Bayangkan seorang anak berusia delapan tahun yang biasanya ceria, tiba-tiba pada suatu pagi mengeluh mual hebat, lalu muntah berulang setiap sepuluh sampai lima belas menit selama berjam-jam, hingga harus dibawa ke unit gawat darurat dengan infus untuk mencegah dehidrasi. Tiga hari kemudian, anak itu kembali sekolah seperti tidak terjadi apa-apa—sampai episode yang sama berulang enam minggu berikutnya, hampir persis sama polanya. Bagi keluarga yang belum pernah mendengar istilah ini, pengalaman tersebut membingungkan dan menakutkan. Namun bagi klinisi yang jeli, pola berulang dan stereotipik semacam ini punya nama: cyclic vomiting syndrome (CVS), atau sindrom muntah siklik.
Definisi dan Beban Penyakit
Cyclic vomiting syndrome adalah gangguan fungsional yang ditandai episode mual dan muntah hebat yang datang tiba-tiba, berlangsung satu hingga lima hari, diselingi periode bebas gejala yang bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan CVS ditandai episode mual dan muntah yang berlangsung 1–5 hari diikuti periode bebas gejala, dan secara umum diklasifikasikan memiliki empat fase: prodromal, akut/muntah, pemulihan, dan remisi/interepisodik. Kondisi ini pertama kali dideskripsikan pada anak-anak oleh Samuel Gee pada tahun 1882, namun etiologi pastinya hingga kini belum sepenuhnya dipahami CVS, pertama kali dideskripsikan pada anak oleh Samuel Gee pada 1882, adalah gangguan fungsional kronis dengan etiologi yang belum diketahui, ditandai episode muntah paroksismal dan berulang.
Dari sisi epidemiologi, data terbaru menunjukkan CVS pada anak diperkirakan memengaruhi sekitar 1,9–2,3% populasi anak, dengan puncak prevalensi pada usia sekolah. Yang penting untuk dipahami oleh tenaga kesehatan maupun keluarga, kondisi ini memberi dampak signifikan terhadap kualitas hidup dan menimbulkan beban layanan kesehatan yang besar akibat rawat inap dan kunjungan berulang ke unit gawat darurat. Studi epidemiologi global terbaru berdasarkan kriteria Rome Foundation turut menegaskan bahwa CVS bukan kondisi yang eksotis atau sangat jarang, melainkan tersebar di berbagai populasi di dunia—meski data spesifik dari Indonesia masih sangat terbatas, sehingga kewaspadaan klinis di layanan primer maupun gawat darurat menjadi kunci deteksi dini.
Brain-Gut Disorder: Apa yang Terjadi di Balik Layar?
CVS kini dipahami sebagai gangguan interaksi otak-usus (disorder of gut-brain interaction) yang dimasukkan dalam kriteria Rome IV sebagai bagian dari gangguan gastrointestinal fungsional Kriteria Rome IV memasukkan CVS ke dalam kelompok gangguan gastrointestinal fungsional, yakni gangguan idiopatik pada interaksi otak-usus yang gejalanya tidak dapat dijelaskan oleh penyebab organik. Patofisiologinya bersifat multifaktorial, melibatkan beberapa jalur yang saling tumpang tindih.
Pertama, ada hubungan erat dengan migrain—begitu eratnya sehingga CVS pernah disebut sebagai “ekuivalen migrain” pada anak, meskipun pandangan ini kini dianggap terlalu menyederhanakan kompleksitas sindrom tersebut Anak dengan CVS umumnya mengalami serangan muntah yang menyerupai migrain, sehingga sering disebut sebagai gangguan ekuivalen migrain; namun sesungguhnya sindrom ini jauh lebih heterogen daripada anggapan tersebut. Kedua, disfungsi mitokondria turut dicurigai berperan, dengan beberapa studi mengaitkan polimorfisme DNA mitokondria tertentu dengan onset CVS pada anak Beberapa studi mendukung hipotesis disfungsi mitokondria, meski data mengenai kaitan polimorfisme DNA mitokondria dengan CVS onset anak masih terbatas dan tidak konsisten. Ketiga, sistem endocannabinoid, disotonomia, kelainan genetik, dan percepatan pengosongan lambung (gastric emptying) turut disebut sebagai kontributor Patofisiologi CVS bersifat multifaktorial dengan kontribusi dari migrain, disotonomia, endocannabinoid endogen, disfungsi mitokondria, kelainan genetik, dan percepatan pengosongan lambung.
Aspek neurologis juga tidak bisa diabaikan. Klinisi diingatkan untuk tidak serta-merta menganggap CVS murni berasal dari saluran cerna, terutama bila muntah tidak memberikan rasa lega atau disertai gejala neurologis lain Klinisi tidak boleh berasumsi bahwa penyebabnya semata gastrointestinal atau non-neurologis, terutama jika ada gejala neurologis penyerta atau muntah tidak memberi kelegaan, karena hal ini mengindikasikan kemungkinan penyebab pada sistem saraf pusat seperti migrain abdominal, jenis epilepsi tertentu, lesi struktural (termasuk malformasi Chiari), penyakit mitokondria, gangguan otonom, hingga gangguan siklus urea.
Menegakkan Diagnosis: Kriteria Rome IV dan Pembaruan NASPGHAN 2025
Karena tidak ada biomarker diagnostik yang spesifik, CVS didiagnosis berdasarkan pola klinis yang khas. Menurut kriteria Rome IV untuk dewasa, diagnosis ditegakkan bila terdapat episode muntah stereotipik dengan onset akut, sekurangnya dua episode dalam enam bulan terakhir, masing-masing berjarak minimal satu minggu, dan berlangsung kurang dari satu minggu, disertai kriteria pendukung berupa hasil skrining negatif untuk menyingkirkan gangguan gastrointestinal, hepatobilier, ginjal, metabolik, dan endokrin yang umum.
Pada 2025, North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (NASPGHAN) menerbitkan pembaruan pedoman berbasis bukti khusus untuk diagnosis CVS pediatrik, disusun oleh panel ahli multidisiplin menggunakan pendekatan Grading of Recommendations Assessment, Development, and Evaluation (GRADE) dan metode Delphi untuk mencapai konsensus Pedoman NASPGHAN 2025 disusun untuk membantu klinisi mendiagnosis CVS pediatrik, dikembangkan oleh panel ahli multidisiplin berdasarkan tinjauan sistematis dengan pendekatan GRADE, serta memanfaatkan metode Delphi untuk konsensus ahli. Pedoman ini juga secara khusus menyoroti pentingnya membedakan CVS dari cannabinoid hyperemesis syndrome (CHS)—kondisi terkait konsumsi kanabis kronis yang gejalanya sangat mirip dengan CVS CVS memiliki ciri klinis khas namun tumpang tindih gejala dengan gangguan migrain, sementara CHS merupakan kondisi terkait yang menunjukkan ekspresi gejala serupa. Perbedaan ini krusial secara klinis karena tata laksananya berbeda—penghentian kanabis menjadi kunci utama pada CHS, sementara pada CVS murni fokus tata laksana adalah pencegahan pemicu dan terapi abortif/profilaksis.
Selain itu, pedoman terbaru menambahkan kriteria pendukung berupa pola pengosongan lambung yang cepat atau normal sebagai penguat diagnosis pada dewasa pengosongan lambung yang cepat atau normal telah diusulkan sebagai kriteria pendukung baru untuk mendiagnosis CVS pada dewasa, dan menegaskan bahwa penyakit langka tertentu—seperti demam Mediterania familial atau gastritis Helicobacter pylori—kadang menjadi penyebab yang mendasari pola muntah siklik dan perlu disingkirkan pada kasus atipikal gangguan langka dapat menjadi penyebab yang mendasari muntah siklik, termasuk demam Mediterania familial dan gastritis Helicobacter pylori.

Empat Babak Sebuah Episode
Secara klasik, satu episode CVS terbagi menjadi empat fase yang berurutan: fase prodromal (gejala peringatan seperti pucat dan lesu sebelum muntah dimulai), fase akut atau muntah hebat, fase pemulihan, dan fase remisi atau interepisodik di mana pasien kembali sehat sepenuhnya CVS secara umum diklasifikasikan memiliki empat fase: prodromal, akut/muntah/hiperemesis, pemulihan, dan remisi/interepisodik. Pemahaman fase ini penting secara praktis, karena jendela intervensi paling efektif justru terletak pada fase prodromal yang singkat—saat obat abortif diberikan lebih awal, peluang menghentikan episode sebelum berkembang menjadi muntah hebat jauh lebih besar Intervensi dini dengan agen abortif pada fase prodromal yang singkat dapat digunakan untuk mencoba menghentikan serangan.
Tata Laksana: Dari Suportif Hingga Profilaksis
Karena tidak ada algoritma tata laksana tunggal yang disepakati secara luas, pendekatan terhadap CVS bersifat individual. Pedoman NASPGHAN 2025 untuk manajemen CVS pediatrik menegaskan bahwa CVS merupakan gangguan yang melumpuhkan dengan beban medis yang substansial, dan panel ahli memberikan sejumlah catatan kehati-hatian terkait efek samping potensial dari beberapa agen farmakologis, serta penggunaan antikonvulsan yang hanya dianjurkan pada kasus CVS refrakter.
Pada fase akut, tata laksana bertumpu pada terapi suportif dan simtomatik—termasuk rehidrasi intravena, antiemetik, serta lingkungan yang tenang dan gelap untuk mengurangi stimulasi Tata laksana fase akut terutama berbasis perawatan suportif dan simtomatik. Pada fase profilaksis, obat-obatan yang juga digunakan untuk migrain—seperti antidepresan trisiklik dosis rendah, antikonvulsan tertentu, dan agen antimigrain seperti sumatriptan—kerap dipertimbangkan, mencerminkan tumpang tindih patofisiologi kedua kondisi Tata laksana CVS bertumpu pada antiemetik dan terapi antimigrain. Pendekatan neuromodulasi sentral dan pengujian neurofisiologis juga tengah dieksplorasi sebagai arah riset masa depan CVS berkaitan dengan gangguan episodik lain seperti migrain dan epilepsi; banyak obat yang efektif untuk profilaksis dan terapi abortif CVS juga efektif mencegah dan menghentikan migrain serta kejang, menunjukkan bahwa CVS memiliki basis neural meski mekanisme pastinya belum jelas.
Perlu digarisbawahi bahwa tata laksana CVS pada anak dan dewasa dapat sangat berbeda, dan konsensus di antara praktisi mengenai praktik terbaik masih lemah tata laksana CVS pediatrik dapat berbeda signifikan dengan CVS dewasa, dengan konsensus yang masih lemah di antara praktisi mengenai praktik terbaik—sebuah realitas yang membuat pendekatan kolaboratif antara dokter anak, gastroenterologi, dan neurologi menjadi penting, terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya subspesialis terbatas.
Bukan Hanya Penyakit Anak
Salah satu miskonsepsi yang perlu diluruskan: CVS bukan semata gangguan masa kanak-kanak yang akan “hilang dengan sendirinya”. Banyak pasien tetap mengalami CVS hingga dewasa Banyak pasien terus mengalami CVS hingga dewasa, dan pada populasi dewasa, gejalanya bisa tumpang tindih dengan kondisi lain seperti superior mesenteric artery syndrome yang secara klinis dapat menyerupai CVS namun memerlukan tata laksana yang sama sekali berbeda sindrom arteri mesenterika superior dapat menyerupai CVS pada kasus yang tampaknya sehat—sehingga skrining organik tetap penting sebelum diagnosis fungsional ditegakkan secara definitif, khususnya pada presentasi atipikal.
Relevansi bagi Layanan Kesehatan di Indonesia
Bagi klinisi di layanan primer maupun instalasi gawat darurat di Indonesia, tantangan terbesar terhadap CVS bukanlah kerumitan patofisiologinya, melainkan kewaspadaan diagnostik. Pasien dengan pola muntah berulang dan stereotipik sering kali menjalani pemeriksaan penunjang berulang yang tidak perlu—atau sebaliknya, dicap sebagai gastroenteritis berulang atau bahkan gangguan psikosomatis—sebelum pola siklik yang khas dikenali. Mengingat keterbatasan akses ke gastroenterologi anak subspesialis di banyak wilayah, edukasi tenaga kesehatan primer mengenai kriteria Rome IV dan tanda bahaya (red flags) yang membedakan CVS dari penyebab organik menjadi langkah paling realistis untuk mempercepat diagnosis dan mengurangi beban rawat inap berulang yang sesungguhnya dapat dicegah.
Catatan transparansi: Artikel ini disusun berdasarkan pedoman NASPGHAN 2025, kriteria Rome IV, serta tinjauan pustaka terkini dari jurnal gastroenterologi dan neurogastroenterologi internasional. Data epidemiologi spesifik Indonesia mengenai CVS masih sangat terbatas dalam literatur yang tersedia; angka prevalensi yang dikutip berasal dari studi populasi Amerika Utara dan studi epidemiologi global Rome Foundation.
Daftar Pustaka
Chen, Y. J., Princic, N., Winer, I., et al. (2024). Epidemiology, comorbidities, and treatment of cyclic vomiting syndrome in the United States. American Journal of Gastroenterology, 119(5), 965–976.
Hasler, W. L., et al. (2025). Cyclic vomiting syndrome: Future clinical and research priorities. Neurogastroenterology & Motility. https://doi.org/10.1111/nmo.14825
Izagirre, A., Sarasqueta, C., Flores-Arriaga, J., et al. (2025). Worldwide prevalence and description of cyclic vomiting syndrome according to the results of the Rome Foundation Global Epidemiology Study. American Journal of Gastroenterology, 120(5), 1108–1115.
Jiménez-Castillo, R. A., Frazier, R., Venkatesan, T., & Remes-Troche, J. M. (2024). Cyclic vomiting syndrome: From pathophysiology to treatment. Revista de Gastroenterología de México (English Edition), 89(3), 389–403. https://doi.org/10.1016/j.rgmxen.2024.06.001
Karrento, K., Rosen, J. M., Tarbell, S. E., et al. (2025). North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition 2025 guidelines on the diagnosis of cyclic vomiting syndrome in children. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. https://doi.org/10.1002/jpn3.70193
Karrento, K., Rosen, J. M., Tarbell, S. E., et al. (2025). North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition 2025 guidelines for management of cyclic vomiting syndrome in children. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition.
Manjunath, C. B., et al. (2020). Cyclic vomiting syndrome in children. PMC.
Sagar, R. C., Sood, R., & Gracie, D. J. (2018). Cyclic vomiting syndrome: diagnostic approach and current management strategies. Clinical and Experimental Gastroenterology. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5833754/
Tarbell, S., Li, B. U. K., et al. (2019/2024). Cyclic vomiting syndrome: Pathophysiology, comorbidities, and future research directions. PMC.
Tayagul, K., et al. (2022). Association of mitochondrial DNA polymorphisms with pediatric-onset cyclic vomiting syndrome. PMC.
Venkatesan, T., Levinthal, D. J., Tarbell, S. E., et al. (2019). Guidelines on management of cyclic vomiting syndrome in adults by the American Neurogastroenterology and Motility Society and the Cyclic Vomiting Syndrome Association. Neurogastroenterology & Motility, 31(Suppl. 2), e13604.





Tinggalkan Balasan