A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pada suatu malam di sebuah Puskesmas rawat inap di pedalaman Ende, Nusa Tenggara Timur, seorang bayi berusia enam minggu dibawa ibunya dengan napas cepat, tarikan dinding dada, dan suara mengi yang terdengar jelas tanpa stetoskop. Dokter jaga mendiagnosis bronkiolitis berat akibat respiratory syncytial virus (RSV) — infeksi yang, bagi kebanyakan anak yang lebih besar, hanya menyerupai pilek biasa, tetapi bagi bayi di bawah enam bulan bisa berarti perjalanan panjang ke ruang rawat intensif, atau lebih buruk. Kisah semacam ini terjadi ribuan kali setiap musim hujan di berbagai penjuru Indonesia, dari NTT hingga Aceh, sering kali tanpa pernah dicatat sebagai “RSV” karena keterbatasan pemeriksaan laboratorium di fasilitas kesehatan primer.

Pada 9 September 2026, World Health Organization (WHO) mengumumkan babak baru dalam upaya global melawan virus ini: prakualifikasi vial multidosis vaksin RSV maternal, RSVpreF (Abrysvo®), yang diharapkan membuat vaksinasi ibu hamil lebih murah dan lebih mudah didistribusikan ke negara-negara dengan sumber daya terbatas (World Health Organization, 2026). Artikel ini mengulas apa yang sesungguhnya dibuktikan vaksin ini, apa arti perkembangan terbaru tersebut, dan bagaimana posisinya di Indonesia saat ini.

RSV: “Musuh Lama” yang Jarang Disebut Namanya

RSV diperkirakan menyebabkan lebih dari 3,6 juta rawat inap dan sekitar 100.000 kematian anak di bawah usia 5 tahun setiap tahun secara global, dengan hampir separuh kematian terjadi pada bayi di bawah 6 bulan — kelompok usia yang justru menjadi sasaran perlindungan vaksinasi maternal. Sekitar 97% kematian akibat RSV terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dan pada banyak kasus anak meninggal di rumah sebelum sempat mencapai fasilitas kesehatan (World Health Organization, 2026).

Di Indonesia, RSV belum menjadi diagnosis rutin di layanan primer, tetapi ia bersembunyi di balik data pneumonia balita yang selama ini menjadi penyebab kematian bayi dan balita dengan proporsi tertinggi kedua setelah masa neonatal (Anwar & Dharmayanti, 2014). Pola musiman RSV — memuncak pada musim hujan — juga sejalan dengan lonjakan kasus infeksi saluran napas bawah pada balita yang selama ini dilaporkan di banyak provinsi.

Panduan lengkap tentang infeksi RSV pada balita dan anak, menjelaskan tentang virus, cara penularan, gejala, dan pengobatan.

Dua Strategi Perlindungan Bayi

Saat ini terdapat dua pendekatan imunoprofilaksis RSV pada bayi yang direkomendasikan secara global: vaksinasi ibu hamil (RSVpreF/Abrysvo) yang memindahkan antibodi lewat plasenta, dan pemberian antibodi monoklonal jangka panjang (nirsevimab) langsung kepada bayi. Keduanya bekerja pada target yang sama — protein fusion (F) RSV pada fase prefusion — namun berbeda jalur pemberian dan populasi sasaran. Palivizumab, antibodi monoklonal generasi lama yang harus disuntikkan bulanan, belum tersedia di Indonesia (Alomedika, n.d.-a), sedangkan nirsevimab sudah dibahas dalam literatur kedokteran Indonesia namun distribusinya masih terbatas.

Mengenal Abrysvo: Mekanisme dan Cara Kerja

Abrysvo adalah vaksin subunit rekombinan bivalen yang mengandung antigen prefusion F dari RSV subgrup A dan B, masing-masing 60 mikrogram per dosis 0,5 mL, tanpa adjuvan maupun pengawet. Setelah suntikan intramuskular ke otot deltoid, antigen ini memicu pembentukan antibodi penetral yang, pada ibu hamil, ditransfer melalui plasenta ke janin (Pfizer Europe MA EEIG, 2026).

Dosis tunggal diberikan pada trimester ketiga kehamilan, idealnya minggu ke-28 hingga ke-36 gestasi, sesuai rekomendasi WHO untuk mengoptimalkan transfer antibodi sebelum kelahiran (Pfizer Europe MA EEIG, 2026; World Health Organization, 2026). Vaksin yang sama, dengan indikasi terpisah, juga disetujui untuk imunisasi aktif pada dewasa berusia 18 tahun ke atas guna mencegah penyakit saluran napas bawah akibat RSV — termasuk populasi lansia yang menjadi kelompok berisiko tinggi lainnya.

Bukti Klinis: Seberapa Efektif?

Efikasi Abrysvo pada bayi diuji dalam Study 1 (dikenal sebagai studi MATISSE), uji klinis fase 3 acak tersamar ganda dengan lebih dari 7.400 ibu hamil (Kampmann et al., 2023; Pfizer Europe MA EEIG, 2026). Hasilnya menunjukkan penurunan risiko penyakit saluran napas bawah terkait RSV yang bermakna pada bayi hingga usia 6 bulan:

Periode setelah lahirEfikasi terhadap LRTD berat (%)Efikasi terhadap LRTD medis (%)
90 hari81,857,1
120 hari73,956,8
150 hari70,952,5
180 hari69,451,3

LRTD = lower respiratory tract disease (penyakit saluran napas bawah); data populasi keseluruhan Study 1 (Pfizer Europe MA EEIG, 2026).

Pada subkelompok yang divaksinasi antara minggu ke-28 dan ke-36 gestasi — yang menjadi rekomendasi WHO — efikasi terhadap LRTD berat bahkan mencapai 90,9% pada 90 hari pertama kehidupan. Pada kelompok dewasa berusia 60 tahun ke atas (Study 2, lebih dari 36.000 peserta), efikasi terhadap episode pertama LRTD terkait RSV tercatat 65,1% pada akhir musim RSV pertama (Pfizer Europe MA EEIG, 2026).

Profil Keamanan

Reaksi tersering pada ibu hamil adalah nyeri di lokasi suntikan (41%), sakit kepala (31%), dan mialgia (27%), umumnya ringan hingga sedang dan mereda dalam 2–3 hari. Anafilaksis dan sindrom Guillain-Barré tercatat sebagai reaksi sangat jarang pada dewasa. Data non-klinis tidak menunjukkan bahaya khusus terhadap reproduksi dan perkembangan janin (Pfizer Europe MA EEIG, 2026). Vaksin ini dikontraindikasikan pada individu dengan riwayat hipersensitivitas terhadap komponennya, dan perlu kehati-hatian pada individu dengan gangguan koagulasi atau trombositopenia.

Vial Multidosis: Mengapa Ini Penting?

Prakualifikasi WHO terbaru menyasar presentasi vial multidosis Abrysvo, yang dapat menghasilkan hingga 3 dosis per vial tanpa pengawet — vial harus dibuang 6 jam setelah dibuka atau di akhir sesi imunisasi, mana yang lebih dulu (WHO Prequalification of Medical Products, n.d.). Presentasi ini dikembangkan dengan dukungan Gates Foundation dan dirancang agar biaya per dosis lebih rendah dibanding presentasi dosis tunggal, sehingga memudahkan negara-negara yang didukung Gavi, Vaccine Alliance untuk merencanakan introduksi program vaksinasi RSV maternal berskala nasional (World Health Organization, 2026).

Langkah ini melanjutkan prakualifikasi presentasi dosis tunggal pada Maret 2025 dan keputusan Gavi pada Juli 2025 untuk membentuk program vaksin RSV maternal bagi negara-negara mitranya.

Bagaimana Posisinya di Indonesia?

Di sinilah letak nuansa penting bagi pembaca Indonesia. Abrysvo sudah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak Juni 2026 dengan nomor registrasi DKI2486102344A1, dalam bentuk serbuk injeksi dengan pelarut prefilled syringe — presentasi dosis tunggal, bukan vial multidosis (Direktorat Registrasi Obat, 2026). Artinya, vaksin ini sudah dapat diresepkan secara legal di Indonesia, namun saat ini masih beredar di jalur swasta dan belum masuk ke dalam Program Imunisasi Nasional maupun skema pembiayaan JKN/BPJS Kesehatan.

Ada satu nuansa yang perlu digarisbawahi: manfaat harga lebih murah dari vial multidosis yang baru diprakualifikasi terutama dirancang untuk negara-negara yang masih menerima dukungan Gavi. Indonesia sendiri telah lulus dari status penerima dukungan Gavi dan menjadi fully self-financing sejak 2017 — bahkan kini berperan sebagai salah satu negara donor Gavi (Gavi, the Vaccine Alliance, n.d.). Konsekuensinya, jika pemerintah Indonesia hendak mengadopsi vaksin RSV maternal ke dalam program nasional, pengadaannya kemungkinan besar harus dinegosiasikan secara mandiri melalui anggaran negara atau skema JKN, bukan melalui mekanisme subsidi Gavi yang dinikmati negara-negara berpenghasilan rendah.

Bagi klinisi dan manajer fasilitas kesehatan, ini berarti:

  • Abrysvo dapat ditawarkan sebagai pilihan vaksinasi mandiri (di luar tanggungan BPJS) bagi ibu hamil trimester ketiga yang menginginkan perlindungan tambahan bagi bayinya, dengan konseling yang jujur mengenai bukti efikasi dan biaya.
  • Nirsevimab, sebagai alternatif berbasis antibodi monoklonal untuk bayi, juga belum masuk program nasional dan distribusinya di Indonesia masih terbatas.
  • Diskusi kebijakan mengenai introduksi RSV ke Program Imunisasi Nasional layak terus dipantau, mengingat beban penyakit saluran napas bawah pada balita di Indonesia masih tinggi dan tumpang tindih secara musiman dengan RSV.

Ringkasan Praktis untuk Klinisi

Vaksin RSVpreF terbukti secara konsisten menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga usia 6 bulan bila ibu divaksinasi pada minggu ke-28–36 gestasi. Profil keamanannya tergolong baik dengan reaksi lokal ringan yang paling sering dilaporkan. Perkembangan vial multidosis memperluas akses global, tetapi dampaknya terhadap harga di Indonesia — negara yang sudah lepas dari skema subsidi Gavi — masih perlu dipantau melalui kebijakan pengadaan mandiri pemerintah.


Diagram: Jendela Waktu Vaksinasi RSV Maternal

Jendela Vaksinasi RSVpreF pada Kehamilan Rentang yang diteliti: minggu 24–36 Direkomendasikan WHO: minggu 28–36 Lahir Mgg 24 Mgg 28 Mgg 36 Proteksi bayi ± 6 bulan Dosis tunggal 0,5 mL, intramuskular deltoid

Catatan Transparansi: Artikel ini disusun dengan bantuan asisten AI (Claude, Anthropic) untuk riset literatur, penyusunan draf, dan sistematisasi data. Sumber utama meliputi dokumen Product Information WHO/Pfizer untuk Abrysvo, laman berita dan prakualifikasi resmi WHO, publikasi hasil uji klinis di jurnal terindeks (NEJM), serta data registrasi BPOM. Interpretasi mengenai implikasi kebijakan bagi Indonesia (khususnya terkait status Gavi) merupakan analisis penulis berdasarkan data publik yang tersedia, bukan pernyataan resmi Kementerian Kesehatan RI. Pembaca dianjurkan berkonsultasi dengan dokter atau bidan untuk keputusan vaksinasi individual.


Daftar Pustaka

Alomedika. (n.d.-a). Edukasi dan promosi kesehatan respiratory syncytial virus. Diakses 12 September 2026, dari https://alomedika.com/penyakit/kesehatan-anak/respiratory-syncytial-virus/edukasi-dan-promosi-kesehatan

Alomedika. (n.d.-b). Penggunaan pada kehamilan dan ibu menyusui: Vaksin respiratory syncytial virus (RSV). Diakses 12 September 2026, dari https://alomedika.com/obat/vaksin-serum-dan-imunoglobulin/vaksin/vaksin-respiratory-syncytial-virus/penggunaan-pada-kehamilan-dan-ibu-menyusui

Anwar, A., & Dharmayanti, I. (2014). Pneumonia pada anak balita di Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (Kesmas), 8(8), 359–365. https://doi.org/10.21109/kesmas.v8i8.405

Direktorat Registrasi Obat. (2026). ABRYSVO — Nomor registrasi BPOM DKI2486102344A1. Diakses 12 September 2026, dari https://productlist.id/products/abrysvo-dki2486102344a1

Gavi, the Vaccine Alliance. (n.d.). Indonesia country hub. Diakses 12 September 2026, dari https://www.gavi.org/programmes-impact/country-hub/south-east-asia/indonesia

Kampmann, B., Madhi, S. A., Munjal, I., Simões, E. A. F., Pahud, B. A., Llapur, C., Baker, J., Pérez Marc, G., Radley, D., Shittu, E., Absalon, J., Villafana, T., Gurtman, A., Gurunathan, S., & Griffin, M. P. (2023). Bivalent prefusion F vaccine in pregnancy to prevent RSV illness in infants. New England Journal of Medicine, 388(16), 1451–1464. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2216480

Pfizer Europe MA EEIG. (2026). Abrysvo powder and solvent for solution for injection: Product information [WHO prequalification document]. World Health Organization Prequalification of Medical Products.

World Health Organization. (2026, September 9). WHO prequalifies multi-dose RSV vaccine vial, paving the way to protecting more infants globally. https://www.who.int/news/item/09-09-2026-who-prequalifies-multi-dose-rsv-vaccine-vial–paving-the-way-to-protecting-more-infants-globally

WHO Prequalification of Medical Products. (n.d.). Abrysvo. Diakses 12 September 2026, dari https://extranet.who.int/prequal/vaccines/p/abrysvo-0

Artikel Baru Terbit

  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
  • Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun: Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1
    Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.
  • Ketika Sebatang Rokok Menutup Jalan Menuju Kehamilan: Tembakau dan Ancaman terhadap Kesuburan
    Merokok berdampak negatif pada kesuburan, dengan risiko infertilitas meningkat 1,4 kali pada perempuan perokok dan disfungsi seksual pada laki-laki perokok. Paparan asap rokok juga berbahaya. Berhenti merokok dapat meningkatkan peluang kehamilan, penting bagi pasangan yang merencanakan memiliki anak untuk memahami risiko tersebut dan melakukan perubahan gaya hidup.
  • Dua Alat Baru WHO untuk Menilai Risiko Wabah: Kapan Pakai yang Cepat, Kapan Pakai yang Mendalam?
    Dua alat penilaian risiko terbaru WHO, QIRA dan MS-RRA, dirancang untuk meningkatkan respons terhadap keadaan darurat kesehatan. QIRA menyediakan penilaian cepat dalam waktu singkat, sementara MS-RRA menawarkan analisis mendalam. Keduanya melengkapi praktik penilaian risiko yang sudah ada di Indonesia, meningkatkan sistem dokumentasi dan pengambilan keputusan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca