A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Suatu pagi di ruang rapat lintas program Dinas Kesehatan, seorang petugas surveilans di Sragen menerima laporan: belasan warga di satu kecamatan dirawat dengan demam tinggi dan ruam dalam tiga hari terakhir. Kepala Puskesmas menelepon menanyakan satu hal sederhana namun sulit dijawab cepat: “Ini seberapa serius, dan apa yang harus kita lakukan hari ini juga?” Pertanyaan semacam ini—yang muncul berulang di ruang PHEOC (Public Health Emergency Operations Center) mana pun di Indonesia, dari kabupaten hingga Kementerian Kesehatan—adalah alasan World Health Organization (WHO) merilis dua panduan baru pada 2025–2026: user manual untuk algoritma Quick and Immediate Risk Assessment (QIRA) dan user manual untuk Member State Rapid Risk Assessment (MS-RRA) tool. Artikel ini menelaah kedua panduan tersebut sekaligus—apa yang ditawarkan, di mana kekuatannya, dan di mana relevansinya bagi sistem kewaspadaan dini kita di Indonesia.

Latar belakang: mengapa WHO menerbitkan dua alat sekaligus

Sejak Sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-74 tahun 2021, melalui Resolusi WHA74.7, WHO diminta memberi dukungan cepat kepada negara anggota dalam deteksi, penilaian, dan respons kedaruratan kesehatan masyarakat (World Health Organization, n.d.-b). Amanat ini dipertegas oleh amendemen International Health Regulations (IHR) 2005 melalui Resolusi WHA77.17 tahun 2024, yang mewajibkan setiap negara pihak memiliki kapasitas menilai laporan kejadian mendesak dalam 48 jam dan menentukan tindakan pengendalian dengan cepat (World Health Organization, n.d.-b).

Untuk menjawab amanat itu, WHO melakukan survei dan analisis kesenjangan (gap analysis) terhadap 19 negara anggota dari enam kawasan WHO pada 2023. Temuan utamanya: banyak negara belum memiliki alat penilaian risiko yang terstandardisasi dan bersifat all-hazards—dapat dipakai untuk bahaya apa pun, baik infeksius, kimia, maupun radiologi-nuklir (World Health Organization, n.d.-b). Dari sinilah lahir dua alat yang saling melengkapi: QIRA untuk penilaian kilat dalam hitungan menit hingga kurang dari satu jam, dan MS-RRA untuk penilaian yang lebih menyeluruh dan memakan waktu beberapa hari (World Health Organization, n.d.-a, n.d.-b).

QIRA: algoritma keputusan ya/tidak/tidak diketahui

QIRA dirancang sebagai algoritma bercabang dengan lima domain berurutan: high-threat hazard, exposure (paparan), severity (keparahan), potential spread and scale (potensi penyebaran dan skala), serta capacity (kapasitas respons, termasuk kerentanan) (World Health Organization, n.d.-a). Setiap domain dijawab dengan “ya”, “tidak”, atau “tidak diketahui”, dan jawaban itu menuntun pengguna secara otomatis menuju salah satu dari lima tingkat risiko: sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, atau sangat tinggi.

Kekuatan utama QIRA terletak pada kesederhanaannya. Tim yang menangani deteksi dan verifikasi sinyal—biasanya petugas surveilans di lini pertama—dapat langsung memakainya begitu suatu sinyal terverifikasi, bahkan kadang sebelum verifikasi selesai jika situasi mendesak (World Health Organization, n.d.-a). Setiap tingkat risiko ditautkan ke daftar tindakan segera yang telah ditetapkan sebelumnya oleh masing-masing negara atau fasilitas, misalnya mengaktifkan tim tanggap cepat, meningkatkan surveilans, atau melapor ke manajemen puncak.

Namun kesederhanaan ini juga batasnya. Dokumen manual secara eksplisit mengakui bahwa QIRA “tidak menangkap nuansa dalam jawaban” karena hanya mengenal tiga pilihan jawaban, dan mengarahkan pengguna ke tindakan generik yang telah ditetapkan di muka, bukan rekomendasi spesifik untuk kejadian tertentu (World Health Organization, n.d.-a). Alat ini juga tidak dapat memperkirakan kemungkinan importasi suatu penyakit dari luar wilayah, atau kemungkinan spillover patogen zoonotik ke manusia—keduanya harus diasumsikan terlebih dahulu sebelum algoritma bisa dijalankan (World Health Organization, n.d.-a).

MS-RRA: penilaian mendalam dengan tiga pertanyaan kemungkinan dan tiga pertanyaan dampak

Jika QIRA adalah triase cepat, MS-RRA adalah pemeriksaan menyeluruh. Alat ini terdiri dari dua bagian: Worksheet (lembar kerja) dan Output sheet (lembar keluaran). Worksheet memandu tim melalui lima langkah: (A) risk framing—menetapkan cakupan kejadian dengan menjawab apa, mengapa, di mana, siapa, dan kapan; (B) penilaian kemungkinan (likelihood); (C) penilaian dampak (impact); (D) penetapan tingkat risiko (opsional); dan (E) penetapan tingkat keyakinan (confidence level) (World Health Organization, n.d.-b).

Yang membedakan MS-RRA secara metodologis adalah enam pertanyaan intinya—tiga untuk kemungkinan, tiga untuk dampak—yang masing-masing dijawab secara deskriptif (apa yang diketahui, apa yang belum diketahui, dan rekomendasi) sebelum dikonversi menjadi kategori kuantitatif berskala 1–5. Tim dapat memilih pendekatan driving factor (mengutamakan satu pertanyaan paling menentukan) atau pendekatan average score (merata-ratakan ketiga skor) untuk sampai pada estimasi kemungkinan dan dampak secara keseluruhan (World Health Organization, n.d.-b). Hasil ini kemudian dapat—secara opsional—dipetakan ke matriks risiko untuk memperoleh tingkat risiko akhir.

MS-RRA idealnya dikerjakan oleh tim multidisiplin: pemimpin dari unit intelijen kesehatan masyarakat, pakar epidemiologi, pakar terkait bahaya spesifik (toksikologi, laboratorium, manajemen klinis), serta—bila relevan—pakar dampak sosial-ekonomi-politik menggunakan kerangka STEEEP (social, technological, economic, environmental, ethical, policy and political) (World Health Organization, n.d.-b).

Tabel perbandingan

AspekQIRAMS-RRA
Waktu pengerjaanKurang dari 1 jamBeberapa hari
FormatAlgoritma ya/tidak/tidak diketahuiWorksheet deskriptif + skor kuantitatif
PenggunaTim deteksi-verifikasi lini pertamaTim multidisiplin
KeluaranTingkat risiko + daftar tindakan generikTingkat risiko (opsional) + rekomendasi spesifik kejadian + celah informasi
Kapan dipakaiSegera setelah sinyal terverifikasi (atau sebelum, jika mendesak)Risiko sedang–sangat tinggi menurut QIRA, kejadian lintas wilayah, bahaya berbahaya tinggi, atau berpotensi memenuhi kriteria notifikasi IHR (2005)
Posisi dalam alur kerjaDeteksi → Verifikasi → QIRA → Komunikasi/TindakanDeteksi → Verifikasi → MS-RRA → Komunikasi/Tindakan (bisa menyusul QIRA)

Sumber: disusun dari World Health Organization (n.d.-a, n.d.-b).

Diagram alur proses triase risiko menggunakan algoritma QIRA dan alat MS-RRA, mencakup langkah-langkah deteksi sinyal, verifikasi, tindakan, dan komunikasi.

Relevansi bagi Indonesia: melengkapi, bukan menggantikan, praktik yang sudah ada

Indonesia sesungguhnya bukan pemula dalam praktik penilaian risiko cepat. Kementerian Kesehatan RI telah rutin menjalankan rapid risk assessment lintas sektor—misalnya penilaian risiko cepat penyakit Ebola yang melibatkan Kemenko PMK, Kementerian Pertanian, Badan Karantina Indonesia, hingga TNI (Kementerian Kesehatan RI, 2026a). Beberapa dinas kesehatan kabupaten/kota juga telah menerapkan pemetaan risiko penyakit infeksi emerging dengan pendekatan tiga komponen—ancaman, kerentanan, dan kapasitas—yang dihitung melalui rumus Nilai Risiko = (Ancaman × Kerentanan) / Kapasitas (Kementerian Kesehatan RI, 2026b). Terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1 Tahun 2026 tentang Kejadian Luar Biasa (KLB), Wabah, dan Krisis Kesehatan—yang antara lain mengatur sistem satu komando koordinator Klaster Kesehatan untuk pusat pengendalian operasi kesehatan (Martaon, 2026)—semakin memperkuat kebutuhan akan metodologi penilaian risiko yang konsisten di semua jenjang.

Di sinilah QIRA dan MS-RRA relevan: bukan sebagai pengganti metode ancaman-kerentanan-kapasitas yang sudah dipakai, melainkan sebagai kerangka pelengkap yang lebih terstruktur secara prosedural, khususnya untuk penilaian pada tingkat sinyal-per-sinyal (bukan pemetaan wilayah tahunan). Struktur QIRA yang berjenjang—dari ancaman prioritas, paparan, keparahan, potensi sebar, hingga kapasitas—dapat diadaptasi menjadi standar prosedur operasional (SPO) unit surveilans di rumah sakit atau dinas kesehatan, dengan daftar “bahaya berisiko tinggi” yang disesuaikan konteks lokal (misalnya demam berdarah dengue saat puncak musim hujan, rabies, atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi tertentu). Sementara itu, alur enam pertanyaan MS-RRA—dengan kolom eksplisit “apa yang diketahui” dan “apa yang belum diketahui”—memberi disiplin dokumentasi yang selama ini kerap menjadi kelemahan laporan penilaian risiko di lapangan: rekomendasi sering tercatat, namun celah data dan tingkat keyakinan jarang didokumentasikan secara sistematis.

Satu catatan penting: kedua manual menegaskan bahwa keputusan notifikasi berdasarkan Annex 2 IHR (2005) tidak bergantung pada hasil QIRA maupun MS-RRA (World Health Organization, n.d.-a, n.d.-b). Bagi petugas surveilans Indonesia, ini berarti kedua alat membantu proses berpikir dan pendokumentasian, tetapi kewajiban pelaporan ke jenjang lebih tinggi—sesuai Permenkes 1/2026 maupun IHR (2005)—tetap berjalan independen dari skor risiko yang dihasilkan.

Apresiasi kritis: kekuatan dan keterbatasan

Kekuatan. Kedua alat dikembangkan melalui proses konsultatif yang cukup panjang—survei terhadap 19 negara, lokakarya desain bersama pakar, dan uji lapangan di enam hingga sebelas negara anggota lintas kawasan WHO (World Health Organization, n.d.-a, n.d.-b)—sehingga bukan produk meja yang lepas dari konteks operasional negara berkembang. Contoh kasus wabah dengue di Tripura pada Lampiran 2 manual QIRA juga memudahkan pembaca memahami cara kerja algoritma secara konkret, sesuatu yang sering absen dalam pedoman teknis WHO sebelumnya.

Keterbatasan. Pertama, kedua alat sama-sama mengandalkan penilaian ahli (expert judgement) yang bersifat kualitatif; ini rasional untuk situasi darurat dengan data terbatas, tetapi berarti konsistensi antar-tim sangat bergantung pada pelatihan dan pengalaman penilai. Kedua, QIRA eksplisit tidak cocok untuk bencana kompleks dengan banyak bahaya simultan, dan MS-RRA pun disarankan hanya menilai risiko per-bahaya, bukan risiko gabungan suatu bencana (World Health Organization, n.d.-a, n.d.-b)—suatu keterbatasan yang relevan mengingat Indonesia rawan bencana alam yang kerap disertai wabah penyakit menular pascabencana. Ketiga, manual MS-RRA sendiri masih berstatus “in press” untuk publikasi resminya di situs WHO per awal 2026 (World Health Organization, n.d.-b), sehingga versi final berikut perangkat spreadsheet-nya masih perlu dipantau perkembangannya.

Catatan Transparansi

Artikel ini disusun dengan bantuan Claude (Anthropic) untuk membaca, meringkas, dan membandingkan dua dokumen sumber utama: User manual for the Quick and Immediate Risk Assessment (QIRA) algorithm for Member States (World Health Organization, n.d.-a) dan User manual for the Member State Rapid Risk Assessment (MS-RRA) tool (World Health Organization, n.d.-b), keduanya diunggah langsung oleh penulis dalam format PDF. Informasi konteks regulasi dan praktik Indonesia (Permenkes 1/2026, contoh laporan penilaian risiko cepat Kemenkes, dan metode pemetaan risiko ancaman-kerentanan-kapasitas) diperoleh melalui pencarian web dan merupakan interpretasi analitis penulis untuk menghubungkan kedua manual WHO dengan konteks nasional—bukan kutipan langsung dari kedua manual tersebut. Manual MS-RRA masih berstatus belum dipublikasikan resmi di situs WHO pada saat artikel ini ditulis; pembaca disarankan memeriksa tautan resmi WHO untuk versi final.

Ringkasan

QIRA dan MS-RRA adalah dua alat penilaian risiko all-hazards terbaru WHO: QIRA untuk triase cepat kurang dari satu jam, MS-RRA untuk analisis mendalam berhari-hari dengan tim multidisiplin. Keduanya melengkapi—bukan menggantikan—praktik penilaian risiko yang sudah berjalan di Indonesia, termasuk di bawah Permenkes 1/2026, dengan menawarkan struktur pendokumentasian celah data dan tingkat keyakinan yang lebih disiplin.

Daftar Pustaka

Kementerian Kesehatan RI. (2026a). Laporan penilaian risiko cepat (rapid risk assessment) penyakit Ebola. https://infeksiemerging.kemkes.go.id/document/download/Z6zJ

Kementerian Kesehatan RI. (2026b). Rekomendasi pemetaan risiko COVID-19 Kabupaten Sumenep tahun 2026. https://petarisikopie.id/upload_recomendations/5/2026/COVID-192026_Sumenep.pdf

Martaon, A. T. (2026, 4 Februari). Atasi KLB dan krisis kesehatan, Kemenkes terbitkan Permenkes Nomor 1 Tahun 2026. Medcom.id. https://www.metrotvnews.com/read/kELCn7yw-atasi-klb-dan-krisis-kesehatan-kemenkes-terbitkan-permenkes-nomor-1-tahun-2026

World Health Organization. (2016). International health regulations (2005) (3rd ed.). https://iris.who.int/handle/10665/246107

World Health Organization. (n.d.-a). User manual for the Quick and Immediate Risk Assessment (QIRA) algorithm for Member States. Geneva: World Health Organization.

World Health Organization. (n.d.-b). User manual for the Member State Rapid Risk Assessment (MS-RRA) tool. Geneva: World Health Organization.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca