Les pèlerins au-dessus des nuages

Di antara semua puisi tentang waktu yang pernah ditulis manusia, ada yang panjangnya hanya tiga puluh satu suku kata, dan tetap tak habis dibaca selama lebih dari seribu tahun. Pekan ini, Sabtu Sepenggal Sastra mengajak Anda ke Kyoto zaman Heian, ke bilik seorang perempuan istana yang memandang hujan.

Teks asli

花の色は
移りにけりな
いたづらに
我が身世にふる
ながめせしまに
Hana no iro wa
utsuri ni keri na
itazura ni
wa ga mi yo ni furu
nagame seshi ma ni

Terjemahan bebas

Warna bunga itu telah memudar,
sia-sia belaka,
selagi aku, menjalani hari-hariku di dunia ini,
termenung memandang hujan panjang.

Terjemahan di atas sengaja dibuat longgar. Bait aslinya hanya lima baris dengan pola 5-7-5-7-7 suku kata, bentuk yang disebut waka atau tanka. Seluruh makna puisi ini bertumpu pada dua kata yang masing-masing menyimpan dua lapis arti.

Asal-usul penggalan

Puisi ini ditulis oleh Ono no Komachi, penyair perempuan yang hidup pada abad ke-9 di istana Heian (kini Kyoto). Tanggal lahir dan wafatnya tidak diketahui pasti. Ia termasuk dalam Rokkasen, “Enam Dewa Puisi”, daftar enam penyair waka terbaik yang disebut dalam kata pengantar Kokin Wakashu, dan satu-satunya perempuan di antara mereka.

Bait ini tercantum dalam Kokin Wakashu (“Kumpulan Puisi Jepang Kuno dan Baru”), antologi puisi pertama yang disusun atas perintah kaisar, selesai sekitar tahun 905. Ia ada di jilid musim semi, nomor 113. Beberapa abad kemudian, Fujiwara no Teika memilihnya untuk Hyakunin Isshu (“Seratus Penyair, Seratus Puisi”, sekitar 1235), antologi yang hingga kini dipakai dalam permainan kartu karuta setiap Tahun Baru Jepang. Di sana ia menjadi puisi nomor 9, sehingga hampir setiap anak sekolah di Jepang mengenalnya.

Membaca lebih dekat

Pada permukaannya, puisi ini adalah pemandangan musim semi yang gagal. Bunga sakura sedang mekar ketika hujan turun berhari-hari; kelopaknya luntur dan jatuh sebelum sempat dinikmati. Bagi pembaca Heian, ini sudah cukup menyedihkan, sebab melihat bunga adalah ritual tahunan yang sangat dijaga.

Lalu muncul dua permainan kata (kakekotoba, kata poros) yang membuat puisi ini bernapas ganda. Pertama, furu berarti “turun” (seperti hujan) sekaligus “berlalu” atau “menua” (seperti usia). Kedua, nagame berarti “termenung memandang”, dan bunyinya sama dengan naga-ame, “hujan yang panjang”. Maka baris-baris terakhir dapat dibaca sebagai hujan yang turun lama, atau sebagai seorang perempuan yang membiarkan usianya lewat sambil melamun. Keduanya benar pada saat yang sama.

Di sinilah puisi itu bergeser dari alam ke diri. Hana no iro, “warna bunga”, bisa pula dibaca sebagai kecantikan pembicaranya sendiri. Komachi dalam tradisi dikenang sebagai perempuan yang sangat jelita, dan bait ini sering ditafsirkan sebagai ratapan atas pudarnya rupa itu. Namun tafsir lain menolak kesederhanaan itu: ada yang membacanya sebagai kegelisahan tentang cinta yang tak terjawab, ada pula yang menekankan kata itazura ni, “sia-sia”, sebagai penyesalan tentang waktu yang terbuang dalam kesendirian, bukan semata soal paras. Tidak ada jawaban tunggal, dan keterbukaan itulah yang membuat puisi ini bertahan.

Perhatikan juga betapa tenangnya nada puisi ini. Tak ada seruan, tak ada tangis. Pembicara hanya menyatakan bahwa bunga telah memudar, seolah ia baru menyadarinya setelah lama menatap keluar. Partikel keri pada baris kedua menandai penemuan yang terlambat: ia baru tahu setelah semuanya terjadi. Kesedihannya adalah kesedihan orang yang melihat waktu lewat tepat ketika ia sedang tidak mengawasi.

Sebagai pembaca di luar tradisi Jepang, kita mungkin teringat pada ubi sunt dalam sastra Eropa atau pada pantun dan syair lama kita yang gemar bercermin pada alam. Namun yang khas dari waka ini adalah kerendahan hatinya: waktu tidak dilawan, hanya diakui, dengan satu helaan napas yang tertata dalam tiga puluh satu bunyi.

Tentang penyairnya

Hidup Ono no Komachi lebih banyak diketahui lewat legenda daripada catatan. Ia dikisahkan sebagai kecantikan tiada banding yang menolak banyak pelamar, lalu menua dalam kemiskinan. Kisah ini kemudian diolah menjadi drama Noh, antara lain Sotoba Komachi yang dikaitkan dengan Kan’ami, tentang Komachi renta yang masih menyimpan ketajaman pikir. Sebagian besar legenda itu muncul berabad-abad setelah ia wafat dan sulit diverifikasi, jadi sebaiknya dibaca sebagai cermin gagasan Jepang tentang kefanaan, bukan biografi.

Di mana membaca versi utuhnya

Karena puisi ini berusia lebih dari seribu tahun, ia berada di ranah publik dan teks aslinya mudah ditemukan. Kokin Wakashu dan Hyakunin Isshu tersedia dalam teks Jepang di Aozora Bunko dan di basis data waka milik International Research Center for Japanese Studies (Nichibunken). Untuk pembaca berbahasa Inggris, terjemahan Helen Craig McCullough atas Kokin Wakashu (Stanford University Press) dan terjemahan Peter McMillan atas Hyakunin Isshu (One Hundred Poets, One Poem Each) cukup mudah dicari. Terjemahan Indonesia atas waka klasik masih sedikit; jika Anda tahu edisi yang baik, saya senang mendengarnya.

Sabtu depan, kita akan melangkah ke tempat lain lagi di peta sastra dunia.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan