Les pèlerins au-dessus des nuages

Penelitian internasional mengidentifikasi fenomena “post-accreditation slump” di mana performa mutu rumah sakit meningkat menjelang survei akreditasi namun menurun setelahnya. Meskipun akreditasi memberikan manfaat jangka panjang, data menunjukkan 48 persen ukuran mutu mengalami penurunan pascasurvei, sementara hanya 4 persen yang membaik.

Peran Direktur dan Komite Mutu krusial dalam mencegah penurunan ini dengan memastikan pemantauan mutu berlangsung konsisten sepanjang tahun, bukan hanya saat persiapan survei. Pelaporan triwulanan dan dokumentasi berkelanjutan menjadi kunci untuk menjaga ritme pengukuran dan analisis yang stabil.

Tiga puluh hari sebelum jadwal survei STARKES, lampu di ruang Komite Mutu menyala hingga larut malam. Dokumen dikebut, data dirapikan, pelatihan mendadak digelar untuk seluruh staf. Tiga bulan setelah rumah sakit dinyatakan lulus dengan predikat paripurna, sebagian angka yang dulu dikejar mati-matian mulai melandai perlahan — bukan karena disengaja, melainkan karena intensitas perhatian yang sama tidak lagi dipertahankan begitu sertifikat sudah di tangan.

Pola ini bukan sekadar kesan subjektif. Ia telah diteliti secara empiris dan memiliki nama dalam literatur akreditasi kesehatan internasional. Artikel ini membuka Topik 4 seri PMKP dengan membahas fenomena tersebut, serta peran sentral Direktur dan Komite Mutu dalam mencegahnya.

Fenomena “Post-Accreditation Slump“: Bukti di Balik Siklus Akreditasi

Sebuah kerangka konseptual yang dikembangkan dari analisis deret waktu terputus (interrupted time series) terhadap ukuran mutu rumah sakit terakreditasi Joint Commission International mengidentifikasi empat fase siklus akreditasi: fase inisiasi, fase menjelang survei, fase kemerosotan pascaakreditasi (postaccreditation slump), dan fase stagnasi (PMC, 2014). Data empiris di balik model ini cukup mengejutkan: 74 persen ukuran mutu menunjukkan peningkatan signifikan pada periode menjelang akreditasi, namun akreditasi justru memberikan efek negatif yang lebih besar (48 persen ukuran) dibanding efek positif (hanya 4 persen ukuran) pada kemiringan tren performa pascaakreditasi (PMC, 2014).

Namun ada kabar baik di balik data ini. Studi yang sama menemukan bahwa meski terjadi penurunan performa sesaat setelah survei, terdapat manfaat residual tiga tahun kemudian dengan performa yang tetap terjaga pada kisaran 90 persen — sekitar 20 poin persentase lebih tinggi dibanding tingkat dasar sebelum siklus akreditasi dimulai (PMC, 2014). Dengan kata lain, lonjakan performa menjelang survei dan penurunan sesudahnya sama-sama nyata dan terdokumentasi secara ilmiah — tetapi jika dikelola dengan baik, siklus akreditasi tetap memberi manfaat bersih jangka panjang, bukan sekadar teater kepatuhan sesaat.

Hospital performance graph showing an accreditation dip followed by teamwork-driven improvement and ongoing excellence.
A hospital performance graph shows an accreditation-related dip followed by sustained improvement through collaborative teamwork.

Peran Direktur Bukan Sekadar Menjelang Survei

STARKES sesungguhnya sudah mengantisipasi risiko ini melalui standar TKRS 1, yang menegaskan bahwa pimpinan rumah sakit — Direktur dan pimpinan rumah sakit lain/wakil direktur — merencanakan, mengembangkan, dan menerapkan program peningkatan mutu dan keselamatan pasien sepanjang waktu, memilih mekanisme pengukuran data, serta memberikan arahan dan dukungan termasuk menyediakan sumber daya yang cukup agar Komite/Tim Penyelenggara Mutu dapat bekerja secara efektif (SNARS/STARKES, 2024). Yang tak kalah penting, regulasi ini juga mewajibkan komunikasi dan pemberian informasi tentang hasil program peningkatan mutu dan keselamatan pasien secara berkala setiap triwulan kepada Direktur dan staf (SNARS/STARKES, 2024) — bukan laporan tahunan yang hanya muncul menjelang survei.

Ketentuan pelaporan triwulanan ini adalah kunci penting mencegah post-accreditation slump: ia memaksa ritme pemantauan mutu tetap berjalan sepanjang tahun, terlepas dari kapan jadwal survei akreditasi berikutnya jatuh. Direktur yang hanya menagih laporan mutu tiga puluh hari sebelum survei — dan absen sepanjang sisa tahun — pada dasarnya sedang menciptakan kondisi ideal bagi kemerosotan performa yang telah didokumentasikan secara ilmiah tersebut.

Komite Mutu sebagai Jangkar Kontinuitas

Jika Direktur bertanggung jawab menetapkan arah dan menyediakan sumber daya, Komite Mutu adalah jangkar yang menjaga agar ritme pengukuran-validasi-analisis-tindak lanjut yang telah dibahas sepanjang seri ini — dari pengukuran indikator, validasi data, analisis tren KNC, hingga manajemen risiko terintegrasi — tetap berjalan konsisten sepanjang tahun, bukan hanya meningkat tajam pada bulan-bulan menjelang survei lalu kendur setelahnya. Peran koordinatif ini juga penting untuk mencegah duplikasi pengukuran antarunit, sebagaimana telah disinggung pada pembahasan IMP-Unit sebelumnya dalam seri ini.

Strategi Menghindari “Post-Accreditation Slump“

Beberapa langkah dapat membantu rumah sakit menjaga momentum mutu di luar periode survei:

Integrasikan pelaporan mutu ke ritme manajemen rutin, bukan menjadikannya proyek khusus H-30. Pelaporan triwulanan yang diwajibkan TKRS 1 perlu benar-benar dijalankan sebagai agenda tetap rapat manajemen, bukan formalitas yang baru “diaktifkan” menjelang survei.

Jaga dokumentasi selalu siap, bukan sedang disiapkan. Pendekatan kesiapan akreditasi berkelanjutan yang mulai diterapkan pada standar internasional terbaru menekankan bahwa dokumentasi seharusnya selalu dalam kondisi tersusun, bukan sedang disusun — ketika bukti telusur, data pemantauan rutin, dan dokumentasi kejadian dikelola dalam sistem yang terhubung, periode persiapan sebelum survei akan terlihat sama seperti minggu-minggu biasa lainnya, karena buktinya memang sudah ada (Vastian, 2026). Prinsip ini relevan diadaptasi rumah sakit Indonesia: kesiapan survei semestinya cerminan dari kebiasaan sehari-hari, bukan hasil kerja lembur tim khusus menjelang tanggal survei.

Pertahankan pemantauan tren pascasurvei, bukan berhenti setelah sertifikat terbit. Komite Mutu perlu secara sadar menjadwalkan tinjauan tren indikator pada bulan-bulan pertama pascaakreditasi — periode yang justru paling rentan terhadap penurunan berdasarkan data empiris di atas — alih-alih menganggap pekerjaan selesai begitu predikat akreditasi diperoleh.

Penutup

Data ilmiah menunjukkan bahwa lonjakan performa menjelang survei dan penurunan sesudahnya adalah pola yang nyata dan dapat diprediksi, bukan sekadar persepsi staf yang lelah setelah masa persiapan intensif. Peran Direktur dan Komite Mutu yang sesungguhnya bukan mengejar target setinggi mungkin pada hari survei, melainkan menjaga agar mutu rumah sakit tetap menjadi kebiasaan sepanjang tahun — sehingga ketika hari survei tiba, ia hanyalah konfirmasi dari apa yang sudah berjalan, bukan pertunjukan yang dipersiapkan dalam waktu singkat.


Catatan transparansi: Data empiris “postaccreditation slump” bersumber dari studi internasional pada rumah sakit terakreditasi Joint Commission International di luar negeri (Uni Emirat Arab); pola serupa pada konteks STARKES di Indonesia belum tentu identik besarannya, meski logika siklusnya kemungkinan relevan secara universal. Vignette pembuka adalah ilustrasi umum yang menggambarkan pola yang lazim ditemukan, bukan kejadian nyata dari rumah sakit tertentu.

Ringkasan: Studi internasional mendokumentasikan “post-accreditation slump” — performa mutu melonjak menjelang survei lalu menurun sesudahnya, meski manfaat bersih tetap ada dalam jangka panjang. Artikel ini membahas peran TKRS 1 (Direktur dan Komite Mutu) dalam menjaga ritme pemantauan mutu triwulanan yang konsisten sepanjang tahun, bukan hanya menjelang survei, untuk mencegah kemerosotan performa pascaakreditasi.

Daftar Pustaka

[Penulis tidak disebutkan]. (2014). The impact of hospital accreditation on quality measures: An interrupted time series analysis. PMC — PubMed Central. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4421919/

[Penulis tidak disebutkan]. (2014). The impact of hospital accreditation on clinical documentation compliance: A life cycle explanation using interrupted time series analysis. PubMed. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25095876/

SNARS.WEB.ID / STARKES 2024. (2024). Standar Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS). http://snars.web.id/rs/starkes-2024-tata-kelola-rumah-sakit-tkrs/

Vastian. (2026, April 23). Hospital accreditation readiness for Joint Commission 2026. https://www.vastian.com/blog/hospital-accreditation-readiness-the-continuous-preparation-guide

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan