A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ada pasien yang datang ke poliklinik bukan karena sedang sedih, juga bukan karena sedang gembira berlebihan. Ia datang karena lelah dengan dirinya sendiri: dua minggu merasa bersemangat luar biasa, produktif, tidur sedikit tapi tetap segar, lalu tanpa sebab jelas berganti menjadi murung, enggan bertemu orang, dan merasa tidak berguna. Pola ini berulang selama bertahuan-tahun, dan selama itu pula ia—dan orang-orang di sekitarnya—menganggapnya sekadar “moody” atau berkepribadian labil. Padahal, pola mood yang berayun kronis semacam ini punya nama dalam ilmu kedokteran jiwa: cyclothymia, atau dalam istilah Indonesia disebut gangguan siklotimik.

Siklotimia sering luput dari perhatian karena gejalanya tidak seberat episode manik atau depresi mayor yang khas pada gangguan bipolar. Namun justru sifatnya yang kronis, membaur dengan kepribadian, dan jarang dikenali inilah yang membuatnya penting dibahas—baik oleh klinisi umum, psikiater, maupun masyarakat awam yang mungkin mengalaminya tanpa sadar.

Apa Itu Gangguan Siklotimik?

Secara definisi, siklotimia adalah gangguan afektif yang ditandai oleh reaktivitas emosional dan disregulasi afektif, di mana gejalanya sering kali tidak spesifik sehingga mudah disalahartikan sebagai gangguan psikiatri lain. Dalam sistem klasifikasi Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima revisi teks (DSM-5-TR), gangguan ini dimasukkan ke dalam kategori besar gangguan bipolar, meski gejalanya jauh lebih ringan dibanding bipolar I maupun bipolar II.

Riwayat ilmiahnya cukup panjang. Penelitian awal yang mendefinisikan gangguan ini dilakukan oleh Hagop Akiskal, yang mengembangkan kuesioner tervalidasi TEMPS-A dan Cyclothymic-Hypersensitivity Questionnaire, yang kini telah diterjemahkan ke hampir 20 bahasa dan diteliti di berbagai benua. Pendekatan Akiskal ini penting karena ia melihat siklotimia bukan sekadar “gangguan mood ringan”, melainkan lebih dekat menyerupai temperamen yang menetap sejak usia dini—onsetnya cenderung dini dan perjalanannya kronis serta pervasif, sehingga dianalogikan mirip dengan gangguan kepribadian.

Kriteria Diagnostik

Menurut kriteria DSM-5-TR, siklotimia ditegakkan bila gejala hipomanik dan depresif—yang tidak memenuhi ambang batas episode penuh—telah berlangsung selama minimal dua tahun (satu tahun pada anak dan remaja), muncul lebih banyak hari dibanding tidak, dan periode bebas gejala tidak pernah melebihi dua bulan berturut-turut. Hal serupa juga ditegaskan sumber rujukan klinis lain: diagnosis biasanya didasarkan pada riwayat mood pasien, dengan tidak lebih dari dua bulan bebas gejala secara berturut-turut.

Dua syarat tambahan yang kerap terlewat oleh klinisi non-spesialis adalah: gejala harus menimbulkan hendaya bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau area penting lain, dan gejala tersebut tidak boleh merupakan akibat sekunder dari kondisi medis atau psikiatri lain , termasuk memastikan gejala tidak disebabkan oleh penyakit atau gangguan psikiatri lainnya.

Menariknya, revisi terbaru DSM-5-TR (September 2025) juga menegaskan pembedaan siklotimia dari gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder): instabilitas mood pada gangguan kepribadian ambang umumnya berada pada ranah kecemasan, iritabilitas, dan kesedihan, sedangkan elasi, euforia, dan/atau peningkatan energi bukan gambaran khas gangguan kepribadian ambang. Pembedaan ini krusial secara klinis karena tata laksana kedua kondisi tersebut berbeda jauh.

Seberapa Sering Terjadi?

Data global menunjukkan sekitar 0,4 hingga 1 persen populasi akan mengalami siklotimia sepanjang hidupnya, dengan onset biasanya pada masa remaja atau dewasa muda dan bersifat seumur hidup meski tersedia tata laksana efektif. Gangguan ini sama seringnya terjadi pada laki-laki maupun perempuan, dan dapat muncul bersamaan dengan gangguan penggunaan zat atau gangguan kecemasan. Yang perlu diwaspadai klinisi, terdapat risiko 15 hingga 50 persen bagi penyandang siklotimia untuk berkembang menjadi bipolar I atau bipolar II, meski banyak juga yang pulih tanpa mengalami episode hipomanik atau depresif di kemudian hari.

Di Indonesia sendiri, data prevalensi siklotimia secara spesifik belum tersedia—wajar mengingat sifatnya yang sering tidak terdiagnosis. Namun sebagai konteks, gambaran umum masalah kesehatan jiwa nasional bisa menjadi rujukan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi masalah kesehatan jiwa penduduk Indonesia sebesar 2,0 persen, menurun dibandingkan prevalensi gangguan mental emosional pada Riskesdas 2018. Namun analisis geospasial dari data yang sama menemukan kerentanan lebih tinggi pada kelompok perempuan, usia muda 15–24 tahun dan lansia di atas 75 tahun, penduduk yang tidak bekerja, berpendidikan dan berstatus ekonomi rendah, serta tinggal di perkotaan—kelompok yang juga relevan sebagai populasi berisiko gangguan mood termasuk siklotimia. Kesenjangan data spesifik ini sekaligus menjadi peluang penelitian bagi fasilitas kesehatan jiwa primer di Indonesia, termasuk di layanan FKTP.

Mengapa Sering Salah Diagnosis?

Tiga alasan utama membuat siklotimia mudah luput dari pengamatan klinis. Pertama, gejalanya “cukup ringan untuk ditoleransi”—pasien dan keluarga sering menganggapnya sebagai bagian dari kepribadian, bukan kondisi medis. Kedua, presentasinya tumpang tindih dengan gangguan lain seperti gangguan kepribadian ambang, gangguan kecemasan, atau attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) pada dewasa. Ketiga, durasi observasi dua tahun yang disyaratkan DSM-5-TR jarang terpenuhi dalam kunjungan poliklinik umum yang biasanya berfokus pada keluhan akut.

Bagi dokter umum atau dokter di layanan primer, kecurigaan klinis sebaiknya muncul ketika pasien datang berulang dengan keluhan mood yang tidak konsisten—kadang terlalu bersemangat, kadang terlalu lesu—tanpa pernah memenuhi kriteria episode manik atau depresi mayor penuh, dan pola ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Rujukan ke psikiater menjadi langkah yang tepat untuk konfirmasi diagnosis dan penyusunan rencana tata laksana jangka panjang.

Tata Laksana: Psikoterapi sebagai Lini Pertama

Berbeda dari gangguan bipolar tipe I yang farmakoterapinya relatif baku, tata laksana siklotimia justru menempatkan psikoterapi sebagai andalan utama. Terapi kognitif perilaku (cognitive behavioral therapy/CBT) dianggap sebagai pendekatan psikoterapi lini pertama untuk gangguan siklotimik, didampingi psikoedukasi dan terapi keluarga untuk membantu pasien mengenali pola pemicu serta memperbaiki cara mengelola emosinya.

Dari sisi farmakoterapi, kondisinya cukup unik: hingga saat ini belum ada obat yang secara khusus disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) untuk siklotimia. Meski demikian, dokter kerap meresepkan mood stabilizer seperti lithium, valproate, atau lamotrigine untuk meredam ayunan mood, dengan lithium dianggap paling konsisten manfaatnya. Sementara itu, antipsikotik—paling sering quetiapine—dapat digunakan tunggal maupun dikombinasikan dengan mood stabilizer, meskipun efektivitasnya masih diperdebatkan karena sebagian pasien justru melaporkan perburukan gejala hipomanik saat menggunakannya.

Satu prinsip tata laksana yang disepakati luas: antidepresan tunggal berisiko memicu pergeseran ke arah hipomania sehingga penggunaannya, jika memang diperlukan, harus selalu didampingi mood stabilizer. Pendekatan bertahap dan hati-hati sesuai fase emosional pasien menjadi kunci keberhasilan terapi jangka panjang.

Menutup Catatan

Siklotimia mengajarkan satu hal penting bagi klinisi: tidak semua penderitaan psikologis tampil dramatis. Kadang justru pola yang tampak “biasa saja”—naik-turun mood yang berulang bertahun-tahun—menyimpan beban klinis yang nyata dan berisiko berkembang menjadi gangguan bipolar penuh bila dibiarkan tanpa penanganan. Bagi tenaga kesehatan primer, kepekaan terhadap pola mood kronis pasien, sekalipun tampak ringan, adalah langkah awal yang bisa menyelamatkan seseorang dari bertahun-tahun salah paham terhadap dirinya sendiri.


Catatan transparansi: Data prevalensi siklotimia dalam artikel ini bersumber dari literatur internasional karena data epidemiologi spesifik untuk Indonesia belum tersedia secara publik. Data kesehatan jiwa nasional (SKI 2023) digunakan sebagai konteks umum, bukan angka spesifik siklotimia.

Referensi

American Psychiatric Association. (2025). DSM-5-TR update: September 2025. American Psychiatric Association Publishing. https://www.psychiatry.org/getmedia/b68a5776-f88c-45c7-9535-fd219d7aa5cb/APA-DSM5TR-Update-September-2025.pdf

Bielecki, J. E., & Gupta, V. (2026). Cyclothymic disorder. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557877/

Cleveland Clinic. (2026). Cyclothymia (cyclothymic disorder): Symptoms & treatment. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17788-cyclothymia

ChoosingTherapy. (2024). Cyclothymia treatment: Medication, therapy, & self-help. https://www.choosingtherapy.com/cyclothymia-treatment/

MedlinePlus. (2024). Cyclothymic disorder. U.S. National Library of Medicine. https://medlineplus.gov/ency/article/001550.htm

Psychology Today. (2026). Cyclothymic disorder. https://www.psychologytoday.com/us/conditions/cyclothymic-disorder

Zhafirah, A. Z., & Hastono, S. P. (2024). Analisis disparitas geospasial dan determinan sosio-demografis masalah kesehatan jiwa di Indonesia: Analisis data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Buletin Ilmiah Kesehatan Masyarakat, 6(2). https://scholarhub.ui.ac.id/bikfokes/vol6/iss2/1/

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca