A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Di sebuah sore di Sragen, seorang pasangan muda duduk gelisah di ruang tunggu poli kandungan. Sudah dua tahun mereka menikah, namun kehamilan tak kunjung datang. Sang suami, perokok sejak remaja, awalnya tak menyangka kebiasaannya bisa ikut andil dalam persoalan yang mereka hadapi. Kisah semacam ini bukan hal asing bagi tenaga kesehatan di Indonesia—dan ilmu pengetahuan kini semakin tegas menghubungkan titik antara asap rokok dan kesulitan memiliki momongan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja menerbitkan ringkasan pengetahuan terbaru yang merangkum bukti ilmiah tentang keterkaitan tembakau dengan infertilitas, sekaligus memperbarui rekomendasi klinis bagi tenaga kesehatan (World Health Organization, 2026).

Infertilitas: Masalah Global yang Juga Dekat dengan Kita

Infertilitas didefinisikan sebagai kegagalan mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi (World Health Organization, 2026). Secara global, satu dari enam orang usia reproduksi mengalami infertilitas sepanjang hidupnya, dan angka ini relatif seragam di negara berpenghasilan tinggi maupun rendah-menengah (World Health Organization, 2026).

Di Indonesia, gambarannya tidak jauh berbeda. Kementerian Kesehatan memperkirakan 10–15% pasangan usia subur mengalami gangguan kesuburan, setara 4–6 juta dari sekitar 39,8 juta pasangan usia subur di Tanah Air (Kementerian Kesehatan RI, sebagaimana dikutip dalam siaran pers Kemenkes, 2025). Studi berbasis klinik di berbagai daerah—dari Riau hingga Sumatera Selatan—juga konsisten menemukan kebiasaan merokok sebagai salah satu faktor gaya hidup yang berhubungan signifikan dengan kejadian infertilitas pada pasangan usia subur.

Berdasarkan studi multinegara WHO yang melibatkan 8.500 pasangan di 25 negara, penyebab infertilitas terbagi sebagai berikut:

PenyebabProporsi Kasus
Faktor perempuan saja30,6%
Faktor laki-laki saja18,7%
Faktor gabungan (laki-laki dan perempuan)26,3%
Tidak diketahui penyebabnya10,8%

(Sumber: World Health Organization, 2026)

Menariknya, faktor laki-laki—baik sendiri maupun bersama faktor perempuan—berkontribusi pada 45,1% kasus infertilitas, sebuah proporsi yang jauh lebih besar dari yang sering diasumsikan masyarakat awam (World Health Organization, 2026).

Rokok dan Kesuburan Perempuan: Bukti yang Terus Menguat

Kaitan antara merokok dan gangguan kesuburan perempuan bukan temuan baru. Sejak laporan Surgeon General Amerika Serikat tahun 1964 (United States Department of Health, Education, and Welfare, 1964), bukti ilmiah terus terkumpul. Tinjauan sistematis tahun 1998 terhadap 12 studi menemukan risiko infertilitas pada perokok perempuan 1,5 kali lebih tinggi dibanding bukan perokok (Augood et al., 1998).

Tinjauan sistematis terbaru yang mencakup studi hingga tahun 2026 menegaskan kembali temuan ini: perempuan yang merokok memiliki risiko infertilitas 1,4 kali lebih tinggi dibanding yang tidak merokok (World Health Organization, 2026). Secara praktis, jika risiko dasar infertilitas pada perempuan bukan perokok adalah 15%, maka angka itu meningkat menjadi sekitar 21% pada perempuan yang merokok (World Health Organization, 2026).

Beberapa temuan penting lain yang relevan untuk edukasi pasien:

  • Paparan asap rokok orang lain (second-hand smoke) juga berisiko. Perempuan bukan perokok yang terpapar asap rokok memiliki risiko infertilitas 1,2 kali lebih tinggi, serta peluang lebih rendah untuk hamil pada tiap siklus (Radin et al., 2014; Wesselink et al., 2019).
  • Berhenti merokok membawa manfaat nyata. Perempuan yang pernah merokok namun sudah berhenti memiliki risiko infertilitas 25% lebih rendah dibanding yang masih aktif merokok (World Health Organization, 2026).
  • Rokok elektrik (e-cigarette) juga tidak lepas dari risiko. Studi di Amerika Serikat pada lebih dari 4.500 perempuan menemukan penggunaan rokok elektrik berhubungan dengan penurunan 20% fecundability—istilah yang merujuk pada peluang hamil pada setiap siklus menstruasi (Harlow et al., 2021).
  • Bukti untuk rokok waterpipe (sisha) masih terbatas, meski dua studi menemukan peningkatan risiko infertilitas yang serupa dengan rokok konvensional (Legese et al., 2023; Sarokhani et al., 2017).

Rokok dan Kesuburan Laki-laki: Sering Terlewat, Padahal Signifikan

Pada laki-laki, dampak merokok terhadap kesuburan lebih sulit diteliti langsung karena harus melibatkan pasangan, sehingga bukti umumnya diperoleh dari parameter semen dan fungsi seksual. Sebuah meta-analisis terbaru yang mencakup lebih dari 60.000 laki-laki menemukan bahwa merokok berhubungan konsisten dengan disfungsi reproduksi di berbagai populasi—Eropa, Asia, maupun Kaukasia (Wang & Zhou, 2025).

Laki-laki perokok lebih banyak mengalami disfungsi ereksi dan gangguan ejakulasi. Merokok juga dikaitkan dengan peningkatan risiko tiga kondisi berikut (Wang & Zhou, 2025):

  • Azoospermia — tidak ditemukannya sperma dalam ejakulat
  • Asthenozoospermia — motilitas atau pergerakan sperma yang buruk
  • Teratozoospermia — bentuk (morfologi) sperma yang abnormal

Kebiasaan merokok waterpipe juga berasosiasi dengan volume semen dan motilitas sperma yang lebih rendah (Sepidarkish et al., 2025), meski studi terbaru menemukan motilitas mungkin tidak terlalu terpengaruh (Hamadneh et al., 2025). Diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan besaran dampak ini secara pasti.

Dampak pada Program Bayi Tabung dan Terapi Kesuburan Lain

Bagi pasangan yang menempuh terapi kesuburan—termasuk in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung—kebiasaan merokok tetap relevan diperhitungkan. Sebuah meta-analisis dari 21 studi menemukan bahwa merokok berhubungan dengan penurunan angka kelahiran hidup dan kehamilan hingga hampir separuh (rasio odds 0,54 dan 0,56) (Waylen et al., 2009). Namun, studi yang lebih baru dengan sampel lebih kecil (sekitar 300 perempuan) tidak menemukan perbedaan signifikan pada angka fertilisasi atau kehamilan antara perempuan perokok dan bukan perokok, termasuk pengguna rokok elektrik dan waterpipe (Trapphoff et al., 2024). Inkonsistensi ini menunjukkan area yang masih membutuhkan riset lebih mendalam, namun tidak mengubah rekomendasi dasar untuk menghentikan kebiasaan merokok sebelum dan selama terapi kesuburan.

Konteks Indonesia: Prevalensi Tinggi, Regulasi yang Terus Berkembang

Indonesia menghadapi tantangan ganda dalam isu ini. Di satu sisi, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat jumlah perokok aktif diperkirakan mencapai 70 juta jiwa, dengan prevalensi merokok laki-laki dewasa masih di kisaran 50% lebih, jauh melampaui prevalensi pada perempuan yang tercatat di bawah 2% (Kementerian Kesehatan RI, 2024). Artinya, meski perempuan Indonesia jarang merokok secara aktif, mereka tetap menanggung risiko melalui paparan asap rokok pasangan di rumah tangga—situasi yang selaras dengan temuan WHO tentang risiko second-hand smoke terhadap kesuburan perempuan.

Dari sisi regulasi, pengendalian tembakau di Indonesia saat ini bertumpu pada Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, sebagai aturan pelaksana dari Undang-Undang Kesehatan—kini Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang telah menggantikan UU Nomor 36 Tahun 2009. Revisi PP 109/2012 yang mencakup pengaturan rokok elektrik dan pembatasan promosi produk tembakau masih dalam proses pembahasan hingga saat ini, sementara Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate) Indonesia tercatat di angka 2,14 anak per perempuan pada 2023 (BKKBN, sebagaimana dikutip Kemenkes, 2025)—sebuah indikator yang turut dipengaruhi oleh berbagai faktor kesehatan reproduksi, termasuk kebiasaan merokok pada pasangan usia subur.

Bagi dokter umum, bidan, dan tenaga kesehatan primer di Indonesia, celah antara bukti ilmiah dan praktik sehari-hari ini menjadi peluang penting: edukasi tentang risiko merokok terhadap kesuburan dapat—dan seharusnya—menjadi bagian rutin konseling prakonsepsi, bukan hanya dibahas ketika pasangan sudah datang dengan keluhan infertilitas.

Rekomendasi WHO: Intervensi Sederhana, Dampak Besar

WHO menekankan bahwa intervensi untuk mengatasi keterkaitan rokok dan infertilitas tidak harus rumit atau mahal. Beberapa rekomendasi kunci dari WHO Guideline for the Prevention, Diagnosis and Treatment of Infertility (World Health Organization, 2026):

  1. Memberikan edukasi tentang kesuburan dan risiko merokok kepada populasi usia reproduksi menggunakan strategi berbiaya rendah, kapan pun ada kesempatan.
  2. Menyediakan saran gaya hidup berbiaya rendah bagi pasangan yang tengah menjalani terapi infertilitas, sebelum dan selama pengobatan berlangsung.
  3. Memberikan nasihat singkat (30 detik hingga 3 menit per kunjungan) secara rutin oleh tenaga kesehatan kepada semua pengguna tembakau di fasilitas kesehatan apa pun.

Pendekatan lain yang dapat diterapkan secara luas mencakup layanan konseling berhenti merokok melalui telepon (quit lines), program pesan singkat, aplikasi digital, serta terapi farmakologis yang telah terbukti efektif (World Health Organization, 2026). Bagi fasilitas kesehatan di Indonesia—termasuk klinik rawat jalan dan rumah sakit umum daerah—model konseling singkat semacam ini realistis diintegrasikan ke dalam alur pemeriksaan kehamilan, konseling pranikah, maupun layanan keluarga berencana yang sudah berjalan.


Catatan Transparansi

Artikel ini disusun berdasarkan ringkasan pengetahuan WHO “Tobacco and Infertility” (2026) sebagai sumber utama, dilengkapi rujukan primer yang dikutip di dalamnya serta data epidemiologi dan regulasi Indonesia dari sumber terbuka (SKI 2023, Kemenkes RI, BKKBN). Sejumlah temuan dalam sumber WHO—khususnya angka odds ratio dari tinjauan sistematis 2000–2026—berasal dari data belum dipublikasikan (N. Santesso, unpublished data, 2026) yang dikutip apa adanya tanpa dapat diverifikasi independen oleh penulis. Artikel ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) untuk riset dan penyusunan draf, dengan interpretasi konteks Indonesia dan penyuntingan akhir dilakukan oleh penulis. Artikel bersifat edukatif populer dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan terkait kondisi kesuburan individu.


Ringkasan

Rokok bukan hanya ancaman bagi paru-paru, tapi juga bagi kesuburan. Bukti WHO terbaru menunjukkan risiko infertilitas meningkat 1,4 kali pada perempuan perokok, sementara laki-laki perokok berisiko mengalami gangguan sperma dan disfungsi seksual. Bahkan paparan asap rokok orang lain pun berbahaya. Berhenti merokok terbukti memperbaiki peluang kehamilan—kabar baik bagi pasangan yang tengah merencanakan momongan.


Daftar Pustaka

Augood, C., Duckitt, K., & Templeton, A. A. (1998). Smoking and female infertility: A systematic review and meta-analysis. Human Reproduction, 13(6), 1532–1539. https://doi.org/10.1093/humrep/13.6.1532

Hamadneh, J., Al-Zenati, A. A., & Banihani, S. A. (2025). Semen quality measures in hookah and cigarette smokers compared to nonsmokers. ScientificWorldJournal, 2025, 3380445. https://doi.org/10.1155/tswj/3380445

Harlow, A. F., Hatch, E. E., Wesselink, A. K., Rothman, K. J., & Wise, L. A. (2021). Electronic cigarettes and fecundability: Results from a prospective preconception cohort study. American Journal of Epidemiology, 190(3), 353–361. https://doi.org/10.1093/aje/kwaa067

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, 29 Mei). Perokok aktif di Indonesia tembus 70 juta orang, mayoritas anak muda [Siaran pers]. https://kemkes.go.id/id/perokok-aktif-di-indonesia-tembus-70-juta-orang-mayoritas-anak-muda

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Wamenkes Dante dorong layanan fertilitas yang canggih dan humanis. https://kemkes.go.id/eng/wamenkes-dante-dorong-layanan-fertilitas-yang-canggih-dan-humanis-

Legese, N., Tura, A. K., Roba, K. T., & Demeke, H. (2023). The prevalence of infertility and factors associated with infertility in Ethiopia: Analysis of Ethiopian Demographic and Health Survey (EDHS). PLoS ONE, 18(10), e0291912. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0291912

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.

Radin, R. G., Hatch, E. E., Rothman, K. J., Mikkelsen, E. M., Sørensen, H. T., Riis, A. H., et al. (2014). Active and passive smoking and fecundability in Danish pregnancy planners. Fertility and Sterility, 102(1), 183–191. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2014.03.018

Sarokhani, M., Veisani, Y., Mohamadi, A., Delpisheh, A., Sayehmiri, K., Direkvand-Moghadam, A., et al. (2017). Association between cigarette smoking behavior and infertility in women: A case-control study. Biomedical Research and Therapy, 4(10), 1705–1715. https://doi.org/10.15419/bmrat.v4i10.376

Sepidarkish, M., Rezazadeh, S., Ghaffari Hamedani, H., Lohrasbi, F., Abdi, S., Mohammadi-Pirouz, Z., et al. (2025). The waterpipe smoking and human health: A systematic review and meta-analysis of 191 observational studies. Systematic Reviews, 14(1), 74. https://doi.org/10.1186/s13643-025-02799-y

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

United States Department of Health, Education, and Welfare. (1964). Smoking and health: Report of the Advisory Committee to the Surgeon General of the Public Health Service. Public Health Service. https://profiles.nlm.nih.gov/101584932X202

Wang, S., & Zhou, J. (2025). Epidemiological characteristics and risk factors of reproductive dysfunction in male infertility: A meta-analysis. Hormones, 24, 1157–1175. https://doi.org/10.1007/s42000-025-00689-5

Waylen, A. L., Metwally, M., Jones, G. L., Wilkinson, A. J., & Ledger, W. L. (2009). Effects of cigarette smoking upon clinical outcomes of assisted reproduction: A meta-analysis. Human Reproduction Update, 15(1), 31–44. https://doi.org/10.1093/humupd/dmn046

Wesselink, A. K., Hatch, E. E., Rothman, K. J., Mikkelsen, E. M., Aschengrau, A., & Wise, L. A. (2019). Prospective study of cigarette smoking and fecundability. Human Reproduction, 34(3), 558–567. https://doi.org/10.1093/humrep/dey372

World Health Organization. (2026). Tobacco and infertility (WHO tobacco knowledge summaries). WHO. https://doi.org/10.2471/B09819

Trapphoff, T., Ontrup, C., Krug, S., & Dieterle, S. (2024). Consumption of hookahs, e-cigarettes, and classic cigarettes and the impact on medically assisted reproduction treatment. Scientific Reports, 14(1), 9597. https://doi.org/10.1038/s41598-024-60251-y

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca