Apa pernah Anda mendengar kata anak muda zaman sekarang, mungkin seperti, “sensi banget sih loe?” – Kadang ada orang yang membawa masalah ke dalam ranah yang lebih dalam, lebih terselubung. Kadang menimbulkan salah sangka, karena orang memproses segala input yang ditangkap sistem sensorisnya dalam ranah yang berbeda sebagai orang kebanyakan.
Orang-orang seperti ini memiliki kepekaan psikologis yang tinggi, karena ia bisa jadi memproses data-data sensori secara lebih mendalam dan menyeluruh dibandingkan populasi normal oleh karena adanya perbedaan dalam sistem saraf mereka. Ini disebut sebagai HSP (highly sensitive person) yang di masa lalu sering diduga sebagai masalah kecemasan sosial hingga ke fobia sosial.
Saya sendiri tidak mengetahui banyak HSP ini, namun dikatakan bahwa pemilik karakter HSP cenderung bekerja dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan orang lain. Mereka bisa melihat dan mencermati hal-hal yang tidak dilihat oleh kebanyakan orang, masalah-masalah yang lebih tak kasat mata, dan jika siswa maka mereka bisa belajar dengan lebih baik melalui cara ini. Jika seorang anak didik dengan HSP tidak memberika kontribusi terlalu banyak pada sebuah diskusi bukan berarti mereka tidak memahami yang didiskusikan, dan juga tidak berarti mereka sedang malu.
Karena anak didik dengan HSP seringkali memproses sesuatu lebih baik melalui imajinasi mereka daripada mengerjakannya secara langsung, dan biasanya tidak suka dalam pengawasan karena mereka sangat peka.
Konsep HSP ini sendiri adalah hal yang baru, dan saya bertanya-tanya apakah akan mengubah paradigma pendidikan ke depannya. Karena mereka menganalisa sesuatu lebih baik dengan otak mereka daripada mengerjakan, mungkinkan konsep “practice makes perfect” tidak akan berlaku dalam dunia pembelajaran mereka?
Nah, saya tidak memiliki banyak potensi untuk memahami teori “Positive Disintegration” untuk menyelami masalah ini. Mungkin nanti bertanya saja pada yang mendalami ilmu psikologi lebih banyak.
Legawa.com baru saja melakukan pembaruan identitas visual dengan logo baru yang sederhana, menggambarkan matahari di atas awan. Simbol ini merepresentasikan perjalanan penulis dan esai yang dihasilkan. Desain yang bersih dan konsisten diharapkan dapat menjadikan blog ini lebih tenang dan jujur, tanpa elemen yang bersaing.
Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Bukankah sensi itu juga tergantung mood ya? Kalau mood sedang buruk, biasanya saya suka melihat semuanya salah. Atau mungkin itu yang disebut egois, entahlah.
Bli Wira,
Lalu mood itu pengaruhnya dari mana? Dibalik ke kepekaan lagi? Begitu hujan, orang langsung terpengaruh "mood"-nya jadi anjlok begitu 😀 – entahlah, saya juga tidak begitu paham.
well, kl sensi positif kan bagus, bisa menambah kejelian seseorang thd sesuatu. tp kl sensi itu jadi negatif, misalnya jadinya emosional dan sensi2 dalam konteks ABG dan membuat kelabilan (masih dalam konteks ABG) – apa itu jadinya semacam mental 'something' disorder?
Chazky,
Kalau masalah ABG, saya rasa masa labil itu selalu ditemui ketika pubertas, baik pada mereka yang memiliki kepekaan lebih atau yang wajar-wajar saja. Kadang ini melibatkan sebuah proses menemukan jati dirinya di dalam masa transisi. Nah, selama tidak berdampak negatif baik bagi dirinya dan lingkungan secara bermakna, there is no "something" need to put as a concern of disorder.
Nandini,
Sensitif itu kata serapan dari bahasa asing "sensitive", kalau padanan katanya dalam bahasa Indonesia ya "peka" – CMIIW. Rasanya karena 1 dari 5 orang memiliki kepekaan yang lebih dari rata-rata mungkin ini menyebabkan banyak orang bisa tampak terlalu peka, bahkan mungkin juga diri kita sendiri.
Tinggalkan Balasan