Les pèlerins au-dessus des nuages

Pak Wayan, 72 tahun, pensiunan guru di Gianyar, selama setahun terakhir merasa gampang lelah ketika menanjak ke pura di bukit dekat rumahnya. Awalnya ia mengira itu faktor usia. Suatu pagi, saat menyapu halaman, dadanya terasa menekan dan pandangannya menggelap sesaat. Pemeriksaan di rumah sakit rujukan menunjukkan bahwa penyebabnya bukan di paru atau lambung, melainkan di sebuah “pintu” kecil di dalam jantung: katup aorta yang mengeras dan menyempit.

Penyakit katup aorta adalah gangguan pada katup yang menjaga agar darah mengalir satu arah, dari bilik kiri jantung menuju aorta dan seluruh tubuh. Gangguan ini punya dua wajah utama: stenosis (katup menyempit dan sulit membuka) serta regurgitasi atau insufisiensi (katup bocor dan tidak menutup rapat). Keduanya membuat jantung bekerja lebih keras, sering kali tanpa gejala selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba memberi tanda bahaya.

Bagaimana katup aorta bekerja, dan apa yang salah

Katup aorta normal terdiri atas tiga daun katup tipis yang membuka lebar setiap jantung memompa, lalu menutup rapat agar darah tidak kembali ke bilik kiri. Pada stenosis aorta, daun katup menebal, mengapur, dan kaku sehingga bukaannya menyempit. Bilik kiri harus memompa dengan tekanan jauh lebih tinggi, dindingnya menebal, dan lama-kelamaan otot jantung melemah. Pada regurgitasi aorta, sebagian darah yang sudah dipompa justru bocor kembali ke bilik kiri sehingga bilik tersebut meregang dan membesar.

Penyebab stenosis berbeda menurut usia. Pada orang lanjut usia, penyebab terbanyak adalah pengapuran degeneratif yang berkaitan dengan penuaan, tekanan darah tinggi, kolesterol, dan penyakit ginjal kronik. Pada usia yang lebih muda, katup aorta bikuspid (hanya dua daun katup sejak lahir) lebih sering menjadi biang masalah. Di Indonesia, demam rematik yang tidak tertangani pada masa kanak-kanak masih menjadi penyebab penting penyakit katup, termasuk katup aorta, pada orang dewasa muda. Regurgitasi aorta dapat disebabkan oleh pelebaran pangkal aorta (misalnya pada hipertensi lama), katup bikuspid, penyakit rematik, atau infeksi katup (endokarditis).

Diagram penyakit katup jantung: katup aorta sehat dibandingkan katup aorta dengan stenosis dan regurgitasi, serta letak katup trikuspid, pulmonal, aorta, dan mitral, dan prolaps katup mitral
Katup aorta sehat dibandingkan katup aorta dengan stenosis dan regurgitasi. Sumber gambar: Cleveland Clinic © 2024.

Gejala yang sering disalahartikan sebagai “faktor usia”

Stenosis aorta berat klasik ditandai tiga keluhan: sesak napas saat beraktivitas, nyeri atau rasa tertekan di dada, dan pingsan atau hampir pingsan (sinkop) terutama saat mengerahkan tenaga. Regurgitasi aorta kronik cenderung “diam” lebih lama; keluhannya berupa mudah lelah, sesak, jantung berdebar, atau rasa denyut kuat di leher dan dada. Karena awalnya ringan dan berkembang pelan, banyak orang menyesuaikan diri dengan mengurangi aktivitas sehingga baru datang ke dokter ketika penyakit sudah lanjut. Begitu gejala muncul pada stenosis berat, perjalanan penyakit tanpa penggantian katup memburuk dengan cepat, sehingga keluhan semacam ini tidak boleh ditunda pemeriksaannya.

Bagaimana dokter menegakkan diagnosis

Petunjuk pertama sering datang dari stetoskop: bising jantung di area aorta. Namun pemeriksaan penentunya adalah ekokardiografi (USG jantung), yang menilai bentuk katup, kecepatan aliran darah, selisih tekanan di kedua sisi katup, luas bukaan katup, serta ukuran dan fungsi bilik kiri. Pada kasus yang meragukan, CT jantung untuk menghitung skor kalsium katup dan pemeriksaan lain dapat membantu. Elektrokardiogram dan foto dada melengkapi gambaran, sedangkan kateterisasi koroner sering diperlukan sebelum tindakan untuk memeriksa pembuluh koroner.

Parameter ekokardiografiStenosis aorta beratRegurgitasi aorta berat (indikator umum)
Kecepatan aliran puncak≥ 4 m/detikTidak dipakai
Selisih tekanan rata-rata≥ 40 mmHgTidak dipakai
Luas bukaan katup≤ 1,0 cm²Tidak dipakai
Tanda lainPenebalan dinding bilik kiriPancaran bocor lebar, bilik kiri melebar
Ambang umum yang dipakai dalam praktik; penilaian akhir selalu mempertimbangkan aliran darah, fungsi jantung, dan keluhan pasien.

Tata laksana: obat tidak menyembuhkan katup

Hal yang perlu dipahami: sampai saat ini tidak ada obat yang terbukti menghentikan pengapuran atau memperbaiki katup yang menyempit. Obat berperan mengendalikan faktor yang menyertai, seperti tekanan darah, kolesterol, gagal jantung, atau gangguan irama, serta meredakan keluhan sambil menunggu waktu intervensi yang tepat. Pada stenosis aorta, obat penurun tekanan darah dan diuretik perlu digunakan hati-hati agar tekanan darah tidak turun terlalu rendah dan pasien tidak mengalami dehidrasi. Pasien tanpa gejala dengan katup yang belum berat cukup dipantau berkala dengan ekokardiografi.

Penggantian atau perbaikan katup menjadi pengobatan definitif. Pedoman ESC/EACTS 2025 menyebutkan beberapa perubahan penting1. Pada stenosis aorta berat tanpa gejala dengan fraksi ejeksi bilik kiri ≥50%, penggantian katup kini diberi rekomendasi kelas IIa, tidak lagi sekadar ditunda sampai keluhan muncul. Batas usia untuk lebih memilih tindakan lewat kateter (transcatheter aortic valve implantation, TAVI) diturunkan dari 75 menjadi 70 tahun, sedangkan pasien di bawah 70 tahun dengan risiko bedah rendah tetap diarahkan ke operasi penggantian katup (surgical aortic valve replacement, SAVR)2. Pada regurgitasi aorta, operasi dianjurkan bila ada gejala, atau tanpa gejala tetapi fraksi ejeksi ≤50%, diameter akhir sistolik bilik kiri >50 mm, atau indeksnya >25 mm/m².

AspekSAVR (operasi)TAVI (lewat kateter)
CaraDada dibuka, jantung dihentikan sementara dengan mesin jantung-paruKatup baru dipasang lewat pembuluh darah, umumnya di pangkal paha
PemulihanLebih lamaUmumnya lebih singkat
Kecenderungan usia (ESC/EACTS 2025)< 70 tahun, risiko bedah rendah≥ 70 tahun dengan anatomi sesuai
Hal yang diperhatikanRisiko operasi, kondisi penyertaDaya tahan katup jangka panjang, risiko alat pacu jantung
Pilihan akhir ditentukan oleh tim jantung (Heart Team) bersama pasien.

Usia hanyalah salah satu pertimbangan. Tinjauan terbaru menegaskan bahwa batas usia sebaiknya menjadi patokan, bukan aturan kaku: harapan hidup, kerapuhan, anatomi katup, penyakit koroner penyerta, kemungkinan prosedur lanjutan di kemudian hari, serta preferensi pasien ikut menentukan, dan di kawasan Asia-Pasifik faktor katup bikuspid, penyakit rematik, dan ketersediaan layanan juga diperhitungkan3. Di Indonesia, TAVI terutama tersedia di pusat jantung besar, sehingga pasien dari daerah kerap perlu dirujuk. Untuk bahasan setelah katup diganti, termasuk pilihan katup mekanik dan bioprostetik, silakan baca tulisan tentang prognosis prostesis katup jantung.

Pencegahan dan apa yang bisa dilakukan sehari-hari

Pada penyakit rematik, pencegahan dimulai sejak anak: radang tenggorok akibat kuman streptokokus perlu diobati tuntas, dan penderita demam rematik membutuhkan suntikan benzatin penisilin berkala sesuai anjuran dokter. Pada orang dewasa, mengendalikan tekanan darah, kolesterol, gula darah, dan tidak merokok membantu memperlambat pengapuran. Kebersihan gigi juga penting, karena infeksi katup bisa berawal dari mulut, dan pasien dengan katup buatan membutuhkan perhatian khusus terhadap pencegahan endokarditis. Bila sudah terdiagnosis, kontrol rutin dan ekokardiografi berkala adalah kunci agar waktu tindakan tidak terlewat.

Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan

Segera periksakan diri bila muncul sesak napas atau nyeri dada saat beraktivitas yang tidak biasa, pingsan atau hampir pingsan saat mengerahkan tenaga, jantung berdebar disertai pusing, atau bengkak pada kaki. Siapa pun yang pernah diberi tahu memiliki bising jantung, memiliki riwayat demam rematik, atau lahir dengan katup bikuspid sebaiknya menjalani pemeriksaan ekokardiografi dan kontrol teratur ke dokter jantung. Pak Wayan, misalnya, akhirnya menjalani tindakan penggantian katup dan kini kembali menanjak ke pura, kali ini tanpa dada yang menekan.

Rujukan

  1. Task Force ESC/EACTS. 2025 ESC/EACTS Guidelines for the management of valvular heart disease. Eur J Cardiothorac Surg. 2025. doi:10.1093/ejcts/ezaf276
  2. Insights into the 2025 ESC/EACTS guidelines on valvular heart disease. Rev Esp Cardiol. revespcardiol.org
  3. Sharma R, Srivats S, Ata F, Shuhaiber J. International age and use criteria for transcatheter and surgical aortic valve replacement. Rev Cardiovasc Med. 2026;27(6):49368. doi:10.31083/RCM49368
  4. Cleveland Clinic. Heart Valve Disease (sumber gambar, © 2024 Cleveland Clinic Center for Medical Art & Photography). my.clevelandclinic.org

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. […] lanjut, merokok, aterosklerosis, aneurisma aorta yang sudah ada (lihat juga bahasan kami tentang penyakit katup aorta, karena katup aorta bikuspid berkaitan dengan pelebaran aorta), serta riwayat operasi jantung atau […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca