Dengarlah, Nak. Di dunia ini ada kota yang punya seribu kubah, dan di bawah setiap kubah ada seribu cerita. Malam ini kita akan mendengar satu saja: cerita tentang sebuah mantel yang sangat, sangat, sangat bangga pada dirinya sendiri.
Kota Seribu Kubah
Jauh di tepi padang pasir yang berwarna seperti roti panggang, berdirilah Kota Seribu Kubah. Kubah-kubahnya bulat seperti bawang, ada yang biru, ada yang hijau, ada yang keemasan bila matahari sore menyentuhnya.
Di tengah kota ada pasar yang tidak pernah tidur. Di sana orang menjual kurma semanis madu, kain selembut asap, dan teko kuningan yang berbunyi ting-tang-ting bila disentuh angin.
Dan di sudut pasar itu, di bawah sebatang pohon kurma yang miring, duduklah Paman Juhar.
Paman Juhar menjual kurma. Tetapi sebenarnya, yang paling banyak ia jual bukanlah kurma, melainkan cerita. Siapa pun yang membeli segenggam kurma darinya akan pulang membawa satu cerita gratis. Kadang cerita tentang unta yang takut pada bayangannya sendiri. Kadang cerita tentang bintang yang jatuh ke dalam sumur dan malu untuk naik lagi.
Anak-anak menyukai Paman Juhar. Kucing-kucing pasar menyukai Paman Juhar. Bahkan burung gereja yang cerewet pun diam sebentar bila Paman Juhar mulai berkata, “Pada suatu masa…”
Si Tambal
Paman Juhar hanya punya satu mantel. Namanya Si Tambal.
Ya, Nak, di Kota Seribu Kubah, mantel-mantel punya nama. Dan bila malam sudah sangat sunyi, mereka bisa berbicara. Hanya saja, kebanyakan orang sudah tidur, jadi tak banyak yang tahu.
Si Tambal sudah tua. Warnanya cokelat seperti tanah sehabis hujan, dan di seluruh tubuhnya ada tambalan. Tambalan biru di siku kanan. Tambalan hijau di saku kiri. Tambalan merah di punggung, berbentuk agak seperti bulan sabit.
Setiap tambalan punya cerita.
Tambalan biru berasal dari kain layar seorang nelayan, yang memberikannya setelah Paman Juhar menolongnya menarik perahu. Tambalan hijau berasal dari selendang seorang nenek penjual rempah, yang merobek ujung selendangnya sendiri ketika saku Paman Juhar sobek tersangkut paku. Dan tambalan merah di punggung? Itu dari kain wol yang dibawa seorang pedagang dari negeri bersalju jauh di utara, negeri tempat, katanya, batu-batu di pinggir jalan memakai topi jerami.
Si Tambal suka menyanyikan lagunya sendiri, pelan-pelan, bila angin malam bertiup:
Tambal satu, cerita satu,
tambal dua, sahabat baru,
robek sedikit, jangan menangis,
dijahit hati, jadi manis.
Si Tambal hangat. Si Tambal bau kurma dan kayu manis. Si Tambal sudah menemani Paman Juhar selama tiga puluh musim panas dan tiga puluh musim dingin. Tidak ada mantel yang lebih setia di seluruh Kota Seribu Kubah.
Tuan Beledu Datang
Suatu hari, keponakan Paman Juhar pulang dari kota pelabuhan yang jauh. Ia membawa sebuah bungkusan besar berpita emas.
“Untuk Paman,” katanya, tersenyum lebar. “Supaya Paman tampak gagah.”
Paman Juhar membuka bungkusan itu. Dan keluarlah… sebuah mantel.
Tetapi bukan mantel biasa. Oh, bukan.
Mantel itu terbuat dari beledu ungu yang berkilau seperti langit senja. Kerahnya bersulam benang emas. Kancingnya tujuh buah, bulat dan mengilap seperti tujuh matahari kecil. Ujung lengannya berumbai-rumbai yang bergoyang srek-srek-srek bila digerakkan.
Malam itu, ketika Paman Juhar sudah mendengkur, mantel ungu itu menggantung dirinya di paku paling atas, di samping Si Tambal. Ia mengibaskan rumbai-rumbainya, lalu berdeham.
“Ehem. Perkenalkan. Aku Tuan Beledu. Beledu Kilaukemilau dari Kota Pelabuhan, mantel termahal di toko paling mahal di jalan paling mahal.”
“Selamat datang,” kata Si Tambal ramah. “Aku Si Tambal.”
Tuan Beledu memandangi Si Tambal dari kerah sampai ujung. Lama sekali. Lalu ia mendengus. “Hmph. Tambal. Nama yang cocok. Kau ini lebih banyak lubangnya daripada kainnya.”
“Lubangku sudah dijahit semua,” kata Si Tambal, tidak tersinggung. “Setiap jahitan ada ceritanya. Mau dengar cerita tambalan biruku?”
“Tidak, terima kasih,” kata Tuan Beledu. “Mantel sepertiku tidak perlu cerita. Mantel sepertiku cukup dilihat. Orang yang melihatku akan langsung tahu bahwa aku ini istimewa. Kilau-kemilau. Kemilau-kilau. Kau tunggu saja.”
Dan ia memutar-mutar kancingnya yang tujuh itu sampai berbunyi klik-klik-klik, seperti orang yang sedang menghitung uang.
Undangan Saudagar Kafur
Beberapa hari kemudian, datanglah undangan ke seluruh penjuru kota. Saudagar Kafur, orang terkaya di Kota Seribu Kubah, akan mengadakan Pesta Bulan Kurma.
Rumah Saudagar Kafur besarnya seperti tiga masjid digabung jadi satu. Lantainya pualam. Lampunya seratus. Dan konon, mejanya begitu panjang sampai-sampai orang yang duduk di ujung sana harus berteriak bila ingin minta garam kepada orang yang duduk di ujung sini.
“Semua penduduk kota diundang,” kata pembawa undangan, sambil memukul gendang kecil. Dung-dung-tak! “Semua!”
Paman Juhar senang sekali. Ia belum pernah masuk ke rumah Saudagar Kafur. “Akan ada banyak orang,” katanya kepada kucing pasar. “Akan ada banyak telinga. Mungkin aku bisa membawakan satu-dua cerita.”
Malam pesta pun tiba. Paman Juhar mencuci muka, menyisir janggutnya yang putih, lalu berdiri di depan dua paku.
Di paku atas, Tuan Beledu langsung menegakkan kerahnya dan menggoyangkan rumbainya. Srek-srek-srek. Pilih aku, pilih aku, pilih aku.
Tetapi Paman Juhar tersenyum dan mengambil Si Tambal. “Kau yang menemaniku tiga puluh tahun,” bisiknya. “Malam ini pun kau yang menemaniku.”
Tuan Beledu tertinggal di paku, merajuk sampai kancing ketujuhnya hampir lepas.
Pintu yang Sempit
Rumah Saudagar Kafur gemerlap seperti kotak perhiasan yang dibuka. Musik gambus mengalun, dang-ding-dung. Bau nasi kebuli, sup lentil, dan roti hangat melayang-layang di udara, membuat perut siapa pun bernyanyi.
Paman Juhar melangkah masuk dengan gembira. “Selamat malam!” sapanya kepada penjaga pintu.
Penjaga pintu memandangi Si Tambal. Tambalan biru. Tambalan hijau. Tambalan merah. Alisnya naik sebelah.
“Duduk di sana saja, Pak,” katanya, menunjuk sebuah bangku kecil di dekat pintu dapur, tempat angin dingin masuk dan bau bawang paling tajam.
Paman Juhar duduk. Ia menunggu.
Pelayan lewat membawa nampan nasi kebuli. Lewat begitu saja.
Pelayan lewat membawa sup lentil. Lewat begitu saja.
Pelayan lewat membawa kurma madu, roti wijen, dan kue mawar. Lewat, lewat, lewat begitu saja.
Paman Juhar mencoba menyapa tamu di sebelahnya. “Pernahkah Tuan mendengar cerita tentang unta yang takut pada bayangannya sendiri?”
Tamu itu, seorang bapak berjubah sutra, memandang tambalan merah di punggung Si Tambal, lalu memalingkan wajah seolah-olah tidak mendengar apa-apa.
Si Tambal merasakan bahu Paman Juhar turun sedikit. Lalu sedikit lagi.
Mantel tua itu ingin sekali memeluk Paman Juhar lebih erat. Maka ia melakukannya, sebisa sebuah mantel. Ia menghangatkan punggung Paman Juhar dan berbisik pelan sekali, sehingga hanya Paman Juhar yang mendengar:
Tambal satu, cerita satu,
tambal dua, sahabat baru…
Paman Juhar tersenyum kecil. Lalu ia berdiri, diam-diam, dan pulang.
Paman Juhar Berganti Mantel
Di rumah, Paman Juhar menggantung Si Tambal dengan lembut di paku bawah. Lalu ia memandang paku atas.
Tuan Beledu langsung berkilau-kilau. “Akhirnya!” serunya, meskipun Paman Juhar tentu tidak mendengar. “Akhirnya ia sadar! Kilaukemilau, sekarang giliranku!”
Paman Juhar mengenakan Tuan Beledu. Ia mengancingkan ketujuh kancing yang bulat mengilap itu, klik-klik-klik-klik-klik-klik-klik. Ia merapikan kerah bersulam emas. Ia menggoyangkan rumbai di lengannya, srek-srek.
Lalu ia berjalan kembali ke rumah Saudagar Kafur.
Dan, Nak, coba tebak apa yang terjadi?
Penjaga pintu yang tadi menaikkan alisnya kini membungkuk begitu rendah sampai hidungnya hampir menyentuh lutut. “Silakan, Tuan! Silakan, Tuan yang terhormat!”
Para pelayan berlarian. Seorang mengambilkan bantal sutra. Seorang lagi menuangkan air mawar. Seorang lagi menuntun Paman Juhar, bukan ke bangku dekat dapur, melainkan ke kursi paling empuk di ujung meja, tepat di samping Saudagar Kafur sendiri.
“Selamat datang, selamat datang!” kata Saudagar Kafur, yang perutnya bulat seperti kubah dan cincinnya sepuluh. “Betapa indah mantel Tuan! Dari mana Tuan datang?”
“Dari sudut pasar, di bawah pohon kurma yang miring,” jawab Paman Juhar jujur.
Tetapi tak seorang pun mendengar jawaban itu, sebab semua orang sibuk memandangi kancing yang tujuh.
Tuan Beledu, di tubuh Paman Juhar, hampir meledak karena bangga. Lihat, lihat, lihat! pikirnya. Aku sudah bilang! Orang cukup melihatku, dan semua pintu terbuka! Kilaukemilau! Kemilaukilau!
Lalu datanglah makanan. Banyak sekali makanan.
Nasi kebuli yang mengepul. Sup lentil kuning keemasan dalam mangkuk tembaga. Roti wijen. Kurma madu. Kue mawar bertabur kacang. Semua diletakkan di depan Paman Juhar, bertumpuk-tumpuk, seperti bukit kecil yang harum.
“Makanlah, Tuan, makanlah!” kata Saudagar Kafur.
Makanlah, Beledu, Makanlah!
Paman Juhar memandangi bukit makanan itu. Ia memandangi Saudagar Kafur. Ia memandangi bapak berjubah sutra, yang tadi berpaling darinya dan kini tersenyum-senyum manis kepadanya.
Lalu Paman Juhar melakukan sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh Kota Seribu Kubah.
Ia mengangkat ujung lengan Tuan Beledu, yang berumbai-rumbai itu, dan mencelupkannya ke dalam mangkuk sup lentil. Celup.
Ruangan menjadi sunyi.
Ia mengambil segenggam nasi kebuli dan memasukkannya ke saku kanan Tuan Beledu. Plek.
Musik gambus berhenti di tengah lagu. Dang-ding-d…
Ia mengambil sebutir kurma madu dan dengan hati-hati menyelipkannya ke lubang kancing yang ketujuh. Slup.
Seratus pasang mata membulat seperti seratus kubah kecil.
“Makanlah, Beledu,” kata Paman Juhar, lembut dan jelas, sehingga terdengar sampai ke ujung meja yang paling jauh. “Makanlah, makanlah. Malam ini engkaulah yang diundang. Bukan aku.”
Tuan Beledu merasakan sup lentil merembes di rumbainya, hangat dan lengket. Ia merasakan nasi kebuli bergerombol di sakunya. Ia merasakan kurma madu yang manis tersangkut di lubang kancingnya. Dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari toko paling mahal di jalan paling mahal, beledu ungunya berubah warna, dari ungu senja menjadi merah jambu tua, seperti pipi yang sangat, sangat malu.

Sebab tiba-tiba saja Tuan Beledu mengerti.
Semua senyum malam itu bukan untuk Paman Juhar. Semua bantal sutra, semua air mawar, semua kursi empuk, semuanya untuk tujuh kancing dan benang emas. Dan kancing tidak bisa bercerita. Benang emas tidak bisa tertawa bersama anak-anak. Rumbai-rumbai tidak pernah menolong nelayan menarik perahu.
Orang-orang ini tidak melihatnya, pikir Tuan Beledu, dan kancing-kancingnya terasa berat seperti batu. Mereka hanya melihatku. Dan aku… aku ini cuma kain.
Saudagar Kafur Menunduk
Saudagar Kafur berdeham. Wajahnya merah, lebih merah daripada beledu yang tersipu itu.
“Tuan,” katanya pelan, “mengapa Tuan memberi makan mantel Tuan?”
Paman Juhar tersenyum. Bukan senyum yang mengejek. Senyum yang sabar, seperti senyum seorang kakek kepada cucunya yang baru saja menumpahkan susu.
“Satu jam yang lalu, aku datang ke rumah ini,” katanya. “Wajahku sama. Janggutku sama. Perutku sama laparnya. Ceritaku sama banyaknya. Yang berbeda hanya mantelku. Waktu itu aku duduk di dekat dapur, dan tak sebutir kurma pun singgah padaku. Sekarang aku duduk di sini, dan makanan bertumpuk seperti bukit. Jadi aku berpikir, tentu yang Tuan undang adalah mantel ini. Maka biarlah mantel ini yang makan.”
Tidak ada yang berkata apa-apa. Bapak berjubah sutra memandangi lututnya. Penjaga pintu memandangi lantai pualam. Para pelayan memandangi nampan masing-masing.
Lalu terdengar suara kecil dari ujung meja. Seorang anak perempuan, cucu Saudagar Kafur, yang dari tadi bosan dan mengantuk, mendadak duduk tegak.
“Kakek,” katanya, “aku kenal paman ini. Dia paman kurma di pasar. Dia tahu cerita unta yang takut bayangannya sendiri!”
Dan anak-anak lain, yang tadi tersembunyi di balik ibu-bapak mereka, bermunculan seperti kelinci dari lubang. “Paman Juhar! Paman Juhar! Ceritakan yang tentang bintang di dalam sumur!”
Saudagar Kafur menghela napas panjang, panjang sekali, seperti angin yang keluar dari balon. Lalu ia berdiri. Ia membungkuk kepada Paman Juhar, rendah, lebih rendah daripada penjaga pintu tadi.
“Maafkan aku,” katanya. “Aku punya seratus lampu di rumah ini, tetapi malam ini mataku gelap. Maukah Tuan, maukah Paman, memaafkan kami? Dan maukah Paman bercerita?”
Paman Juhar tertawa. Tawanya hangat seperti roti yang baru keluar dari tungku.
“Tentu saja,” katanya. “Tetapi bolehkah aku minta satu hal? Bukalah pintu dapur itu lebar-lebar, dan undanglah penjaga pintu, para pelayan, dan juru masak untuk duduk dan mendengar juga. Cerita itu seperti sup. Makin banyak yang mencicipi, makin terasa enaknya.”
Maka malam itu, di rumah orang terkaya di Kota Seribu Kubah, untuk pertama kalinya, juru masak duduk di samping saudagar, pelayan duduk di samping pedagang sutra, dan anak-anak duduk bersila di lantai pualam, dan semua orang mendengarkan cerita tentang unta yang takut pada bayangannya sendiri. Mereka tertawa sampai kue mawar tumpah dari piring.
Malam di Antara Dua Paku
Lewat tengah malam, Paman Juhar pulang. Ia mencuci lengan Tuan Beledu yang berlepotan sup. Ia mengeluarkan nasi dari sakunya dan memberikannya kepada kucing-kucing pasar, yang berpesta sampai pagi. Ia mencabut kurma dari lubang kancing ketujuh dan memakannya, karena sayang kalau dibuang.
Lalu ia menggantung Tuan Beledu di paku atas, dan Si Tambal di paku bawah, dan ia pun tidur, mendengkur seperti kucing besar. Grrr… phuuu… grrr… phuuu…
Kamar itu sunyi lama sekali.
Akhirnya, dengan suara yang jauh lebih kecil daripada biasanya, Tuan Beledu berkata, “Tambal?”
“Ya?”
“Aku… aku masih bau sup lentil.”
“Sup lentil itu bau yang enak,” kata Si Tambal.
Hening lagi.
“Tambal,” kata Tuan Beledu, “malam ini semua orang memujiku. Tapi rasanya tidak enak. Rasanya seperti makan kue yang bagian dalamnya kosong.”
Si Tambal tidak menjawab. Ia hanya menunggu, seperti mantel tua yang tahu bahwa kadang seseorang perlu diberi ruang untuk menyelesaikan kalimatnya sendiri.
“Aku dulu bilang mantel sepertiku cukup dilihat,” lanjut Tuan Beledu. “Ternyata itu masalahnya. Orang cuma melihat. Mereka tidak sampai ke dalam. Kau… kau punya cerita di setiap tambalanmu. Aku tidak punya satu cerita pun. Aku cuma punya kancing.”
“Hmm,” kata Si Tambal. “Tapi sekarang kau punya satu.”
“Satu apa?”
“Satu cerita,” kata Si Tambal, dan suaranya seperti tersenyum. “Cerita tentang malam ketika sebuah mantel ungu diberi makan sup lentil di rumah saudagar, dan seluruh kota belajar sesuatu. Itu cerita yang bagus sekali. Aku bahkan agak iri.”
Tuan Beledu terdiam. Lalu, perlahan-lahan, kancing-kancingnya yang tujuh mulai terasa lebih ringan.
“Tambal,” katanya lagi.
“Ya?”
“Ceritakan padaku tentang tambalan birumu.”
Dan Si Tambal pun bercerita. Tentang nelayan dan perahu dan layar yang robek oleh angin. Lalu tentang tambalan hijau dan nenek penjual rempah. Lalu tentang tambalan merah dari negeri bersalju, tempat batu-batu memakai topi jerami. Tuan Beledu mendengarkan semuanya, tanpa memutar kancingnya sekali pun, sampai fajar mengintip di balik kubah-kubah kota.
Tambalan Pertama Tuan Beledu
Beberapa pekan kemudian, ketika Paman Juhar sedang bercerita di bawah pohon kurma yang miring, seorang anak kecil berlari terlalu cepat dan tersandung tali tenda. Ia jatuh, dan lututnya berdarah, dan ia menangis keras sekali.
Paman Juhar sedang memakai Tuan Beledu hari itu. Tanpa berpikir dua kali, ia merobek ujung rumbai lengan mantelnya, sreeet, dan memakainya untuk membalut lutut anak itu.
Kalau dulu, Tuan Beledu pasti akan menjerit. Rumbaiku! Rumbai mahalku!
Tetapi hari itu, Tuan Beledu tidak menjerit. Ia malah merasa hangat, hangat dari ujung kerah sampai ujung kelim, sehangat Si Tambal.
Malamnya, Paman Juhar menjahit lengan yang robek itu dengan secarik kain cokelat. Kain itu diambil dari sisa-sisa kain Si Tambal yang ia simpan di laci.
Dan malam itu, di antara dua paku, Tuan Beledu memamerkan lengannya kepada Si Tambal. Kali ini bukan kancingnya yang ia pamerkan.
“Lihat,” katanya bangga, bangga yang lain, bangga yang lembut. “Tambalan pertamaku. Ceritanya tentang seorang anak yang lututnya luka.”
“Indah sekali,” kata Si Tambal. “Indah sekali.”
Lalu kedua mantel itu bernyanyi bersama, pelan-pelan, satu suara serak dan satu suara yang masih belajar:
Tambal satu, cerita satu,
tambal dua, sahabat baru,
robek sedikit, jangan menangis,
dijahit hati, jadi manis.
Sejak Malam Itu
Sejak malam itu, di Kota Seribu Kubah, ada kebiasaan baru. Setiap kali Saudagar Kafur mengadakan pesta, pintu dapurnya dibuka lebar-lebar, dan bangku di dekat pintu tidak pernah lagi dipakai untuk menyingkirkan tamu. Bangku itu kini dipakai untuk tempat duduk siapa pun yang datang paling akhir, dan orang itulah yang pertama dilayani.
Dan bila ada anak yang tampak terlalu sibuk memandangi sepatu baru temannya, atau tas mengilap temannya, para ibu di kota itu akan berkata sambil tersenyum, “Hati-hati, nanti kau harus memberi makan sup kepada tasmu.”
Lalu anak-anak tertawa, dan mereka mengerti.
Kalau suatu hari kau pergi ke Kota Seribu Kubah, Nak, carilah pohon kurma yang miring di sudut pasar. Di bawahnya, mungkin kau akan bertemu seorang paman berjanggut putih. Kadang ia memakai mantel cokelat penuh tambalan. Kadang ia memakai mantel ungu yang kancingnya tujuh, dengan satu tambalan cokelat di lengannya, dan samar-samar, kalau kau mencium baik-baik, masih tercium bau sup lentil.
Belilah segenggam kurma. Dengarkan ceritanya.
Dan ingatlah: yang membuat seseorang berharga bukanlah kilau yang ia pakai di luar, melainkan cerita, kebaikan, dan kehangatan yang ia bawa di dalam. Kilau bisa pudar. Kancing bisa lepas. Tetapi hati yang hangat, Nak, hati yang hangat tidak pernah ketinggalan zaman.
Selamat tidur.
Catatan Pendongeng
Asal inspirasi. Dongeng ini terinspirasi dari kisah jenaka Nasreddin Hoca (Nasruddin/Nashruddin Hoja), tokoh cerita rakyat dari Turki yang juga dikenal luas di Timur Tengah, Persia, Asia Tengah, hingga Nusantara. Dalam salah satu kisahnya yang terkenal, “Makanlah, mantelku, makanlah!”, ia diabaikan di sebuah pesta karena berpakaian lusuh, lalu kembali dengan mantel bagus dan dijamu, dan ia pun menyuapi mantelnya. Tokoh, kota, mantel-mantel yang bisa berbicara, dan jalan ceritanya di sini adalah karangan baru. Gagasan benda yang hidup dan bersifat sombong juga mengingat dongeng-dongeng benda karya Hans Christian Andersen.
Tema. Menghargai seseorang dari hati dan perbuatannya, bukan dari penampilannya; kerendahan hati; kebanggaan yang sejati datang dari kebaikan.
Usia pendengar. 5–10 tahun.
Estimasi waktu baca lantang. Sekitar 20–25 menit. Bagian refrain “Tambal satu, cerita satu…” enak dinyanyikan bersama anak.
Benang dunia dongeng. Tambalan merah di punggung Si Tambal berasal dari negeri bersalju tempat batu-batu memakai topi jerami. Ingat Ulin dan batu-batu penunggu di dongeng Ulin dan Batu Penunggu Kedelapan?
Pertanyaan untuk obrolan setelah dongeng:
- Mengapa Paman Juhar memberi makan sup kepada mantelnya? Apa yang ingin ia tunjukkan?
- Kalau kamu punya mantel seperti Si Tambal, cerita apa yang ingin kamu “jahitkan” di tambalannya?
- Pernahkah kamu merasa diperlakukan berbeda karena barang yang kamu pakai? Bagaimana rasanya?





Tinggalkan Balasan