Infertilitas pada pasangan sering kali lebih dulu diperiksa pada perempuan, padahal faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus. Pemeriksaan analisis sperma, yang mengacu pada standar WHO edisi keenam, dapat mendeteksi masalah lebih awal, termasuk jumlah, motilitas, dan fragmentasi DNA sperma yang memengaruhi kesuburan.
Gaya hidup seperti merokok, konsumsi alkohol, berat badan tidak ideal, paparan panas, dan minuman manis terbukti menurunkan kualitas sperma. Modifikasi kebiasaan ini dapat memperbaiki parameter sperma dalam beberapa bulan, namun pemeriksaan pria sering tertunda meski prosedurnya sederhana dan non-invasif.
Seorang laki-laki berusia 29 tahun, pekerja pabrik yang rutin bekerja shift malam, datang ke poli umum bersama istrinya setelah dua tahun menikah tanpa kehamilan. Selama ini, semua pemeriksaan berfokus pada sang istri—USG, pemeriksaan hormon, hingga rencana ke dokter kandungan. Sang suami baru diminta memeriksakan diri setelah seluruh hasil pemeriksaan istri dinyatakan normal. Hasil analisis spermanya kemudian menunjukkan jumlah dan pergerakan sperma di bawah rata-rata—sebuah temuan yang sebenarnya bisa terdeteksi jauh lebih awal jika pemeriksaan dilakukan sejak konsultasi pertama.
Pola ini sayangnya umum terjadi. Padahal, faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan (PMC, 2021), namun pemeriksaannya kerap terlambat dilakukan dibanding pemeriksaan pada perempuan. Artikel ini mengulas cara penilaian kesuburan pria menurut standar terbaru WHO, serta faktor gaya hidup yang dapat memengaruhinya—termasuk hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatian.
Analisis Sperma: Standar yang Diperbarui
Alat baku untuk menilai kesuburan pria adalah analisis sperma (semen analysis), yang kini mengacu pada WHO Laboratory Manual for the Examination and Processing of Human Semen edisi keenam, diterbitkan Juli 2021 (PMC, 2026). Manual ini merupakan hasil evolusi panjang sejak WHO pertama kali menyusun standar semen berkualitas tinggi pada 1980 (PMC, 2026).
Pembaruan penting dalam edisi keenam adalah perluasan basis data referensi dengan menggabungkan kohort baru sebanyak 1.789 pria fertil, sehingga batas rujukan bawah (lower reference limit) untuk parameter-parameter kunci semen menjadi lebih representatif secara global (PMC, 2026). Sebagai gambaran, batas rujukan bawah persentil ke-5 untuk volume semen adalah 1,4 mL, motilitas total 42%, dan motilitas progresif 30% (PMC, 2026). Yang tak kalah penting, WHO secara eksplisit menegaskan bahwa nilai-nilai rujukan ini bukan ambang diagnostik yang kaku, melainkan panduan interpretasi yang perlu dilihat bersama gambaran klinis pasien secara keseluruhan (PMC, 2026)—sebuah pengingat penting agar hasil laboratorium tidak ditafsirkan secara hitam-putih.
Edisi keenam ini juga memperkenalkan pemeriksaan tambahan yang mulai relevan secara klinis, yaitu uji fragmentasi DNA sperma (sperm DNA fragmentation/SDF) dan penilaian stres oksidatif seminal (PMC, 2026). Pemeriksaan ini berguna terutama pada kasus infertilitas idiopatik—yakni tanpa penyebab jelas dari pemeriksaan standar—atau kegagalan berulang pada program teknologi reproduksi berbantu (ART). Meski demikian, ketersediaan pemeriksaan ini masih terbatas di banyak laboratorium Indonesia, sehingga rujukan ke pusat layanan yang lebih lengkap kadang diperlukan.
Gaya Hidup dan Kualitas Sperma: Apa Kata Penelitian Terbaru
Sejumlah studi terkini mengonfirmasi bahwa kualitas sperma bukan semata soal genetik, melainkan juga sangat dipengaruhi kebiasaan sehari-hari. Sebuah studi potong-lintang di India yang melibatkan 278 pria berusia 21–50 tahun, menggunakan standar analisis semen WHO edisi keenam, menemukan bahwa konsumsi tembakau dan alkohol berkaitan kuat dengan penurunan konsentrasi, motilitas, dan morfologi sperma (Oncoscience, 2026). Konsumsi alkohol juga secara khusus dikaitkan dengan peningkatan fragmentasi DNA sperma (Oncoscience, 2026).
Indeks massa tubuh (IMT) yang tidak normal—baik kekurangan maupun kelebihan berat badan—turut berhubungan dengan kualitas semen yang lebih buruk dan fragmentasi DNA yang lebih tinggi (Oncoscience, 2026). Paparan panas di lingkungan kerja juga secara signifikan berkontribusi pada peningkatan fragmentasi DNA sperma (Oncoscience, 2026)—temuan yang relevan bagi pekerja dengan paparan suhu tinggi, seperti di industri manufaktur atau dapur besar. Studi yang sama menemukan bahwa pria berusia di atas 40 tahun menunjukkan fragmentasi DNA sperma yang secara signifikan lebih tinggi, meski parameter semen konvensional (jumlah, motilitas, morfologi) tidak menunjukkan perbedaan bermakna (Oncoscience, 2026)—menandakan bahwa usia lanjut pada pria dapat memengaruhi kualitas genetik sperma meski tampilan “normal” pada pemeriksaan standar.
Temuan serupa muncul dari kohort di Ghana yang meninjau 221 pria yang menjalani evaluasi infertilitas: analisis regresi menemukan hubungan negatif antara konsumsi minuman manis dan motilitas sperma (PLOS One, 2026). Studi ini juga mencatat temuan menarik: meski nilai median beberapa parameter semen berada di atas batas rujukan bawah WHO 2021, prevalensi abnormalitas spesifik seperti teratozoospermia (kelainan bentuk sperma, 38,46%) dan leukositospermia (kadar sel darah putih berlebih dalam semen, 80,54%) tetap tinggi (PLOS One, 2026)—menunjukkan bahwa melihat nilai rata-rata saja bisa menyembunyikan masalah yang sebenarnya signifikan secara klinis.
Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi
Beberapa faktor risiko yang relevan untuk edukasi pasien di layanan primer, dan sebagian besar dapat diperbaiki melalui perubahan kebiasaan:
- Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan, yang memicu stres oksidatif dan kerusakan DNA sperma (Oncoscience, 2026).
- Paparan panas berulang pada area skrotum—dari pekerjaan bersuhu tinggi, kebiasaan meletakkan laptop di pangkuan dalam waktu lama, atau penggunaan sauna/mandi air panas terlalu sering (Oncoscience, 2026).
- Berat badan tidak ideal, baik terlalu rendah maupun berlebih, yang berkaitan dengan gangguan hormonal yang memengaruhi proses pembentukan sperma atau spermatogenesis (Oncoscience, 2026).
- Konsumsi minuman berpemanis berlebihan, yang berhubungan dengan penurunan motilitas sperma (PLOS One, 2026).
- Paparan bahan kimia lingkungan dan radiasi, yang menurut WHO turut berkontribusi pada tren penurunan konsentrasi sperma secara global dalam beberapa dekade terakhir (PMC, 2021).
Mekanisme di balik sebagian besar faktor ini serupa: tembakau dan alkohol memicu stres oksidatif, disfungsi mitokondria, dan kerusakan untai DNA; sementara paparan panas dan gangguan IMT memperparah produksi reactive oxygen species (ROS) yang mengganggu proses spermatogenesis (Oncoscience, 2026).
Mengapa Pemeriksaan Pria Perlu Dilakukan Lebih Awal
Karena kontribusi faktor pria terhadap infertilitas pasangan begitu besar, evaluasi kesuburan idealnya melibatkan kedua pihak secara bersamaan sejak konsultasi pertama—bukan menunggu seluruh pemeriksaan pada perempuan selesai terlebih dahulu. Analisis sperma tergolong pemeriksaan yang relatif sederhana, tidak invasif, dan bisa memberikan informasi awal yang berharga untuk mengarahkan langkah tata laksana selanjutnya.
Bagi tenaga kesehatan di layanan primer, mengedukasi pasangan usia subur mengenai faktor gaya hidup yang memengaruhi kualitas sperma—jauh sebelum mereka aktif mencoba hamil—dapat menjadi langkah pencegahan yang sederhana namun bermakna. Modifikasi kebiasaan seperti berhenti merokok, membatasi alkohol, menjaga berat badan ideal, dan menghindari paparan panas berlebih pada area genital tidak memerlukan biaya besar, namun berpotensi memperbaiki parameter sperma dalam kurun waktu beberapa bulan, mengingat siklus pembentukan sperma baru berlangsung sekitar 2–3 bulan.
Catatan Transparansi
Artikel ini merujuk pada WHO Laboratory Manual for the Examination and Processing of Human Semen edisi keenam (2021) sebagai standar internasional analisis sperma, serta sejumlah studi observasional terbaru mengenai hubungan gaya hidup dan kualitas semen. Perlu dicatat bahwa sebagian studi yang dirujuk—termasuk kohort di Ghana dan India—dilakukan pada populasi di luar Indonesia, sehingga generalisasi langsung ke populasi pria Indonesia perlu dilakukan dengan hati-hati mengingat kemungkinan perbedaan faktor genetik, lingkungan, dan pola konsumsi. Artikel ini belum menemukan data epidemiologi nasional Indonesia yang spesifik mengenai prevalensi abnormalitas semen atau faktor infertilitas pria menggunakan standar WHO edisi keenam; pembaca dan tenaga kesehatan disarankan merujuk pada data dari laboratorium andrologi setempat bila tersedia. Studi-studi yang dirujuk sebagian besar bersifat observasional (potong lintang atau kohort retrospektif), sehingga hubungan yang ditemukan bersifat asosiasi, bukan serta-merta sebab-akibat langsung yang telah dibuktikan melalui uji klinis acak. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan serta konsultasi dengan dokter spesialis urologi, andrologi, atau ahli kesuburan.
Daftar Pustaka
Oncoscience. (2026). Lifestyle and hormonal factors affecting semen quality and sperm DNA integrity: A cross-sectional study. https://www.oncoscience.us/article/627/text/
PLOS One. (2026). Lifestyle factors and prevalence of semen abnormalities among men undergoing infertility evaluation at Oak Specialist Hospital: A retrospective cohort study. https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0340902
PMC – National Center for Biotechnology Information. (2021). The sixth edition of the WHO manual for human semen analysis: A critical review and SWOT analysis. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8706130/
PMC – National Center for Biotechnology Information. (2026). A review of semen analysis: Updates from the WHO sixth edition manual and advances in male fertility assessment. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11286598/





Tinggalkan Balasan