Keputihan yang berubah warna, bercak darah setelah berhubungan intim, atau nyeri ringan di perut bagian bawah sering dianggap sepele. Seorang perempuan muda di Makassar mungkin menganggapnya “efek kelelahan”, seorang buruh pabrik di Karawang mengira itu “hanya jamur”, dan seorang ibu rumah tangga di Banyuwangi memilih menunggu sampai hilang sendiri. Padahal, kadang di balik keluhan tersebut ada servisitis, yaitu peradangan pada leher rahim (serviks). Yang lebih menyulitkan, banyak kasus berjalan tanpa gejala sama sekali.
Apa itu servisitis?
Serviks adalah bagian bawah rahim yang menyempit dan berhubungan dengan puncak liang vagina. Servisitis terjadi ketika lapisan sel di kanal serviks (endoserviks) meradang. Kondisi ini bukan kanker serviks dan bukan pula “lesi prakanker”, meski keduanya dapat memberi keluhan yang mirip, misalnya perdarahan setelah senggama. Karena itu, keluhan seperti ini tetap perlu diperiksa tenaga kesehatan (Workowski et al., 2021).
Penyebab: infeksi dan noninfeksi
Penyebab terpenting adalah infeksi menular seksual (IMS). Namun, pada sebagian perempuan tidak ditemukan mikroorganisme sama sekali, sehingga peradangannya disebut idiopatik atau terkait faktor lain (Lusk & Konecny, 2008).
| Kelompok | Contoh penyebab | Catatan |
|---|---|---|
| Infeksi bakteri | Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae (gonore), Mycoplasma genitalium | Penyebab utama; klamidia sering tanpa gejala |
| Infeksi parasit dan virus | Trichomonas vaginalis, virus herpes simpleks (HSV) | Trikomoniasis dan herpes dapat tampak sebagai serviks rapuh atau berbintik |
| Gangguan keseimbangan flora vagina | Vaginosis bakterial | Sering menyertai servisitis |
| Noninfeksi | Iritasi bahan kimia (bilas vagina/douching, spermisida, lateks), alat seperti pesarium atau diafragma, reaksi alergi, radiasi | Bukan penularan; perlu dikenali agar tidak diberi antibiotik berlebihan |
| Tidak diketahui | Tidak ditemukan patogen | Cukup sering; tetap perlu evaluasi dan tindak lanjut |
Gejala yang perlu dikenali
Sebagian besar perempuan dengan servisitis tidak merasakan apa-apa, dan diagnosis baru terungkap saat pemeriksaan rutin atau ketika pasangan didiagnosis IMS. Bila bergejala, keluhannya antara lain:
- keputihan yang berubah: bertambah banyak, berwarna kuning kehijauan, atau berbau;
- perdarahan di luar jadwal haid atau bercak darah setelah berhubungan intim;
- nyeri atau tidak nyaman saat senggama (dispareunia);
- rasa nyeri atau perih saat buang air kecil, kadang disertai gatal di sekitar vagina;
- nyeri ringan di perut bagian bawah (bila nyeri hebat disertai demam, curigai radang panggul).
Bagaimana dokter menegakkan diagnosis?
Diagnosis ditegakkan lewat pemeriksaan panggul dengan spekulum. Menurut pedoman CDC 2021, servisitis dicurigai bila ditemukan salah satu atau kedua tanda berikut: (1) cairan mukopurulen atau purulen (nanah) pada kanal serviks atau pada kapas lidi yang dimasukkan ke dalamnya, dan/atau (2) perdarahan serviks yang mudah timbul saat disentuh perlahan dengan kapas lidi (Workowski et al., 2021).
Setelah itu, dilakukan pemeriksaan penunjang: tes amplifikasi asam nukleat (NAAT) untuk klamidia dan gonore, evaluasi vaginosis bakterial dan trikomoniasis, serta pertimbangan pemeriksaan M. genitalium dan herpes sesuai keadaan klinis. Pada banyak fasilitas di Indonesia, termasuk puskesmas, sarana pemeriksaan laboratorium tidak selalu lengkap sehingga dipakai pendekatan sindrom, yaitu pengobatan berdasarkan kumpulan gejala dan tanda, sesuai pedoman Kementerian Kesehatan dan WHO (Kementerian Kesehatan RI, 2015; WHO, 2021).
Alur singkat tata laksana
| Langkah | Isi |
|---|---|
| 1. Kenali | Keluhan keputihan/perdarahan pascasenggama, atau temuan nanah/serviks mudah berdarah saat pemeriksaan |
| 2. Singkirkan penyebab lain | Tes kehamilan bila perlu; pikirkan radang panggul, polip, atau lesi serviks yang memerlukan skrining kanker serviks (IVA/pap smear/tes HPV) |
| 3. Periksa | NAAT klamidia dan gonore; evaluasi vaginosis bakterial dan trikomoniasis |
| 4. Obati | Terapi sesuai risiko dan hasil pemeriksaan (lihat bagian berikut) oleh dokter |
| 5. Obati pasangan | Pasangan seksual dalam 60 hari terakhir ikut diperiksa dan diobati |
| 6. Edukasi dan tindak lanjut | Hindari hubungan seksual sampai terapi dan pasangan selesai; tes HIV dan sifilis; kontrol bila keluhan menetap |
Pengobatan: jangan beli antibiotik sendiri
Pengobatan harus ditentukan dokter. Gambaran umumnya, pedoman CDC 2021 menyarankan terapi presumtif untuk klamidia dengan doksisiklin 100 mg dua kali sehari selama 7 hari pada perempuan yang berisiko tinggi, misalnya berusia di bawah 25 tahun, memiliki pasangan baru, atau pasangannya memiliki IMS, atau bila kecil kemungkinan pasien kembali kontrol. Terapi gonore dengan seftriakson suntik dosis tunggal dipertimbangkan bila risiko atau prevalensi gonore di wilayah tersebut tinggi. Pada ibu hamil, doksisiklin dihindari dan diganti azitromisin (Workowski et al., 2021). Rekomendasi WHO 2024 juga menekankan pemilihan antibiotik yang memperhatikan pola resistensi gonore (WHO, 2024).
Bila keluhan tidak membaik, dokter akan menilai kembali: apakah pengobatan tuntas, apakah pasangan sudah diobati, adakah penularan ulang, dan apakah penyebabnya M. genitalium, vaginosis bakterial, atau trikomoniasis yang belum tertangani. Servisitis noninfeksi umumnya diatasi dengan menghilangkan pemicunya.
Mengapa tidak boleh diabaikan?
Infeksi yang menyebabkan servisitis dapat naik ke rahim dan saluran telur sehingga menyebabkan penyakit radang panggul, yang berisiko menimbulkan nyeri panggul kronis, kehamilan di luar kandungan, dan gangguan kesuburan. Peradangan serviks juga dikaitkan dengan peningkatan risiko tertular dan menularkan HIV, serta dapat berdampak pada kehamilan dan bayi, misalnya konjungtivitis dan pneumonia neonatal akibat klamidia (Workowski et al., 2021).
Pencegahan
- Gunakan kondom secara konsisten dan benar, dan setia pada satu pasangan yang juga telah diperiksa.
- Lakukan skrining klamidia tahunan bagi perempuan aktif seksual berusia di bawah 25 tahun atau yang berisiko, sesuai ketersediaan layanan.
- Hindari bilas vagina dan produk pewangi kewanitaan yang mengiritasi.
- Segera periksa bila ada keputihan tidak biasa atau perdarahan pascasenggama, dan ajak pasangan berobat bersama.
- Tetap lakukan skrining kanker serviks berkala; servisitis tidak menggantikan atau menyingkirkan pemeriksaan tersebut.
Pesan penutup
Servisitis adalah kondisi yang mudah diobati bila ditemukan dini, tetapi dapat meninggalkan dampak jangka panjang bila dibiarkan. Keluhan ringan bukan berarti penyakitnya ringan, dan ketiadaan keluhan bukan berarti aman. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan serta pengobatan oleh dokter atau bidan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Daftar pustaka
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Pedoman penatalaksanaan infeksi menular seksual. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI.
Lusk, M. J., & Konecny, P. (2008). Cervicitis: A review. Current Opinion in Infectious Diseases, 21(1), 49–55.
Workowski, K. A., Bachmann, L. H., Chan, P. A., Johnston, C. M., Muzny, C. A., Park, I., Reno, H., Zenilman, J. M., & Bolan, G. A. (2021). Sexually transmitted infections treatment guidelines, 2021. MMWR Recommendations and Reports, 70(4), 1–187. https://doi.org/10.15585/mmwr.rr7004a1
World Health Organization. (2021). Guidelines for the management of symptomatic sexually transmitted infections. World Health Organization.
World Health Organization. (2024). Updated recommendations for the treatment of Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis and Treponema pallidum (syphilis), and new recommendations on syphilis testing and partner services. World Health Organization.
Tag dan ringkasan
Tags: servisitis, radang leher rahim, keputihan, infeksi menular seksual, klamidia, kesehatan wanita, ginekologi
Blurb: Servisitis adalah peradangan leher rahim yang sering tanpa gejala, namun dapat berujung radang panggul dan gangguan kesuburan. Kenali keputihan abnormal dan perdarahan pascasenggama, pahami cara diagnosis serta pengobatannya oleh dokter, dan ketahui mengapa pasangan perlu ikut diobati serta bagaimana pencegahannya.





Tinggalkan Balasan