 2009 — dengue tanpa tanda bahaya (terapi grup A), dengue dengan tanda bahaya (grup B), dan dengue berat (grup C).
Tujuan khusus PNPK anak dan remaja secara eksplisit menyebut bahwa seluruh fasilitas pelayanan kesehatan harus memiliki sarana pemeriksaan diagnostik infeksi dengue serta sarana penunjang laboratorium dan radiologi (Kemenkes RI, 2021). Ini bukan sekadar anjuran klinis — ini dasar untuk menyusun Panduan Praktik Klinis dan SPO di tingkat rumah sakit, dan dapat menjadi rujukan saat menyusun anggaran alat serta reagen.
Kemenkes juga telah menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/466/2025 tentang kewaspadaan dini terhadap DBD dan chikungunya, menegaskan bahwa dengue tidak lagi boleh dianggap sebagai penyakit musim hujan semata (Kemenkes RI, 2025).
Tujuh kesalahan yang paling sering terjadi
1. Menyingkirkan dengue karena NS1 negatif. Ini kesalahan paling mematikan. Pada infeksi sekunder — justru kelompok dengan risiko dengue berat tertinggi — sensitivitas NS1 hanya 67,1–77,3% (WHO, 2025), dan di Indonesia sensitivitas NS1 RDT berkisar 73–80% secara keseluruhan (Santoso et al., 2020).
2. Memeriksa IgM terlalu dini. Pada hari ke-2 demam, IgM ELISA praktis tidak bernilai; sensitivitasnya pada hari 1–7 hanya 71% dan lebih rendah lagi di awal (Pillay et al., 2025). Memeriksa IgM di hari kedua adalah pemborosan sumber daya yang berisiko menenangkan klinisi secara keliru.
3. Menafsirkan IgG positif tunggal sebagai bukti dengue akut. IgG bertahan seumur hidup di daerah hiperendemis seperti Indonesia. IgG positif tanpa NS1, RNA, atau IgM hanya berarti pasien pernah terinfeksi dengue di suatu titik dalam hidupnya.
4. Melewatkan hematokrit serial. Satu nilai hematokrit tidak berarti apa-apa. Yang bermakna adalah trennya, dibaca bersamaan dengan tren trombosit dan status klinis.
5. Menunda cairan sambil menunggu hasil. Prinsip WHO tegas: tata laksana klinis jangan ditunda menunggu hasil diagnostik (WHO, 2025).
6. Mengabaikan diagnosis banding ketika semua uji negatif. Bila RT-PCR, NS1, dan IgM/IgG semuanya negatif, pemeriksaan untuk arbovirus lain atau penyakit demam lain diperlukan (WHO, 2025) — leptospirosis, tifoid, malaria, rickettsiosis, dan chikungunya adalah kandidat utama di Indonesia.
7. Membeli kit berdasarkan harga semata. Karena uji dengue tidak diprakualifikasi WHO, pilihan produk harus berdasarkan bukti kinerja independen, kesesuaian dengan serotipe yang bersirkulasi di wilayah tersebut, sertifikasi mutu seperti ISO 13485:2016, dan total biaya kepemilikan — bukan hanya harga satuan (WHO, 2025).
Prioritas pemeriksaan ketika sumber daya terbatas
WHO menetapkan kelompok yang harus diprioritaskan untuk pemeriksaan karena berisiko lebih tinggi mengalami penyakit berat: bayi dan anak kecil, ibu hamil, orang dengan kondisi medis penyerta, dan pelancong dari daerah endemis (WHO, 2025).
Untuk investigasi kejadian luar biasa, WHO menyarankan pemeriksaan pada sebagian proporsi kasus tersangka — misalnya 10–30% — disesuaikan dengan kapasitas dan sumber daya laboratorium (WHO, 2025). Ini relevan untuk dinas kesehatan kabupaten/kota yang menghadapi lonjakan kasus dengan anggaran reagen terbatas.
Menaikkan mutu tanpa menaikkan biaya
Beberapa langkah berdampak besar dengan biaya kecil:
- Ganti RDT NS1 tunggal dengan RDT kombinasi NS1 + IgM. Sensitivitasnya melonjak dari 68,5–87,0% menjadi 92,6–99,1% (WHO, 2025). Selisih harganya jauh lebih kecil daripada biaya satu kasus syok yang terlambat dikenali.
- Catat hari demam di formulir permintaan laboratorium. Tanpa informasi ini, interpretasi hasil menjadi tebakan.
- Latih dokter umum untuk USG point-of-care abdomen dasar. Deteksi GBWT dan asites sejak hari ke-2 memberi peringatan dini yang tidak bisa diberikan pemeriksaan serologi apa pun (Michels et al., 2013; Nainggolan et al., 2018).
- Ikut program pemantapan mutu eksternal untuk arbovirus. WHO menekankan pentingnya validasi kit sebelum digunakan, kalibrasi rutin, dan kontrol positif-negatif pada setiap seri pemeriksaan (WHO, 2025).
- Laporkan serotipe bila tersedia. Data serotipe lokal memandu pemilihan kit dan memberi peringatan dini pergeseran serotipe yang sering mendahului wabah.
Kembali ke Pasien di Bogor
Bila puskesmas itu menggunakan RDT kombinasi NS1 + IgM alih-alih NS1 tunggal, kemungkinan besar hasilnya berbeda. Bila hari demam dicatat dan pasien dipulangkan dengan instruksi kontrol harian untuk pemeriksaan darah lengkap, penurunan trombosit dan kenaikan hematokrit akan terdeteksi sebelum syok terjadi. Bila USG bedside dilakukan pada hari keempat, penebalan dinding kandung empedu mungkin sudah terlihat.
Tidak satu pun dari langkah itu memerlukan teknologi mahal. Yang diperlukan adalah memahami bahwa pemeriksaan penunjang dengue bukan alat untuk menyingkirkan penyakit, melainkan alat untuk mengonfirmasinya — dan bahwa yang menyelamatkan nyawa bukanlah hasil serologi, melainkan pemantauan berulang terhadap tanda bahaya dan kebocoran plasma.
Catatan Transparansi
Beberapa hal perlu disampaikan terbuka kepada pembaca:
- Pedoman WHO yang menjadi tulang punggung artikel ini bersifat interim dan dinyatakan berlaku satu tahun sejak publikasi April 2025. Penelusuran per September 2026 tidak menemukan versi pembaruan; pembaca dianjurkan memeriksa laman WHO untuk edisi terbaru sebelum menjadikannya dasar kebijakan institusi.
- Angka kasus dengue Indonesia 2026 bersumber dari pemberitaan atas keterangan pers Kementerian Kesehatan, bukan dari publikasi resmi yang telah melalui telaah sejawat. Terdapat pula variasi angka antarlaporan media untuk tahun 2024 (244.409 versus 247.000 kasus; 1.430 versus 1.018 kematian), yang mengindikasikan perbedaan periode potong data. Angka final sebaiknya dikonfirmasi ke Profil Kesehatan Indonesia tahun berjalan.
- Referensi Inderiati et al. (2025) belum dapat diverifikasi lengkap — daftar penulis penuh, volume, dan nomor halaman tidak berhasil diperoleh dari sumber primer. Data kinerja NS1 RDT di Batam dikutip dari abstrak jurnal.
- Beberapa angka sensitivitas dan spesifisitas dikutip secara sekunder melalui pedoman WHO (2025), yang merangkum studi asli seperti Tang dan Ooi, Lee et al., serta Yow et al. Pembaca yang membutuhkan presisi metodologis dianjurkan merujuk publikasi asli.
- PNPK dengue Indonesia berasal dari 2020 dan 2021 dan mengacu pada klasifikasi WHO 2009. Terdapat selisih waktu antara pembaruan pedoman laboratorium global (2025) dan adopsi regulasi nasional. Artikel ini menyajikan keduanya tanpa mengasumsikan bahwa pedoman internasional secara otomatis berlaku sebagai regulasi di Indonesia.
- Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan penilaian klinis, pedoman institusi, maupun regulasi yang berlaku.
Daftar Pustaka
Inderiati, D., et al. (2025). Diagnostic validity analysis of NS1-based rapid test compared with RT-PCR for dengue detection in Batam. Meditory: The Journal of Medical Laboratory. https://ejournal.poltekkes-denpasar.ac.id/index.php/M/article/view/4801
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/9845/2020 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Infeksi Dengue pada Dewasa. Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/4636/2021 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Infeksi Dengue Anak dan Remaja. Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/466/2025 tentang Kewaspadaan Dini terhadap Demam Berdarah Dengue dan Chikungunya. Kementerian Kesehatan RI.
Michels, M., Sumardi, U., de Mast, Q., Jusuf, H., Puspita, M., Dewi, I. M. W., Iskandriati, D., Ghandi, R., Roelofs, J., & van der Ven, A. J. (2013). The predictive diagnostic value of serial daily bedside ultrasonography for severe dengue in Indonesian adults. PLoS Neglected Tropical Diseases, 7(6), e2277. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0002277
Nainggolan, L., Wiguna, C., Hasan, I., & Dewiasty, E. (2018). Gallbladder wall thickening for early detection of plasma leakage in dengue infected adult patients. Acta Medica Indonesiana, 50(3), 193–199.
Pillay, K., Keddie, S. H., Fitchett, E., Akinde, C., Bärenbold, O., Bradley, J., Falconer, J., Keogh, R. H., Lim, Z. N., Nezafat Maldonado, B., Maynard-Smith, L., Sugrue, E., Taylor, O., Hopkins, H., & Dubot-Pérès, A. (2025). Evaluating the performance of common reference laboratory tests for acute dengue diagnosis: A systematic review and meta-analysis of RT-PCR, NS1 ELISA, and IgM ELISA. The Lancet Microbe, 6(7), 101088. https://doi.org/10.1016/j.lanmic.2025.101088
RRI. (2026, 16 Juni). Kemenkes catat puluhan ribu kasus DBD tahun 2026. https://rri.co.id/kesehatan/2496060/kemenkes-catat-puluhan-ribu-kasus-dbd-tahun-2026
Santoso, M. S., Yohan, B., Denis, D., Hayati, R. F., Haryanto, S., Trianty, L., Noviyanti, R., Hibberd, M. L., & Sasmono, R. T. (2020). Diagnostic accuracy of 5 different brands of dengue virus non-structural protein 1 (NS1) antigen rapid diagnostic tests (RDT) in Indonesia. Diagnostic Microbiology and Infectious Disease, 98(2), 115116. https://doi.org/10.1016/j.diagmicrobio.2020.115116
Shahsavand Davoudi, A., Harandi, H., Samiee, R., Forghani, S., Mohammadi, K., & Shafaati, M. (2025). Ultrasound evaluation of gallbladder wall thickness for predicting severe dengue: A systematic review and meta-analysis. The Ultrasound Journal, 17, 12. https://doi.org/10.1186/s13089-025-00417-5
Utama, I. M. S., Lukman, N., Sukmawati, D. D., Alisjahbana, B., Alam, A., Murniati, D., Utama, I. M. G. D. L., Puspitasari, D., Kswari, N., Merati, T. P., Kosasih, H., Laksono, I., Karyana, M., Karyanti, M. R., Hapsari, M. M. D. E. A. H., Meutia, N., Liang, C. J., Wulan, W. N., Lau, C.-Y., & Parwati, K. T. M. (2019). Dengue viral infection in Indonesia: Epidemiology, diagnostic challenges, and mutations from an observational cohort study. PLoS Neglected Tropical Diseases, 13(10), e0007785. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0007785
World Health Organization. (2009). Dengue: Guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control (New ed.). https://iris.who.int/handle/10665/44188
World Health Organization. (2025). Laboratory testing for dengue virus: Interim guidance, April 2025. https://doi.org/10.2471/B09394





Tinggalkan Balasan