Pak Wayan, 58 tahun, sedang mengangkat karung pupuk di kebun miliknya di Gianyar ketika tiba-tiba merasa seperti ada benda tajam menyobek bagian tengah dadanya. Nyerinya datang dalam hitungan detik, begitu hebat sampai ia berkeringat dingin dan nyaris pingsan. Selama bertahun-tahun ia tahu tekanan darahnya tinggi, tetapi obatnya sering terlewat karena “tidak ada keluhan”. Di puskesmas, ia mula-mula disangka serangan jantung. Padahal yang terjadi mungkin hal lain: diseksi aorta.
Diseksi aorta termasuk kegawatdaruratan yang paling berbahaya di bidang kardiovaskular. Kabar baiknya, kondisi ini bisa dikenali bila kita tahu pola nyerinya, dan peluang selamat meningkat besar bila pasien sampai ke rumah sakit yang tepat dengan cepat. Artikel ini membahas apa itu diseksi aorta, siapa yang berisiko, bagaimana dokter mendiagnosisnya, dan apa yang dilakukan setelahnya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada dinding aorta?
Aorta adalah pembuluh darah terbesar tubuh, “pipa induk” yang membawa darah dari jantung ke seluruh organ. Dindingnya terdiri atas tiga lapisan: lapisan dalam (intima), lapisan tengah (media) yang tebal dan elastis, serta lapisan luar (adventitia). Pada diseksi, lapisan dalam mengalami robekan. Darah bertekanan tinggi lalu menyusup melalui robekan itu dan membelah lapisan tengah, sehingga terbentuk saluran palsu (false lumen) di samping saluran asli. Saluran palsu ini dapat membesar, menekan dan menutup cabang pembuluh yang menuju otak, usus, ginjal, atau tungkai, atau pecah ke luar dan menimbulkan perdarahan masif.
Diseksi aorta merupakan salah satu bagian dari kelompok yang disebut acute aortic syndrome (sindrom aorta akut), bersama intramural hematoma (hematoma di dalam dinding aorta tanpa robekan yang jelas) dan penetrating aortic ulcer (tukak aterosklerotik yang menembus dinding). Ketiganya tampak serupa di ruang gawat darurat dan sama-sama memerlukan penanganan segera, sebagaimana dibahas dalam ringkasan pedoman ACC/AHA 2022 tentang penyakit aorta.
Tipe A dan tipe B: pembagian yang menentukan nasib
Dokter membagi diseksi berdasarkan lokasinya, yang paling sering memakai klasifikasi Stanford. Pembagian ini penting karena menentukan apakah pasien perlu langsung masuk kamar operasi atau cukup dirawat dengan obat terlebih dahulu.
| Aspek | Tipe A | Tipe B |
|---|---|---|
| Lokasi | Melibatkan aorta asendens (bagian yang keluar dari jantung) | Tidak melibatkan aorta asendens; umumnya dimulai setelah percabangan pembuluh ke lengan kiri |
| Bahaya utama | Pecah ke selaput jantung (tamponade), kebocoran katup aorta, gangguan aliran ke jantung dan otak | Gangguan aliran ke usus, ginjal, tungkai; pecah; pelebaran aorta |
| Penanganan awal | Operasi bedah jantung darurat | Obat penurun tekanan darah dan laju jantung bila tanpa komplikasi |
| Tindakan bila komplikasi | Operasi segera | Pemasangan stent-graft lewat pembuluh darah (TEVAR) atau operasi |
Siapa yang berisiko?
Faktor risiko yang paling umum adalah hipertensi yang tidak terkontrol, karena tekanan tinggi bertahun-tahun melemahkan lapisan tengah dinding aorta. Hipertensi sangat lazim di Indonesia dan sering tidak terdeteksi, sehingga ini menjadi alasan kuat untuk rutin memeriksa tekanan darah. Faktor lain meliputi usia lanjut, merokok, aterosklerosis, aneurisma aorta yang sudah ada (lihat juga bahasan kami tentang penyakit katup aorta, karena katup aorta bikuspid berkaitan dengan pelebaran aorta), serta riwayat operasi jantung atau prosedur kateter pada aorta.
Pada orang yang lebih muda, penyebab sering berbeda: kelainan jaringan ikat bawaan seperti sindrom Marfan, sindrom Loeys-Dietz, dan sindrom Ehlers-Danlos tipe vaskular; riwayat keluarga diseksi atau aneurisma aorta; penggunaan kokain atau stimulan lain yang membuat tekanan darah melonjak; olahraga angkat beban berat dengan teknik menahan napas; serta kehamilan, terutama trimester ketiga dan masa nifas. Sebuah tinjauan sistematik dan meta-analisis 2026 pada diseksi aorta tipe B saat kehamilan melaporkan angka kematian ibu sekitar 8,2% dan kematian janin sekitar 37,8%, walaupun kualitas buktinya masih rendah. Penulisnya menekankan perlunya penanganan multidisiplin.
Gejala: nyeri yang datang mendadak dan “tidak biasa”
Ciri khasnya adalah nyeri dada atau punggung yang muncul tiba-tiba, sangat hebat sejak menit pertama, sering digambarkan seperti disobek, ditusuk, atau dirobek. Nyeri dapat berpindah, misalnya dari dada ke punggung tengah lalu ke perut, mengikuti perluasan robekan. Tidak seperti serangan jantung yang biasanya mereda dan memuncak bertahap, nyeri diseksi cenderung langsung berada pada puncaknya.

Tidak semua pasien mengalami gambaran klasik. Gejala lain bergantung pada pembuluh mana yang terganggu: pingsan, lemah sebelah badan atau gangguan bicara (aliran ke otak), tekanan darah berbeda jauh antara lengan kanan dan kiri atau denyut nadi yang hilang di salah satu sisi, sesak napas akibat kebocoran katup atau cairan di selaput jantung, nyeri perut hebat akibat gangguan aliran ke usus, serta tungkai yang dingin dan nyeri. Sebagian pasien, terutama lansia, datang tanpa nyeri yang khas, sehingga diagnosis kerap terlambat.
Bagaimana dokter menegakkan diagnosis?
Tantangan di ruang gawat darurat adalah diseksi jarang terjadi, sedangkan nyeri dada sangat sering. Dokter karena itu memadukan pertanyaan riwayat dan pemeriksaan fisik dengan alat bantu seperti Aortic Dissection Detection Risk Score (ADD-RS), yang menghitung tiga kelompok tanda bahaya: kondisi risiko tinggi (misalnya sindrom Marfan atau riwayat keluarga), ciri nyeri berisiko tinggi (mendadak, hebat, seperti disobek), dan temuan pemeriksaan berisiko tinggi (defisit denyut nadi, perbedaan tekanan darah, defisit neurologis, atau bising kebocoran katup). Pada pasien dengan skor rendah, hasil D-dimer yang rendah dapat membantu menyingkirkan diagnosis. Perlu dicatat, sebuah studi retrospektif di dua IGD (J Emerg Med, 2026) mengingatkan bahwa ADD-RS membantu menyingkirkan sindrom aorta akut, tetapi belum bisa membedakannya dari sumbatan akut arteri koroner.
Pemeriksaan penentu adalah CT angiografi aorta. Pemeriksaan ini cepat, tersedia di banyak rumah sakit rujukan, dan menunjukkan letak serta luas robekan. Ekokardiografi lewat esofagus dan MRI menjadi alternatif, misalnya pada pasien yang tidak stabil atau tidak dapat menerima kontras. Elektrokardiogram dan foto toraks membantu mencari penyebab lain, tetapi dapat tampak normal. Pada sebagian kecil pasien, robekan mengenai pangkal arteri koroner sehingga EKG menyerupai serangan jantung. Karena itu, sebelum memberi obat pengencer darah atau penghancur bekuan pada pasien dengan nyeri dada hebat dan tanda mencurigakan, dokter perlu memikirkan kemungkinan diseksi.
Penanganan: menit demi menit berarti
Begitu diseksi dicurigai atau dikonfirmasi, tujuan awal adalah menurunkan tekanan pada dinding aorta. Pedoman ACC/AHA 2022 menganjurkan tekanan sistolik di bawah 120 mmHg (atau serendah yang masih menjaga aliran ke organ) dan denyut jantung 60–80 kali per menit. Obat pilihan pertama adalah penyekat beta yang diberikan lewat infus, dan bila tekanan darah belum turun, ditambahkan vasodilator. Pasien juga diberi pereda nyeri yang adekuat, karena nyeri sendiri menaikkan tekanan darah.
Pada diseksi tipe A, penanganan definitifnya adalah operasi bedah jantung darurat untuk mengganti bagian aorta yang robek dan, bila perlu, memperbaiki atau mengganti katup aorta. Tanpa operasi, risiko kematian meningkat tajam dalam hitungan jam hingga hari. Pada diseksi tipe B tanpa komplikasi, terapi obat di unit perawatan intensif biasanya menjadi pilihan awal. Tindakan diperlukan bila ada pecah, gangguan aliran ke organ, perluasan robekan, pelebaran aorta yang progresif, atau nyeri dan hipertensi yang tidak terkendali. Untuk kasus yang sesuai secara anatomi, pemasangan stent-graft lewat pembuluh darah (TEVAR) dianjurkan dibanding operasi terbuka. Panduan ESC 2024 tentang penyakit arteri perifer dan aorta juga menegaskan peran TEVAR pada hematoma intramural tipe B yang disertai komplikasi.
Bila Anda atau keluarga mengalami gejala mirip
Nyeri dada atau punggung yang tiba-tiba, sangat hebat, dan seperti disobek, apalagi disertai pingsan, kelemahan satu sisi badan, atau tungkai dingin, bukan kondisi untuk dipantau di rumah. Segera hubungi layanan darurat atau datang ke IGD terdekat dan sebutkan bahwa Anda memiliki hipertensi atau riwayat penyakit aorta bila ada. Di daerah yang jauh dari rumah sakit dengan layanan bedah toraks-kardiovaskular, misalnya sebagian wilayah Kalimantan, Nusa Tenggara, atau Maluku, stabilisasi awal di fasilitas terdekat dan rujukan cepat menjadi kunci. Hindari mengonsumsi obat pengencer darah sendiri, dan jangan menunda berangkat karena menunggu nyeri “hilang sendiri”.
Setelah melewati fase akut dan cara mencegahnya
Penyintas diseksi memerlukan pengobatan seumur hidup dan pemantauan ketat. Penyekat beta jangka panjang dan kontrol tekanan darah yang disiplin menjadi dasar terapi. Pedoman ACC/AHA 2022 menganjurkan pencitraan ulang dengan CT atau MRI pada bulan ke-1, ke-6, dan ke-12, kemudian setiap tahun bila kondisi stabil, untuk mendeteksi pelebaran saluran palsu atau aorta yang melebar. Pasien umumnya juga dianjurkan menghindari angkat beban berat dan aktivitas yang menimbulkan lonjakan tekanan darah mendadak, sambil tetap aktif bergerak dengan intensitas ringan hingga sedang sesuai saran dokter.
Pencegahan terbaik adalah mengendalikan hipertensi, berhenti merokok, menghindari stimulan, dan menjalani pemeriksaan bila ada riwayat keluarga diseksi, aneurisma aorta, atau sindrom jaringan ikat. Orang dengan sindrom Marfan atau katup aorta bikuspid perlu pemantauan ukuran aorta secara berkala. Menurut panduan ESC 2024, pemantauan berkala dengan ekokardiografi dianjurkan pada bikuspid dengan aorta yang melebar lebih dari 40 mm. Anggota keluarga tingkat pertama dari pasien dengan penyakit aorta bawaan juga layak diskrining.
Pesan penting
Diseksi aorta jarang, tetapi mematikan bila terlambat dikenali. Nyeri yang mendadak, hebat sejak awal, dan menjalar adalah alarm yang tidak boleh diabaikan. Bagi yang bertekanan darah tinggi, minum obat teratur dan memeriksakan tekanan darah secara rutin adalah langkah pencegahan paling nyata. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan serta saran dokter yang menangani Anda.
Rujukan
- Isselbacher EM, dkk. 2022 ACC/AHA Guideline for the Diagnosis and Management of Aortic Disease. J Am Coll Cardiol. 2022. doi:10.1016/j.jacc.2022.08.004
- Mazzolai L, dkk. 2024 ESC Guidelines for the management of peripheral arterial and aortic diseases. Eur Heart J. 2024. doi:10.1093/eurheartj/ehae179
- Shokr H, dkk. Diagnostic Dilemma: Acute Aortic Syndrome vs. Acute Coronary Occlusion in the Emergency Department. J Emerg Med. 2026;89:194-205. doi:10.1016/j.jemermed.2026.08.004
- Abelleyra Lastoria DA, dkk. Systematic Review and Meta-Analysis of Type B Aortic Dissection in Pregnancy. Ann Vasc Surg. 2026;134:48-59. doi:10.1016/j.avsg.2026.08.047





Tinggalkan Balasan