Sabtu Sepenggal Sastra, edisi kedua. Setiap Sabtu, satu penggal sastra dari sudut dunia yang berbeda.

Penggalannya

اگر آن ترک شیرازی به دست آرد دل ما را
به خال هندویش بخشم سمرقند و بخارا را

Agar an Tork-e Shirāzi be dast ārad del-e mā rā
Be khāl-e Hendu-yash bakhsham Samarqand o Bokhārā rā

Hafez dari Shiraz (sekitar 1315–1390), bait pembuka ghazal dalam Divan

Terjemahan bebas saya: jika si Turk dari Shiraz itu sudi menggenggam hati kami, akan kuberikan Samarkand dan Bukhara demi tahi lalat hitam di pipinya.

Hafez wafat enam setengah abad lalu, sehingga karyanya sudah menjadi milik umum dan bait pembukanya boleh kita tampilkan utuh dalam aksara aslinya.

Sebuah tawaran yang tak masuk akal

Mari mulai dari kejanggalannya. Samarkand dan Bukhara bukan kampung biasa. Pada masa Hafez, keduanya adalah permata Transoksiana, kota-kota karavan, madrasah, dan observatorium yang namanya terdengar sampai ke Syiraz dan jauh melampauinya. Dan sang penyair menawarkannya sekaligus, sebagai pembayaran untuk sesuatu yang nyaris tak kasatmata: sebuah khāl, bintik hitam kecil di wajah kekasih.

Di situlah kecerdikan bait ini. Hafez memakai hiperbola bukan untuk membesar-besarkan kecantikan, melainkan untuk memutarbalikkan skala nilai. Kekuasaan, perdagangan, dan kemegahan kota diletakkan di satu sisi timbangan; sebuah titik kecil di pipi di sisi lain, dan timbangan itu condong ke titik kecil tersebut. Kata Hendu (“India”, dalam arti hitam seperti kulit atau arang) menambah lapisan: titik itu hitam pekat, sehitam benda dari negeri jauh, dan gelapnya justru memancarkan cahaya bagi si pencinta.

Siapa si Turk dari Shiraz?

Dalam puisi Persia klasik, tork (Turk) adalah citra baku bagi kekasih yang jelita sekaligus kejam: bermata sipit, bersenjata busur, memandang tanpa belas kasihan. Pembaca abad ke-14 langsung mengenali topeng ini. Ghazal, bentuk puisi yang dikuasai Hafez dengan nyaris tak tertandingi, memang hidup dari ambiguitas semacam itu. Siapakah kekasih dalam ghazal? Seorang pemuda? Seorang perempuan? Seorang pangeran pelindung penyair? Atau Tuhan sendiri?

Tradisi tafsir sufi membaca “tahi lalat” sebagai titik tunggal (noqte) keesaan Ilahi, yaitu pusat dari segala keberagaman, sehingga menukar dua kota dengan titik itu berarti menukar dunia dengan Yang Esa. Pembaca sekuler membacanya sebagai puisi cinta yang sensual dan jenaka. Kejeniusan Hafez adalah ia tidak pernah memaksa kita memilih. Kedua bacaan bekerja bersamaan, dan puisi ini justru bergetar di antara keduanya. Maknanya tidak tunggal, dan memang tidak dimaksudkan tunggal.

Anekdot Timur Lenk, dan kehati-hatian kita

Bait ini terkenal juga karena sebuah cerita. Konon Timur (Tamerlane), penakluk yang menjadikan Samarkand ibu kotanya, memanggil Hafez dan menegurnya: aku menaklukkan separuh dunia demi membesarkan Samarkand dan Bukhara, dan kau menjual keduanya demi sebuah tahi lalat? Hafez, kata cerita itu, menjawab bahwa justru kemurahan hati semacam itulah yang membuatnya jatuh miskin. Timur tertawa dan menghadiahinya.

Cerita ini indah, tetapi para sarjana umumnya menganggapnya legenda yang tumbuh belakangan. Rentang hidup keduanya memang bersinggungan, dan Timur merebut Shiraz pada 1380-an, tetapi pertemuan itu tidak punya dasar sumber yang kuat. Saya menyebutnya bukan sebagai fakta, melainkan sebagai bukti betapa kuat bait ini mencengkeram imajinasi: orang merasa perlu menciptakan adegan agar kemurahan hati si penyair punya saksi.

Apa yang terjadi setelah dua baris itu

Ghazal ini tidak berhenti pada hiperbola pembukanya. Bait-bait berikutnya memanggil sang pelayan (sāqi) agar menuangkan anggur, menyebut sungai Roknabad dan taman Mosalla di Shiraz yang tak akan ditemukan di surga, lalu bergerak ke nasihat tentang usia muda dan kearifan para tua. Anggur, dalam leksikon Hafez, adalah lambang yang berganda: kenikmatan duniawi bagi yang membaca harfiah, mabuk ilahi bagi yang membaca mistis. Ghazal ini diakhiri dengan penyair menyebut namanya sendiri (takhallos), kebiasaan baku dalam bentuk ini.

Perhatikan pula musikalitasnya. Seluruh bait berakhir pada rā, kata sambung kecil yang dalam bahasa Persia menandai objek, dan didahului bunyi “ā” yang berulang (radif dan qāfiyeh, dua pengikat bunyi dalam ghazal). Bahkan tanpa memahami bahasanya, telinga menangkap lengkung berulang itu, seperti gelombang yang pulang ke pantai yang sama.

Mengapa masih relevan

Di dunia yang gemar mengukur segalanya dengan angka, dua baris ini mengajukan pertanyaan lama yang tetap tajam: apa yang sebenarnya bernilai bagi kita, dan berapa banyak yang rela kita lepaskan untuknya? Hafez menjawab dengan senyum, tanpa khotbah. Barangkali itu sebabnya Divan-nya masih dibuka di banyak rumah Iran, Afghanistan, dan Tajikistan, bukan hanya dibaca tetapi dipakai untuk fāl, meminta petunjuk lewat halaman yang terbuka secara acak. Dan, kita tahu, yang paling awet dari sebuah puisi bukan jawabannya, melainkan keberanian pertanyaannya.

Asal-usul dan di mana membaca versi utuhnya

  • Penyair: Khwaje Shamsoddin Mohammad Hafez-e Shirazi, lahir dan wafat di Shiraz (Iran), abad ke-14. Makamnya, Hafezieh, di Shiraz, masih ramai diziarahi.
  • Karya: Divan-e Hafez, kumpulan ghazal berbahasa Persia klasik. Susunan dan jumlah ghazalnya berbeda antarnaskah, dan edisi kritis yang paling banyak dirujuk adalah suntingan Mohammad Ghazvini dan Qasem Ghani, serta suntingan Khanlari.
  • Teks Persia daring: perpustakaan puisi Persia Ganjoor (ganjoor.net) memuat seluruh Divan secara gratis.
  • Terjemahan Inggris: Poems from the Divan of Hafiz oleh Gertrude Lowthian Bell (1897) sudah berstatus domain publik dan tersedia di Project Gutenberg. Hati-hati dengan sejumlah “terjemahan” populer masa kini yang lebih tepat disebut penggubahan bebas dan jauh dari teks aslinya.
  • Bahasa Indonesia: terjemahan utuh Divan belum banyak beredar luas. Pembaca Indonesia umumnya berkenalan lewat kutipan dan kajian tasawuf. Saya akan senang bila Anda tahu edisi yang layak dan mau berbagi di kolom komentar.

Catatan: terjemahan Indonesia dalam artikel ini adalah terjemahan bebas penulis dari teks Persia, dan bukan satu-satunya pembacaan yang mungkin. Edisi pekan lalu: Li Qingzhao, “Sheng Sheng Man”.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca