A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Apa pernah Anda mendengar kata anak muda zaman sekarang, mungkin seperti, “sensi banget sih loe?” – Kadang ada orang yang membawa masalah ke dalam ranah yang lebih dalam, lebih terselubung. Kadang menimbulkan salah sangka, karena orang memproses segala input yang ditangkap sistem sensorisnya dalam ranah yang berbeda sebagai orang kebanyakan.

Orang-orang seperti ini memiliki kepekaan psikologis yang tinggi, karena ia bisa jadi memproses data-data sensori secara lebih mendalam dan menyeluruh dibandingkan populasi normal oleh karena adanya perbedaan dalam sistem saraf mereka. Ini disebut sebagai HSP (highly sensitive person) yang di masa lalu sering diduga sebagai masalah kecemasan sosial hingga ke fobia sosial.

Saya sendiri tidak mengetahui banyak HSP ini, namun dikatakan bahwa pemilik karakter HSP cenderung bekerja dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan orang lain. Mereka bisa melihat dan mencermati hal-hal yang tidak dilihat oleh kebanyakan orang, masalah-masalah yang lebih tak kasat mata, dan jika siswa maka mereka bisa belajar dengan lebih baik melalui cara ini. Jika seorang anak didik dengan HSP tidak memberika kontribusi terlalu banyak pada sebuah diskusi bukan berarti mereka tidak memahami yang didiskusikan, dan juga tidak berarti mereka sedang malu.

Karena anak didik dengan HSP seringkali memproses sesuatu lebih baik melalui imajinasi mereka daripada mengerjakannya secara langsung, dan biasanya tidak suka dalam pengawasan karena mereka sangat peka.

Konsep HSP ini sendiri adalah hal yang baru, dan saya bertanya-tanya apakah akan mengubah paradigma pendidikan ke depannya. Karena mereka menganalisa sesuatu lebih baik dengan otak mereka daripada mengerjakan, mungkinkan konsep “practice makes perfect” tidak akan berlaku dalam dunia pembelajaran mereka?

Nah, saya tidak memiliki banyak potensi untuk memahami teori “Positive Disintegration” untuk menyelami masalah ini. Mungkin nanti bertanya saja pada yang mendalami ilmu psikologi lebih banyak.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Rumah Baru, Wajah Baru
    Legawa.com baru saja melakukan pembaruan identitas visual dengan logo baru yang sederhana, menggambarkan matahari di atas awan. Simbol ini merepresentasikan perjalanan penulis dan esai yang dihasilkan. Desain yang bersih dan konsisten diharapkan dapat menjadikan blog ini lebih tenang dan jujur, tanpa elemen yang bersaing.
  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

17 tanggapan

  1. Avatar imadewira

    Bukankah sensi itu juga tergantung mood ya? Kalau mood sedang buruk, biasanya saya suka melihat semuanya salah. Atau mungkin itu yang disebut egois, entahlah.

    1. Avatar Cahya

      Bli Wira,
      Lalu mood itu pengaruhnya dari mana? Dibalik ke kepekaan lagi? Begitu hujan, orang langsung terpengaruh "mood"-nya jadi anjlok begitu 😀 – entahlah, saya juga tidak begitu paham.

  2. Avatar aldy~pf
    aldy~pf

    Ada kalanya sensitif, tetapi ada kalanya bebal juga 🙁

  3. Avatar eyha
    eyha

    saya juga sensitif…hehehhee…

    1. Avatar Cahya

      Eyha,
      Its okay, being sensitive is nice, but balancing it with being open, wise and patient would be nicer :).

  4. Avatar suzannita
    suzannita

    iya saya lagi sensitif nih, lagi dateng bulan nih 😀

    1. Avatar Cahya

      Mbak Suzan,
      Mana-mana saya catat tanggalnya 😆 – kalau besok konsul, biar bisa ditebak penyebab kelabilannya 😀 (kabur sebelum dilempar sepatu).

  5. Avatar Asop

    Ehem… *batuk* apakah sama dengan 'kepekaan sosial'? 😳

    1. Avatar Cahya

      Asop,
      Saya rasa lebih pada "kepekaan personal" :).

  6. Avatar lia
    lia

    bahasa dan pembahasan yang padat bli, salut saya.

    HSP itu sama tidak dengan istilah introvert? aduuh kayaknya jauh ya?

    1. Avatar Cahya

      Lia,
      Saya tidak begitu yakin, tapi umumnya mereka dengan HSP memiliki sikap lebih tertutup (introvert).

  7. Avatar chazky

    sensitif ada hubungannya sama kondisi hormonal?

    well, kl sensi positif kan bagus, bisa menambah kejelian seseorang thd sesuatu. tp kl sensi itu jadi negatif, misalnya jadinya emosional dan sensi2 dalam konteks ABG dan membuat kelabilan (masih dalam konteks ABG) – apa itu jadinya semacam mental 'something' disorder?

    1. Avatar Cahya

      Chazky,
      Kalau masalah ABG, saya rasa masa labil itu selalu ditemui ketika pubertas, baik pada mereka yang memiliki kepekaan lebih atau yang wajar-wajar saja. Kadang ini melibatkan sebuah proses menemukan jati dirinya di dalam masa transisi. Nah, selama tidak berdampak negatif baik bagi dirinya dan lingkungan secara bermakna, there is no "something" need to put as a concern of disorder.

  8. Avatar Nandini

    Orang bilang saya bukan sensitif, tapi terlalu peka.. beda ya sensitif dengan peka? 😀

    1. Avatar Cahya

      Nandini,
      Sensitif itu kata serapan dari bahasa asing "sensitive", kalau padanan katanya dalam bahasa Indonesia ya "peka" – CMIIW. Rasanya karena 1 dari 5 orang memiliki kepekaan yang lebih dari rata-rata mungkin ini menyebabkan banyak orang bisa tampak terlalu peka, bahkan mungkin juga diri kita sendiri.

  9. Avatar TuSuda
    TuSuda

    sepertinya tingkat sensitivitas sangat tergantung dari kondisi anatomis, fisiologis dan psikologis..

    1. Avatar Cahya

      Dokter Putu,
      Jangan lupa kondisi "dompet" juga berpengaruh, termasuk penanggalan, tanggal tua biasanya jadi hipersensitif :).

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca