Bayangkan seorang bapak berusia 68 tahun di Kupang yang sudah beberapa bulan sesekali merasakan nyeri di perut kanan atas setelah makan berlemak. Suatu malam ia menggigil hebat, demamnya tinggi, dan keesokan paginya keluarga menyadari matanya menguning. Dalam hitungan jam, tekanan darahnya turun dan ia tampak bingung. Cerita ini hanya ilustrasi, tetapi pola seperti ini sangat dikenal di ruang gawat darurat: kolangitis akut, yaitu infeksi pada saluran empedu yang dapat berubah menjadi sepsis bila terlambat ditangani.

Apa itu kolangitis akut?

Hati menghasilkan empedu yang mengalir lewat saluran empedu menuju usus halus. Pada keadaan normal, empedu relatif steril dan alirannya yang lancar ikut menjaga saluran tetap bersih. Kolangitis akut terjadi ketika dua hal bertemu: sumbatan yang membuat empedu terbendung, dan bakteri yang berkembang biak di dalam empedu yang macet. Tekanan di dalam saluran meningkat sehingga bakteri dan racunnya dapat masuk ke aliran darah. Itulah sebabnya kolangitis dapat cepat berkembang menjadi sepsis (Kiriyama et al., 2018).

Kondisi ini berbeda dengan kolesistitis (radang kandung empedu) maupun batu empedu yang belum menimbulkan infeksi. Pada kolangitis, yang meradang dan terinfeksi adalah saluran empedu itu sendiri, sehingga prinsip pengobatannya tidak cukup dengan antibiotik: sumbatannya harus dibebaskan.

Penyebab yang paling sering

Kelompok penyebabContohCatatan
Batu saluran empeduBatu di saluran empedu utama (koledokolitiasis)Penyebab tersering di banyak negara
Penyempitan jinakJaringan parut pascaoperasi, pankreatitis kronis, peradanganSering berulang bila tidak diatasi
TumorKanker kepala pankreas, kanker saluran empedu, tumor ampulaPerlu dicurigai pada usia lanjut dengan kuning yang tidak nyeri sebelumnya
Tindakan dan alatStent empedu plastik yang tersumbat, komplikasi ERCPRisiko nyata pada pasien dengan stent
ParasitCacing gelang (Ascaris), cacing hati (Clonorchis, Opisthorchis, Fasciola)Relevan di daerah endemik cacing; jarang tetapi penting

Bakteri yang paling sering ditemukan berasal dari usus, terutama Escherichia coli, Klebsiella, Enterococcus, Enterobacter, dan kadang kuman anaerob (Gomi et al., 2018).

Gejala: trias Charcot dan pentad Reynolds

Gambaran klasik disebut trias Charcot: demam (sering menggigil), kuning pada kulit dan mata (ikterus), serta nyeri perut kanan atas. Bila disertai tekanan darah turun dan penurunan kesadaran, gambaran itu disebut pentad Reynolds dan menandakan penyakit yang berat. Perlu diingat, tidak semua pasien memperlihatkan trias lengkap; banyak yang hanya datang dengan demam dan nyeri perut, terutama lansia. Karena itu, para ahli mengembangkan kriteria diagnosis yang lebih peka (Kiriyama et al., 2018).

Bagaimana dokter menegakkan diagnosis?

Pedoman Tokyo Guidelines 2018 (TG18) memakai tiga kelompok temuan: tanda peradangan sistemik (A), tanda hambatan aliran empedu atau kolestasis (B), dan temuan pencitraan (C). Diagnosis dianggap curiga bila ada satu butir A ditambah satu butir B atau C, dan pasti bila ketiganya ada (Kiriyama et al., 2018).

KelompokButirAmbang
A. Peradangan sistemikA-1 Demam dan/atau menggigilSuhu di atas 38 °C
A-2 Pemeriksaan darahLeukosit <4.000 atau >10.000/µL; CRP ≥1 mg/dL
B. KolestasisB-1 IkterusBilirubin total ≥2 mg/dL
B-2 Tes fungsi hati abnormalALP, GGT, AST, ALT lebih dari 1,5 kali batas atas normal
C. PencitraanC-1 Pelebaran saluran empeduUSG, CT, atau MRI/MRCP
C-2 Bukti penyebabPenyempitan, batu, atau stent

Pemeriksaan pertama yang paling mudah dan tersedia luas, termasuk di rumah sakit daerah, adalah USG perut. Pemeriksaan lanjutan dapat berupa CT scan atau MRCP, sedangkan biakan darah sebaiknya diambil sebelum antibiotik diberikan. Penyakit lain yang juga memberi demam dan kuning perlu dipikirkan, misalnya hepatitis akut, abses hati, kolesistitis, pankreatitis, serta infeksi tropis seperti malaria, demam tifoid, leptospirosis, atau dengue berat yang di Indonesia kerap menyerupai kolangitis pada awalnya.

Derajat keparahan menentukan langkah

Setelah diagnosis ditegakkan, TG18 membagi kolangitis menjadi tiga derajat. Pembagian ini bukan sekadar label; ia menentukan seberapa cepat saluran empedu harus dibuka (Kiriyama et al., 2018; Miura et al., 2018).

DerajatKriteriaStrategi umum
I (ringan)Tidak memenuhi kriteria derajat II atau IIIAntibiotik dan perawatan suportif; drainase bila tidak membaik dalam sekitar 24 jam
II (sedang)Dua atau lebih dari: leukosit >12.000 atau <4.000/µL; demam ≥39 °C; usia ≥75 tahun; bilirubin total ≥5 mg/dL; albumin rendahDrainase empedu dini
III (berat)Disfungsi satu organ atau lebih: kardiovaskular (hipotensi yang perlu obat vasopresor), saraf (gangguan kesadaran), napas (PaO2/FiO2 <300), ginjal (oliguria atau kreatinin >2,0 mg/dL), hati (INR >1,5), darah (trombosit <100.000/µL)Drainase segera disertai dukungan organ di ruang rawat intensif

Pengobatan: antibiotik, cairan, dan drainase

Penanganan awal berjalan serentak: pasien dipuasakan, diberi cairan infus, pereda nyeri, dan dipantau tekanan darah serta produksi urin. Antibiotik spektrum luas diberikan secepat mungkin setelah biakan darah diambil. Pilihannya mengikuti derajat keparahan, riwayat paparan layanan kesehatan, dan pola kuman serta resistensi di tiap rumah sakit. Pada kasus ringan hingga sedang yang didapat dari masyarakat, golongan sefalosporin generasi ketiga atau kombinasi penghambat beta-laktamase dapat dipakai, sedangkan pada kasus berat dipertimbangkan piperasilin-tazobaktam atau karbapenem. Lamanya terapi umumnya sekitar 4 sampai 7 hari setelah sumber infeksi dikendalikan (Gomi et al., 2018). Pemilihan obat dan dosis tetap menjadi keputusan dokter yang merawat.

Namun antibiotik saja jarang cukup. Sumbatan harus dibuka lewat drainase empedu:

  • ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreatography): selang endoskopi melalui mulut untuk mengeluarkan batu, atau memasang stent dan selang drain nasobilier. Ini cara pilihan utama bila fasilitas dan operatornya tersedia.
  • Drainase perkutan (PTBD): jarum dan selang dimasukkan melalui kulit di bawah panduan pencitraan, bila ERCP gagal atau tidak mungkin dilakukan.
  • Pembedahan: dipertimbangkan bila cara di atas tidak tersedia atau tidak berhasil.

Di banyak rumah sakit kabupaten, ERCP belum tersedia. Pada situasi itu, langkah terpenting adalah menstabilkan pasien dan merujuk lebih awal ke fasilitas yang mampu melakukan drainase, bukan menunggu pasien memburuk. Menurut Tokyo Guidelines, pada derajat III keterlambatan rujukan sangat berbahaya (Miura et al., 2018).

Seberapa dini drainase harus dilakukan?

Analisis besar yang mendasari TG18 menunjukkan bahwa pada kolangitis derajat II, drainase dini atau segera dikaitkan dengan angka kematian 30 hari yang lebih rendah (Kiriyama et al., 2018). Studi-studi retrospektif terbaru memberi nuansa tambahan. Sebuah kohort 271 pasien di Turki melaporkan kematian 30 hari tertinggi pada kelompok yang menjalani ERCP dalam 24 jam, tetapi penulisnya menafsirkan hal itu lebih mungkin mencerminkan kondisi pasien yang sudah sangat tidak stabil saat datang, bukan efek buruk tindakan dini (Ayyıldızoğlu & Gören, 2026). Pada kohort 143 lansia di Jepang, drainase dalam 24 jam mempercepat kesembuhan klinis tanpa perbedaan kematian atau komplikasi dibanding drainase yang lebih lambat (Ichikawa et al., 2026). Karena keduanya retrospektif, hasilnya perlu dibaca hati-hati, dan keputusan waktu tindakan tetap mengikuti derajat keparahan serta kesiapan fasilitas.

Setelah sembuh: cegah kambuh

Bila penyebabnya batu, penyelesaian tuntas biasanya mencakup pengangkatan batu di saluran empedu dan, pada pasien yang layak dioperasi dengan batu kandung empedu, kolesistektomi untuk mencegah batu baru turun kembali (Buxbaum et al., 2019). Pasien dengan stent perlu kontrol terjadwal karena stent plastik dapat tersumbat. Sebuah studi prospektif melaporkan kolangitis dini terjadi pada sekitar sepertiga pasien (34,6%) setelah pemasangan stent plastik, dan biakan empedu yang positif saat pemasangan menjadi satu-satunya prediktor independennya (Doamna et al., 2026).

Kapan harus segera ke IGD?

  • demam tinggi dengan menggigil disertai mata atau kulit menguning;
  • nyeri perut kanan atas yang hebat atau menetap;
  • urin sangat pekat seperti teh dan tinja pucat;
  • pusing hebat, lemas, napas cepat, atau kebingungan;
  • keluhan di atas pada orang dengan riwayat batu empedu, stent empedu, atau operasi saluran empedu.

Pesan penutup

Kolangitis akut mudah dikenali bila kita ingat tiga kata kunci: demam, kuning, dan nyeri perut kanan atas, tetapi bahaya terbesarnya terletak pada keterlambatan. Antibiotik membantu, sementara pembukaan sumbatan menentukan hasil akhir. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan serta pengobatan oleh dokter di fasilitas pelayanan kesehatan.

Daftar pustaka

Ayyıldızoğlu, T., & Gören, İ. (2026). Association of ERCP timing with clinical outcomes in acute cholangitis secondary to choledocholithiasis: A retrospective cohort study. Journal of Clinical Medicine, 15(15), 6000. https://doi.org/10.3390/jcm15156000

Buxbaum, J. L., Abbas Fehmi, S. M., Sultan, S., Fishman, D. S., Qumseya, B. J., Cortessis, V. K., Schilperoort, H., Kysh, L., Matsuoka, L., Yachimski, P., Agrawal, D., Gurudu, S. R., Jamil, L. H., Jue, T. L., Khashab, M. A., Law, J. K., Lee, J. K., Naveed, M., Sawhney, M. S., … Wani, S. (2019). ASGE guideline on the role of endoscopy in the evaluation and management of choledocholithiasis. Gastrointestinal Endoscopy, 89(6), 1075–1105. https://doi.org/10.1016/j.gie.2018.10.001

Doamna, B., Sugeac, A., Popp, C., Benguş, A., Stoian, G., Voiosu, T. A., Mateescu, B., Voiosu, R., & Voiosu, A. M. (2026). Risk factors for early cholangitis following biliary plastic stent placement. Endoscopy International Open, 14, a29049716. https://doi.org/10.1055/a-2904-9716

Gomi, H., Solomkin, J. S., Schlossberg, D., Okamoto, K., Takada, T., Strasberg, S. M., Ukai, T., Endo, I., Iwashita, Y., Hibi, T., Pitt, H. A., Matsunaga, N., Takamori, Y., Umezawa, A., Asai, K., Suzuki, K., Han, H.-S., Hwang, T.-L., Hirata, K., … Yamamoto, M. (2018). Tokyo Guidelines 2018: Antimicrobial therapy for acute cholangitis and cholecystitis. Journal of Hepato-Biliary-Pancreatic Sciences, 25(1), 3–16. https://doi.org/10.1002/jhbp.518

Ichikawa, H., Maruta, A., Koide, K., Taniguchi, H., Imai, S., Matsushita, T., Shiroko, J., Iwashita, T., & Shimizu, M. (2026). Timing of endoscopic biliary drainage for acute cholangitis associated with common bile duct stones in elderly patients: A single-center retrospective cohort study. Journal of Clinical Medicine, 15(13), 5153. https://doi.org/10.3390/jcm15135153

Kiriyama, S., Kozaka, K., Takada, T., Strasberg, S. M., Pitt, H. A., Gabata, T., Hata, J., Liau, K.-H., Miura, F., Horiguchi, A., Liu, K.-H., Su, C.-H., Wada, K., Jagannath, P., Itoi, T., Gouma, D. J., Mori, Y., Mukai, S., Giménez, M. E., … Yamamoto, M. (2018). Tokyo Guidelines 2018: Diagnostic criteria and severity grading of acute cholangitis (with videos). Journal of Hepato-Biliary-Pancreatic Sciences, 25(1), 17–30. https://doi.org/10.1002/jhbp.512

Miura, F., Okamoto, K., Takada, T., Strasberg, S. M., Asbun, H. J., Pitt, H. A., Gomi, H., Solomkin, J. S., Schlossberg, D., Han, H.-S., Kim, M.-H., Hwang, T.-L., Chen, M.-F., Huang, W. S.-W., Kiriyama, S., Itoi, T., Garden, O. J., Liau, K.-H., Horiguchi, A., … Yamamoto, M. (2018). Tokyo Guidelines 2018: Initial management of acute biliary infection and flowchart for acute cholangitis. Journal of Hepato-Biliary-Pancreatic Sciences, 25(1), 31–40. https://doi.org/10.1002/jhbp.509

Tag dan ringkasan

Tags: kolangitis akut, saluran empedu, trias Charcot, ERCP, gastroenterologi, batu empedu, empedu

Blurb: Kolangitis akut adalah infeksi saluran empedu akibat sumbatan, paling sering oleh batu. Kenali demam, kuning, dan nyeri perut kanan atas, pahami kriteria diagnosis dan derajat keparahan Tokyo Guidelines 2018, serta mengapa drainase empedu tepat waktu menentukan hasil pengobatan.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca