Pukul 02.10 dini hari di bangsal bedah sebuah RSUD tipe C di Banyumas. Seorang pasien hari ketiga pascalaparotomi mulai demam tinggi dan tekanan darahnya turun perlahan. Dokter jaga mencurigai infeksi intraabdomen dan ingin segera memulai antibiotik intravena yang tidak ada di stok bangsal. Ia menulis resep di layar rekam medis elektronik (RME), lalu berhenti di kolom prioritas: cito atau tidak?
Di koridor yang sama berdiri troli emergensi bersegel nomor. Isinya dirancang untuk resusitasi, bukan terapi infeksi, jadi tidak ada yang berpikir mengambil antibiotik dari sana. (Ilustrasi fiktif.)
Dua hal ini menjawab pertanyaan yang berbeda. Di banyak rumah sakit, keduanya masih tercampur.
Apa sebenarnya resep CITO?
Cito berarti “segera” dalam bahasa Latin. Di praktik, label ini meminta farmasi menaikkan prioritas sebuah resep. Dalam penelusuran saya, tidak ditemukan regulasi nasional yang mendefinisikan resep CITO secara khusus. Definisi operasionalnya hampir selalu ada di kebijakan internal rumah sakit.
Standar yang lebih umum adalah standar pelayanan minimal. Kepmenkes 129/2008 menetapkan waktu tunggu resep obat jadi ≤30 menit dan racikan ≤60 menit, dihitung sejak resep diserahkan sampai obat diterima pasien (Kemenkes RI, 2008). Angka ini adalah batas bawah untuk semua resep, bukan target resep mendesak.
Mengapa pertanyaannya wajar
Pertanyaan dalam judul muncul karena dua hal yang sudah berubah.
Pertama, kegawatan sudah punya jalur sendiri. Permenkes 72/2016 mengharuskan pengelolaan obat emergensi menjamin jumlah dan jenisnya sesuai daftar yang ditetapkan rumah sakit, tidak bercampur dengan persediaan untuk keperluan lain, dan segera diganti bila dipakai (Kemenkes RI, 2016). Dalam kondisi henti jantung atau anafilaksis, tidak ada yang menunggu resep. Dokter memberi perintah, perawat mengambil dari troli atau kit, dan pencatatan menyusul.
Kedua, resep sudah digital. Permenkes 24/2022 mewajibkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan menyelenggarakan RME paling lambat 31 Desember 2023 (Kemenkes RI, 2022). Resep elektronik membuat pesanan sampai ke farmasi dalam hitungan detik, jadi alasan lama untuk CITO (“agar resep cepat sampai”) sebagian besar sudah gugur.
Kalau kegawatan ditangani troli dan kecepatan transmisi ditangani RME, apa yang tersisa untuk CITO?
Tiga jalur, tiga tujuan
Jawaban saya: CITO tidak usang, tetapi perannya menyempit. Ia seharusnya tidak lagi menjadi pintu untuk kegawatan sejati.
| Jalur | Kondisi khas | Mekanisme | Penanda mutu |
|---|---|---|---|
| 1. Emergensi | Ancaman nyawa dalam hitungan menit (henti jantung, anafilaksis, kejang berkepanjangan) | Protokol dan stok ruangan (troli/kit emergensi); perintah lisan dengan read-back, dicatat susulan | Kelengkapan dan kedaluwarsa isi troli; penggantian segera setelah pakai |
| 2. Mendesak (CITO) | Terapi yang harus segera mulai, tetapi tidak ada di stok ruangan (mis. antibiotik pertama pada dugaan sepsis, obat pulang yang menentukan pasien bisa keluar) | Resep elektronik berprioritas, notifikasi ke farmasi, target waktu | Waktu order-to-administration; proporsi CITO terhadap total resep |
| 3. Rutin | Terapi terjadwal atau stabil | Antrean farmasi biasa | Waktu tunggu sesuai standar pelayanan minimal |
Jalur 2 inilah posisi CITO yang sah. Tantangannya adalah memastikan hanya kasus yang benar-benar memerlukannya yang masuk ke sana.
Apa kata bukti tentang kecepatan?
Saya tidak menemukan studi yang menguji “label CITO” itu sendiri. Bukti yang ada menunjukkan bahwa kecepatan lebih ditentukan oleh sistem di sekitar label daripada oleh labelnya.
| Studi | Setting | Temuan utama |
|---|---|---|
| Singh et al. (2026) | NICU 53 tempat tidur, 1.094 neonatus, 3 tahun | Antibiotik pertama dalam 60 menit naik dari 32,7% menjadi 84,4%; rerata waktu order-ke-pemberian turun dari 93,3 menjadi 44,7 menit. Intervensinya edukasi, order set antibiotik stat, dan sistem pengantaran obat berkode aman |
| Chiang et al. (2026) | IGD Taiwan, 16.450 kunjungan | Automated dispensing cabinet dikaitkan dengan peluang lebih tinggi mencapai waktu ≤30 menit (aOR 1,59) dan rerata penurunan sekitar 3 menit |
| Oh et al. (2026) | Apoteker perawatan kritis malam hari | Intervensi apoteker bertambah, tetapi waktu verifikasi obat stat tidak berbeda |
Tafsiran saya: verifikasi farmasi bukan satu-satunya hambatan pada resep mendesak. Pengantaran, ketersediaan di titik perawatan, dan alur administrasi ikut menentukan. Satu catatan hati-hati: ketiganya studi satu pusat dengan desain observasional atau perbaikan mutu, dan penulisnya sendiri menyebut hasilnya bergantung konteks.
Jebakan: CITO yang kebanyakan
Bila semua resep ditandai mendesak, tidak ada yang benar-benar didahulukan. Ini analogi, bukan bukti langsung tentang CITO. Namun literatur tentang peringatan klinis di sistem peresepan menunjukkan pola serupa. Tinjauan sistematik melaporkan tingkat override peringatan 46,2–96,2% (Poly et al., 2020), dan meta-analisis menemukan sekitar 90% peringatan interaksi obat diabaikan (Felisberto et al., 2024). Prioritas yang terlalu sering dinyalakan cenderung kehilangan makna.
Jebakan kedua lebih berbahaya: menggeser kegawatan ke troli emergensi karena resep terasa lambat. Troli dirancang untuk resusitasi dan harus tetap sesuai daftarnya. Memakainya sebagai “apotek cadangan” melanggar prinsip pengelolaan obat emergensi dan menempatkan pasien lain pada risiko saat isinya kosong.
Kerangka WHO tentang keselamatan obat pada situasi berisiko tinggi menyebut tiga faktor yang saling berinteraksi: jenis obat, faktor penyedia dan pasien, serta faktor sistem kerja (WHO, 2019). CITO yang tidak dikelola menambah beban pada faktor ketiga.
Merancang CITO yang layak bertahan di RME
Berikut usulan praktis yang bisa dipertimbangkan tim mutu dan komite farmasi. Ini rekomendasi saya, bukan ketentuan resmi:
- Definisikan kriteria tertulis. Kondisi apa yang boleh memakai CITO, dan apa yang tidak (kegawatan jalur 1 tidak melalui CITO).
- Wajibkan alasan dari daftar pilihan, bukan teks bebas, agar bisa dianalisis.
- Tetapkan target waktu internal yang lebih ketat daripada standar umum. Ambang ≤30 menit seperti pada Chiang et al. (2026) bisa jadi titik awal, disesuaikan kemampuan rumah sakit.
- Catat jejak waktu (timestamp): pesanan, verifikasi, penyiapan, pengantaran, pemberian. Tanpa ini, tidak ada yang bisa diukur.
- Audit berkala. Pantau proporsi CITO terhadap seluruh resep, kepatuhan terhadap target, dan kasus penyalahgunaan label.
- Jaga troli tetap sebagaimana mestinya: isi sesuai daftar, tidak bercampur, diganti segera, dicek rutin.
Alurnya dapat diringkas dalam diagram berikut:
Jadi, di mana posisi resep CITO?
Resep CITO tetap punya tempat, tetapi lebih sempit dan lebih terukur daripada dulu. Kegawatan sejati ditangani protokol dan stok ruangan. CITO menjadi jalur untuk terapi yang harus segera mulai tetapi tidak ada di titik perawatan. Jalur rutin tetap rutin.
Di bangsal Banyumas tadi, dokter jaga seharusnya bisa menandai resepnya CITO dengan alasan yang jelas. Farmasi menerima notifikasi, obat sampai dalam waktu yang ditargetkan, dan semua tercatat. Troli di koridor tetap utuh untuk pasien yang suatu saat benar-benar membutuhkannya.
Catatan Transparansi
- Studi primer ditelusuri melalui PubMed; DOI tercantum di daftar referensi. Ketiga studi 2026 (Chiang, Singh, Oh) berdesain observasional atau perbaikan mutu di satu pusat, dan tidak meneliti label CITO secara langsung.
- Isi Permenkes 72/2016 tentang obat emergensi saya baca melalui ringkasan di sumber turunan, bukan teks resmi lengkap. Mohon cocokkan dengan naskah aslinya sebelum dikutip untuk dokumen resmi.
- Status Kepmenkes 129/2008 sebagai standar pelayanan minimal masih banyak dirujuk dalam kajian, tetapi saya tidak memverifikasi apakah ada pembaruan atau pergeseran ke indikator nasional lain. Saya juga tidak memverifikasi butir spesifik STARKES (KMK HK.01.07/MENKES/1596/2024) terkait obat emergensi atau prioritas resep.
- Tidak ditemukan regulasi nasional yang secara khusus mendefinisikan CITO. Kesimpulan tentang “tiga jalur” dan rancangan CITO adalah sintesis dan opini penulis.
- Analogi dengan kelelahan peringatan (alert fatigue) berasal dari literatur peringatan klinis, bukan dari studi tentang CITO.
Artikel pendamping: obat kewaspadaan tinggi.
Referensi
Chiang, C.-Y., Cheng, C.-I., Chen, Y.-W., Lee, J.-H., Yeh, Y.-N., Lin, J.-C., Yang, H.-Y., Liu, C.-H., & Tsai, M.-J. (2026). Impact of automated dispensing cabinets on medication administration efficiency in the emergency department. BMC Emergency Medicine, 26(1). https://doi.org/10.1186/s12873-026-01600-0
Felisberto, M., Lima, G. dos S., Celuppi, I. C., Fantonelli, M. dos S., Zanotto, W. L., Dias de Oliveira, J. M., Mohr, E. T. B., Dos Santos, R. A., Scandolara, D. H., Cunha, C. L., Hammes, J. F., da Rosa, J. S., Demarchi, I. G., Wazlawick, R. S., & Dalmarco, E. M. (2024). Override rate of drug-drug interaction alerts in clinical decision support systems: A brief systematic review and meta-analysis. Health Informatics Journal, 30(2). https://doi.org/10.1177/14604582241263242
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis.
Oh, Y., Ackerbauer, K. A., Kong, S., Nicholson, E. M., & Feeney, M. E. (2026). Implementation and evaluation of an overnight critical care pharmacist shift. American Journal of Health-System Pharmacy, 83(Suppl. 1), S33–S40. https://doi.org/10.1093/ajhp/zxaf341
Poly, T. N., Islam, M. M., Yang, H.-C., & Li, Y.-C. J. (2020). Appropriateness of overridden alerts in computerized physician order entry: Systematic review. JMIR Medical Informatics, 8(7), e15653. https://doi.org/10.2196/15653
Singh, H. P., Landazuri, S., & Wilkinson, S. (2026). Timely administration of antibiotics for neonatal sepsis in the neonatal intensive care unit: A quality improvement initiative. Journal of Perinatology. https://doi.org/10.1038/s41372-026-02710-0
World Health Organization. (2019). Medication safety in high-risk situations (WHO/UHC/SDS/2019.10). https://www.who.int/publications/i/item/medication-safety-in-high-risk-situations




Tinggalkan Balasan