Seorang perempuan berusia 58 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri perut kiri bawah yang memberat sejak dua hari, disertai demam ringan dan perubahan pola buang air besar. Ia sempat mengira keluhannya hanya “masuk angin” atau gangguan pencernaan biasa. Setelah pemeriksaan fisik menunjukkan nyeri tekan lokal di kuadran kiri bawah tanpa tanda peritonitis generalisata, dokter mencurigai satu diagnosis yang jarang dibicarakan di ruang praktik umum Indonesia, tetapi sangat lazim di negara-negara Barat: diverticulitis, atau divertikulitis akut. Kasus semacam ini semakin sering dijumpai seiring pergeseran pola makan masyarakat perkotaan Indonesia ke arah rendah serat dan tinggi lemak.
Apa Itu Penyakit Divertikular?
Diverticulosis, atau divertikulosis, adalah kondisi terbentuknya kantung-kantung kecil (diverticula) yang menonjol keluar dari dinding usus besar, biasanya di titik-titik lemah tempat pembuluh darah menembus lapisan otot kolon. Kondisi ini disebut false atau pseudodiverticula karena hanya melibatkan lapisan mukosa dan submukosa, bukan seluruh ketebalan dinding usus.
Sebagian besar (75–80%) penderita divertikulosis tidak pernah mengalami gejala sepanjang hidupnya (Kementerian Kesehatan RI, 2022). Istilah “penyakit divertikular” (diverticular disease) mencakup spektrum yang lebih luas, mulai dari divertikulosis asimtomatik, symptomatic uncomplicated diverticular disease (SUDD) yang menimbulkan nyeri perut kronik tanpa peradangan nyata, hingga diverticulitis — peradangan dan infeksi akut pada satu atau lebih divertikula, yang merupakan komplikasi paling sering terjadi.

Seberapa Sering Terjadi?
Divertikulitis kolon memiliki risiko seumur hidup sekitar 3–5% pada populasi umum dan merupakan salah satu diagnosis gastrointestinal rawat inap tersering di Amerika Serikat, dengan beban biaya kesehatan lebih dari dua miliar dolar per tahun (Stollman et al., 2015). Sekitar 10–25% penderita divertikulosis akan mengalami episode divertikulitis sepanjang hidupnya, dan risiko ini meningkat seiring bertambahnya usia (Kementerian Kesehatan RI, 2022).
Penyakit ini secara historis dianggap sebagai “penyakit negara maju” dan jarang ditemukan di Asia maupun Afrika. Namun, pergeseran pola makan masyarakat Indonesia — khususnya di perkotaan — ke arah konsumsi tinggi daging merah, makanan olahan, dan rendah serat membuat penyakit divertikular berpotensi menjadi masalah kesehatan yang meningkat di Indonesia (Yayasan Gastroenterologi Indonesia, n.d.).
Mengapa Divertikula Terbentuk?
Patogenesis divertikulosis melibatkan interaksi antara tekanan intraluminal kolon yang meningkat, perubahan struktural dinding usus (penebalan plicae circularis dan pemendekan teniae coli), serta gangguan motilitas kolon. Faktor risiko utama yang telah diidentifikasi meliputi:
- Asupan serat rendah — diet tinggi serat terbukti menurunkan risiko divertikulitis rumit hingga 42% pada individu dengan asupan serat tertinggi dibanding terendah dalam studi kohort besar (Health Professionals Follow-up Study).
- Obesitas dan kurang aktivitas fisik — aktivitas fisik intens seperti berlari terbukti menurunkan risiko.
- Merokok — perokok aktif memiliki risiko 36% lebih tinggi mengalami divertikulitis yang berujung rawat inap atau kematian dibanding bukan perokok, berdasarkan meta-analisis enam studi kohort prospektif (Peery et al., 2026).
- Pola makan Barat — tinggi daging merah, lemak jenuh, dan makanan olahan; sebaliknya, kepatuhan pada pola makan Mediterranean atau DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) terbukti menurunkan risiko divertikulitis insiden.
- Penggunaan rutin obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan faktor genetik turut berkontribusi.
Divertikulitis terjadi ketika kantung divertikula tersumbat oleh fekalit atau materi tinja yang tidak tercerna sempurna, memicu peradangan lokal, mikroperforasi, dan translokasi bakteri kolon ke jaringan sekitar.
Mengenali Gejala: Kapan Harus Waspada?
Gejala klasik divertikulitis akut adalah nyeri perut menetap di kuadran kiri bawah — karena sekitar 95% kasus melibatkan kolon sigmoid — disertai demam, mual, dan perubahan kebiasaan buang air besar (konstipasi atau diare). Perlu dicatat, studi pada populasi Asia menunjukkan pola nyeri dapat sedikit berbeda, sehingga kewaspadaan klinis tidak boleh hanya bertumpu pada lokasi nyeri khas Barat.
Divertikulitis diklasifikasikan menjadi:
- Divertikulitis tanpa komplikasi (uncomplicated) — peradangan terlokalisasi tanpa abses, perforasi, atau fistula.
- Divertikulitis dengan komplikasi (complicated) — mencakup abses, perforasi, fistula (paling sering fistula kolovesika), atau obstruksi kolon; terjadi pada sekitar 15% pasien dengan penyakit divertikular (Stollman et al., 2015).
Diagnosis: Pencitraan Adalah Kunci
Pemeriksaan computed tomography (CT) scan abdomen dengan kontras merupakan modalitas baku emas untuk menegakkan diagnosis divertikulitis, terutama pada presentasi pertama kali dan pada kasus berat, karena mampu memastikan diagnosis sekaligus mengidentifikasi komplikasi seperti abses atau perforasi (Peery et al., 2026). Setelah pasien pulih dari episode divertikulitis dengan komplikasi, kolonoskopi direkomendasikan untuk menyingkirkan keganasan kolorektal yang dapat menyerupai gambaran divertikulitis; pada divertikulitis tanpa komplikasi, kolonoskopi lanjutan bersifat opsional dan dipertimbangkan berdasarkan faktor risiko individu.
Tata Laksana: Pergeseran Paradigma Penting
Pedoman klinis terbaru dari American College of Gastroenterology (ACG) yang diterbitkan pertengahan tahun 2026 membawa perubahan signifikan dalam pendekatan tata laksana divertikulitis rawat jalan (Peery et al., 2026):
Antibiotik tidak lagi rutin diberikan
Untuk pasien dengan risiko rendah dan divertikulitis akut tanpa komplikasi, uji klinis acak menunjukkan sedikit atau tidak ada manfaat pemberian antibiotik rutin. ACG kini menyarankan terhadap penggunaan antibiotik rutin pada kelompok ini. Antibiotik tetap diindikasikan pada pasien dengan fitur risiko tinggi, kondisi imunokompromais, kerapuhan (frailty), gejala sistemik inflamasi, gejala berkepanjangan, atau ketika tata laksana rawat jalan yang aman tidak dapat dipastikan. Bila diperlukan, regimen yang direkomendasikan mencakup amoksisilin-klavulanat atau kombinasi metronidazol dengan trimetoprim-sulfametoksazol atau fluorokuinolon.
Operasi elektif bersifat individual, bukan berbasis jumlah episode
Keputusan rujukan bedah untuk kolektomi elektif pada divertikulitis rekuren tanpa komplikasi tidak lagi didasarkan semata pada jumlah episode sebelumnya. Rujukan konsultasi bedah kini diindividualisasikan bagi pasien yang kualitas hidupnya secara signifikan terganggu oleh penyakit rekuren.
Probiotik, mesalamin, dan rifaksimin tidak direkomendasikan untuk pencegahan
Bukti ilmiah tidak menunjukkan manfaat bermakna dari ketiga terapi tersebut dalam mencegah rekurensi divertikulitis, sehingga ACG menyarankan untuk tidak menggunakannya secara rutin sebagai strategi pencegahan — meski beberapa studi observasional lebih kecil, misalnya perbandingan Clostridium butyricum CBM588 versus rifaksimin siklik pada SUDD, masih terus dievaluasi untuk peran terbatas pada kontrol gejala kronik.
Mitos yang Perlu Diluruskan: Kacang, Biji-Bijian, dan Popcorn
Selama puluhan tahun, pasien disarankan menghindari kacang-kacangan, biji-bijian, jagung, dan popcorn karena dikhawatirkan menyumbat divertikula. Pedoman terkini secara eksplisit menyatakan bahwa diet sehat tidak perlu menghindari makanan-makanan tersebut — rekomendasi lama ini tidak didukung bukti ilmiah dan justru berpotensi mengurangi asupan serat yang sesungguhnya protektif (Peery et al., 2026).
Pencegahan dan Modifikasi Gaya Hidup
Bagi pasien dengan riwayat divertikulitis, langkah-langkah berikut dapat membantu menurunkan risiko kekambuhan:
- Menerapkan diet sehat kaya serat (buah, sayur, biji-bijian utuh) tanpa perlu menghindari kacang atau biji-bijian.
- Aktivitas fisik teratur.
- Mencapai dan mempertahankan berat badan sehat.
- Menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
- Membatasi penggunaan NSAID bila memungkinkan.
Konteks bagi Layanan Kesehatan di Indonesia
Meskipun penyakit divertikular secara tradisional dianggap jarang di Asia, transisi epidemiologi dan pergeseran pola makan masyarakat urban Indonesia berpotensi meningkatkan beban kasus ini di masa depan. Bagi dokter layanan primer dan fasilitas kesehatan di daerah, kewaspadaan terhadap divertikulitis sebagai diagnosis banding nyeri perut kiri bawah — terutama pada pasien usia lanjut — penting untuk menghindari keterlambatan diagnosis maupun pemeriksaan pencitraan yang tidak perlu. Ketersediaan CT scan yang masih terbatas di sejumlah fasilitas kesehatan daerah juga menjadi tantangan tersendiri dalam penegakan diagnosis definitif sesuai standar internasional.
Catatan Transparansi
Artikel ini disusun berdasarkan pedoman klinis internasional terbaru, terutama ACG Clinical Guideline: Colonic Diverticulitis (Peery et al., 2026) yang dipublikasikan Juli 2026, dilengkapi rujukan pedoman AGA (2015), ESCP (2020), dan WSES (2020) untuk konteks historis dan komplementer. Data epidemiologi spesifik Indonesia mengenai prevalensi divertikulosis/divertikulitis masih sangat terbatas dalam literatur yang dapat diakses penulis; pernyataan mengenai tren peningkatan kasus di Indonesia bersifat inferensi berdasarkan pola transisi diet, bukan data insidensi nasional yang terverifikasi, dan sebaiknya dibaca sebagai hipotesis klinis, bukan fakta epidemiologis yang telah dikonfirmasi oleh studi populasi berskala besar di Indonesia.
Ringkasan
Divertikulitis adalah peradangan kantung usus besar yang kini ditangani dengan pendekatan lebih konservatif: antibiotik tidak lagi rutin untuk kasus ringan, operasi elektif diindividualisasi bukan berdasar jumlah kekambuhan, dan pantangan kacang-bijian dinyatakan tidak berdasar bukti. Diet tinggi serat dan gaya hidup sehat tetap menjadi pilar pencegahan utama, termasuk bagi masyarakat Indonesia yang pola makannya kian bergeser ke arah Barat.
Daftar Pustaka
Kementerian Kesehatan RI. (2022, November 29). Radang divertikula/divertikulitis. Yankes Kemkes. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1866/radang-divertikuladivertikulitis
Peery, A. F., et al. (2026). ACG Clinical Guideline: Colonic diverticulitis. American Journal of Gastroenterology. https://journals.lww.com/ajg/fulltext/10.14309/ajg.0000000000004047~acg-clinical-guideline-colonic-diverticulitis
Sartelli, M., Weber, D. G., Kluger, Y., Ansaloni, L., Coccolini, F., Abu-Zidan, F., et al. (2020). 2020 update of the WSES guidelines for the management of acute colonic diverticulitis in the emergency setting. World Journal of Emergency Surgery, 15, 32. https://doi.org/10.1186/s13017-020-00313-4
Schultz, J. K., Azhar, N., Binda, G. A., Barbara, G., Biondo, S., Boermeester, M. A., et al. (2020). European Society of Coloproctology: Guidelines for the management of diverticular disease of the colon. Colorectal Disease, 22(S2), 5–28. https://doi.org/10.1111/codi.15140
Stollman, N., Smalley, W., Hirano, I., & AGA Institute Clinical Guidelines Committee. (2015). American Gastroenterological Association Institute guideline on the management of acute diverticulitis. Gastroenterology, 149(7), 1944–1949.
Yayasan Gastroenterologi Indonesia. (n.d.). Divertikulosis dan divertikulitis: Penyakit yang disebabkan oleh kurangnya asupan serat. https://ygi.or.id/divertikulosis-dan-divertikulitis-penyakit-yang-disebabkan-oleh-kurangnya-asupan-serat/




Tinggalkan Balasan