A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dikenal juga sebagai SAD, walau tidak selalu berarti sad = sedih. Seasonal Affective Disorder memiliki spektrum yang cukup lebar, dan sering kali tidak terdiagnosis dengan tepat oleh tenaga kesehatan/medis. Mungkin pertama karena kita negara tropis, sehingga sulit mendeteksi kondisi ini (mempertimbangkan latar belakang kemunculannya). Kedua kasus ini memang tidak umum didiagnosis.

Saya bukan ahli kejiwaan, sehingga ulasan saya nanti tidak sepenuhnya dapat dijadikan rujukan medis. Biasanya gangguan afektif, jika merujuk DSM 5 (di mana mungkin di Indonesia masih menggunakan rujukan DSM IV TR yang lama), memang tidak dicantumkan pada ICD-X (F34.x) tentang gangguan mood musiman ini secara tersendiri.

Oleh karena keterbatasan tenaga kesehatan, terutama dokter umum yang menjadi lini depan mengatasi masalah gangguan mental di masyarakat, dan melimpah pasien yang berobat ke pusat layanan kesehatan; maka mau tidak mau masalah gangguan afektif yang cukup ringan kerap terabaikan, apalagi jika budaya kita di Indonesia sulit untuk terbuka mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah “mental”. Karena stigma yang memang melekat bahwa setiap yang berkonsultasi ke dokter bukan karena masalah fisik, melainkan masalah psikologis, akan mendapatkan cap “gila”, walaupun cuma dalam ranah gosip.

Kembali ke permasalahan SAD ini, sebenarnya berpotensi ada, hanya saja belum banyak dicantumkan sebagai diagnosis spesifik.

Moods (Day 142)

Jika bisa digambarkan, maka orang yang memiliki kecenderungan gairah yang berubah dengan menurutnya minat pada hal-hal tertentu, menjadi lebih pasif, sulit berkonsentrasi, menjadi sensitif atau mudah tersinggung – sehingga kadang dijauhi oleh teman-temannya, lalu cepat menjadi lelah dan mudah mengantuk – walaupun sudah banyak menghabiskan waktu untuk tidur, orang tersebut akan tetap merasa mengantuk. Lalu mudah menjadi lapar, sering ngemil, dan pada akhirnya menimbulkan kenaikan berat badan.

Di luar negeri ini umum terjadi pada musim dingin atau musim gugur, di mana banyak novel-novel melankolis bermunculan (oke, yang satu ini mungkin tidak berhubungan). Karena para ahli percaya bahwa ketiadaan cahaya atau berkurangnya intensitas cahaya matahari pada musim tertentu adalah salah satu pemberat gangguan afektif musiman. Ada yang berpendapat bahwa berhubungan dengan menurunkan kadar serotonin, yang lain berpendapat bahwa kadar melatonin yang lebih berpengaruh.

Di Indonesia mungkin akan muncul pada musim penghujan yang cukup panjang, di mana jarang terdapat hari-hari yang cerah. Jadi banyak orang bisa merasa bahwa gairah hidupnya menurun ketika hujan berlangsung lama. Hanya kita cukup beruntung, karena setelah hujan biasanya matahari bersinar terang, sehingga gangguan afektif musiman nyaris tidak terdeteksi.

Untuk mendiagnosisnya juga cukup sulit, karena harus mengikuti pola tertentu; misalnya depresi yang muncul pada waktu tertentu pada satu tahun, dan berulang kembali di tahun berikutnya pada periode waktu yang sama; lalu pola ini setidak berlangsung selama 2 tahun berturut-turut tanpa ada gangguan afektif non-musiman yang berada di antaranya, serta pola musiman ini melebihi pola depresi lainnya (secara kuantitas ulangan) sepanjang hidup pasien.

Jika Anda merasa mengalami gangguan mood pada musim-musim tertentu setiap tahunnya, saya menyarankan untuk mengunjungi psikiater atau dokter untuk dapat membantu Anda mengatasi gangguan tersebut jika Anda kesulitan menanganinya secara mandiri. Terapi sinar/cahaya, dan obat-obat antidepresan golongan SRRI dapat membantu sampai saat ini.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO
  • Air yang Merenggut Nyawa: Tujuh Strategi Global Mencegah Tenggelam dan Relevansinya bagi Indonesia
    Setiap tahun, lebih dari 300.000 orang di dunia meninggal karena tenggelam, dengan anak-anak sebagai korban utama. WHO meluncurkan paket kebijakan PROTECT yang berisi tujuh strategi mencegah tenggelam. Indonesia perlu mengembangkan strategi nasional dan memperkuat pengumpulan data untuk menurunkan angka kematian terkait tenggelam di negara kepulauan ini.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca