A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang ibu membawa anak laki-lakinya yang berusia 9 tahun ke IGD karena tiga hari terakhir tampak lemas, napasnya cepat dan dalam, serta tercium bau seperti aseton dari mulutnya. Dalam dua minggu terakhir, anak itu mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis meski nafsu makannya justru meningkat, sering terbangun malam hari untuk buang air kecil, bahkan kembali mengompol setelah sekian lama tidak pernah. Hasil pemeriksaan gula darah sewaktu menunjukkan angka di atas 500 mg/dL disertai keton darah yang tinggi dan pH darah yang asam. Diagnosisnya: diabetes melitus tipe 1 dengan ketoasidosis diabetikum.

Skenario seperti ini bukan cerita langka. Ia menggambarkan bagaimana diabetes tipe 1 pada anak kerap kali baru dikenali setelah anak berada dalam kondisi gawat darurat—sebuah pola yang, seperti akan dibahas di bawah, juga terjadi di Indonesia.

Apa Itu Diabetes Melitus Tipe 1?

Diabetes melitus tipe 1 (DMT1) adalah kondisi kronis yang terjadi akibat kerusakan sel beta pankreas melalui proses autoimun, sehingga tubuh kehilangan kemampuan memproduksi insulin secara memadai atau bahkan sama sekali akibat kerusakan sel pankreas sehingga pasien harus menerima suplai insulin dari luar tubuh secara rutin. Berbeda dengan diabetes tipe 2 yang umumnya berkaitan dengan resistansi insulin akibat gaya hidup, DMT1 murni disebabkan hilangnya produksi insulin dan karenanya bersifat insulin-dependent seumur hidup.

Guideline internasional terbaru dari International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes (ISPAD) kini memandang DMT1 sebagai proses bertahap, bukan sekadar kejadian mendadak saat gejala klinis muncul. Anak yang memiliki dua atau lebih islet autoantibody (penanda autoimunitas terhadap sel beta) namun kadar gula darah masih normal disebut berada pada stage 1; ketika mulai muncul gangguan toleransi glukosa disebut stage 2; dan saat gejala klinis serta hiperglikemia nyata muncul, barulah disebut stage 3—titik yang selama ini kita kenal sebagai “diagnosis diabetes tipe 1” Guideline ini merupakan pembaruan dari konsensus ISPAD 2022 tentang penahapan (staging) diabetes tipe 1, dengan tambahan rekomendasi berbasis bukti untuk skrining risiko dan pemantauan pada tahap dini penyakit ini.

Beban Diabetes Tipe 1 pada Anak Indonesia

Data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Menurut laporan International Diabetes Federation, jumlah penderita diabetes tipe 1 di Indonesia mencapai sekitar 41,8 ribu orang pada 2022, menjadikan Indonesia negara dengan penderita diabetes tipe 1 terbanyak di ASEAN dan peringkat ke-34 dari 204 negara secara global. Pada populasi anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat lonjakan insidens yang tajam: prevalensi DM tipe-1 pada anak meningkat dari 0,0038 per 100.000 pada tahun 2000, menjadi 0,028 per 100.000 pada 2010, dan melonjak lagi hingga 2 per 100.000 pada 2023—peningkatan sekitar tujuh puluh kali lipat dalam kurun waktu dua dekade.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 turut mengonfirmasi pola usia diagnosis ini. Berdasarkan tipenya, diabetes tipe 1 menyumbang 16,9% dari seluruh kasus diabetes, dan paling banyak dialami kelompok usia 5–14 tahun (55,7%), diikuti usia 15–24 tahun (29,3%). Sebaran kasus juga tidak merata; sebagian besar kasus tercatat terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, dengan proporsi anak perempuan (59,3%) lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki.

Yang paling memprihatinkan adalah keterlambatan diagnosis. Data Kementerian Kesehatan mencatat tingginya angka anak yang baru terdiagnosis DM tipe 1 saat sudah mengalami ketoasidosis diabetikum, mencapai 71% pada tahun 2017—jauh lebih tinggi dibanding negara-negara dengan sistem skrining dan kesadaran masyarakat yang lebih matang. Ini menegaskan pentingnya edukasi tenaga kesehatan primer, termasuk dokter umum di Puskesmas dan klinik, untuk mengenali gejala klasik DMT1 sejak dini.

Mengapa Sering Terlambat Dikenali?

Gejala klasik DMT1—dikenal dengan istilah polyuria (sering berkemih), polydipsia (sering haus berlebihan), dan penurunan berat badan yang cepat meski nafsu makan meningkat—kerap disalahartikan sebagai infeksi saluran kemih, gastroenteritis, atau bahkan sekadar “anak sedang tumbuh besar”. Konsensus nasional IDAI menyebutkan bahwa pada kasus yang sudah berat, anak dapat datang dengan tanda kegawatan berupa dehidrasi sedang hingga berat, muntah berulang dan nyeri perut yang kerap keliru didiagnosis sebagai gastroenteritis, hiperventilasi (pernapasan Kussmaul), bau napas aseton, hingga gangguan kesadaran—rangkaian tanda ketoasidosis diabetikum (KAD) yang mengancam nyawa.

KAD bukan komplikasi ringan. Insiden ketoasidosis diabetikum pada anak dengan diabetes tipe 1 mencapai 1–12 kejadian per 100 pasien setiap tahunnya, dan edema serebral menjadi penyebab kematian utama, dengan tingkat kematian sekitar 25% pada kasus yang mengalaminya. Karena itu, setiap dokter di layanan primer maupun IGD sebaiknya memasukkan DMT1 dalam diagnosis banding pada anak dengan dehidrasi, muntah, dan napas cepat-dalam yang tidak jelas penyebabnya, terutama jika disertai riwayat penurunan berat badan dan poliuria.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Kriteria diagnosis DMT1 pada anak mengikuti adaptasi dari kriteria American Diabetes Association yang diadopsi IDAI, yaitu terpenuhinya salah satu dari: gejala klasik diabetes disertai glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dL; glukosa plasma puasa ≥126 mg/dL; glukosa 2 jam pasca-beban pada uji toleransi glukosa oral ≥200 mg/dL; atau HbA1c >6,5% dengan metode standar NGSP di laboratorium tersertifikasi. Untuk memastikan bahwa penyebabnya benar autoimun (bukan tipe 2 atau tipe monogenik), pemeriksaan penanda serologi turut dianjurkan, meliputi antibodi glutamic acid decarboxylase (GAD) dan tyrosine phosphatase-like insulinoma antigen 2 (IA2).

Perkembangan penting dalam beberapa tahun terakhir adalah pergeseran paradigma skrining. ISPAD kini merekomendasikan pemantauan berkala pada anak berisiko tinggi (misalnya saudara kandung penyandang DMT1) yang telah dinyatakan positif islet autoantibody namun belum bergejala—dengan jadwal pemeriksaan glikemik setiap tiga bulan untuk anak di bawah 3 tahun, dua kali setahun untuk usia 3–9 tahun, dan setahun sekali untuk usia di atas 9 tahun pada stage 1. Strategi ini memungkinkan deteksi dini sebelum anak jatuh ke kondisi kegawatdaruratan seperti KAD—meski penerapannya di Indonesia masih terbatas karena keterbatasan akses pemeriksaan autoantibodi di luar pusat rujukan tersier.

Lima Pilar Pengelolaan

Tata laksana DMT1 pada anak bertumpu pada lima pilar yang terintegrasi: pemberian insulin, pengaturan nutrisi, aktivitas fisik/olahraga, edukasi, dan pemantauan mandiri kadar glukosa darah. Target kontrol metabolik yang ingin dicapai adalah kadar glukosa darah mendekati normal tanpa menimbulkan hipoglikemia, dengan target HbA1c di bawah 7%.

Terapi Insulin

Karena tubuh anak dengan DMT1 sama sekali tidak dapat memproduksi insulin secara adekuat, terapi insulin bersifat mutlak dan seumur hidup karena belum ada terapi lain yang dapat dipakai untuk mengobati DM tipe 1; dosis kebutuhan insulin ditentukan berdasarkan berat badan, usia, dan status pubertas. Regimen yang digunakan bervariasi, mulai dari suntikan multipel harian (kombinasi insulin kerja cepat dan basal kerja panjang) hingga pompa insulin (continuous subcutaneous insulin infusion/CSII), meski ketersediaan CSII di Indonesia masih belum tersedia secara luas.

Teknologi Pemantauan Glukosa

Salah satu perubahan paling signifikan dalam pengelolaan DMT1 global adalah makin sentralnya peran continuous glucose monitoring (CGM). Pembaruan panduan ISPAD 2024 menegaskan penekanan yang lebih kuat terhadap peran krusial CGM dalam tata laksana diabetes pada anak dan remaja dengan diabetes tipe 1, terutama sejak awal diagnosis. Teknologi ini memungkinkan pasien dan keluarga memantau tren glukosa secara real-time tanpa tusukan jari berulang, sehingga mengurangi risiko hipoglikemia maupun hiperglikemia yang tidak terdeteksi. Di Indonesia, adopsi CGM masih terbatas terutama karena faktor biaya dan belum masuknya alat ini secara luas dalam skema pembiayaan JKN.

Terapi Imunomodulasi: Harapan Baru

Perkembangan yang patut dicermati adalah munculnya terapi imunoterapi yang bertujuan memperlambat, bukan sekadar mengobati, progresi DMT1. Panduan ISPAD terbaru membahas persetujuan Food and Drug Administration Amerika Serikat terhadap teplizumab sebagai imunoterapi untuk memperlambat progresi diabetes tipe 1 pada individu stage 2 menuju stage 3. Obat ini bekerja dengan memodulasi sistem imun yang menyerang sel beta pankreas, sehingga fungsi produksi insulin residual dapat dipertahankan lebih lama. Perlu digarisbawahi bahwa terapi ini belum tersedia atau disetujui untuk digunakan secara rutin di Indonesia, dan tetap memerlukan telaah lebih lanjut mengenai kesesuaian populasi, biaya, serta infrastruktur skrining autoantibodi sebelum dapat diadopsi dalam layanan kesehatan nasional.

Konteks Pembiayaan: BPJS Kesehatan dan Formularium Nasional

Dari sisi kebijakan kesehatan, insulin bagi penyandang DMT1 pada dasarnya dijamin oleh BPJS Kesehatan selama tercantum dalam Formularium Nasional (Fornas), termasuk sediaan human insulin maupun insulin analog dalam kemasan vial, cartridge disposable, maupun penfill cartridge yang digunakan untuk pasien diabetes melitus tipe 1. Namun, di lapangan sempat muncul simpang siur mengenai jaminan alat penunjang seperti jarum suntik dan glucose stick. Pihak rumah sakit sempat mengklarifikasi bahwa jarum suntik insulin turut dijamin BPJS Kesehatan, sehingga peserta JKN-KIS tidak perlu mengeluarkan biaya sendiri untuk kebutuhan tersebut—meskipun pengalaman keluarga pasien di lapangan tetap bervariasi tergantung fasilitas kesehatan dan mekanisme klaim non-kapitasi yang berlaku. Bagi tenaga kesehatan dan manajer fasilitas layanan, kejelasan alur rujukan berjenjang serta edukasi kepada keluarga pasien tentang hak jaminan ini menjadi bagian penting dari tata kelola mutu pelayanan DMT1 pada anak.

Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?

Orang tua maupun tenaga kesehatan primer perlu waspada bila anak menunjukkan kombinasi gejala berikut: sering haus dan berkemih berlebihan, penurunan berat badan tanpa sebab jelas disertai nafsu makan yang justru meningkat, kelelahan berkepanjangan, atau kembali mengompol pada anak yang sebelumnya sudah bisa mengontrol kandung kemihnya. Bila disertai muntah berulang, nyeri perut, napas cepat dan dalam, atau penurunan kesadaran, kondisi ini harus dianggap sebagai kegawatdaruratan dan segera dirujuk ke IGD untuk evaluasi ketoasidosis diabetikum.

Menutup: Diagnosis Dini Menyelamatkan Nyawa

Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang nyata, sementara kesadaran masyarakat maupun tenaga kesehatan primer terhadap gejala awalnya masih perlu terus ditingkatkan. Dengan pengelolaan lima pilar yang konsisten—insulin, nutrisi, aktivitas fisik, edukasi, dan pemantauan mandiri—serta dukungan teknologi pemantauan glukosa yang kian berkembang, anak dengan DMT1 dapat tumbuh dan berkembang setara dengan anak-anak lainnya. Namun prasyaratnya adalah kecepatan dan ketepatan diagnosis di lini pertama layanan kesehatan—sebuah tantangan yang masih harus dijawab bersama oleh dokter umum, dokter spesialis anak, dan sistem jaminan kesehatan nasional.


Daftar Pustaka

Deliana, M., Arto, K. S., & Adelita, M. (2020). Kontrol metabolik pada diabetes melitus tipe-1. Cermin Dunia Kedokteran, 47(3), 284.

Deliana, M. (2007). Pemberian insulin pada diabetes melitus tipe-1. Sari Pediatri, 9(1), 48–53.

Haller, M. J., Bell, K. J., Besser, R. E. J., Casteels, K., Couper, J. J., Craig, M. E., Elding Larsson, H., Jacobsen, L., Lange, K., Oron, T., Sims, E. K., Speake, C., Tosur, M., Ulivi, F., Ziegler, A.-G., Wherrett, D. K., & Marcovecchio, M. L. (2024). ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2024: Screening, staging, and strategies to preserve beta-cell function in children and adolescents with type 1 diabetes. Hormone Research in Paediatrics, 97(6), 529–545. https://doi.org/10.1159/000543035

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2015). Konsensus nasional pengelolaan diabetes mellitus tipe 1 (Revisi). UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, IDAI–World Diabetes Foundation.

International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes. (2024). ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2024: Diabetes technologies—Glucose monitoring [Supplementary material]. Karger.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang pedoman nasional pelayanan kedokteran diabetes melitus tipe-1. Jakarta: Kemenkes RI.

Liputan6.com. (2023, Februari 5). IDAI sebut kasus diabetes pada anak meningkat 70 kali lipat pada Januari 2023. https://www.liputan6.com/health/read/5197725

Liputan6.com. (2023, Maret 27). Klarifikasi RSAB Harapan Kita: Jarum suntik insulin ditanggung BPJS Kesehatan. https://www.liputan6.com/health/read/5244420

Pasien Sehat. (2024). Daftar obat yang ditanggung BPJS Kesehatan berdasarkan Formularium Nasional. https://www.pasiensehat.com

RS Universitas Indonesia. (t.t.). Diabetes melitus tipe 1 pada anak dan remaja. https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/kelainan-penyakit/diabetes-melitus-tipe-1-pada-anak-dan-remaja

Sukamto. (2022). Penanganan ketoasidosis diabetik pada anak. Cermin Dunia Kedokteran, 49(9), 527–531. https://doi.org/10.55175/cdk.v49i9.301

Databoks (Katadata). (2024). Diabetes tipe 2 paling banyak diderita orang Indonesia pada 2023. https://databoks.katadata.co.id

AXA Mandiri. (t.t.). Ciri-ciri diabetes di usia muda & cara mencegahnya dengan tepat. https://www.axa-mandiri.co.id


Catatan Transparansi

Data kasus DMT1 anak Indonesia yang dikutip dalam artikel ini bersumber dari rilis media dan pemaparan Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi IDAI, bukan dari publikasi registri nasional yang telah melalui peer-review—sehingga angka absolut (misalnya jumlah kasus per tahun) berpotensi merepresentasikan data registri partisipatif dari kota-kota tertentu, bukan gambaran epidemiologis nasional yang lengkap. Konsensus Nasional Pengelolaan DMT1 IDAI yang dirujuk merupakan revisi tahun 2015/2021; publikasi pedoman nasional pelayanan kedokteran terbaru dari IDAI belum sepenuhnya dapat diakses isinya secara daring pada saat artikel ini disusun. Informasi mengenai jaminan BPJS terhadap alat penunjang (jarum suntik, glucose stick) juga menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pernyataan awal dan klarifikasi resmi, mencerminkan kompleksitas implementasi kebijakan di lapangan yang dapat bervariasi antar-fasilitas kesehatan.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca