Fixed Drug Eruption (erupsi obat tetap) adalah salah satu jenis erupsi obat yang sering dijumpai ( ICD 10: L27.0 Generalized skin eruption due to drugs and medicaments). Darinamanya dapat disimpulkan bahwa kelainan akan terjadi berkali-kali pada tempat yang sama. Mempunyai tempat predileksi dan lesi yang khas berbeda dengan Exanthematous Drug Eruption. FDE merupakan reaksi alergi tipe 2 (sitotoksik).
Umumnya pasien datang keluhan kemerahan atau luka pada sekitar mulut, bibir, atau di alat kelamin, yang terasa panas. Keluhan timbul setelah mengkonsumsi obatobat yang sering menjadi penyebab seperti Sulfonamid, Barbiturat, Trimetoprim, dan analgetik.
Anamnesis yang dilakukan harus mencakup riwayat penggunaan obat-obatan atau jamu. Kelainan timbul secara akut atau dapat juga beberapa hari setelah mengkonsumsi obat. Keluhan lain adalah rasa gatal yang dapat disertai dengan demam yang subfebril.
Faktor risiko untuk kondisi ini antara lain adalah riwayat konsumsi atau penggunaan obat, riwayat atopi pada pasien dan keluarga, riwayat alergi pada alergen lainnya, serta ada riwayat alergi obat sebelumnya.
Temuan klinis pemeriksaan fiksi berupa tanda patognomonis khas berupa vesikel dan ruam, eritema, berbentuk bulat/lonjong (numular), kadang disertai dengan erosi, bisa muncul hiperpigmentasi pada tepinya (umum pada lesi yang muncul berulang). Lebih umum muncul pada lokasi predileksi seperti sekitar mulut (bibir), daerah penis atau vulva. Pemeriksaan penunjang lebih lanjut umumnya tidak diperlukan.
Penegakan diagnosis umumnya cukup melalui anamnesis dan temuan klinis pada pemeriksaan fisik. Beberapa diagnosis banding untuk kasus FDE di antaranya adalah pemfigoid bulosa, selulitis, herpes simpleks, dan steven johnson syndrome.
Pada prinsipnya, obat yang diduga menyebabkan FDE dihentikan. Jika hal ini dapat dilakukan, dan obat yang menyebabkan FDE dihentikan, maka erupsi obat akan membaik dengan sendirinya.
Sementara keluhan dapat dikurangi dengan terapi menggunakan kortikosteroid, antihistamin, serta terapi topikal yang menyesuaikan keadaan lesi. Jika lesi terjadi erosi kompres dengan larutan garam fisiologis dapat membantu, hingga erosi membaik.
Rujukan dipertimbangkan bila lesi bertambah, menyerang mukosa dengan kondisi yang buruk, atau mengarah pada kecurigaan sindrom Steven Johnson. Juga dipertimbangkan pada kasus yang tidak mengalami perbaikan setelah tujuh hari terapi.
Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.
Keputusan Menteri Kesehatan 294/2026 mengatur syarat rekomendasi untuk membuka program studi kesehatan baru, mencakup kajian kesesuaian dengan kebutuhan tenaga kesehatan, kerja sama dengan fasilitas terakreditasi, dan penjaminan mutu. Tujuan utama adalah menyeimbangkan jumlah lulusan dengan kebutuhan layanan kesehatan di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan pemerataan tenaga medis.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan