Edisi #2 | Periode 18-24 Oktober 2026
Setelah jatuh hampir 15% pada pekan sebelumnya, IHSG memantul 4,90% dalam sepekan, meski investor asing masih menjual bersih Rp6,67 triliun. Bank Indonesia menahan BI-Rate di 5,75% tetapi menaikkan suku bunga deposit facility, sementara Brent melonjak ke US$116,72 per barel karena serangan terhadap fasilitas minyak Saudi dan arus kapal di Selat Hormuz yang anjlok. Rupiah tetap tertahan di atas Rp18.000 per dolar AS.
Ringkasan Sepekan
- IHSG ditutup di 5.439,258 pada Jumat (23/10), naik 4,90% dari 5.185,105. Indeks sempat menyentuh 4.907 pada Senin sebelum memantul empat hari berturut-turut.
- Investor asing tetap mencatat jual bersih Rp6,67 triliun sepekan, dua kali lipat pekan sebelumnya. Akumulasi jual bersih sepanjang 2026 mencapai Rp94,87 triliun.
- BI menahan BI-Rate di 5,75% untuk kelima kalinya berturut-turut, tetapi menaikkan deposit facility dari 4,75% ke 5,00% dan memperluas insentif lindung nilai melalui DNDF.
- Rupiah spot ditutup Rp18.080 per dolar AS, melemah 0,29% sepekan. Yield SBN 10 tahun naik ke kisaran 7,43-7,45%.
- Brent naik sekitar 6,2% ke US$116,72, penutupan tertinggi sejak akhir April. Emas justru turun ke kisaran US$4.000 per troy ons karena pasar memperkirakan The Fed tetap ketat.
- Ekonomi Tiongkok tumbuh 4,5% pada kuartal III, di atas perkiraan, tetapi penjualan ritel September hanya naik 1,1%.
Angka Kunci Pekan Ini
| Indikator | Penutupan | Perubahan Sepekan | Catatan |
|---|---|---|---|
| IHSG | 5.439,258 | +4,90% | Per Jumat 23/10; rentang sepekan 4.907,37-5.455,21; asing jual bersih Rp6,67 triliun |
| Rupiah spot (Rp/US$) | 18.080 | Melemah 0,29% | Jumat sebelumnya 18.027; JISDOR 18.069 |
| Yield SBN 10 tahun | ±7,45% | Naik ±15-17 bps | Trading Economics per 23/10; Bloomberg Technoz mencatat ±7,43% pada 21/10. Pekan lalu ±7,28% |
| BI-Rate | 5,75% | Tetap | RDG 20-21/10; deposit facility naik ke 5,00%, lending facility 6,50% |
| Brent (US$/barel) | 116,72 | +6,2% | Tertinggi sejak 29 April; WTI 103,27 |
| Emas spot (US$/troy ons) | ±4.000 | Turun ±3,5-4% | Sempat di bawah US$4.000 pada Jumat sore |
| CPO Bursa Malaysia (RM/ton) | 4.817 | +1,01% | Kontrak acuan Januari 2027 |
| Batu bara (US$/ton) | 150,70 | Relatif datar | Trading Economics (berbasis CFD); 150,40 pada 13/10 |
| US Treasury 10 tahun | 4,999% | Turun ±10 bps | Pekan lalu ±5,10% |
| Indeks dolar (DXY) | 101,79 | Relatif datar | Pekan lalu ±101,8 |
Panggung Global
Minyak naik tiga pekan beruntun
Harga minyak menjadi cerita terbesar pekan ini. Brent kontrak Desember ditutup US$116,72 per barel pada Jumat, naik sekitar 6,2% sepekan dan mencatat kenaikan mingguan ketiga berturut-turut. WTI ditutup US$103,27. Pada Senin, kelompok Houthi mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Yanbu dan ladang Shaybah. Aramco menyatakan produksinya tidak terganggu, tetapi pada Kamis perusahaan itu memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, dan Brent naik sekitar 4% hari itu.
Masalah yang lebih besar ada di jalur pengiriman. Perkiraan Kpler yang dikutip Oil Monitor menyebut arus minyak mentah melalui Selat Hormuz turun ke sekitar 8,5 juta barel per hari, dari lebih dari 20 juta barel sepekan sebelumnya, setelah sedikitnya 18 kapal diserang dalam dua pekan. Perundingan AS-Iran tidak berjalan. Di tempat lain, Libya menutup katup pipa yang memangkas produksi dua ladang, dan serangan ke kilang di Rusia serta Timur Tengah mendorong harga solar dunia ke rekor. Cadangan strategis yang dilepas AS dan Jerman jumlahnya kecil dibanding pasokan yang tersendat.
Ekspektasi inflasi AS naik, The Fed diperkirakan menahan dulu
Survei Universitas Michigan yang dirilis Jumat menunjukkan konsumen AS memperkirakan inflasi setahun ke depan 4,7%. PMI kilat (flash PMI, survei awal aktivitas manufaktur dan jasa) Oktober juga kuat, disertai kenaikan harga jual. Kombinasi ini menjaga ekspektasi bahwa The Fed belum akan melonggarkan. Menjelang rapat FOMC 27-28 Oktober, pasar prediksi Kalshi memberi peluang 92% bahwa suku bunga ditahan, sedangkan CME FedWatch menunjukkan peluang sekitar 71% untuk kenaikan 25 basis poin pada Desember.
Imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun ditutup 4,999%, sedikit di bawah level psikologis 5%, lebih rendah dari sekitar 5,10% sepekan sebelumnya. Indeks dolar (DXY) bertahan di 101,79. Di Wall Street, S&P 500 turun sekitar 0,5% sepekan ke 7.623,68 dan Nasdaq mencatat penurunan mingguan kedua ke 25.955,34. Dow Jones ditutup 52.215,16 dan masih mencatat kenaikan mingguan ketiga.
Emas menjadi korban kombinasi tersebut. Biasanya emas diburu saat ketegangan geopolitik naik, tetapi kali ini harga minyak yang tinggi justru memperkuat dugaan suku bunga tetap tinggi, dan emas tidak memberi bunga. Kitco mencatat emas menuju penurunan mingguan lebih dari 3,5% dan sempat diperdagangkan di bawah US$4.000 per troy ons pada Jumat sore.
Tiongkok tumbuh 4,5%, ditopang ekspor
Biro statistik Tiongkok melaporkan PDB kuartal III tumbuh 4,5% secara tahunan, naik dari 4,3% pada kuartal II dan di atas perkiraan sebagian besar analis. Pertumbuhan sembilan bulan pertama 4,6%, masih dalam target 4,5-5%. Produksi industri September naik 5,5%. Permintaan domestik tetap lemah: penjualan ritel September hanya tumbuh 1,1%, dan investasi aset tetap Januari-September turun 7,2%. Profesor keuangan Stanford Zhiguo He menyebut kondisi ini sebagai perlambatan yang dikelola, dengan sektor properti yang masih menyusut. Bagi Indonesia, Tiongkok yang tumbuh dari ekspor, bukan dari konsumsi, berarti permintaan bahan baku tertentu bertahan, sementara banjir barang jadi Tiongkok ke ASEAN yang kami catat pekan lalu kemungkinan berlanjut.
Dalam Negeri
Bursa: jatuh lagi pada Senin, lalu memantul
Senin (19/10) dibuka dengan tekanan lanjutan dari usulan MSCI untuk menurunkan status pasar Indonesia menjadi standalone market. IHSG sempat naik tipis di menit-menit awal, lalu berbalik dan ditutup turun 3,64%. Pada sesi pertama indeks berada di 4.923, dan titik terendah sepekan tercatat 4.907,37. Batas auto rejection bawah (ARB) 7% yang diberlakukan BEI ikut meredam kejatuhan harian dibanding Jumat sebelumnya.
Pembalikan datang pada Selasa (20/10). IHSG melonjak 5,65% ke 5.278,89. CNBC Indonesia mencatat tiga pendorongnya: banyak emiten mengumumkan pembelian kembali saham (buyback), saham BUMN menguat serentak, dan pernyataan Danantara bahwa lembaga itu siap menambah kepemilikan di BUMN yang dinilai berfundamental baik. Pada Senin, Kepala Operasional Danantara Dony Oskaria menyatakan pembelian akan dilakukan bila sahamnya bagus, setelah sebelumnya CEO Rosan Roeslani menyebut koreksi harga sebagai peluang investasi jangka panjang. Tidak ada angka atau daftar saham yang diumumkan. Presiden Prabowo juga meminta OJK memperketat penegakan aturan pasar modal.
Dari sisi bursa, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan seusai bertemu MSCI pada 19 Oktober bahwa saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration, HSC) akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG. Per 12 Oktober ada 83 saham dalam daftar HSC dengan bobot sekitar 18% dari IHSG. Kebijakan ini tidak berlaku pada Oktober; pemberitaan lain menyebut penerapannya mulai 2 November. Status HSC tidak berarti saham dihapus dari bursa, dan saham dapat kembali dihitung bila memenuhi syarat.
Hingga Jumat, IHSG menguat empat hari beruntun dan ditutup di 5.439,258. Penguatan dipimpin saham bank BUMN dan telekomunikasi: BMRI naik 15,04%, BBRI 10,23%, TLKM 17,89%, BBNI 15,15%, dan BREN 28,30%. BBCA justru turun 2,90%. Rata-rata nilai transaksi harian naik 25,42% ke Rp20,34 triliun. Namun investor asing tetap menjual bersih Rp6,67 triliun sepekan, termasuk Rp1,28 triliun pada Jumat. Artinya, pemantulan ini lebih banyak digerakkan investor domestik.
BI menahan suku bunga, tetapi mengetatkan dari sisi lain
Rapat Dewan Gubernur BI pada 20-21 Oktober mempertahankan BI-Rate di 5,75% dan lending facility di 6,50%. Yang berubah adalah deposit facility, yaitu bunga yang diterima bank saat menaruh kelebihan likuiditas di BI, yang naik dari 4,75% ke 5,00%. BI juga memperkuat insentif lindung nilai melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas, dengan tujuan menarik modal asing dan menjaga stabilitas rupiah. Ini penahanan kelima berturut-turut; sepanjang 2026 BI sudah menaikkan bunga total 100 basis poin, terakhir pada Juni.
Pasar terbelah sebelum keputusan. Survei Bloomberg mencatat 19 dari 38 ekonom memperkirakan kenaikan dan 19 memperkirakan penahanan. Dalam konsensus Bisnis Indonesia, 8 dari 14 ekonom memperkirakan kenaikan. Dalam pembacaan kami, menaikkan deposit facility tanpa menyentuh BI-Rate menyempitkan koridor suku bunga dari bawah. Bunga pasar uang antarbank terdorong naik, sehingga menyimpan rupiah menjadi lebih menarik, tetapi sinyal kenaikan BI-Rate yang bisa memukul kredit dihindari. Langkah ini kompromi antara menjaga rupiah dan menjaga pertumbuhan.
Rupiah dan SBN
Rupiah sempat ditutup di Rp17.995 pada Selasa (20/10), lalu melemah tiga hari beruntun dan ditutup Rp18.080 per dolar AS pada Jumat, turun 0,29% sepekan. Kurs JISDOR berada di Rp18.069. Sejak awal tahun rupiah sudah melemah sekitar 7,9%. Pasar obligasi lebih tertekan: yield SBN 10 tahun berada di kisaran 7,43% pada 21 Oktober dan 7,45% pada 23 Oktober menurut Trading Economics, naik dari sekitar 7,28% sepekan sebelumnya. Pada saat yang sama yield US Treasury turun, sehingga selisih bunga SBN terhadap obligasi AS melebar ke sekitar 245 basis poin, dari sekitar 188 basis poin pekan lalu. Pelebaran ini mencerminkan premi risiko yang diminta investor untuk aset Indonesia.
Fiskal: asumsi minyak terlampaui
Pada April, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026. Kebijakan itu disusun dengan skenario harga minyak hingga US$100 per barel, dengan sisa anggaran lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun sebagai bantalan. Pada 11 Oktober, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pemerintah mengantisipasi kenaikan subsidi dan kompensasi BBM. Dengan Brent kini di atas US$116, skenario terburuk itu sudah terlewati. Belum ada pengumuman perubahan harga BBM subsidi pekan ini.
Transmisi ke Indonesia
Tiga jalur tekanan yang kami catat pekan lalu masih bekerja, tetapi bobotnya bergeser.
- Jalur energi kini paling berat. Brent naik dari US$109,86 ke US$116,72. Indonesia adalah importir neto minyak, sehingga kenaikan ini menambah permintaan dolar untuk impor, memperbesar beban subsidi dan kompensasi energi di APBN, dan menaikkan biaya logistik. Jika harga BBM subsidi ditahan, tekanannya pindah ke defisit fiskal. Jika dinaikkan, tekanannya pindah ke inflasi dan daya beli.
- Jalur suku bunga global sedikit mereda, tetapi belum aman. Yield US Treasury turun ke bawah 5% dan dolar stabil. Namun minyak mahal menjaga ekspektasi inflasi AS tetap tinggi, sehingga peluang kenaikan bunga The Fed pada Desember masih besar. BI karenanya sulit melonggarkan.
- Jalur kepercayaan (MSCI) mulai direspons. Langkah BEI terhadap saham HSC, buyback emiten, dan sinyal Danantara mengangkat harga saham. Namun asing masih keluar, dan yield SBN naik, sehingga kepercayaan investor global belum kembali.
Dalam pembacaan kami, pekan ini memperlihatkan pasar domestik yang terbelah. Saham naik karena dibeli investor dalam negeri dan didorong sinyal kebijakan, sementara rupiah dan SBN, yang lebih banyak ditentukan arus asing, tetap tertekan. Pemantulan yang tidak diikuti masuknya modal asing biasanya rapuh. Sebaliknya, kenaikan yield SBN di saat yield AS turun menunjukkan premi risiko khusus Indonesia masih naik.
Kata Para Ekonom
Kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai keputusan BI menahan suku bunga tepat dan proporsional. Ia memperkirakan ada tekanan jangka pendek pada rupiah karena sebagian pelaku pasar sudah mengantisipasi kenaikan, tetapi menurutnya penahanan itu tidak otomatis menyebabkan pelemahan berkelanjutan. Sumber tekanan yang lebih besar, katanya, adalah ketidakpastian MSCI, yield obligasi AS yang tinggi, harga minyak, dan arah The Fed. Dalam acara terpisah ia menilai peluang BI memangkas bunga relatif kecil, memperkirakan BI-Rate di sekitar 6% hingga akhir 2027, dan menaksir nilai fundamental rupiah di Rp17.800-18.000 per dolar AS. Sebelum RDG, Josua termasuk yang memperkirakan kenaikan 25 basis poin.
Teuku Riefky, ekonom LPEM FEB UI, sejak awal memperkirakan BI menahan suku bunga. Ia mengingatkan bahwa usulan MSCI dan tekanan rupiah memperbesar risiko arus modal keluar lanjutan, sementara kondisi keuangan yang lebih ketat bisa membebani permintaan domestik. Ia mendorong pengelolaan pasokan pangan yang lebih kuat dan percepatan reformasi pasar modal.
Pandangan sebelum RDG menunjukkan perbedaan yang tajam. Dalam konsensus Bisnis Indonesia, Mohammad Faisal (CORE Indonesia), David Sumual (BCA), Rully Arya Wisnubroto (Mirae Asset), dan Hosianna Situmorang (Danamon) memperkirakan kenaikan 25 basis poin, dan Enrico Tanuwidjaja (UOB) bahkan 50 basis poin. Sebaliknya, Andry Asmoro (Bank Mandiri), Ramadani Partama (BRI), dan M. Rizal Taufikurahman (INDEF) memperkirakan penahanan. Semua responden melihat arah kebijakan BI ke depan cenderung ketat, dan mayoritas memperkirakan perubahan bunga berikutnya terjadi pada kuartal IV 2026. Hasil akhirnya memihak kubu penahanan, dengan tambahan pengetatan lewat deposit facility.
Soal rupiah, Wahyu Laksono dari Traderindo.com mengaitkan tekanan dengan inflasi AS yang bertahan tinggi dan yield US Treasury yang sempat di atas 5%. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyoroti harga minyak dan harga pangan yang naik bersamaan sebagai “tekanan ganda”. Pemerintah, menurutnya, menghadapi pilihan sulit: menahan harga energi berarti defisit melebar, menyesuaikannya berarti inflasi naik.
Peluang dan Ancaman
Tabel berikut adalah analisis penulis atas arah tekanan per sektor, bukan rekomendasi atas saham atau instrumen tertentu.
| Sektor/Pelaku | Peluang/Ancaman | Alasan | Indikator yang Dipantau |
|---|---|---|---|
| Produsen dan eksportir sawit | Peluang | Minyak mahal membuat biodiesel berbasis sawit lebih kompetitif; CPO naik 1,01% sepekan dan rupiah lemah menambah nilai pendapatan | Harga CPO, bea keluar dan pungutan ekspor, kebijakan biodiesel |
| Batu bara dan energi primer | Peluang terbatas | Harga batu bara stabil di sekitar US$150/ton dan permintaan energi alternatif terjaga saat minyak naik | Harga Newcastle, HBA, permintaan India dan Tiongkok |
| Penerbangan, pelayaran, logistik, ojek daring | Ancaman | Avtur, solar, dan BBM nonsubsidi mengikuti harga minyak dan kurs; solar dunia mencetak rekor | Brent, harga BBM nonsubsidi bulanan, tarif angkutan |
| Bank besar | Peluang jangka pendek, risiko menengah | Valuasi sudah murah dan didukung pembeli domestik; namun bunga dana naik dan kredit bisa melambat | Arus asing, bunga PUAB, pertumbuhan kredit, NPL |
| Industri berbahan baku impor (farmasi, alat kesehatan, pakan, plastik) | Ancaman | Rupiah bertahan di atas Rp18.000 dan biaya angkut naik; sulit diteruskan ke harga jual | Kurs, harga bahan baku, margin, waktu kontrak pengadaan |
| Emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi | Ancaman | Dikeluarkan dari perhitungan IHSG mengurangi permintaan dari dana berbasis indeks | Daftar HSC BEI, tanggal efektif, evaluasi tiga bulanan |
| UMKM pangan dan kuliner | Ancaman | Harga pangan dan ongkos distribusi naik; daya beli konsumen tertekan | Inflasi pangan BPS, harga minyak goreng dan beras |
| Rumah tangga peminjam | Ancaman ringan | BI-Rate tetap, tetapi biaya dana bank naik lewat deposit facility dan yield SBN | Bunga KPR dan kredit konsumsi, keputusan RDG November |
| Pariwisata domestik | Peluang terbatas | Rupiah lemah membuat Indonesia murah bagi wisman, tetapi tiket pesawat terancam naik karena avtur | Kunjungan wisman, harga tiket, tarif batas atas |
Dalam pembacaan kami, pekan ini peluang lebih banyak muncul di sisi hulu komoditas, sedangkan ancaman menumpuk di sektor yang menanggung biaya energi dan bahan baku impor sekaligus. Fasilitas kesehatan dan distributor obat termasuk yang rentan, karena biayanya mengikuti dolar tetapi tarif layanannya sering terkunci dalam kontrak.
Membaca Arah: Tiga Skenario
Skenario dasar: stabil di level rendah. The Fed menahan bunga pada 28 Oktober tanpa sinyal yang lebih keras. Brent bergerak di US$110-120. IHSG berkonsolidasi setelah memantul, dengan asing masih menjual dalam jumlah lebih kecil. Rupiah bertahan di Rp18.000-18.200 berkat intervensi dan insentif DNDF. Inflasi Oktober yang dirilis awal November naik tipis tetapi masih dalam sasaran BI.
Skenario optimistis: tekanan minyak dan MSCI mereda bersamaan. Ketegangan di Teluk mereda dan arus kapal di Hormuz pulih, sehingga Brent turun ke bawah US$105. BEI dan OJK menerapkan aturan HSC sesuai jadwal disertai langkah keterbukaan pemilik manfaat yang bisa diverifikasi, dan asing mulai membeli bersih. Rupiah kembali ke bawah Rp18.000 dan yield SBN turun ke kisaran 7,2%.
Skenario pesimistis: guncangan pasokan berlanjut. Aksi militer AS terhadap Iran atau serangan baru ke infrastruktur Saudi mendorong Brent ke atas US$125. Data PCE AS 29 Oktober panas, dan The Fed memberi sinyal kenaikan Desember. Asing keluar dari SBN, yield 10 tahun mendekati 7,6% atau lebih, dan BI terpaksa menaikkan BI-Rate pada November. Pemerintah harus memilih antara menaikkan harga BBM subsidi atau menambah defisit.
Yang Perlu Dipantau Pekan Depan
- Selasa-Rabu, 27-28 Oktober: rapat FOMC The Fed. Pernyataan dan konferensi pers Ketua Kevin Warsh keluar Rabu sore waktu AS, atau Kamis dini hari WIB.
- Rabu, 28 Oktober: keputusan Bank of Canada; malam sebelumnya keputusan bank sentral Selandia Baru (RBNZ), yang diperkirakan menaikkan bunga.
- Kamis, 29 Oktober: PDB kuartal III AS (perkiraan awal) dan inflasi PCE September, disusul keputusan Bank Sentral Eropa (ECB).
- Jumat, 30 Oktober: keputusan Bank of Japan beserta laporan prospeknya; indeks biaya tenaga kerja (ECI) AS kuartal III.
- Minggu, 1 November: rapat tujuh anggota inti OPEC+; pasar memperkirakan kuota tidak diubah.
- Senin, 2 November: BPS lazimnya merilis inflasi Oktober pada hari kerja pertama bulan berjalan; tanggal yang sama disebut sebagai awal penerapan pengecualian saham HSC dari IHSG.
- Sepanjang pekan: arus kapal di Selat Hormuz dan perkembangan hubungan AS-Iran, arus asing harian di saham dan SBN, serta langkah lanjutan OJK dan BEI terkait konsultasi MSCI.
Catatan Pekan Lalu, Ditinjau Ulang
Edisi #1 menandai enam hal untuk dipantau. Berikut yang terjadi.
- Respons pasar Senin: tekanan berlanjut, IHSG turun 3,64% dan menyentuh 4.907, tetapi tidak sedalam Jumat sebelumnya. Pemantulan dimulai Selasa.
- PDB Tiongkok kuartal III: 4,5%, di atas perkiraan, dengan pola yang kami duga: ekspor kuat, konsumsi lemah.
- RDG BI 20-21 Oktober: BI-Rate ditahan, sesuai salah satu dari dua kemungkinan dalam skenario dasar kami. Pengetatan datang melalui deposit facility, langkah yang tidak kami perkirakan secara spesifik. Proyeksi kenaikan dari Danamon dan Permata tidak terwujud bulan ini.
- Stok minyak EIA: persediaan minyak mentah AS turun 3,06 juta barel, menambah dorongan naik harga.
- Klarifikasi BEI kepada MSCI: pertemuan terjadi pada 19 Oktober dan menghasilkan rencana pengecualian saham HSC dari IHSG.
- Konflik Timur Tengah: memburuk. Skenario dasar kami mengasumsikan Brent di US$100-112; kenyataannya US$116,72, lebih dekat ke skenario pesimistis. Rupiah di Rp18.080 masih dalam kisaran dasar Rp18.000-18.300.
Penafian: Tulisan ini bersifat edukatif dan disusun dari data publik yang tersedia hingga Sabtu, 24 Oktober 2026. Isinya bukan nasihat investasi, keuangan, atau perpajakan, dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi membeli atau menjual efek, valuta asing, maupun aset lain. Setiap keputusan keuangan beserta risikonya sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Angka pasar dapat berbeda tipis antarsumber karena perbedaan waktu pencatatan.
Sumber
- Bisnis.com: Rekap Kinerja Pasar Sepekan, IHSG Naik 4,9%
- Kumparan: Usai Badai MSCI, IHSG Menguat 4,90% dalam Sepekan
- Infobank: Tekanan MSCI Berlanjut, IHSG Sesi I Anjlok 5,05%
- CNBC Indonesia: IHSG Lanjutkan Penguatan
- CNBC Indonesia: IHSG Menghijau Ditopang Saham BUMN, Danantara Masuk?
- Infobank: BEI Bakal Keluarkan Saham HSC dari IHSG
- RCTI+: BEI Keluarkan Saham Berkonsentrasi Kepemilikan Tinggi dari Seleksi IHSG Mulai 2 November
- IDN Financials: Bank Indonesia Holds Rate at 5.75%, Raises Deposit Facility Rate to 5%
- Investortrust: BI Tahan BI Rate di Level 5,75%, Naikkan Deposit Facility ke 5%
- Bisnis.com: BIG Consensus Insights, Mayoritas Ekonom Proyeksi BI Rate Naik
- Bloomberg Technoz: BI Rate Ditahan, Ekonom Waspadai Tekanan Jangka Pendek ke Rupiah
- Katadata: Ekonom, Peluang BI Pangkas Suku Bunga Makin Kecil
- VIVA/CeritaKita: Rupiah Terperosok ke Rp18.080 per Dolar AS
- Trading Economics: Indonesia 10-Year Government Bond Yield
- Setneg: Pemerintah Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik
- Bisnis.com: Harga Minyak Melonjak, Suahasil Antisipasi Kenaikan Subsidi-Kompensasi BBM
- Oil Monitor Weekly Summary: Brent at a Six-Month High
- Rio Times: Brent Crude Settles at US$116.72
- Capp Notes: Closing Look, Friday, October 23, 2026
- Kitco: Gold, Silver Extend Weekly Losses as Hormuz Tensions Push Crude above $116
- Al Jazeera: China’s Economy Grows 4.5 Percent in Q3
- InfoSAWIT: Harga CPO KPBN Naik, CPO Bursa Malaysia Ditutup Menguat (23/10)
- Trading Economics: Batubara
- Admirals: Central Bank Super Week, Fed, ECB, BoJ, BoC, RBNZ





Tinggalkan Balasan