A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Saya sering mengutarakan hal yang sama di sini, tentang penggunaan antibiotik sembarangan yang bisa menimbulkan potensi resistensi antibiotik di kemudian hari. Namun laporan WHO menyatakan hal yang memang sudah lama diduga dan dalam skala yang cukup mengkhawatirkan, dan kini pengumuman ini kembali dipublikasikan kepada masyarakat global sehingga semakin awas terhadap penggunaan antibiotik.

Grafik berikut akan memberikan Anda gambaran singkatnya sebelum saya bercerita lebih jauh lagi.

Resistensi Antibiotik
Media grafik tentang resistensi antibiotik secara global.

Sebagaimana yang Anda ketahui, antibiotik adalah jenis obat-obatan yang digunakan untuk membunuh jenis kuman yang disebut bakteri. Antibiotik tidak digunakan untuk melawan penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus ataupun jamur yang sering juga diobati secara sembarangan menggunakan antibiotik, yang justru selain berpotensi bahaya memburuk kondisi sakit, juga menimbulkan bahaya resistensi antibiotik.

Bakteri berubah pada era ini, dan antibiotik mulai gagal melawan infeksi bakteri secara global di seluruh belahan dunia. Lalu mengapa ini menjadi perhatian kita bersama, tidak hanya tenaga kesehatan semata?

Beberapa poin perlu diperhatikan:

  1. Data ini dikumpulkan secara global, berarti tempat kita berada juga termasuk di dalamnya, dan tempat-tempat yang mungkin Anda kunjungi ke depannya.
  2. Yang dilihat memang hanya tipe bakteri yang paling umum, namun cakupannya luas, mulai dari infeksi yang masuk ke dalam pembuluh darah, hingga kasus klasik seperti gonorrhea.
  3. Tingkat resistensi/kekebalan bakteri bukanlah tingkat ringan, namun bisa dibilang bakteri sudah sangat kebal terhadap antibiotik di seluruh belahan dunia.

Lalu apakah Anda berpikir, tenang saja, nanti akan ada obat baru untuk semua itu? Ya, alangkah mudahnya jika kita berpikir positif seperti itu. Namun dalam 30 tahun terakhir, tidak terdapat antibiotik utama baru jenis baru yang ditemukan; yang selama ini ada adalah pengembangan dari yang sudah ada – dan jika bakteri sudah resistensi terhadap antibiotik utama yang telah ada, maka seringkali produk pengembangannya pun akan memberikan harapan yang kecil.

Apa makna semua ini?

Kita tengah diwanti-wanti, bahwa kita memasuki masa pasca-antibiotik, di mana kembali seperti masa lalu, luka yang kecil pun bisa berpotensi membunuh. Dulu, pada era sebelum ditemukannya antibiotik, luka kecil sangat cepat menjadi infeksi dan seringkali harus membuat orang diamputasi bagian tubuhnya untuk menyalamatkan nyawanya dari kematian akibat infeksi. Bukanlah tidak mungkin kita akan tiba kembali pada era tersebut. Saya tidak jarang mendengar kasus-kasus pasien yang meninggal akibat terinfeksi bakteri yang sudah resisten antibiotik, dan tidak peduli latar belakangnya, setiap orang bisa mengalaminya.

Bagaimana kita bisa membantu diri kita agar terlindung dari ancaman infeksi bakteri seperti ini?

Pencegahan adalah langkah awal yang paling baik, di antaranya adalah:

  1. Menjaga higienitas, selalu mencuci tangan dengan bersih setiap kali selesai bekerja atau sebelum makan.
  2. Akses yang baik terhadap air bersih (yang saat ini juga semakin langka), dan akses terhadap sanitasi yang baik.
  3. Adanya kontrol infeksi pada fasilitas kesehatan, jika Anda menemukan fasilitas kesehatan yang tampaknya kumuh dan tidak bersih, laporkan pada dinas kesehatan terkait guna mendapatkan perhatian.
  4. Vaksinasi, meskipun terlihat sederhana, vaksinasi adalah salah satu senjata kita yang paling ampuh dalam memerangi infeksi. Cegah sakit sebelum dia datang, sehingga kita tidak perlu meminum obat pada akhirnya.

Bagi yang mendapatkan resep antibiotik dari dokter, minumlah antibiotik sampai habis sesuai petunjuk dokter. Jangan berhenti di tengah jalan ketika merasa sudah baikan. Jika Anda suka belanja doktor (doctor shopping), yang berpindah-pindah dokter dalam sehari jika belum merasa baikan, ketahuilah bahwa diri Anda adalah orang yang berpotensi mempertinggi kemungkinan resistensi antibiotik, karena sering kali obat-obatan antibiotik yang diresepkan menjadi kehilangan kontrol. Jika Anda menggunakan antibiotik dalam waktu yang panjang, selalu berkonsultasi dengan dokter dan apoteker untuk perkembangan kondisi yang Anda alami. Lalu, jangan berbagi antibiotik dengan orang lain; misalnya orang serumah yang sakit yang mirip dengan Anda, jangan berikan antibiotik yang diresepkan untuk Anda pada orang tersebut.

Fasilitas kesehatan adalah lokasi paling rawan tempat-tempat kuman yang resistensi antibiotik kemungkinan berkumpul, seperti rumah sakit, klinik atau puskesmas. Hindari tempat-tempat ini kecuali Anda benar-benar memerlukannya. Mungkin terkesan aneh, maksud saya, jika Anda tidak benar-benar memerlukan perhatian medis, sebaiknya jangan mengunjungi rumah sakit atau klinik.

Jika Anda berobat ke rumah sakit, selalu kenakan masker, karena udara di rumah sakit bisa jadi tercemar oleh kuman-kuman jahat; dan belum tentu rumah sakit memberikan masker bagi pasien ataupun pengunjung secara cuma-cuma. Patuhi semua instruksi keamanan di rumah sakit, misalnya jika di sana diinstruksikan bagi Anda untuk cuci tangan, lakukanlah, karena itu demi kebaikan Anda sendiri.

Hindari menjenguk pasien rumah sakit jika kondisi tubuh Anda sendiri tidak cukup bugar. Dan sebagaimana yang dulu pernah kita bahas bersama di sini, hindari juga membawa anak-anak untuk menjenguk ke rumah sakit, karena mereka berpotensi tertular penyakit. Jangan juga menjenguk pasien dengan banyak orang sekaligus, lakukan itu jika pasien sudah pulih dan pulang ke rumahnya, selain berpotensi mengganggu proses kesembuhan; Anda berpotensi membawa kuman jahat masuk dan keluar dari rumah sakit. Setelah pulang dari menjenguk pasien, cucilah pakaian Anda segera guna menghindari adanya kuman jahat berkembang biak di rumah Anda.

Apakah Anda sudah siap membantu memerangi infeksi berbahaya dari bakteri yang sudah mulai resisten terhadap obat-obat antibiotik?

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

8 tanggapan

  1. Avatar rismaka
    rismaka

    Halo dok, lama tidak berkomen hehe..
    Betul mas, salah satu hal yang saya khawatirkan adalah bila bakteri sudah resisten terhadap kadar antibiotik tertentu. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di atas, bisa jadi bakteri tsb resisten terhadap antibiotik utama.

    Selama ini saya mencegah hal tersebut dengan tidak sembarangan mengonsumsi antibiotik (apapun jenisnya). Bila saya sakit, dan kemudian diberi obat + antibiotik, saya memilih untuk tidak mengonsumsi antibiotiknya, karena saya khawatir hal tsb. Saya cukup mengandalkan imunitas tubuh saya sendiri dalam melawan infeksi tersebut. (terkecuali belum ada perkembangan kesembuhan yang berarti, barulah saya mengonsumsi antibiotik tsb)

    Nah, benarkan (tepatkah) tindakan saya tersebut mas? Ini berlaku general ya mas, untuk sakit-sakit pada umumnya.

    1. Avatar Cahya

      Mas Rismaka di sinilah dilemanya. Dalam konteks di mana saya bukanlah dokter yang menangani kasus Mas Rismaka, maka saya tidak melakukan penilaian tepat atau tidaknya keputusan itu.

      Memang tubuh memiliki kemampuan untuk melawan bakteri dan kuman jenis lainnya. Sehingga pada tubuh yang cukup bugar, bahkan hanya dengan obat-obatan simptomatik saja cukup untuk melawan bakteri, karena tubuh punya daya tahannya sendiri.

      Tapi tidak semua kasus demikian. Ada yang justru pada infeksi bakteri dan kondisi yang tidak bugar, infeksi justru memburuk dan kadang meninggalkan kerusakan permanen pada tubuh yang berdampak buruk di kemudian hari. Sehingga dalam hal ini, antibiotik adalah pilihan baik sebagai tindakan pencegahan.

      Beberapa kasus yang tidak memerlukan antibiotik adalah kasus-kasus infeksi jamur atau virus misalnya. Panu, kadas dan kurap tentu saja tidak diobati dengan antibiotik tapi akan memerlukan antijamur yang tepat. Radang tenggorokan sederhana (tanpa abses) dan flu hingga diare yang disebabkan virus tidak memerlukan antibiotik karena akan sembuh dengan sendirinya (jika kondisi tubuh bugar). Beberapa infeksi virus seperti herpes mungkin memerlukan antiviral, dan baru memerlukan antibiotik jika ada infeksi sekunder di permukaan kulit oleh bakteri.

      Jangan sungkan bertanya pada dokter yang merawat, pastikan perlu tidaknya antibiotik.

      1. Avatar rismaka
        rismaka

        Nah itu dia mas, berdasarkan pengalaman konsultasi (maaf, lebih tepatnya berobat) ke dokter, mungkin peluang 10 dari 10 kunjungan, dokter memberikan antibiotik pada resepnya. Yeah, memang saya tidak menanyakan perlu/tidaknya pemberian antibiotik tsb, bisa jadi dokter tsb melihat kekhawatiran tersendiri bila pasien tidak diberikan antibiotik.

        Nah, disinilah saya merasakan kurangnya interaksi dokter ke pasien khususnya di Indonesia. Saya katakan interaksi dokter ke pasien, bukan pasien ke dokter, karena sebagian besar pasien enggan berdiskusi tentang sakit yang dideritanya kepada dokter disebabkan tidak mau tahu atau memang tidak tahu harus seperti apa.

        Saya melihat pentingnya dokter untuk menjelaskan secara detil tentang sakit yang diderita pasien mulai dari faktor gejala, indikasi penyakit, maupun secara medis. Tentunya dengan bahasa yang mudah dicerna oleh pasien.

      2. Avatar Cahya

        Mas Rismaka, sebenarnya dokter juga diajari bagaimana caranya melakukan komunikasi secara efektif pada pasien. Hanya saja tidak banyak yang menerapkan. Akhirnya banyak muncul kesalahpahaman antara dokter dan pasien.

  2. Avatar antonemus
    antonemus

    tulisan yg mencerahkan. sayangnya masih saja banyak dokter suka kasih antibiotik.

    1. Avatar Cahya

      Tidak hanya dokter Mas Anton, jumlah dokter di Indonesia sangat terbatas. Paling mengkhawatirkan biasanya datang dari tenaga kesehatan lainnya, yang juga bisa jadi terkena imbas kebiasaan dokter yang gemar meresepkan antibiotik. Sehingga kebiasaan ini menyebar luas. Kita semua harus berubah, dan mengubah paradigma yang dikit-dikit tembak dengan antibiotik. Mulai dari tenaga medis, paramedis, hingga masyarakat umum. Dan jangan sampai ada juga apotek yang bisa menjual antibiotik secara bebas tanpa resep dokter, apalagi justru menawarkan pada pelanggannya untuk menggunakan antibiotik.

      1. Avatar rismaka
        rismaka

        Ada yang parah mas. bahkan mantan pasien sendiri merekomendasikan kepada anak2nya untuk mengonsumsi antibiotik di setiap sakitnya. Bukan sakit berat mas, bahkas untuk sakit kepala saja anak si mantan pasien tsb minum obat panad*l beserta antibiotik

        Mungkin ketika mantan pasien tsb sakit, dia diberi antibiotik oleh dokter, kemudian langsung sembuh. Jadi deh ilmu tsb dipraktikan dan disebarkan ke orang lain 😀

      2. Avatar Cahya

        Ya, itu efek bola salju, semakin menggelinding semakin besar jadinya. Siapa yang akhirnya harus disalahkan? Karena kita suka mencari yang salah dibandingkan memperbaiki menjadi benar.

        Saya cuma bisa membantu dari halaman kecil ini, sisanya kitalah yang harus bergerak menuju masyarakat, setidaknya tetangga di sekitar kita.

        Jangan capek, setidaknya kalau capek, jangan sekarang 🙂 – tetaplah saling mengingatkan.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca