Gagal jantung dengan fraksi ejeksi terjaga (HFpEF) merupakan kondisi di mana jantung tetap mampu memompa darah secara normal, tetapi ototnya kaku dan sulit relaksasi, menyebabkan sesak napas dan pembengkakan. Penelitian terbaru menemukan bahwa urolithin A, senyawa hasil metabolisme mikrobiota usus dari buah delima, dapat mengaktifkan protein PKGIα yang berperan dalam relaksasi otot jantung.
Studi pada hewan dan jaringan jantung manusia rekayasa menunjukkan urolithin A memperbaiki fungsi diastolik dan mengurangi fibrosis. Namun, efektivitasnya pada pasien HFpEF masih memerlukan uji klinis lebih lanjut. Saat ini, pengelolaan HFpEF tetap berfokus pada pengendalian faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan pola makan sehat.
Seorang perempuan berusia 68 tahun datang ke puskesmas di pinggiran Sragen dengan keluhan yang sudah berbulan-bulan ia anggap sebagai “capek biasa karena usia”. Ia mudah ngos-ngosan saat menyapu halaman, kakinya bengkak menjelang sore, dan ia mulai tidur dengan dua bantal karena sesak bila berbaring datar. Ekokardiografi menunjukkan fungsi pompa jantungnya masih normal—namun bilik jantungnya kaku dan sulit terisi darah di antara denyut. Diagnosisnya: gagal jantung dengan fraksi ejeksi terjaga, atau lebih dikenal dengan singkatan heart failure with preserved ejection fraction (HFpEF).
Kondisi semacam ini sering membingungkan pasien—jantungnya “masih kuat memompa”, tetapi tetap sesak. Selama bertahun-tahun, HFpEF juga membingungkan para klinisi, karena hampir semua obat yang berhasil untuk gagal jantung jenis lain gagal menunjukkan manfaat bermakna pada kondisi ini. Kabar terbaru dari laboratorium King’s College London memberi titik terang yang tidak disangka datang dari arah dapur: senyawa yang dihasilkan tubuh setelah mengonsumsi buah delima.
Mengapa HFpEF Begitu Sulit Diobati
Gagal jantung secara umum dibedakan berdasarkan kemampuan bilik kiri memompa darah, yang diukur sebagai fraksi ejeksi. Pada HFpEF, fraksi ejeksi itu tetap normal (umumnya di atas 50%), tetapi otot jantung menjadi kaku dan sulit relaksasi—istilah medis untuk kemampuan otot jantung mengendur dan terisi darah di antara denyut. Akibatnya, jantung tidak bisa menerima cukup darah sebelum memompanya kembali, sehingga tekanan di paru-paru dan pembuluh darah meningkat dan memicu sesak napas, kelelahan, serta pembengkakan tungkai.
Secara global, HFpEF diperkirakan menyumbang sekitar separuh dari seluruh kasus gagal jantung (Pratama et al., 2024). Di Indonesia sendiri, prevalensi gagal jantung pada penduduk dewasa tercatat 1,5%, dan setidaknya separuhnya berupa HFpEF (Pratama et al., 2024). Yang membuatnya sulit ditangani adalah sifatnya yang multifaktorial—didorong oleh penuaan, hipertensi, diabetes, dan obesitas sekaligus—sehingga satu obat jarang bisa menyasar seluruh akar masalahnya. Tata laksana yang ada saat ini pun lebih banyak berfokus pada pengendalian faktor risiko dan gejala, bukan memperbaiki kekakuan otot jantung itu sendiri.
Perjalanan Delima dari Piring ke Pembuluh Darah
Delima, kenari, dan beberapa jenis beri mengandung senyawa polifenol bernama ellagitannin. Tubuh manusia sebenarnya tidak bisa menyerap ellagitannin secara langsung. Senyawa ini baru menjadi aktif setelah diolah oleh bakteri di usus besar melalui serangkaian reaksi kimia menjadi asam elagat, lalu diubah lebih lanjut menjadi kelompok senyawa yang disebut urolithin—dan yang paling banyak diteliti dari kelompok ini adalah urolithin A (Liu et al., 2026).
Menariknya, tidak semua orang menghasilkan urolithin A dalam jumlah yang sama setelah makan makanan yang sama. Kemampuan ini bergantung pada komposisi mikrobiota usus masing-masing individu, yang dikelompokkan menjadi tiga metabotipe urolithin sebagaimana dirangkum pada tabel berikut.
| Metabotipe | Karakteristik | Perkiraan proporsi populasi |
|---|---|---|
| Metabotipe A | Menghasilkan urolithin A sebagai produk akhir utama | Bervariasi antarpopulasi |
| Metabotipe B | Menghasilkan urolithin A, isourolithin A, dan urolithin B | Bervariasi antarpopulasi |
| Metabotipe 0 | Tidak menghasilkan urolithin A, isourolithin A, maupun urolithin B sama sekali | Sekitar sepertiga populasi (Liu et al., 2026) |
Fakta ini penting karena berarti manfaat yang dijelaskan pada bagian berikut tidak otomatis berlaku sama pada setiap orang yang makan delima—sebagian orang, karena komposisi mikrobiota ususnya, mungkin tidak menghasilkan urolithin A dalam jumlah bermakna sama sekali.
Temuan Baru: Urolithin A Mengaktifkan “Sakelar” Relaksasi Jantung
Tim peneliti yang dipimpin Dr. Joseph Burgoyne di King’s College London, dengan pendanaan British Heart Foundation, melakukan penapisan sejumlah senyawa alami untuk mencari molekul yang dapat mengaktifkan protein bernama PKGIα (protein kinase G I alpha)—protein yang berperan penting dalam relaksasi pembuluh darah dan otot jantung (Su et al., 2026). Dari penapisan tersebut, urolithin A muncul sebagai kandidat yang paling menjanjikan.
Secara mekanistik, urolithin A ditemukan mengaktifkan PKGIα dengan cara memodifikasi langsung asam amino sistein pada posisi ke-42 (Cys42) dari protein tersebut—jalur aktivasi yang sebelumnya belum pernah dilaporkan (Su et al., 2026). Aktivasi ini pada akhirnya meningkatkan kemampuan otot jantung untuk mengendur di antara denyut.
Pada model hewan dengan HFpEF yang diinduksi melalui pola makan tinggi lemak dan gangguan hormonal, pemberian urolithin A selama satu minggu memperbaiki ukuran fungsi diastolik jantung, mengurangi pembesaran jantung dan jaringan parut (fibrosis), serta meningkatkan aktivitas fisik hewan uji dibandingkan kelompok kontrol (Su et al., 2026). Secara keseluruhan, ukuran fungsi jantung membaik hingga 80% dibanding kelompok yang tidak diberi urolithin A.
Yang membuat temuan ini lebih meyakinkan, peneliti juga menguji urolithin A pada jaringan jantung manusia rekayasa (engineered human cardiac tissue) yang dibuat dari sel punca manusia—model laboratorium mutakhir yang meniru struktur dan fungsi otot jantung manusia sesungguhnya. Urolithin A terbukti secara bermakna memperbaiki kemampuan relaksasi jaringan ini, memperkuat dugaan bahwa temuan pada hewan dapat diterjemahkan ke fungsi jantung manusia (King’s College London, 2026).
Studi terpisah dari kelompok peneliti lain turut memperkuat gambaran ini. Song et al. (2026) melaporkan bahwa urolithin A memperbaiki remodelling jantung pada model HFpEF melalui aktivasi mitofagi—proses pembersihan mitokondria yang rusak di dalam sel—lewat jalur AMPK–mTOR, sekaligus memodulasi mikrobiota usus dan menurunkan kadar seramida yang berkaitan dengan stres pada jantung.
Apa yang Belum Diketahui: Jarak antara Laboratorium dan Ruang Praktik
Sejauh ini, seluruh bukti kuat berasal dari model hewan dan jaringan rekayasa, bukan dari uji klinis pada pasien HFpEF sungguhan. Meski begitu, urolithin A sendiri sebenarnya bukan senyawa baru di dunia klinis manusia—senyawa ini telah diuji pada manusia dalam konteks lain (misalnya kesehatan mitokondria dan penuaan) dan menunjukkan profil keamanan yang baik (King’s College London, 2026). Hal ini mempercepat kemungkinan senyawa ini diuji langsung pada pasien HFpEF di masa depan, dibandingkan bila harus memulai dari senyawa yang sama sekali baru.
Sebagaimana ditegaskan Profesor James Leiper dari British Heart Foundation, temuan pada hewan dan jaringan rekayasa ini menjanjikan, tetapi uji klinis pada manusia tetap diperlukan sebelum pendekatan ini dapat dianggap efektif untuk pasien (King’s College London, 2026). Tim peneliti sendiri secara eksplisit menyatakan belum cukup bukti untuk menganjurkan makan delima sebagai terapi gagal jantung—yang ada baru kemungkinan bahwa strategi diet yang meningkatkan produksi urolithin A kelak dapat membantu meringankan kondisi ini (King’s College London, 2026).
Mengapa Ini Relevan bagi Pasien HFpEF di Indonesia
Beban HFpEF di Indonesia nyata: pasien rawat jalan dengan kondisi ini terbukti mengalami penurunan kualitas hidup yang dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, dan riwayat merokok, sementara pilihan terapi yang secara definitif memperbaiki angka kematian pada kondisi ini masih sangat terbatas (Pratama et al., 2024). Dalam konteks inilah pencarian target terapi baru seperti jalur PKGIα menjadi penting—bukan untuk menggantikan tata laksana standar, melainkan membuka kemungkinan pilihan terapi tambahan di masa depan.
Untuk saat ini, pesan praktis bagi pasien dan keluarga tetap sama seperti sebelum temuan ini muncul: kendalikan tekanan darah dan gula darah, jaga berat badan, berhenti merokok, dan ikuti pola makan seimbang dengan cukup buah dan sayur—bukan karena delima adalah “obat ajaib”, melainkan karena pola makan sehat secara umum tetap menjadi fondasi kesehatan jantung (King’s College London, 2026).
Catatan Transparansi
Artikel ini disusun berdasarkan siaran pers dan pemberitaan atas studi Su et al. (2026) yang dipublikasikan di jurnal Science Advances, dilengkapi konteks mekanistik dari tinjauan pustaka mengenai metabolisme urolithin serta data epidemiologi HFpEF di Indonesia. Naskah lengkap studi utama belum tersedia secara terbuka penuh saat artikel ini ditulis, sehingga sebagian detail metodologis diambil dari rilis institusi (King’s College London) dan liputan media sains yang mengutip langsung peneliti utama. Seluruh temuan mengenai perbaikan fungsi jantung berasal dari model hewan dan jaringan rekayasa manusia—belum dari uji klinis pada pasien HFpEF. Pembaca, khususnya tenaga kesehatan, disarankan menantikan publikasi lengkap dan uji klinis lanjutan sebelum menerjemahkan temuan ini ke rekomendasi praktik klinis.
Ringkasan: Peneliti King’s College London menemukan bahwa urolithin A—senyawa hasil metabolisme mikrobiota usus dari ellagitannin dalam delima, kenari, dan beri—mengaktifkan protein PKGIα sehingga memperbaiki relaksasi otot jantung pada model HFpEF. Uji pada hewan dan jaringan jantung manusia rekayasa menunjukkan hasil menjanjikan, namun uji klinis pada manusia masih diperlukan sebelum dapat diterapkan sebagai terapi.
Daftar Pustaka
King’s College London. (2026, 20 Agustus). Pomegranates could unlock heart failure treatment. https://www.kcl.ac.uk/news/pomegranates-could-unlock-heart-failure-treatment
Liu, C., Sun, M., Zhao, Z., Yang, Y., Yang, Y., Zhao, Y., Zhang, R., Du, X., Liu, X., Ran, S., Wang, Y., & Pang, X. (2026). Urolithin A: A multi-target therapeutic candidate derived from the gut microbiota for obesity and metabolic dysfunction. Frontiers in Endocrinology, 17. https://doi.org/10.3389/fendo.2026.1786776
Pratama, D. A., Nasution, S. A., Muhadi, Mansjoer, A., Alwi, I., Purnamasari, D., Lydia, A., & Tahapary, D. L. (2024). Faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup pasien gagal jantung kronik fraksi ejeksi terjaga (HFpEF) rawat jalan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 11(1), 9–17. https://doi.org/10.7454/jpdi.v11i1.1553
Song, H., Yun, C., Choi, Y., et al. (2026). Urolithin A activates mitophagy via the AMPK–mTOR axis and modulates the gut–ceramide axis to ameliorate cardiac remodeling in HFpEF. Experimental & Molecular Medicine. https://doi.org/10.1038/s12276-026-01776-2
Su, J., et al. (2026). Targeting PKGIα Cys42 attenuates cardiac dysfunction in heart failure with preserved ejection fraction. Science Advances. https://doi.org/10.1126/sciadv.aec8088





Tinggalkan Balasan