Dengarlah, Nak. Di sebuah negeri yang jauh, lebih jauh dari ujung jari kakimu dan lebih tinggi dari burung yang paling berani, ada sebuah gunung yang suka tidur. Namanya Gunung Tidur. Setiap musim dingin ia menarik selimut kabut putih sampai ke dagunya, lalu mendengkur pelan, hrrr… hrrr…, dan dengkurannya terdengar seperti angin yang lewat di sela-sela pohon pinus.

Di kaki Gunung Tidur ada sebuah desa kecil bernama Desa Kabut Pagi. Rumah-rumahnya beratap jerami, cerobongnya berasap tipis, dan jendelanya kecil-kecil seperti mata yang mengantuk.

Di rumah paling ujung, yang paling dekat dengan hutan, tinggallah seorang anak perempuan bernama Ulin, bersama kakeknya, Kakek Tambi.

Ulin pandai sekali menganyam topi jerami. Jari-jarinya lincah seperti kaki laba-laba yang sedang menari. Satu helai jerami ke kiri, satu helai ke kanan, putar, tekan, ikat. Dalam satu sore, ia bisa menyelesaikan satu topi yang bundar dan rapi.

Tetapi Ulin punya satu kebiasaan aneh.

Ulin suka menghitung. Bukan menghitung biasa, Nak. Ulin menghitung segalanya.

Ia menghitung butir nasi di mangkuknya. Ia menghitung kayu bakar di samping tungku. Ia menghitung berapa kali Kakek Tambi batuk di malam hari, dan berapa kali ayam tetangga berkokok di pagi hari.

Dan yang paling sering, ia menghitung untung dan rugi.

“Kalau aku memberimu satu kue,” katanya pada anak tetangga, “kau harus memberiku satu kelereng. Satu untuk satu. Itu adil.”

“Kalau aku membantumu menimba air,” katanya pada nenek di sebelah rumah, “nanti kau harus membantuku menjemur jerami. Dua ember untuk dua ikat. Itu adil.”

Lalu Ulin akan bersenandung kecil, sebuah lagu hitungan yang ia buat sendiri:

Satu, dua, tiga, hitung yang ada,
empat, lima, enam, jangan sampai hilang,
yang kuberi harus kembali,
yang kembali harus kusimpan sendiri.

Kakek Tambi hanya tersenyum mendengarnya. Kakek Tambi adalah lelaki tua yang kurus seperti ranting, tetapi matanya hangat seperti bara di dalam tungku.

“Ulin,” katanya suatu kali, “ada hal-hal yang tidak bisa dihitung.”

“Semua bisa dihitung, Kek,” jawab Ulin sambil menghitung jerami. “Tiga puluh dua, tiga puluh tiga… Kalau tidak bisa dihitung, berarti tidak ada.”

Kakek Tambi tertawa kecil, lalu batuk. Satu kali. Dua kali. Ulin menghitungnya juga, dan diam-diam keningnya berkerut.


Musim dingin tahun itu datang lebih cepat dari biasanya.

Angin turun dari puncak Gunung Tidur dengan suara wuuung, wuuung, membawa dingin yang membuat gigi bergemeletak. Orang-orang Desa Kabut Pagi menyebutnya dingin gigilgemertak, karena dinginnya membuat tubuh menggigil dan gigi bergemertak bersamaan, tak-tak-tak-tak, seperti ada kodok kecil yang menari di dalam mulut.

Di rumah Ulin, karung beras tinggal sedikit. Ulin menghitungnya: tinggal dua genggam. Kendi minyak lampu hampir kosong. Ulin mengintipnya: tinggal tiga tetes.

Dan tiga hari lagi adalah Malam Lentera, malam paling terang di seluruh lembah. Pada malam itu, setiap rumah menyalakan lentera di jendela dan memasak bubur manis untuk menyambut tahun yang baru.

“Kek,” kata Ulin, “kita tidak akan punya lentera. Kita juga tidak akan punya bubur.”

Kakek Tambi menatap tumpukan topi jerami di sudut rumah. Ada enam topi, bundar, kuning keemasan, harum seperti sawah sehabis panen.

“Kita punya enam topi,” katanya. “Bawalah ke pasar di lembah. Juallah. Belilah beras dan minyak lampu.”

Mata Ulin berbinar. Ia segera menghitung: enam topi, masing-masing seharga satu kantong beras. Enam kantong beras! Itu cukup untuk bubur Malam Lentera, cukup untuk sebulan, cukup untuk… ia menghitung lagi… cukup untuk banyak sekali!

Esok paginya, Ulin menumpuk keenam topi itu di punggungnya, memakai topinya sendiri yang paling tua, dan melilitkan syal merah rajutan Kakek Tambi di lehernya. Syal itu satu-satunya benda berwarna merah di rumah mereka. Ulin menyayanginya.

“Hati-hati di Jalan Tujuh Penunggu,” pesan Kakek Tambi di ambang pintu.


Nah, Nak, sekarang kau harus tahu tentang Jalan Tujuh Penunggu.

Jalan itu menurun berkelok-kelok dari Desa Kabut Pagi ke pasar di lembah. Di pinggir jalan itu, berjajar di bawah pohon pinus, berdirilah tujuh patung batu kecil. Bentuknya bulat-bulat seperti roti yang baru mengembang. Wajahnya sederhana: dua mata yang terpejam dan satu senyum yang tipis sekali. Bahunya ditumbuhi lumut hijau.

Tidak ada yang ingat siapa yang membuat mereka. Kata orang tua-tua, mereka sudah berdiri di sana sejak Gunung Tidur masih kecil dan belum belajar tidur. Orang desa menyebut mereka Batu Penunggu. Kata orang, merekalah yang menjaga para pejalan agar tidak tersesat di dalam kabut.

Setiap kali lewat, Ulin menghitung mereka. Selalu sama.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Tujuh Batu Penunggu. Lengkap.”

Pagi itu pun ia menghitung mereka, lalu berlari kecil menuruni jalan, karena pasar sudah menunggu dan topi-topinya berdesir-desir di punggung.


Pasar di lembah ramai sekali. Ramai dan riuh, riuh dan rendah, seperti sarang lebah yang sedang berpesta.

Ada penjual lentera kertas berwarna jingga. Ada penjual kue beras yang mengepul. Ada penjual kayu manis, penjual jahe, penjual kaus kaki wol yang tebalnya seperti roti.

Ulin menggelar topi-topinya di atas sehelai tikar.

“Topi jerami! Topi jerami! Bundar dan rapi, kuat dan wangi!”

Orang-orang lewat. Mereka melirik, lalu terus berjalan.

“Topi jerami? Di musim dingin?” kata seorang bapak sambil tertawa. “Nak, sekarang orang butuh lentera, bukan topi untuk menahan matahari!”

Ulin menunggu. Ia menghitung orang yang lewat. Sepuluh. Dua puluh. Lima puluh. Seratus. Tidak satu pun yang membeli.

Matahari bergeser ke barat. Salju mulai turun, mula-mula seperti tepung yang diayak, lalu seperti bulu angsa yang dikebaskan dari bantal raksasa.

Para pedagang mulai mengemasi dagangannya. Pasar menjadi sepi. Hanya tinggal Ulin, enam topinya, dan salju yang turun, turun, turun.

Ulin menghitung uang di sakunya. Nol. Ia menghitung topi di tikarnya. Masih enam.

“Enam topi, nol kantong beras,” bisiknya. “Ini rugi. Ini rugi sekali.”

Dengan langkah berat, Ulin mengangkat topi-topinya kembali ke punggung dan mulai mendaki pulang.


Jalan Tujuh Penunggu kini sudah putih semuanya. Salju sudah setinggi mata kaki, lalu setinggi betis. Angin gigilgemertak bertiup dari puncak gunung. Wuuung, wuuung. Gigi Ulin ikut menari. Tak-tak-tak-tak.

Lalu Ulin sampai di bawah pohon-pohon pinus, tempat para Batu Penunggu berdiri.

Dan ia berhenti.

Ketujuh patung batu itu tertimbun salju. Salju menumpuk di kepala mereka yang bulat, menutupi mata mereka yang terpejam, menetes dingin di pipi mereka yang dingin. Lumut di bahu mereka sudah membeku menjadi kristal-kristal kecil.

Mereka terlihat… kedinginan.

“Batu tidak bisa kedinginan,” kata Ulin pada dirinya sendiri. “Batu itu batu.”

Tapi kakinya tidak mau melangkah.

Ulin memandang Batu Penunggu yang pertama. Salju di kepalanya tebal seperti kue yang terlalu banyak krimnya. Ulin memandang topi-topi di punggungnya. Lalu memandang batu itu lagi.

Kepalanya mulai menghitung, seperti biasa:

Kalau aku memberi satu topi, apa yang kudapat? Nol. Batu tidak bisa membayar. Batu tidak bisa membalas. Satu untuk nol. Itu tidak adil.

Tetapi hatinya, yang selama ini jarang ia dengarkan karena kepalanya terlalu ribut menghitung, berbisik lain:

Dia kedinginan. Kau punya topi. Itu saja.

Ulin menggigit bibir. Lalu, pelan-pelan, ia menurunkan satu topi dari punggungnya, mengibaskan salju dari kepala Batu Penunggu yang pertama, dan memakaikan topi itu di sana.

Topinya pas. Pas sekali, seolah-olah dibuat memang untuknya.

Ulin melangkah ke Batu Penunggu yang kedua. Ia kibaskan saljunya, ia pakaikan topinya. Lalu yang ketiga. Lalu yang keempat. Yang kelima. Yang keenam.

Kini punggung Ulin kosong. Dan masih ada satu Batu Penunggu lagi, yang ketujuh, yang kepalanya putih penuh salju.

Ulin meraba kepalanya sendiri. Di sana ada topinya yang paling tua, topi yang sudah ia pakai sejak tiga musim dingin yang lalu. Pinggirnya sudah sedikit robek. Tapi masih hangat.

Kepala Ulin menghitung lagi, lebih keras sekarang:

Kalau kau berikan topimu sendiri, kau yang akan kedinginan! Itu bukan rugi lagi. Itu rugi kuadrat! Rugi berlipat! Rugi yang paling rugi!

Ulin memejamkan mata. Ia mendengar angin. Ia mendengar giginya sendiri. Tak-tak-tak.

Lalu ia melepas topinya, dan memakaikannya pada Batu Penunggu yang ketujuh.

Batu yang ketujuh itu lehernya retak sedikit, ada celah tipis tempat angin bisa menyusup. Ulin melihat celah itu. Ia memegang syal merah di lehernya sendiri, syal satu-satunya, syal kesayangannya.

Kali ini kepalanya tidak menghitung apa-apa. Kepalanya terlalu terkejut untuk berhitung.

Ulin melilitkan syal merah itu di leher Batu Penunggu yang ketujuh. Satu lilitan, dua lilitan, simpul.

“Nah,” katanya dengan suara bergetar. “Sekarang kalian bertujuh hangat semua.”

Ia hendak berbalik pulang. Tapi tepat saat itu, kakinya tersandung sesuatu.

Tuk.

Ulin menunduk. Di bawah salju, di antara akar pinus, ada sesuatu yang bulat dan kecil. Ulin menyibak salju dengan tangannya yang beku.

Di sana, setengah terkubur, ada sebuah batu penunggu yang mungil. Kecil sekali, tidak lebih besar dari sebuah kendi. Matanya terpejam, senyumnya tipis, dan lumut di bahunya hanya sebesar kuku.

Ulin terpana.

“Delapan?” bisiknya. “Delapan? Tapi… aku selalu menghitung tujuh. Selama ini aku selalu menghitung tujuh!”

Batu mungil itu sudah ada di sana selama ini. Terlalu kecil untuk terlihat. Terlalu diam untuk dihitung. Bertahun-tahun ia berdiri di bawah akar pinus, menjaga pejalan, dan tak seorang pun pernah menyebut namanya.

Ulin tidak punya topi lagi. Tidak punya syal lagi. Tidak punya apa-apa lagi.

Tapi di dasar keranjangnya masih tersisa helai-helai jerami, sisa-sisa anyaman yang biasanya ia hitung dan simpan untuk nanti.

Maka Ulin duduk di atas salju. Dengan jari-jari yang kaku dan merah karena dingin, ia mulai menganyam. Satu helai ke kiri, satu helai ke kanan, putar, tekan, ikat. Tangannya gemetar. Jeraminya sedikit. Tapi ia terus menganyam, sementara salju turun di rambutnya dan bulan mulai naik di balik pinus.

Akhirnya jadilah sebuah topi kecil. Sekecil mangkuk. Tidak serapi topi-topi lainnya, agak miring dan agak penyok. Tapi itu topi.

Ulin memakaikannya pada batu yang mungil itu.

“Maaf,” bisiknya. “Maaf aku tidak pernah menghitungmu.”

Lalu ia berjalan pulang dalam gelap, tanpa topi, tanpa syal, tanpa uang, tanpa beras. Dan anehnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kepalanya diam. Tidak menghitung apa-apa.


Kakek Tambi membuka pintu dan melihat cucunya berdiri dengan rambut penuh salju.

“Ulin! Di mana topimu? Di mana syalmu?”

Ulin menceritakan semuanya. Tentang pasar yang sepi. Tentang tujuh batu penunggu yang kedinginan. Tentang batu kedelapan yang tidak pernah terhitung. Ia bercerita sambil menunduk, karena ia yakin Kakek akan berkata bahwa ia bodoh, bahwa ia merugi, bahwa malam ini mereka akan kelaparan.

Tetapi Kakek Tambi justru berlutut, membersihkan salju dari rambut Ulin dengan tangannya yang kurus, lalu memeluknya erat-erat.

“Kau tahu, Ulin,” katanya, “malam ini Kakek merasa menjadi orang paling kaya di seluruh lembah.”

“Tapi kita tidak punya beras, Kek. Dua genggam saja. Aku sudah menghitungnya.”

“Dua genggam cukup untuk dua mangkuk kecil,” kata Kakek Tambi. “Satu untukmu, satu untukku. Ayo kita masak.”

Mereka menanak dua genggam beras itu dengan tiga tetes terakhir minyak lampu menyala di samping tungku. Buburnya encer sekali. Tapi mereka memakannya berdua sambil duduk berdempetan, dan rasanya hangat sampai ke ujung jari kaki.

Lalu mereka tidur di bawah selimut tipis, sementara di luar Gunung Tidur mendengkur, hrrr… hrrr…


Tengah malam, Ulin terbangun.

Ada suara dari luar. Suara yang aneh. Suara yang belum pernah ia dengar.

Duk. Duk. Duk.

Seperti batu yang melangkah di atas salju.

Duk. Duk. Duk.

Dan bersama suara itu terdengar nyanyian. Nyanyian yang dalam dan lambat, seperti gunung yang sedang bergumam dalam mimpi:

Satu, dua, tiga, kami yang berdiri,
empat, lima, enam, di jalan yang sunyi,
tujuh dan delapan, kini turun ke kaki,
mencari rumah anak yang tak menghitung lagi.

Ulin merangkak ke jendela. Ia mengusap embun beku di kacanya. Dan ia melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

Di bawah bulan sabit yang perak, di atas salju yang berkilau seperti gula, para Batu Penunggu sedang berjalan menuruni jalan setapak menuju rumahnya. Mereka berjalan beriringan, satu di belakang yang lain, dengan langkah pelan, duk, duk, duk. Di kepala masing-masing ada topi jerami Ulin, bertabur salju seperti taburan gula halus. Lumut di bahu mereka sudah tidak beku lagi; hijaunya bercahaya lembut. Batu yang ketujuh berjalan dengan syal merah melilit lehernya, dan di tangannya yang bulat ia menjinjing sebuah lentera kertas yang menyala keemasan, menebarkan cahaya hangat di atas salju. Batu-batu yang lain memikul karung beras dan kendi tanah liat. Dan di paling belakang, terseok-seok dengan kaki yang pendek sekali, berjalanlah batu yang paling mungil, dengan topi kecilnya yang miring dan penyok, berusaha keras tidak tertinggal.

Ilustrasi patung-patung batu penunggu bertopi jerami berjalan beriringan menuruni jalan bersalju di bawah bulan sabit, membawa lentera, karung beras, dan kendi minyak menuju pondok kecil yang jendelanya bercahaya; batu yang mungil memakai syal merah.
Malam itu, batu-batu penunggu turun dari Jalan Tujuh Penunggu.

Ulin menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak menjerit.

Para Batu Penunggu berhenti di depan pintu rumahnya. Mereka meletakkan barang-barang bawaan mereka di atas tangga kayu, satu per satu, dengan hati-hati. Karung beras. Kendi minyak. Seikat kayu bakar. Sekeranjang jerami emas yang paling bagus. Dan yang terakhir, lentera kertas itu, digantung di paku dekat jendela, menyala terang.

Lalu batu yang paling mungil maju ke depan. Ia mengangkat tangannya yang sebesar biji kemiri, dan menempelkan sesuatu di kaca jendela, tepat di depan wajah Ulin.

Sebutir batu kecil, licin dan bulat, berwarna seperti madu.

Kemudian, tanpa berkata apa-apa, mereka berbalik dan berjalan pulang ke tempat mereka di bawah pinus. Duk. Duk. Duk. Nyanyian mereka makin jauh, makin pelan, hilang ditelan kabut dan dengkur Gunung Tidur.


Pagi harinya, Ulin dan Kakek Tambi membuka pintu.

Semuanya masih ada di sana. Karungnya penuh beras putih yang pulen. Kendinya penuh minyak yang jernih. Kayu bakarnya kering dan wangi. Lenteranya masih menyala, padahal minyaknya tidak pernah ditambah.

Ulin mulai menghitung karung beras itu, seperti kebiasaannya.

“Satu kantong, dua kantong, tiga…”

Lalu ia berhenti. Ia tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menyelesaikan hitungannya.

“Kek,” katanya, “kurasa ini terlalu banyak untuk kita berdua.”

Kakek Tambi mengangkat alis. “Lalu?”

Ulin memandang ke arah desa. Ke rumah nenek di sebelah yang cerobongnya tidak berasap sejak kemarin. Ke rumah anak tetangga yang jendelanya gelap. Ke rumah-rumah kecil beratap jerami yang mungkin juga hanya punya dua genggam beras.

“Lalu kita bagi,” kata Ulin. “Tanpa dihitung.”

Dua malam kemudian, di Malam Lentera, setiap rumah di Desa Kabut Pagi memasak bubur manis. Setiap jendela menyala. Dan di jendela rumah paling ujung, yang paling dekat dengan hutan, tergantung sebuah lentera kertas yang tidak pernah padam, dan di bawahnya, di ambang jendela, tersimpan sebutir batu kecil berwarna madu.


Sejak hari itu, Ulin masih suka berhitung. Ia tetap menghitung jerami agar topinya rapi. Ia tetap menghitung kayu bakar agar tungkunya tidak padam. Berhitung itu baik, Nak, kalau dipakai untuk merapikan dunia.

Tetapi Ulin tidak lagi menghitung kebaikan. Sebab ia sudah belajar, di bawah salju dan pohon pinus, bahwa kebaikan itu seperti batu penunggu yang kedelapan: kadang terlalu kecil untuk terlihat, terlalu diam untuk dihitung, tetapi selalu ada di sana, menjaga kita di jalan yang berkabut.

Dan setiap kali ia lewat di Jalan Tujuh Penunggu, yang kini oleh anak-anak desa diam-diam dijuluki Jalan Delapan Penunggu, Ulin selalu berhenti, menyapu salju dari kepala mereka, membetulkan topi-topi mereka, dan bersenandung lagu hitungannya yang baru:

Satu, dua, tiga, yang tampak di mata,
empat, lima, enam, yang diam di sana,
tujuh, delapan, dan yang tak terhitung,
hati yang hangat selalu beruntung.

Kalau suatu hari kau pergi ke negeri yang jauh dan menemukan jalan berkabut dengan batu-batu kecil bertopi jerami di pinggirnya, berhentilah sebentar, Nak. Sapalah mereka. Dan jangan lupa melihat ke bawah, di antara akar-akar pohon.

Siapa tahu ada satu yang belum pernah dihitung oleh siapa pun.

Selamat tidur.


Catatan Pendongeng

  • Asal inspirasi: Dongeng ini terinspirasi dari cerita rakyat Jepang Kasa Jizō (“Topi untuk Jizō”), tentang sepasang kakek-nenek miskin yang memakaikan topi jerami pada patung-patung batu Jizō yang tertimbun salju di malam tahun baru, lalu dibalas dengan hadiah pada malam harinya. Tokoh, latar, dan jalan ceritanya di sini adalah karangan baru: Ulin si penghitung, Kakek Tambi, Desa Kabut Pagi, Gunung Tidur, Malam Lentera, dan batu penunggu kedelapan yang tak pernah terhitung.
  • Tema: kemurahan hati tanpa pamrih; memberi tanpa menghitung untung-rugi; memperhatikan yang kecil dan terlupakan.
  • Usia pendengar: 4–9 tahun.
  • Waktu baca: sekitar 18–22 menit bila dibacakan perlahan.
  • Tips membacakan: nyanyikan lagu hitungan dengan nada naik-turun, ketukkan jari di meja saat bunyi duk, duk, duk, dan ajak anak ikut berhitung bersama Ulin.

Obrolan sebelum tidur:

  • Mengapa Ulin tidak pernah melihat batu penunggu yang kedelapan selama ini?
  • Kalau kamu jadi Ulin, apakah kamu akan memberikan syal merah kesayanganmu? Mengapa?
  • Siapa “batu kecil yang tak terhitung” di sekitarmu, orang yang diam-diam menjagamu tetapi jarang kita ucapkan terima kasih?

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca