A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang siswa SMP datang ke poliklinik bersama ibunya. Nilai ujian mata di sekolah menunjukkan penurunan tajam penglihatan, dan sang anak mengeluh sering memicingkan mata saat melihat papan tulis. Di ruang periksa lain, seorang karyawan berusia 28 tahun bertanya apakah ia “cocok” menjalani LASIK agar tidak lagi bergantung pada kacamata. Dua pasien, dua kebutuhan yang sangat berbeda — dan inilah inti persoalan koreksi miopia: tidak ada satu metode yang unggul untuk semua orang.

Skala Masalah: Miopia di Indonesia dan Dunia

Miopia (rabun jauh) merupakan kelainan refraksi mata yang paling umum di dunia. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa gangguan penglihatan pada anak usia sekolah (5–19 tahun) di Indonesia diperkirakan mencapai 10 persen, dan secara global sekitar 65 juta anak menderita miopia dengan proyeksi meningkat menjadi 275 juta pada tahun 2050. Penelitian Vision Project Perkumpulan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) yang dilakukan secara berjenjang di sekolah dasar tujuh provinsi mencatat prevalensi rabun jauh tertinggi di Jakarta, sebesar 40 persen — meningkat signifikan dibandingkan data Riskesdas 2018 yang hanya sekitar 10 persen. Salah satu temuan penting dari riset tersebut adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan mata rutin dan skrining kelainan refraksi, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini.

Tren peningkatan ini erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup anak-anak masa kini — waktu layar yang panjang dan berkurangnya aktivitas luar ruangan. Secara ilmiah, pendekatan klinis terhadap miopia pun telah bergeser: dari sekadar koreksi optik pasif menuju strategi aktif yang menargetkan pencegahan onset sekaligus perlambatan axial elongation (pemanjangan bola mata), yang merupakan mekanisme dasar progresivitas miopia, dengan intervensi yang kini mencakup lensa kacamata dan kontak lensa khusus, tetes mata atropin dosis rendah, ortokeratologi, hingga modifikasi perilaku seperti menambah waktu di luar ruangan.

Mengenal Ragam Pilihan Koreksi Miopia

Kacamata: Pilihan Dasar, Kini Bisa Lebih dari Sekadar Koreksi

Kacamata lensa tunggal (single-vision lenses) tetap menjadi pilihan paling aman dan mudah diakses, terutama untuk anak-anak kecil. Namun, lensa jenis ini hanya mengoreksi penglihatan sentral dan tidak memengaruhi laju pertambahan panjang bola mata pada anak yang miopianya masih progresif. Untuk kebutuhan pengendalian progresivitas, kini tersedia kacamata dengan desain khusus seperti Defocus Incorporated Multiple Segments (DIMS) dan lensa berteknologi Highly Aspherical Lenslet (HAL), yang menciptakan defocus miopik periferal untuk memperlambat pertumbuhan bola mata sambil tetap memberikan penglihatan sentral yang jernih.

Lensa Kontak Lunak: Fleksibilitas dengan Manfaat Tambahan pada Anak

Lensa kontak lunak konvensional mengoreksi refraksi seperti kacamata, namun tanpa efek kendali progresivitas. Yang membedakan adalah lensa kontak multifokal lunak (soft multifocal contact lenses), yang dirancang dengan zona-zona kekuatan dioptri berbeda di bagian tepi lensa. Tinjauan konsensus internasional mencatat bahwa lensa jenis ini rata-rata mampu menurunkan progresivitas miopia sebesar 36,4 persen dan mengurangi pertambahan panjang bola mata sebesar 37,9 persen. Salah satu produk yang banyak diteliti adalah lensa harian dengan zona koreksi jarak sentral dikelilingi cincin zona pengobatan bergantian yang menghasilkan efek myopic defocus sekitar 2 dioptri.

Ortokeratologi (Ortho-K): Membentuk Ulang Kornea Saat Tidur

Ortho-K menggunakan lensa kontak kaku permeabel gas yang dipakai semalam untuk sementara meratakan kornea, sehingga penglihatan jernih tercapai di siang hari tanpa kacamata maupun lensa kontak. Selain fungsi koreksi, metode ini juga efektif memperlambat progresivitas miopia. Data gabungan dari studi ROMIO menunjukkan pengurangan pertambahan panjang bola mata sekitar 0,25 mm dibandingkan kelompok kontrol berkacamata lensa tunggal selama periode dua tahun, sementara tinjauan lain melaporkan reduksi pertambahan panjang bola mata sebesar 0,2 hingga 0,3 mm dalam dua tahun. Ortho-K juga tercatat sebagai satu-satunya modalitas yang telah diteliti untuk pengendalian miopia pada pasien dengan miopia tinggi dan astigmatisme signifikan. Meski demikian, pemakaian lensa semalaman membawa risiko tersendiri: risiko infeksi kornea (keratitis) pada pasien anak relatif lebih tinggi dibandingkan pemakaian lensa siang hari, dan data jangka panjang setelah penghentian lensa masih terbatas.

Bedah Refraktif: LASIK dan Sejenisnya untuk Dewasa dengan Refraksi Stabil

LASIK (laser-assisted in situ keratomileusis), PRK (photorefractive keratectomy), dan SMILE (small-incision lenticule extraction) mengubah bentuk kornea secara permanen untuk mengoreksi kesalahan refraksi pada orang dewasa. Berbeda dari metode-metode sebelumnya, bedah refraktif ini bersifat korektif, bukan preventif — ia tidak menghentikan pertambahan panjang bola mata maupun mencegah komplikasi miopia tinggi seperti maculopathy miopik atau ablasio retina. Karena itu, perannya pada anak sangat terbatas mengingat pertumbuhan mata yang belum selesai.

Kriteria umum kelayakan LASIK mencakup usia minimal 18 tahun — idealnya di atas 21 tahun untuk memastikan mata telah berhenti berubah — serta refraksi yang telah stabil (perubahan tidak lebih dari 0,5 dioptri) selama minimal satu tahun, sebaiknya dua tahun. Ketebalan kornea yang memadai, tidak adanya tanda keratoconus, serta kondisi mata sehat secara umum turut menjadi syarat penting sebelum tindakan dipertimbangkan.

Atropin Dosis Rendah: Pendekatan Farmakologis untuk Anak

Meski bukan alat koreksi penglihatan, tetes mata atropin konsentrasi rendah (umumnya 0,01–0,05%) layak disebut karena perannya sebagai terapi farmakologis andalan dengan efikasi konsisten dalam memperlambat progresivitas miopia pada anak. Metode ini kerap dikombinasikan dengan Ortho-K atau lensa kontak multifokal untuk hasil yang lebih optimal, meskipun protokol dosis dan durasi terapi yang baku masih terus dikaji.

Memilih Metode yang Tepat: Faktor yang Perlu Dipertimbangkan

Tidak ada metode koreksi miopia yang secara universal “terbaik”. Beberapa faktor kunci yang perlu didiskusikan bersama dokter mata meliputi:

  • Usia dan status pertumbuhan mata. Anak-anak dengan miopia yang masih progresif membutuhkan strategi pengendalian (kacamata kontrol miopia, lensa multifokal, Ortho-K, atau atropin), bukan sekadar koreksi. Bedah refraktif baru relevan setelah refraksi stabil di usia dewasa.
  • Derajat miopia dan astigmatisme. Ortho-K umumnya efektif untuk miopia hingga sekitar −6 dioptri dengan astigmatisme terbatas; miopia sangat tinggi mungkin memerlukan pendekatan bedah lain seperti implan lensa fakik.
  • Gaya hidup dan kepatuhan. Ortho-K dan lensa kontak menuntut kedisiplinan kebersihan tinggi; anak yang kesulitan menjaga higiene lensa mungkin lebih aman dengan kacamata kontrol miopia.
  • Toleransi risiko. Bedah refraktif bersifat permanen dan memiliki risiko bedah tersendiri; pasien perlu memahami bahwa prosedur ini mengoreksi tampilan visual, bukan menyembuhkan penyebab dasar miopia.
  • Ketersediaan dan biaya. Tidak semua fasilitas kesehatan di Indonesia menyediakan lensa kontrol miopia canggih atau layanan Ortho-K; kacamata tetap menjadi pilihan paling terjangkau dan merata aksesnya.

Kapan Perlu ke Dokter Mata

Rujukan ke dokter spesialis mata sebaiknya dilakukan bila anak menunjukkan tanda kesulitan melihat jauh (memicingkan mata, duduk terlalu dekat ke papan tulis atau layar), bila ada riwayat miopia tinggi pada orang tua, atau bila terjadi perubahan ukuran kacamata yang cepat dalam waktu singkat — semua ini menjadi indikasi pentingnya skrining dan pemantauan progresivitas sejak dini.


Catatan transparansi: Data epidemiologi Indonesia dalam artikel ini bersumber dari pemberitaan media (ANTARA, Kompas.id) yang mengutip pernyataan pejabat Kemenkes dan hasil riset PERDAMI Vision Project; angka-angka tersebut belum diverifikasi silang dengan laporan primer SKI 2023 secara utuh. Kriteria kelayakan LASIK yang disampaikan bersifat umum, merujuk pada pedoman American Academy of Ophthalmology sebagaimana dikutip sumber sekunder, dan dapat berbeda pada praktik masing-masing sentra bedah refraktif di Indonesia. Angka efikasi masing-masing metode kendali miopia (Ortho-K, lensa multifokal, atropin) berasal dari tinjauan pustaka internasional 2025 dan dapat bervariasi antarpopulasi serta antarstudi. Artikel ini bersifat edukatif umum dan tidak menggantikan pemeriksaan serta konsultasi langsung dengan dokter spesialis mata.

Ringkasan: Miopia dapat dikoreksi dengan kacamata, lensa kontak, Ortho-K, atau LASIK — masing-masing punya peran berbeda. Anak dengan miopia progresif memerlukan strategi pengendalian (lensa kontrol khusus, Ortho-K, atau atropin dosis rendah), sementara LASIK hanya cocok untuk dewasa dengan refraksi stabil. Pilihan tepat bergantung usia, derajat miopia, gaya hidup, dan konsultasi dengan dokter mata.


Referensi

Maulvi, F. A., Desai, D. T., Kalaiselvan, P., Shah, D. O., & Willcox, M. D. P. (2025). Current and emerging strategies for myopia control: A narrative review of optical, pharmacological, behavioural, and adjunctive therapies. Eye, 39(14), 2635–2644. https://doi.org/10.1038/s41433-025-03949-1

World Society of Paediatric Ophthalmology and Strabismus. (2025). Myopia consensus statement. https://wspos.org/wp-content/uploads/2025/04/Draft-Myopia-Consensus-Statement-28th-April-2025.pdf

International Myopia Institute. (2025). IMI—Interventions for controlling myopia onset and progression 2025. PubMed Central. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12448128/

Contact Lens Spectrum. (2025, Maret 11). No-fee CE: Myopia management 2025. https://www.clspectrum.com/issues/2025/march/myopia-management-2025/

Ophthalmology Times. (2025). Treating myopia today: US-focused treatments, challenges, and global insights. https://www.ophthalmologytimes.com/view/treating-myopia-today-us-focused-treatments-challenges-and-global-insights

ANTARA News. (2024, Oktober 7). Kemenkes ungkap prevalensi gangguan mata pada anak sekolah RI. https://www.antaranews.com/berita/4381678/kemenkes-ungkap-prevalensi-gangguan-mata-pada-anak-sekolah-ri

Kompas.id. (2024, Desember 7). Kesehatan penglihatan untuk Indonesia Emas 2045. https://www.kompas.id/artikel/kesehatan-penglihatan-untuk-indonesia-emas-2045

MyVision.org. (2024, Mei 22). LASIK eligibility requirements: Are you a candidate? https://myvision.org/lasik/eligibility/


Tags: miopia, rabun jauh, kacamata, lensa kontak, ortokeratologi, LASIK, bedah refraktif, kesehatan mata anak, kelainan refraksi, kesehatan mata Indonesia

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca