Seorang perempuan berusia 42 tahun dirujuk ke instalasi gawat darurat dengan penurunan kesadaran, distres pernapasan, dan tanda-tanda syok. Pada pemeriksaan fisik ditemukan gangren pada kaki, sementara analisis gas darah menunjukkan asidosis metabolik berat dengan pH 6,994 dan kadar bikarbonat hanya 8 mmol/L, disertai keton darah yang tinggi. Pasien ini datang dengan komplikasi ketoasidosis diabetik yang disertai syok sepsis akibat infeksi pada kakinya—sebuah kombinasi kegawatan yang membutuhkan penanganan cepat dan multidisiplin.
Kasus semacam ini menggambarkan betapa ketoasidosis diabetik (KAD) bukan sekadar “gula darah tinggi”, melainkan kondisi kegawatdaruratan metabolik yang dapat mengancam nyawa dalam hitungan jam bila tidak ditangani dengan tepat.
Apa Itu Ketoasidosis Diabetik?
Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik pada diabetes melitus yang didefinisikan sebagai trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis metabolik. Kondisi ini menyebabkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi, meski terapi diabetes telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir.
KAD terjadi akibat defisiensi insulin absolut atau relatif yang berat, sehingga tubuh tidak mampu menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Sebagai kompensasi, tubuh memecah lemak menjadi asam lemak bebas yang kemudian diubah hati menjadi badan keton. Penumpukan keton inilah yang menyebabkan asidosis metabolik, sementara hiperglikemia yang menyertainya memicu diuresis osmotik, dehidrasi berat, dan gangguan elektrolit—terutama kalium.
Meski secara klasik dikaitkan dengan diabetes tipe 1, KAD juga dapat terjadi pada pasien diabetes tipe 2, terutama dalam kondisi stres berat seperti infeksi, penghentian terapi insulin, atau penggunaan obat golongan penghambat sodium-glucose cotransporter (SGLT2 inhibitor) yang belakangan semakin banyak diresepkan.
Siapa yang Berisiko dan Apa Pemicunya?
Faktor pencetus KAD paling umum adalah infeksi, yang dapat memicu respons inflamasi tubuh yang tidak teregulasi hingga berkembang menjadi disfungsi organ mengancam jiwa atau bahkan sepsis. Pencetus lain yang sering ditemui meliputi penghentian atau pengurangan dosis insulin tanpa pengawasan medis, penggunaan obat golongan steroid, serangan jantung akut, pankreatitis, serta stres fisiologis berat lainnya.
Standards of Care in Diabetes 2026 dari American Diabetes Association (ADA) secara khusus menekankan pentingnya edukasi bagi individu berisiko KAD yang menjalani terapi SGLT2 inhibitor mengenai risiko dan tanda ketoasidosis, penyediaan alat pengukuran keton (misalnya β-hidroksibutirat serum), serta anjuran untuk menghindari pola makan ketogenik yang dapat memperberat risiko ini. ADA 2026 juga merekomendasikan agar riwayat krisis hiperglikemia—baik KAD maupun sindrom hiperglikemia hiperosmolar (SHH)—ditinjau ulang pada setiap kunjungan klinis bagi seluruh individu dengan diabetes yang berisiko mengalami kondisi ini, disertai edukasi terstruktur mengenai pengenalan, pencegahan, dan tata laksananya.
Pada anak-anak dengan diabetes melitus tipe 1, insiden KAD dilaporkan mencapai 1–12 per 100 pasien setiap tahun, sementara pada populasi dewasa secara umum, angka kejadian KAD diperkirakan berkisar 0 hingga 56 kasus per 1.000 orang setiap tahunnya.
Bagaimana Cara Mendiagnosisnya?
Diagnosis KAD ditegakkan berdasarkan trias biokimia: kadar glukosa darah tinggi (umumnya di atas 250 mg/dL), adanya ketonemia atau ketonuria, serta asidosis metabolik dengan anion gap yang meningkat. Pemeriksaan penunjang meliputi kadar glukosa darah, analisis gas darah untuk menilai pH dan bikarbonat, elektrolit serum (khususnya kalium, natrium, dan klorida), fungsi ginjal, serta pemeriksaan keton darah atau urin.
Kriteria resolusi KAD ditetapkan sebagai kadar glukosa darah di bawah 200 mg/dL disertai minimal dua dari kriteria berikut: kadar bikarbonat serum ≥15 mEq/L, pH darah >7,3, dan anion gap ≤12 mEq/L. Pemantauan berkala terhadap parameter ini sangat penting untuk memastikan target terapi tercapai dan mencegah komplikasi lanjutan.
Pada kasus dengan komorbid gagal jantung, penilaian status hidrasi memerlukan pendekatan yang lebih cermat, karena pemberian cairan yang agresif berisiko memperberat kondisi jantung. Penilaian dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisik seperti tingkat kesadaran, tanda vital, capillary refill time, turgor kulit, dan tekanan vena jugularis, maupun metode penunjang seperti ekokardiografi, bioimpedance vector analysis (BIVA), dan pemeriksaan brain natriuretic peptide (BNP) untuk kasus yang lebih kompleks.
Prinsip Tata Laksana
Tata laksana KAD bertujuan memulihkan volume sirkulasi dan perfusi jaringan, mengatasi ketoasidosis, serta mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit dan asidosis. Tiga pilar utama tata laksana meliputi:
Terapi cairan. Rehidrasi dengan cairan salin normal menjadi langkah awal untuk memperbaiki perfusi jaringan, mengurangi konsentrasi glukosa darah, dan menekan hormon kontraregulasi. Pada kondisi hipoperfusi, umumnya diberikan bolus cairan 10 mL/kgBB, dengan total bolus yang jarang melebihi 20 mL/kgBB kecuali dengan konsultasi spesialis. Ketika glukosa darah menurun ke rentang tertentu, cairan rehidrasi perlu diganti menjadi larutan yang mengandung dekstrosa untuk mencegah hipoglikemia sekaligus mempertahankan koreksi asidosis secara bertahap.
Terapi insulin. Insulin diberikan secara kontinu melalui infus intravena dengan dosis tetap, umumnya bolus awal 0,1 unit/kgBB dilanjutkan infus rumatan 0,1 unit/kgBB/jam. Panduan terbaru justru merekomendasikan untuk tidak lagi memberikan bolus insulin intravena secara rutin, karena dapat meningkatkan risiko hipoglikemia, hipokalemia, dan pergeseran osmolalitas serum yang lebih besar. Sejumlah pedoman internasional bahkan menyarankan pemberian insulin basal kerja panjang bersamaan dengan infus insulin intravena untuk mencegah hiperglikemia rebound tanpa meningkatkan risiko hipoglikemia.
Koreksi kalium. Insulin dan koreksi asidosis menggeser kalium ke dalam sel, sehingga kadar kalium yang tampak normal pada awal presentasi klinis dapat turun drastis begitu terapi dimulai. Bila kadar kalium di bawah 5,5 mEq/L, umumnya diberikan tambahan 20–30 mEq kalium pada setiap liter cairan infus, dengan target rentang kalium 4–5 mEq/L.
Di lingkungan IGD Indonesia, pendekatan sistematis ABCDE (airway, breathing, circulation, disability, exposure) menjadi kerangka kerja standar sebelum memulai protokol spesifik KAD, guna memastikan stabilisasi jalan napas dan sirkulasi terlebih dahulu sebelum tata laksana metabolik dilanjutkan.

Mengapa Pemantauan Ketat Diperlukan?
Keberhasilan tata laksana KAD sangat bergantung pada pemantauan berkala terhadap parameter klinis dan laboratorium untuk memastikan target terapi tercapai tanpa menimbulkan komplikasi baru seperti hipoglikemia, hipokalemia, atau edema serebral—komplikasi serius yang terutama mengancam pasien anak-anak. Pemeriksaan laboratorium yang hanya dilakukan sekali di awal tanpa evaluasi ulang berkala berisiko membuat perburukan kondisi pasien tidak terdeteksi secara dini, sebagaimana tergambar dalam sejumlah laporan kasus di Indonesia yang mencatat keterbatasan pemantauan laboratorium serial selama perawatan.
Sebuah tinjauan pengetahuan, sikap, dan praktik dokter terhadap protokol KAD yang diperbarui di Arab Saudi menemukan adanya kesenjangan pemahaman klinis terhadap protokol terkini, yang menggarisbawahi pentingnya pembaruan berkala pengetahuan tenaga medis, termasuk di Indonesia, terhadap perkembangan pedoman tata laksana KAD. Data audit di Inggris juga menunjukkan bahwa adopsi pembaruan protokol—seperti penurunan bertahap laju infus insulin ketika glukosa darah mendekati target—memerlukan waktu signifikan untuk diterapkan secara konsisten di lapangan, sehingga edukasi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan menjadi kunci memperbaiki luaran klinis pasien KAD.
Peran Fasilitas Kesehatan Primer dan Rujukan
Bagi layanan kesehatan primer di Indonesia, kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal KAD—seperti penurunan kesadaran, napas cepat dan dalam (napas Kussmaul), serta riwayat diabetes yang tidak terkontrol atau penghentian insulin—penting untuk mempercepat rujukan ke fasilitas dengan kapasitas perawatan intensif. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) telah menyusun protokol manajemen krisis hiperglikemia, termasuk KAD dan SHH, sebagai bagian dari pedoman tata laksana pasien hiperglikemia di rumah sakit, yang mencakup pendekatan infus insulin intravena dengan laju bervariasi (variable rate intravenous insulin infusion, VRIII) yang disesuaikan berdasarkan perubahan kadar glukosa darah dari waktu ke waktu.
Edukasi pasien mengenai tanda bahaya KAD, pentingnya kepatuhan terhadap terapi insulin, serta langkah darurat saat sakit (sick day rules) tetap menjadi strategi pencegahan paling efektif, khususnya bagi pasien diabetes tipe 1 dan pengguna terapi SGLT2 inhibitor yang berisiko mengalami ketoasidosis meski kadar glukosa darahnya tidak terlalu tinggi (euglycemic DKA).
Catatan Transparansi
Data insiden KAD yang dikutip dalam artikel ini sebagian besar berasal dari studi internasional dan laporan kasus institusional di Indonesia, karena belum tersedia data insiden KAD tingkat nasional yang representatif di Indonesia. Angka insiden pada anak (1–12 per 100 pasien per tahun) dan dewasa (0–56 per 1.000 orang per tahun) berasal dari sumber literatur berbeda dan tidak sepenuhnya dapat dibandingkan secara langsung karena perbedaan populasi dan metodologi pengukuran.
Referensi
American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). 16. Diabetes care in the hospital: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care, 49(Suppl. 1), S339–S355. https://doi.org/10.2337/dc26-S016
American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). 5. Facilitating positive health behaviors and well-being to improve health outcomes: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care, 49(Suppl. 1).
Al-Rasheedi, M., Ibrahim, B., Haider, K. H., Ali, A. A., & Zainal, H. (2026). Knowledge, attitude, and practice of physicians toward the management of diabetic ketoacidosis. Frontiers in Clinical Diabetes and Healthcare. https://doi.org/10.3389/fcdhc.2026.1723632
Alomedika. (2026). Penatalaksanaan ketoasidosis diabetik. https://www.alomedika.com/penyakit/endokrinologi/diabetes-ketoasidosis/penatalaksanaan
Dokter Post. (2017). ABCDE penanganan ketoasidosis diabetes di IGD. https://dokterpost.com/blog/abcde-penanganan-ketoasidosis-diabetes-di-igd
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2023). Tatalaksana pasien dengan hiperglikemia di rumah sakit. PB PERKENI. https://pbperkeni.or.id/wp-content/uploads/2023/05/Tatalaksana-Pasien-dengan-Hiperglikemia-di-Rumah-Sakit.pdf
Sharma, A., Rengarajan, L., Narendran, P., Dhatariya, K., Kempegowda, P., et al. (2025). Guidelines for the management of diabetes-related ketoacidosis (DKA) have been poorly adopted and implemented, resulting in a lack of improvement in outcomes. Diabetic Medicine. https://doi.org/10.1111/dme.70010
[Penulis laporan kasus]. (n.d.). Tatalaksana pasien ketoasidosis diabetikum yang disertai syok sepsis. Jurnal Anestesi dan Perawatan Kritis Indonesia (PERDATIN). https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/download/128/172/
[Penulis]. (n.d.). Ketoasidosis diabetik pada anak. Cermin Dunia Kedokteran. https://cdkjournal.com/index.php/cdk/article/download/1083/969/11469





Tinggalkan Balasan