Dengarlah, Nak. Kalau kau mendekatkan telinga ke daun yang basah pagi-pagi, kadang kau bisa mendengar bunyi paling kecil di dunia: zrrr… zrrr… zing!

Itu bukan lebah. Bukan pula nyamuk yang tersesat. Itu bunyi sayap kolibri.

Dan dongeng kita malam ini adalah tentang seekor kolibri bernama Zizi.


Jauh, jauh sekali, di seberang samudra yang lebarnya tiga ratus kali mimpi, ada barisan pegunungan yang punggungnya panjang seperti naga sedang berbaring. Di lereng salah satu gunungnya, Gunung Seribu Embun, tumbuh sebuah hutan yang selalu berselimut awan. Namanya Hutan Awan Berbisik.

Disebut begitu karena awan di sana tidak lewat tinggi-tinggi di langit. Awan di sana turun rendah, menyusup di antara batang-batang pohon, mengelus lumut, lalu berbisik pelan di telinga siapa saja: “Sssh… sudah pagi… sssh… sudah basah…”

Di hutan itu, semua hal tampak lembap dan berkilau. Lumut tebal seperti selimut. Anggrek kecil bergantungan seperti anting-anting. Dan di setiap ujung daun, setiap pagi, menggantung setetes embun yang bundar dan bening, seperti kelereng kaca yang lupa dipungut.

Di sanalah Zizi tinggal.

Zizi kecil sekali. Kalau kau membuka telapak tanganmu, Zizi bisa tidur di situ dan masih ada sisa tempat untuk sebutir kacang. Bulunya hijau zamrud, berkilat-kilat kalau kena cahaya. Paruhnya panjang dan lurus seperti jarum jahit. Dan sayapnya… ah, sayapnya bergerak begitu cepat sampai kau tak bisa melihatnya. Yang terlihat hanya kabur, dan yang terdengar hanya zrrr… zrrr… zing!

Zizi tidak pernah diam.

Pagi hari ia mencicipi bunga fuchsia merah. Sebelum habis, ia melihat bunga ungu. Zing! Pindah ke bunga ungu. Sebelum habis, ia melihat bunga kuning. Zing! Pindah lagi.

Ia mulai membuat sarang dari kapas tanaman dan benang laba-laba. Baru setengah jadi, ia melihat kupu-kupu biru lewat. Zing! Ia mengejar kupu-kupu itu. Sarangnya tertinggal, bergoyang-goyang ditiup angin.

Ia mulai belajar bernyanyi dari burung sikatan. Baru dua nada, ia bosan. Zing! Ia pergi menghitung jamur. Baru sampai tujuh, ia lupa angka delapan, lalu terbang lagi.

Karena itu, penghuni hutan memberinya julukan.

“Itu dia, Zizi Setengah-Setengah,” kata Bu Alpaka sambil mengunyah rumput. Bulunya yang keriting bergoyang seperti awan kecil.

“Zizi Sebentar-Lalu-Lupa,” kata Katak Pohon dari balik daun. Kroook.

“Zizi Belum-Selesai-Sudah-Pergi,” kata Tuan Beruang Berkacamata, beruang hitam besar yang di sekeliling matanya ada lingkaran bulu kuning, persis seperti memakai kacamata. Ia mengatakannya dengan ramah, tapi tetap saja itu julukan.

Zizi tidak marah. Ia hanya tertawa, ciri-ciri-ciri, dan terbang ke bunga berikutnya. “Dunia ini terlalu banyak isinya!” serunya. “Kalau aku diam di satu tempat, nanti aku ketinggalan yang lain!”

Itulah Zizi. Cepat, ceria, ingin tahu segalanya, dan tak pernah, tak pernah, tak pernah menyelesaikan apa pun.


Di dahan tertinggi pohon paling tua di hutan itu, tinggal seekor burung kondor yang sudah sangat tua. Namanya Kakek Kondor. Sayapnya lebar sekali; kalau ia merentangkannya, bayangannya bisa menutupi satu kebun kentang. Tapi kini ia lebih banyak duduk dan memandang jauh.

Zizi suka mampir ke sana. Walau hanya sebentar, tentu saja.

“Kakek Kondor, Kakek sudah terbang ke mana saja?”

“Ke banyak tempat, Cucu Kecil,” jawab Kakek Kondor. Suaranya berat dan pelan, seperti batu yang digulirkan hati-hati. “Aku pernah terbang begitu jauh ke utara, sampai ke negeri tempat air turun bukan sebagai hujan, melainkan sebagai bulu putih yang dingin. Di sana ada gunung yang tidur setiap musim dingin. Dengkurnya terdengar seperti angin di pohon pinus. Dan di jalan di kakinya, ada batu-batu bulat yang berjaga, memakai topi jerami kecil…”

“Batu memakai topi? Hihihi!” Zizi tertawa. “Untuk apa batu memakai topi?”

“Karena seorang anak perempuan pernah memakaikannya, pada suatu malam yang sangat dingin. Ceritanya panjang…”

Tapi Zizi sudah melihat seekor kumbang berwarna pelangi lewat. Zing! Ia terbang mengejarnya.

Kakek Kondor menghela napas, lalu tersenyum. “Suatu hari,” gumamnya kepada angin, “anak itu akan belajar mendengar sampai habis.”


Musim itu, sesuatu yang aneh terjadi di Hutan Awan Berbisik.

Awan tidak datang.

Sehari, dua hari, satu pekan, dua pekan. Pagi-pagi, tak ada lagi yang berbisik sssh… sudah basah… Embun di ujung daun makin kecil, makin kecil, lalu hilang. Lumut yang biasanya gemuk dan lembut menjadi tipis dan berderak kalau diinjak, kresek, kresek. Sungai kecil di tengah hutan menyusut, tinggal sebuah alur basah yang mengalir pelan-pelan, seperti sedang mengantuk.

“Ke mana Nenek Awan?” tanya Katak Pohon. Kulitnya mulai kering, dan ia tidak suka itu. Kroook, katanya sedih.

Kakek Kondor memandang ke puncak Gunung Seribu Embun. Di sana, jauh di atas, ada segumpal awan kelabu yang besar sekali. Ia diam saja, tidak bergerak, seperti sedang duduk memeluk lutut.

“Nenek Awan sedang lelah,” kata Kakek Kondor. “Ia sudah menyiram hutan ini sejak hutan ini masih berupa biji. Kadang yang tua pun bisa merasa tak ada yang memperhatikan kerjanya. Kadang ia bertanya-tanya, apakah masih ada yang peduli.”

Lalu, pada suatu sore yang panas dan berangin, terjadilah sesuatu.

Petir kering menyambar dari langit tanpa hujan. KRAAAK! Ujung sebatang pohon mati di tepi hutan terbakar. Angin meniupnya. Daun-daun kering di bawahnya ikut menyala.

Api kecil itu mulai merayap. Ia lapar. Ia menjilat rumput kering, sret-sret, mengunyah ranting, kretek-kretek, dan asap kelabu naik, pelan dan pekat, mengaburkan matahari menjadi sebutir jeruk pucat.

“API!” teriak burung-burung. “Ada api di tepi hutan!”


Semua hewan berlari dan terbang ke tepi sungai, ke tanah lapang yang berbatu, tempat api tak bisa sampai. Mereka berdiri berdesakan dan memandang cahaya jingga di kejauhan dengan mata bulat ketakutan.

Tuan Beruang Berkacamata menggaruk kepalanya. “Api sebesar itu… kita tak bisa berbuat apa-apa.”

“Aku terlalu berat untuk terbang,” kata Bu Alpaka. “Dan buluku… buluku bisa terbakar.”

“Kulitku terlalu kering,” kata Katak Pohon. “Aku sendiri saja butuh air.”

“Kita tunggu saja Nenek Awan,” kata Pak Tapir sambil menunduk. “Hanya hujan yang bisa memadamkan api.”

Tapi Nenek Awan masih duduk diam di puncak gunung, jauh, jauh sekali.

Zizi melihat semua itu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zizi diam. Ia hinggap di sebuah ranting dan memandang hutannya. Di sana ada bunga fuchsia merah yang belum habis ia cicipi. Ada sarangnya yang baru setengah jadi. Ada jamur-jamur yang baru sempat ia hitung sampai tujuh.

Ada begitu banyak hal yang belum selesai.

Dan Zizi tiba-tiba mengerti: kalau api itu terus berjalan, semua yang belum selesai itu tak akan pernah bisa diselesaikan.

Zizi terbang ke sungai yang tinggal alur kecil itu. Ia mencelupkan paruhnya yang seperti jarum, lalu mengangkat… setetes air.

Hanya setetes. Bulat, bening, berkilau seperti bintang kecil yang tertangkap.

Lalu ia terbang, zrrr… zrrr… zrrr…, ke arah api. Ia menjatuhkan tetes air itu di atas sehelai daun yang sedang menyala. Tsss.

Lalu ia kembali ke sungai. Mengambil setetes lagi. Terbang lagi. Tsss.

Kembali lagi. Setetes lagi. Tsss.

Para hewan memandanginya dengan mulut terbuka.

“Zizi!” seru Tuan Beruang. “Apa yang kau lakukan? Kau pikir setetes air bisa memadamkan api sebesar itu?”

Zizi tidak berhenti. Sambil lewat, zing!, ia hanya berkata:

“Aku tahu aku kecil. Aku hanya melakukan yang aku bisa.”

Lalu ia mulai bernyanyi dengan napas pendek-pendek, sebuah lagu yang ia karang saat itu juga:

Setetes untuk daun,
setetes untuk sarang,
setetes untuk esok
yang masih panjang.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya, Zizi Setengah-Setengah tidak berhenti di tengah jalan.


Ia terbang bolak-balik. Sepuluh kali. Dua puluh kali. Lima puluh kali. Sayapnya mulai pegal. Bulunya yang hijau zamrud berubah kelabu kena jelaga. Paruhnya terasa panas.

Pada kali yang keseratus, ia hampir jatuh. Tapi ia mengepak lagi. Zrrr… zrrr… Setetes untuk daun, setetes untuk sarang…

Seekor semut merah kecil memperhatikannya. Semut itu lalu memandang sehelai daun kecil di dekatnya. Di atas daun itu masih tersisa setitik embun dari pagi kemarin, sebesar biji wijen.

Semut itu mengangkat daunnya, dengan embun di atasnya, dan mulai berjalan ke arah api.

Lalu semut kedua. Semut ketiga. Lalu seratus semut, berbaris rapi, masing-masing memanggul daun, masing-masing membawa setitik embun. Tik-tik-tik, bunyi langkah mereka.

Katak Pohon menatap mereka. Ia melihat kulitnya yang kering. Lalu ia melompat ke sungai, menyerap air sebanyak-banyaknya sampai badannya gendut seperti balon, dan melompat ke arah api. Plok! Ia memeras tubuhnya di atas rumput yang menyala. Tsss! “Kroook!” serunya bangga.

Kumbang-kumbang datang membawa tetes air di punggungnya yang licin. Tikus hutan datang membawa kelopak bunga berisi air, seperti membawa mangkuk sup. Bahkan siput datang, pelan-pelan sekali, membawa jejak basahnya sendiri, dan tak seorang pun menertawakannya.

Tuan Beruang Berkacamata memandang semua itu. Matanya di balik “kacamata” kuningnya mulai berkaca-kaca.

“Kalau yang paling kecil saja berani…” gumamnya. Lalu ia berjalan ke sungai, mencakar tanah di tepinya, dan menggali. Menggali. Menggali. Air mulai merembes, menggenang, lalu mengalir lewat parit yang ia buat menuju tepi api.

Bu Alpaka menggulingkan badannya di lumpur sungai, sampai bulu keritingnya basah kuyup dan berat, lalu ia berlari dan berguling di atas rumput yang berasap. Bluk! Tsss! “Buluku nanti bisa dicuci!” serunya. “Hutan tidak bisa dicuci!”

Pak Tapir menyedot air dengan moncongnya yang seperti belalai pendek, lalu menyemprotkannya. Psssh!

Dan semuanya bernyanyi. Ada yang sumbang, ada yang terengah-engah, ada yang cuma bisa bilang kroook:

Setetes untuk daun,
setetes untuk sarang,
setetes untuk esok
yang masih panjang.


Jauh di atas, di puncak Gunung Seribu Embun, Nenek Awan mendengar sesuatu.

Ia membuka matanya yang kelabu dan mengantuk. Ia memandang ke bawah. Dan apa yang dilihatnya?

Ia melihat sebuah titik hijau kecil, sekecil biji kacang, terbang bolak-balik membawa setetes air yang berkilau seperti bintang. Di belakangnya ada barisan panjang makhluk-makhluk kecil: semut, katak, kumbang, tikus, siput. Masing-masing membawa setitik cahaya bening. Dari atas, barisan itu tampak seperti sungai kecil yang terbuat dari bintang-bintang, mengalir menuju api.

Dan Nenek Awan, yang sudah berabad-abad menyiram hutan ini dan mengira tak ada lagi yang peduli, merasakan sesuatu yang hangat di dadanya yang kelabu.

“Oh,” bisiknya. “Oh, anak-anakku. Kalian masih peduli.”

Hatinya yang berat menjadi lembut. Kelembutan itu menjadi air. Dan air itu… menjadi tangis.

Nenek Awan bangkit dari duduknya. Ia merentangkan tubuhnya yang besar, meluncur turun dari puncak gunung, dan melengkung di atas hutan seperti selimut raksasa yang bergulung-gulung. Lalu ia menangis. Bukan tangis sedih, melainkan tangis bahagia, tangis yang turun pelan di atas seekor kolibri kecil dan barisan kawan-kawannya.

Ilustrasi seekor kolibri hijau mungil terbang membawa setetes air berkilau di paruhnya, diikuti barisan katak, semut, kumbang, dan tikus kecil yang membawa tetes embun di atas daun, sementara awan kelabu besar mulai menurunkan hujan di atas hutan berkabut bercahaya jingga.
Setetes, setetes, setetes lagi: Zizi dan kawan-kawan kecilnya, saat Nenek Awan mulai menangis hujan.

Tik.
Tik, tik.
Tik, tik, tik, tik…
Byuuuuur!

Hujan turun.

Hujan turun di atas daun yang menyala, tsss. Di atas rumput yang menyala, tsss. Di atas pohon mati yang tadi tersambar petir, tsssssss. Asap kelabu berubah menjadi uap putih, lalu menjadi kabut, lalu menjadi bisikan lagi: sssh… sudah basah… sssh… sudah aman…

Api kecil yang lapar itu mengecil, mengecil, mengecil, lalu padam, seperti lilin yang ditiup sebelum tidur.

Para hewan bersorak. Katak Pohon melompat-lompat di genangan, plok-plok-kroook! Bu Alpaka berdiri di bawah hujan dengan mata terpejam, membiarkan bulunya dicuci langit. Tuan Beruang duduk di lumpur dan tertawa terbahak-bahak, hoh-hoh-hoh, sampai perutnya berguncang.

Tapi… di mana Zizi?


Mereka mencarinya. Di semak-semak. Di dahan-dahan. Di antara bunga-bunga.

Akhirnya Katak Pohon yang menemukannya: di bawah sehelai daun lebar, basah kuyup, bulunya kelabu oleh jelaga, matanya terpejam. Tubuhnya tampak mungil sekali di atas lumpur.

“Zizi?” bisik Katak Pohon.

Tuan Beruang mengangkat Zizi dengan sangat, sangat hati-hati di telapak cakarnya yang besar, seperti mengangkat sebutir telur. Semua menahan napas.

Lalu, pelan sekali… zrr.

Sayap kecil itu bergerak.

Zrrr… zrrr…

Zizi membuka satu matanya. “Apinya… sudah selesai?” tanyanya lemah.

“Sudah, Zizi,” kata Tuan Beruang lembut. “Sudah selesai.”

Zizi tersenyum, paruhnya bergetar. “Wah,” katanya. “Itu pertama kalinya aku menyelesaikan sesuatu.”

Dan semua hewan tertawa. Tertawa sambil menangis, seperti langit yang sedang hujan sambil diterangi matahari sore.


Hujan turun tiga hari tiga malam. Sesudah itu, Nenek Awan tidak kembali ke puncak gunung. Ia memutuskan tinggal rendah, di antara batang-batang pohon, mengelus lumut, dan membisiki telinga siapa saja, seperti dulu.

Di tepi hutan, tempat api pernah lewat, tanah hitam mulai ditumbuhi tunas-tunas hijau kecil. Dan tunas pertama yang muncul adalah tunas bunga fuchsia merah.

Lalu Zizi?

Ia masih cepat. Masih ceria. Masih ingin tahu segalanya. Sayapnya masih berbunyi zrrr… zrrr… zing!

Tapi kini, setiap pagi, ia menyelesaikan satu hal sebelum memulai hal lain. Ia menyelesaikan sarangnya: bulat, lembut, dari kapas tanaman dan benang laba-laba. Ia menyelesaikan lagunya bersama burung sikatan. Ia menghitung jamur sampai delapan, sembilan, sepuluh, bahkan sampai seratus dua puluh tiga.

Dan suatu sore, ia kembali ke dahan Kakek Kondor.

“Kakek,” katanya. Kali ini ia hinggap dan melipat sayapnya dengan rapi. “Ceritakan lagi tentang batu-batu yang memakai topi. Kali ini aku akan mendengar sampai habis.”

Kakek Kondor tertawa. Suaranya seperti batu yang digulirkan dengan gembira.

“Baiklah, Cucu Kecil. Dahulu kala, di negeri yang jauh di utara, ada seorang anak perempuan yang suka menghitung segalanya…”

Dan Zizi mendengarkan. Sampai habis.


Nah, Nak, sekarang pejamkan matamu.

Kalau suatu hari kau merasa terlalu kecil untuk masalah yang terlalu besar, ingatlah Zizi. Kau tak perlu memadamkan seluruh api sendirian. Kau hanya perlu membawa setetes, lalu setetes lagi, dan tidak berhenti di tengah jalan.

Siapa tahu ada yang melihatmu dari jauh. Siapa tahu setetesmu membuat orang lain ikut membawa setetes. Dan siapa tahu, dari tetes-tetes kecil itu, langit pun ikut menangis bahagia.

Setetes untuk daun, setetes untuk sarang, setetes untuk esok yang masih panjang.

Selamat tidur.


Catatan Pendongeng

  • Asal inspirasi: dongeng ini terinspirasi dari kisah rakyat tentang kolibri yang membawa setetes air untuk memadamkan kebakaran hutan. Kisah itu sering disebut berasal dari masyarakat Quechua di Pegunungan Andes, Amerika Selatan, dan dikenal luas di seluruh dunia lewat Wangari Maathai, pejuang lingkungan dan peraih Nobel Perdamaian dari Kenya, dengan kalimat sang kolibri: “Aku melakukan yang aku bisa.” Tokoh Zizi, Hutan Awan Berbisik, Gunung Seribu Embun, Nenek Awan, dan jalan ceritanya adalah karangan baru. Hutan awan di lereng Andes memang ada: hutan yang hidup dari kabut, rumah bagi banyak jenis kolibri, beruang berkacamata, dan burung kondor.
  • Tema: ketekunan menyelesaikan apa yang sudah dimulai; perbuatan kecil yang berarti; keberanian yang menular; bekerja bersama.
  • Dunia yang saling terhubung: batu-batu bertopi jerami di gunung yang tidur, yang diceritakan Kakek Kondor, berasal dari dongeng pekan lalu, Ulin dan Batu Penunggu Kedelapan.
  • Usia pendengar: 4–9 tahun. Waktu baca: sekitar 15–18 menit bila dibacakan pelan.
  • Tip membacakan: mainkan bunyi-bunyinya (zrrr… zing!, tsss, kroook, tik-tik-tik) dan ajak anak ikut menyanyikan lagu “Setetes untuk daun”. Sampaikan juga dengan lembut bahwa di dunia nyata, bila melihat api, anak-anak menjauh dan segera memanggil orang dewasa.

Obrolan Setelah Dongeng

  1. Mengapa Zizi tetap membawa air, padahal hanya setetes?
  2. Pernahkah kamu memulai sesuatu lalu berhenti di tengah jalan? Apa satu hal yang ingin kamu selesaikan pekan ini?
  3. Menurutmu, kenapa Nenek Awan akhirnya mau turun dan menurunkan hujan?

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca