Disartria adalah gangguan neurologis yang memengaruhi kemampuan bicara akibat kelemahan, kelumpuhan, atau inkoordinasi otot-otot yang terlibat dalam produksi suara. Kondisi ini berbeda dari afasia dan apraksia bicara, karena hanya memengaruhi pelafalan, bukan pemahaman bahasa atau perencanaan motorik.
Disartria sering terjadi pada pasien stroke, penyakit Parkinson, dan ALS, dengan tujuh subtipe yang diklasifikasikan berdasarkan lokasi kerusakan saraf. Penanganannya meliputi terapi wicara berbasis bukti, namun akses layanan rehabilitasi di Indonesia masih terbatas, terutama di daerah dengan beban stroke tinggi.
Seorang laki-laki berusia 58 tahun dibawa keluarganya ke unit gawat darurat karena bicaranya tiba-tiba menjadi pelo dan sulit dipahami sejak dua jam sebelumnya. Ia masih bisa memahami pertanyaan dan menjawab dengan benar, tetapi kata-kata yang keluar terdengar cadel, lambat, dan seperti “menggumam”. Tidak ada kesulitan memilih kata atau menyusun kalimat — masalahnya murni pada pelafalan. Gambaran klinis ini adalah contoh khas dari dysarthria, atau disartria, salah satu gangguan bicara neurologis yang paling sering ditemui di layanan kesehatan namun kerap kurang dikenali oleh masyarakat awam, bahkan kadang luput dari perhatian tenaga kesehatan non-spesialis pada fase awal.
Apa Itu Disartria?
Disartria adalah gangguan motorik bicara yang timbul akibat kelemahan, kelumpuhan, atau inkoordinasi otot-otot yang berperan dalam produksi bicara — meliputi otot pernapasan, laring (fonasi), palatum dan faring (resonansi), serta rahang, lidah, dan bibir (artikulasi) (American Speech-Language-Hearing Association [ASHA], n.d.; Enderby, sebagaimana dikutip dalam Zhou et al., 2024). Kerusakan ini bersumber dari gangguan pada sistem saraf pusat maupun perifer yang mengendalikan mekanisme bicara.
Penting untuk membedakan disartria dari dua gangguan komunikasi neurologis lain yang sering tertukar:
- Afasia — gangguan pada kemampuan berbahasa itu sendiri: pemilihan kata, pemahaman, dan penyusunan kalimat terganggu, sementara kontrol motorik otot bicara relatif normal.
- Apraksia bicara (apraxia of speech) — otak kesulitan merencanakan dan menyusun urutan gerakan motorik bicara, meskipun otot-ototnya sendiri tidak lemah.
Disartria, sebaliknya, adalah persoalan pelaksanaan gerakan otot, bukan persoalan bahasa atau perencanaan motorik (SpeechPathology.org, 2026).

Penyebab dan Klasifikasi
Disartria dapat disebabkan oleh berbagai kondisi neurologis, di antaranya stroke, cedera kepala, penyakit Parkinson, amyotrophic lateral sclerosis (ALS), multiple sclerosis, tumor otak, hingga cerebral palsy. Berdasarkan lokasi lesi neurologis dan karakteristik akustiknya, disartria secara klasik dibagi menjadi tujuh subtipe (Duffy, sebagaimana dirujuk dalam SpeechPathology.org, 2026; Al-Ali et al., 2025):
- Disartria flaksid — akibat lesi neuron motorik bawah (misalnya kelumpuhan saraf kranial), menghasilkan suara bernapas dan lemah.
- Disartria spastik — akibat lesi neuron motorik atas bilateral, suara terdengar tegang dan tersendat.
- Disartria ataksik — akibat gangguan serebelum, bicara tidak terkoordinasi dengan irama yang tidak teratur (“bicara mabuk”).
- Disartria hipokinetik — khas pada penyakit Parkinson, suara monoton dan pelan dengan artikulasi yang “menyempit”.
- Disartria hiperkinetik — akibat gangguan gerakan involunter seperti korea atau distonia.
- Disartria campuran (mixed) — kombinasi lebih dari satu jenis, sering terjadi pada ALS atau multiple sclerosis.
- Disartria unilateral neuron motorik atas (unilateral upper motor neuron, UUMN) — biasanya pasca-stroke, dengan derajat yang umumnya lebih ringan.
Seberapa Sering Kondisi Ini Terjadi?
Data dari negara maju memperkirakan disartria memengaruhi sekitar 170 dari setiap 100.000 orang dewasa (SpeechPathology.org, 2026), menjadikannya salah satu gangguan bicara-bahasa yang paling sering ditangani ahli terapi wicara. Angkanya jauh lebih tinggi pada populasi berisiko tertentu: disartria dilaporkan terjadi pada hingga 60% penyintas stroke dan hingga 90% penderita penyakit Parkinson pada suatu titik perjalanan penyakitnya (Sheikh et al., sebagaimana dikutip dalam Al-Ali et al., 2025).
Di Indonesia, konteks ini relevan mengingat beban stroke yang cukup besar. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi stroke nasional sebesar 8,3 per 1.000 penduduk, dengan angka tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (11,4 per 1.000) dan terendah di Papua Pegunungan (0,9 per 1.000) (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI], 2026). Stroke juga tercatat sebagai penyakit katastropik dengan beban pembiayaan JKN tertinggi ketiga pada 2023, mencapai Rp5,2 triliun (Kemenkes RI, 2025). Karena disartria adalah salah satu gejala neurologis stroke yang paling sering muncul, beban ini turut mencerminkan besarnya kebutuhan layanan rehabilitasi bicara yang belum sepenuhnya terpetakan secara nasional.
Mengenali Tanda dan Menegakkan Diagnosis
Pada praktik sehari-hari, kecurigaan disartria akut — terutama bila muncul mendadak — harus segera memicu evaluasi kegawatdaruratan stroke, mengikuti prinsip pengenalan dini tanda peringatan seperti kelemahan wajah, kelemahan anggota gerak, dan gangguan bicara. Skrining dan tata laksana faktor risiko stroke, termasuk gejala neurologis seperti disartria, kini juga mulai diperkuat di tingkat Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) melalui uji coba program pengendalian stroke oleh Kemenkes (Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas, 2024).
Setelah kondisi akut tertangani, evaluasi komprehensif dilakukan oleh ahli terapi wicara (speech-language pathologist, SLP), mencakup penilaian intelijibilitas atau tingkat keterpahaman bicara (intelligibility) — parameter luaran klinis yang penting untuk memantau perkembangan dan hasil terapi (Dahl, 2024). Penilaian ini bersifat multidimensi: mencakup fonasi, resonansi, artikulasi, prosodi, dan kecepatan bicara, sesuai kerangka kerja praktik klinis ASHA (ASHA, n.d.).
Tata Laksana: Bukan Sekadar “Latihan Bicara”
Penanganan disartria bersifat individual, tergantung penyebab, jenis, dan derajat keparahan. Beberapa pendekatan berbasis bukti yang umum digunakan meliputi:
- Lee Silverman Voice Treatment (LSVT LOUD) — program intensif yang berfokus meningkatkan volume suara, terutama efektif pada disartria hipokinetik akibat Parkinson.
- Terapi Kontras Fonemik (Phonemic Contrast Therapy) — melatih presisi artikulasi dan diskriminasi fonem pendengaran.
- Metode Aksen (Accent Method) — menyasar kontrol pernapasan dan produksi suara, dapat dikombinasikan dengan terapi kontras fonemik untuk hasil yang lebih optimal pada disartria pasca-stroke (Ge et al., sebagaimana dikutip dalam Zhou et al., 2024).
- Intervensi pada disfungsi velofaringeal, seperti palatal lift, terbukti efektif pada pasien terpilih dengan gangguan resonansi (Yorkston, sebagaimana dikutip dalam pedoman ANCDS, 2004).
- Alat komunikasi bantu (augmentative and alternative communication, AAC) — bagi kasus berat yang tidak lagi memungkinkan komunikasi verbal fungsional, terutama pada kondisi progresif seperti ALS.
Prognosis disartria umumnya dikelompokkan dalam tiga kategori klinis: dapat pulih (recoverable, misalnya pasca-stroke ringan dengan rehabilitasi dini), stabil (stable, misalnya pasca-cedera kepala yang sudah melewati fase pemulihan aktif), dan progresif (progressive, seperti pada ALS atau Parkinson lanjut) (SpeechPathology.org, 2026). Kategori ini menentukan arah terapi: apakah berfokus pada pemulihan fungsi, pemeliharaan kemampuan yang ada, atau adaptasi menggunakan alat bantu komunikasi.
Tantangan di Konteks Layanan Kesehatan Indonesia
Meski kebutuhan cukup besar mengingat beban stroke nasional, akses terhadap layanan terapi wicara di Indonesia masih timpang secara geografis. Tenaga ahli terapi wicara terkonsentrasi di kota-kota besar dan rumah sakit rujukan, sementara pasien di daerah dengan prevalensi stroke tinggi namun sumber daya terbatas seringkali kesulitan mengakses layanan rehabilitasi bicara berkelanjutan. Pedoman nasional terbaru mendorong konsep pelayanan stroke terpadu yang kolaboratif lintas fase — mulai pencegahan primer, penanganan akut, hingga rehabilitasi dan pencegahan sekunder (Kemenkes RI, 2026) — namun implementasi rehabilitasi wicara pasca-stroke di tingkat FKTP dan rumah sakit non-rujukan masih menjadi area yang perlu diperkuat, termasuk melalui skema pembiayaan JKN/BPJS Kesehatan yang mendukung terapi jangka panjang.
Catatan Transparansi
Artikel ini menggunakan data epidemiologi disartria terkait stroke, Parkinson, dan ALS dari publikasi ilmiah internasional yang sebagian besar berbasis populasi negara maju; data prevalensi disartria yang spesifik untuk populasi Indonesia belum tersedia secara nasional, sehingga estimasi beban di Indonesia pada artikel ini diturunkan secara tidak langsung dari data prevalensi stroke nasional (SKI 2023), bukan dari studi disartria yang berdiri sendiri. Klasifikasi tujuh subtipe disartria mengikuti kerangka klasik Darley-Aronson-Brown yang masih menjadi rujukan standar dalam literatur SLP kontemporer. Rekomendasi terapi disajikan sebagai gambaran umum pendekatan berbasis bukti dan bukan pengganti evaluasi serta rencana terapi individual oleh dokter spesialis rehabilitasi medik atau ahli terapi wicara.
Ringkasan (50 kata): Disartria adalah gangguan motorik bicara akibat kelemahan otot bicara, berbeda dari afasia dan apraksia. Umum terjadi pasca-stroke, pada Parkinson, dan ALS, dengan tujuh subtipe klinis. Artikel ini mengulas penyebab, cara pengenalan dini, pendekatan terapi berbasis bukti, serta tantangan akses layanan rehabilitasi wicara di Indonesia.
Daftar Pustaka
Al-Ali, A. S., et al. (2025). Integrating binary classification and clustering for multi-class dysarthria severity level classification: A two-stage approach. Cluster Computing, 28, 136.
American Speech-Language-Hearing Association. (n.d.). Dysarthria in adults. Practice Portal. https://www.asha.org/practice-portal/clinical-topics/dysarthria-in-adults/
Dahl, K. (2024). Dysarthria: Best practices for assessing intelligibility. SpeechPathology.com, Article 20695.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas. (2024, Juli 25). Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas melaksanakan uji coba pengendalian stroke di FKTP. KAPUAS INFOKOM PUBLIK.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Cegah stroke dengan aktivitas fisik. https://kemkes.go.id/eng/cegah-stroke-dengan-aktivitas-fisik
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/304/2026 tentang pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana stroke.
SpeechPathology.org. (2026). Dysarthria: Types, causes & treatment options. https://www.speechpathology.org/articles/articles-dysarthria/
Zhou, Y., et al. (2024). Editorial: Methods in speech and language: 2023. Frontiers [diakses melalui PMC11366615].
Ziegler, W., Staiger, A., & Schölderle, T. (2024). Profiles of dysarthria: Clinical assessment and treatment. Brain Sciences, 14(1), 11. https://doi.org/10.3390/brainsci14010011





Tinggalkan Balasan