A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Alopesia areata (AA) adalah penyakit autoimun yang menyebabkan kerontokan rambut akibat serangan sistem imun pada folikel rambut. Penyakit ini menyerang sekitar 2% populasi global, dengan mayoritas pasien mengalami kerontokan di kulit kepala, terutama pada usia 30–59 tahun. Mekanismenya melibatkan aktivasi sel T sitotoksik melalui jalur JAK-STAT, yang mengganggu pertumbuhan rambut.

Studi terbaru UP-AA1 dan UP-AA2 menunjukkan upadacitinib, obat golongan JAK inhibitor yang awalnya digunakan untuk rematik, efektif menumbuhkan kembali rambut pada 44–55% pasien AA berat dalam 24 minggu. Meskipun hasilnya menjanjikan, obat ini belum disetujui untuk indikasi AA di Indonesia dan masih memerlukan evaluasi lebih lanjut. Pilihan terapi saat ini tetap terbatas, dengan risiko efek samping yang perlu dipertimbangkan.

Seorang perempuan berusia 34 tahun datang ke poliklinik umum di Sragen dengan keluhan bercak botak bulat seukuran koin di kulit kepalanya yang muncul tiba-tiba dalam tiga minggu terakhir. Ia tidak merasa gatal, tidak ada luka, dan tidak ada riwayat memakai produk rambut baru. Setelah pemeriksaan fisik dan dermoskopi sederhana, gambarannya cukup khas: rambut exclamation mark di tepi lesi, tanpa jaringan parut. Diagnosis kerja: alopecia areata (AA)—penyakit autoimun yang membuat sistem imun tubuh salah sasaran menyerang folikel rambutnya sendiri.

Selama ini, pilihan terapi untuk AA berat sering mengecewakan pasien: suntikan kortikosteroid yang menyakitkan, imunoterapi topikal yang memicu reaksi alergi terkontrol, atau obat imunosupresan dengan efek samping jangka panjang yang mengkhawatirkan. Namun sebuah studi besar yang baru dipublikasikan di JAMA Dermatology pada 12 Agustus 2026 membawa kabar yang cukup menjanjikan: obat yang selama ini dikenal untuk mengatasi rematik ternyata dapat menumbuhkan kembali hingga 80% rambut yang hilang pada penderita AA berat (Mostaghimi et al., 2026).

Alopesia Areata: Ketika Imun Tubuh Salah Sasaran

AA memengaruhi sekitar 2% populasi dunia (Sanchez et al., 2025). Di Indonesia sendiri, data dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan AA merupakan seperempat dari seluruh kasus alopesia yang ditemukan, dengan sembilan dari sepuluh pasien mengalami kerontokan di area kulit kepala dan kelompok usia 30–59 tahun paling banyak terdampak (Anindhita et al., 2018).

Secara biologis, AA terjadi karena kolapsnya immune privilege—kondisi khusus yang seharusnya melindungi folikel rambut dari serangan sistem imun. Sel T sitotoksik (CD8+ T cells) yang teraktivasi oleh sinyal interferon-gamma dan interleukin-15 menyerbu folikel rambut melalui jalur pensinyalan Janus kinase–signal transducer and activator of transcription (JAK-STAT). Akibatnya, folikel yang seharusnya tetap tumbuh justru “dipaksa” berhenti dan rontok (Sanchez et al., 2025).

Karena akar masalahnya ada di jalur JAK-STAT, para peneliti dermatologi mulai menguji obat-obat JAK inhibitor—kelas obat yang sebelumnya dikembangkan untuk penyakit autoimun lain seperti rheumatoid arthritis (RA), dermatitis atopik, dan kolitis ulseratif—sebagai terapi AA.

Studi UP-AA1 dan UP-AA2: Desain dan Temuan Utama

Studi yang dipimpin Arash Mostaghimi dari Brigham and Women’s Hospital ini sebenarnya terdiri dari dua uji klinis fase 3 paralel dan replikatif, yaitu UP-AA1 (112 pusat penelitian di 25 negara) dan UP-AA2 (125 pusat di 28 negara), yang berlangsung dari Oktober 2023 hingga Juli 2025 (Mostaghimi et al., 2026).

Sebanyak 1.399 partisipan remaja (12–17 tahun) dan dewasa (hingga 64 tahun) dengan AA berat—didefinisikan sebagai skor Severity of Alopecia Tool (SALT) ≥50, artinya kehilangan rambut kulit kepala minimal separuh—diacak dengan rasio 2:2:1 untuk menerima upadacitinib 15 mg, 30 mg, atau plasebo, sekali sehari secara oral selama 24 minggu, tersamar ganda.

Titik akhir utama (primary endpoint) adalah proporsi pasien yang mencapai skor SALT ≤20 pada minggu ke-24—artinya rambut menutupi minimal 80% kulit kepala. Hasilnya:

KelompokUP-AA1UP-AA2
Upadacitinib 15 mg45,2% mencapai SALT ≤2044,6% mencapai SALT ≤20
Upadacitinib 30 mg55,0% mencapai SALT ≤2054,3% mencapai SALT ≤20
Plasebo1,5% mencapai SALT ≤203,4% mencapai SALT ≤20
Nilai p<0,001 (kedua dosis)<0,001 (kedua dosis)

Sumber: Mostaghimi et al. (2026).

Yang menarik, respons terhadap pengobatan sudah mulai terlihat berbeda dari plasebo sejak minggu ke-8. Pada endpoint sekunder yang lebih ketat—pertumbuhan rambut lengkap (SALT=0)—sebanyak 20,3% (UP-AA1) hingga 22,5% (UP-AA2) pasien dosis 30 mg mencapainya. Perbaikan juga tampak pada pertumbuhan alis dan bulu mata, serta skor kualitas hidup pasien (Mostaghimi et al., 2026).

Dari sisi keamanan, profil efek samping upadacitinib pada studi ini konsisten dengan indikasi lain yang sudah disetujui sebelumnya—terutama jerawat dan infeksi saluran napas ringan—tanpa sinyal keamanan baru yang ditemukan.

Upadacitinib dalam Peta JAK Inhibitor untuk Alopesia Areata

Upadacitinib bukan JAK inhibitor pertama yang diuji untuk AA. Berikut perbandingannya dengan obat sejenis yang sudah lebih dulu beredar:

ObatTarget JAKStatus persetujuan FDA untuk AACapaian SALT ≤20Catatan
Baricitinib (Olumiant)JAK1/JAK2Disetujui 202235–40% @36 minggu (dosis 4 mg)90% pasien mencapai SALT ≤20 setelah terapi kontinu 2 tahun
Ritlecitinib (Litfulo)JAK3/TECDisetujui Juni 2023~23% @24 mingguDisetujui juga untuk remaja ≥12 tahun
Deuruxolitinib (Leqselvi)JAK1/JAK2Disetujui 2024Bervariasi antarstudiData jangka panjang masih terbatas
Tofacitinib (Xeljanz)JAK1/JAK3Belum disetujui khusus AA (off-label)Bervariasi, studi observasionalAwalnya untuk RA; versi generik tersedia sejak 2026
Upadacitinib (Rinvoq)JAK1 selektifBelum disetujui untuk indikasi AA (studi UP-AA baru dipublikasikan)44,6–55,0% @24 mingguData terbaru dan terbesar (1.399 partisipan) di antara JAK inhibitor untuk AA

Disusun dari Sanchez et al. (2025), National Alopecia Areata Foundation (t.t.), dan Mostaghimi et al. (2026).

Dibandingkan baricitinib dan ritlecitinib yang sudah disetujui Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat untuk AA, angka respons upadacitinib pada studi UP-AA justru tampak lebih tinggi pada rentang waktu yang sama (24 minggu). Namun perlu digarisbawahi bahwa perbandingan lintas-studi seperti ini punya keterbatasan metodologis—populasi, kriteria inklusi, dan cara pengukuran SALT bisa sedikit berbeda antarpenelitian (Mao et al., 2023).

Apa Artinya bagi Pasien di Indonesia?

Penting dicatat, hingga tulisan ini disusun, upadacitinib belum memiliki persetujuan regulasi khusus untuk indikasi AA—baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia. Publikasi UP-AA1 dan UP-AA2 adalah data hasil uji klinis fase 3 yang lazimnya menjadi dasar pengajuan perluasan indikasi ke badan regulasi seperti FDA atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Artinya, proses menuju ketersediaan resmi obat ini untuk AA di apotek Indonesia—jika disetujui—masih memerlukan waktu.

Bagi tenaga kesehatan primer, poin praktis yang perlu diingat: AA yang meluas atau berlangsung lama sebaiknya dirujuk ke dokter spesialis kulit dan kelamin untuk evaluasi lebih lanjut dan diskusi pilihan terapi, termasuk kemungkinan penggunaan JAK inhibitor yang sudah tersedia (jika ada indikasi dan pertimbangan keamanan individual, seperti riwayat infeksi berat, tromboemboli, atau kardiovaskular—mengingat kelas obat ini memiliki boxed warning terkait risiko tersebut). Bagi pasien, penting untuk memahami bahwa terapi JAK inhibitor bersifat menekan proses autoimun, bukan menyembuhkan secara permanen—penghentian obat berisiko memicu kerontokan kembali.

Catatan Transparansi

Artikel ini disusun berdasarkan publikasi hasil uji klinis fase 3 (Mostaghimi et al., 2026) serta beberapa tinjauan pustaka pendukung. Studi UP-AA1/UP-AA2 didanai oleh AbbVie (produsen upadacitinib), dan sejumlah penulis studi tersebut memiliki hubungan finansial dengan perusahaan ini (konsultasi, riset, atau kepemilikan saham)—hal yang lazim namun perlu diketahui pembaca sebagai konteks potensi bias pendanaan. Populasi studi juga didominasi ras kulit putih dan mengecualikan pasien dengan durasi episode AA lebih dari 8 tahun, sehingga generalisasi hasil ke populasi Indonesia perlu dilakukan dengan hati-hati. Artikel ini bersifat informasi ilmiah populer dan bukan pengganti konsultasi medis langsung.

Daftar Pustaka

Anindhita, A., Ardhaninggar, A., & Setyaningrum, T. (2018). Studi retrospektif: Alopesia areata. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, 30(3), 255–263. https://doi.org/10.20473/bikk.V30.3.2018.255-263

Mao, M., Ding, Y., Jing, J., Tang, Z., Miao, Y., Yang, X., Chen, Y., Chen, S., Wu, X., & Lu, Z. (2023). The evaluation of JAK inhibitors on effect and safety in alopecia areata: A systematic review and meta-analysis of 2018 patients. Frontiers in Immunology, 14, 1195858. https://doi.org/10.3389/fimmu.2023.1195858

Mostaghimi, A., Gooderham, M. J., Lynde, C., Sinclair, R., King, B., Hordinsky, M., Rudnicka, L., Guttman-Yassky, E., Serrao, R., Ohyama, M., Zhang, X., Magnolo, N., Kwon, O., Oddi, C., Meerwein, S., Soliman, A. M., Bu, X., Duan, C., Wu, T., & Passeron, T. (2026). Upadacitinib for severe alopecia areata in adults and adolescents: Two phase 3 UP-AA randomized clinical trials. JAMA Dermatology. https://doi.org/10.1001/jamadermatol.2026.2853

National Alopecia Areata Foundation. (n.d.). FDA-approved JAK inhibitors. Diakses 26 Agustus 2026, dari https://www.naaf.org/navigation-toolkit/fda-approved-jak-inhibitors/

Sanchez, K., Englander, H., Salloum, L., Gregoire, S., Biba, U., Ershadi, S., & Mostaghimi, A. (2025). Evaluating current and emergent JAK inhibitors for alopecia areata: A narrative review. Dermatology and Therapy, 15(10), 2749–2764. https://doi.org/10.1007/s13555-025-01517-9

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca