A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di *Gastro Hep Advances* menemukan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis gula setiap hari dengan peningkatan risiko kanker lambung hingga 2,45 kali lipat. Penelitian yang melibatkan lebih dari 112.000 partisipan selama dua dekade ini menunjukkan bahwa risiko lebih tinggi pada perempuan dan diduga terkait dengan gangguan metabolik seperti resistensi insulin serta peradangan kronis, bukan infeksi *Helicobacter pylori*.

Temuan ini menjadi relevan bagi Indonesia, di mana konsumsi minuman manis dalam kemasan meningkat tajam meski angka kanker lambung secara nasional masih tergolong rendah. Studi ini menekankan perlunya pengendalian asupan gula, terutama di tengah rencana kebijakan cukai untuk minuman berpemanis.


Pagi itu di sebuah puskesmas pinggiran Sragen, seorang ibu muda datang membawa anaknya yang baru pulang sekolah sambil menenteng segelas es teh manis kemasan. “Dokter, tiap hari dia minta ini, katanya haus,” ujarnya. Pertanyaan sederhana itu—soal kebiasaan minum manis setiap hari—ternyata baru saja mendapat jawaban baru yang mengejutkan dari dunia kedokteran: bukan cuma soal gigi berlubang atau berat badan, minuman manis kini dikaitkan dengan risiko kanker lambung yang berlipat ganda.

Studi Skala Besar, Temuan yang Mengejutkan Peneliti

Sebuah studi kohort prospektif berskala besar yang dipublikasikan pada 17 Agustus 2026 di jurnal Gastro Hep Advances mengungkap temuan yang disebut sebagai yang pertama membuktikan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis gula (sugar-sweetened beverages, SSB) dan kejadian kanker lambung pada populasi Amerika Serikat (Gweon et al., 2026). Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Massachusetts General Hospital dan Harvard Medical School ini menganalisis data 112.284 partisipan yang berasal dari dua studi kohort jangka panjang ternama, yaitu Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study, dengan masa pemantauan lebih dari 3,2 juta orang-tahun (Gweon et al., 2026).

Selama masa pengamatan yang membentang dua dekade tersebut, tercatat 278 kasus kanker lambung. Hasilnya cukup mengejutkan: mereka yang mengonsumsi setidaknya satu porsi (237 ml) minuman berpemanis gula per hari memiliki risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang hampir tidak pernah mengonsumsinya (hazard ratio 2,45; interval kepercayaan 95% 1,49–4,04) (Gweon et al., 2026). Yang termasuk kategori minuman berpemanis gula dalam studi ini adalah minuman berkarbonasi biasa, minuman rasa buah (punch), lemonade, dan minuman olahraga (Gweon et al., 2026).

Menariknya, pola risiko berbeda antara laki-laki dan perempuan. Beberapa liputan media yang mewawancarai tim peneliti mencatat bahwa perempuan yang mengonsumsi lebih dari satu minuman manis per hari menunjukkan peningkatan risiko hingga sekitar tiga kali lipat, sementara laki-laki menunjukkan peningkatan sekitar dua kali lipat dibanding non-konsumen (ScienceAlert, 2026).

Bukan Sekadar Kebetulan: Fruktosa sebagai Tersangka Utama

Salah satu temuan paling penting dari studi ini adalah pola dose-response—yakni semakin tinggi asupan fruktosa (gula utama dalam minuman manis), semakin tinggi pula insidensi kanker lambung, khususnya pada kelompok perempuan (Gweon et al., 2026). Sebaliknya, minuman berpemanis buatan (artificially sweetened beverages)—seperti soda diet—tidak menunjukkan hubungan dengan peningkatan risiko kanker lambung dalam studi ini (Gweon et al., 2026).

Temuan yang tidak kalah penting: tim peneliti juga menguji apakah infeksi bakteri Helicobacter pylori—faktor risiko klasik kanker lambung—yang menjelaskan hubungan ini. Hasilnya, konsumsi minuman berpemanis (baik gula maupun buatan) tidak berkaitan dengan status infeksi H. pylori pada kedua kelompok kohort, sehingga peneliti menyimpulkan peningkatan risiko kanker lambung ini kemungkinan besar tidak digerakkan oleh infeksi bakteri tersebut (HCPLive, 2026a).

Lantas, lewat jalur apa gula bisa memicu kanker lambung? Andrew T. Chan, gastroenterolog senior dari Mass General Brigham Cancer Institute yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa kaitan tersebut kemungkinan besar melalui disfungsi metabolik. Konsumsi minuman manis diketahui meningkatkan kadar gula darah dan insulin secara tajam, dan beberapa jalur pensinyalan insulin telah dikaitkan dengan risiko kanker saluran cerna secara umum (HCPLive, 2026b). Sejumlah mekanisme lain yang diajukan peneliti meliputi kenaikan berat badan, resistensi insulin, ketidakseimbangan hormon steroid, peradangan kronik, kerusakan DNA, dan disbiosis atau gangguan keseimbangan mikrobiota usus (ScienceAlert, 2026). Namun para peneliti sendiri menegaskan bahwa mekanisme biologis yang persis belum dapat dipastikan dan memerlukan penelitian lanjutan (ScienceAlert, 2026).

Perlu digarisbawahi: ini adalah studi observasional yang menunjukkan asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat langsung yang telah terbukti secara eksperimental. Chan sendiri menyatakan bahwa data mengenai fruktosa dan kanker menarik, tetapi mekanisme kausalnya “belum ditetapkan secara pasti” (Medical News Today, 2026).

Diagram: Kemungkinan Jalur Biologis Minuman Manis Menuju Risiko Kanker Lambung

Jalur kemungkinan mekanisme minuman berpemanis gula menuju risiko kanker lambung Minuman berpemanis gula memicu lonjakan gula darah dan insulin, disusul jalur turunan seperti kenaikan berat badan, resistensi insulin, peradangan kronik, ketidakseimbangan hormon, dan disbiosis usus, yang diduga berkontribusi pada peningkatan risiko kanker lambung. Bukan lewat infeksi H. pylori. Minuman berpemanis gula Fruktosa tinggi, ≥1x/hari Lonjakan gula darah & insulin Disfungsi metabolik Kenaikan berat badan & resistensi insulin Peradangan kronik & kerusakan DNA Ketidakseimbangan hormon & disbiosis Peningkatan risiko kanker lambung HR 2,45 (95% CI 1,49–4,04) Bukan lewat infeksi H. pylori

Konteks Indonesia: Antara Prevalensi Rendah Kanker Lambung dan Tren Konsumsi Gula yang Melonjak

Bagi pembaca di Indonesia, temuan ini perlu dibaca dengan nuansa epidemiologi lokal. Berdasarkan data GLOBOCAN 2020, Indonesia tergolong negara dengan risiko kanker lambung yang relatif rendah, dengan age-standardized rate (ASR) sekitar 1,1 per 100.000 penduduk—insidensi diperkirakan sekitar 3.484 kasus per tahun dengan mortalitas 2.946 kasus (Alomedika, 2023). Angka ini jauh di bawah kawasan Asia Timur (Jepang, Korea, Mongolia) yang memiliki ASR di atas 27 per 100.000, sebagian karena prevalensi infeksi H. pylori di Indonesia relatif rendah dibanding negara-negara tersebut (Syam et al., dikutip dalam Unair News, 2021). Namun, risiko kanker lambung di Indonesia tidak merata: kelompok etnis tertentu seperti Batak, Papua, dan Bugis dilaporkan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan etnis Jawa (Alomedika, 2023).

Yang membuat temuan studi Gastro Hep Advances ini relevan justru karena ia menunjukkan jalur risiko yang independen dari H. pylori—faktor risiko klasik yang selama ini menjadi fokus program pencegahan kanker lambung di Indonesia. Ini penting mengingat tren konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) di Indonesia justru melonjak tajam. Data Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mencatat konsumsi MBDK meningkat lebih dari 15 kali lipat dalam dua dekade, dari sekitar 51 juta liter (1996) menjadi 780 juta liter (2014), menempatkan Indonesia sebagai negara dengan konsumsi MBDK tertinggi ketiga di Asia Tenggara pada 2020 (CISDI, dikutip dalam Kementerian Keuangan, 2024). Konsumsi gula pasir per kapita di Indonesia bahkan mencapai sekitar 160 gram per hari—tiga kali lipat anjuran Kemenkes dan enam kali lipat anjuran WHO (BPS 2021, dikutip dalam Kementerian Keuangan, 2024).

Merespons tren ini, pemerintah tengah menyiapkan kebijakan cukai atas MBDK, merujuk pada Pasal 154 UU 17/2023 tentang Kesehatan dan PP 28/2024 sebagai peraturan pelaksananya, dengan target penerapan dalam kerangka APBN 2026 (Hukumonline, 2025). Kebijakan ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang telah lama mendorong pengendalian fiskal terhadap minuman manis sebagai strategi pengendalian penyakit tidak menular.

Apa yang Bisa Dilakukan Pembaca?

Kelompok BerisikoRekomendasi Praktis
Konsumen minuman manis harian (soda, es teh manis kemasan, minuman energi)Kurangi bertahap menjadi maksimal beberapa kali per minggu; gantikan dengan air putih atau infused water
Orang tua dengan anak yang terbiasa minum manis setiap hariBatasi akses di rumah; edukasi sejak dini karena kebiasaan konsumsi gula terbentuk pada usia muda
Individu dengan riwayat keluarga kanker lambung atau etnis berisiko lebih tinggi (Batak, Papua, Bugis)Konsultasi skrining dispepsia/gastroskopi bila ada gejala alarm; kelola faktor risiko yang bisa dimodifikasi termasuk asupan gula
Fasilitas kesehatan dan tenaga promosi kesehatanIntegrasikan edukasi pembatasan MBDK ke dalam konseling gizi rutin, tidak hanya untuk pencegahan diabetes/obesitas tetapi juga kanker saluran cerna

Catatan Transparansi

Artikel ini disusun berdasarkan satu studi kohort observasional yang baru dipublikasikan (Agustus 2026) dan sejumlah laporan media kesehatan yang meliput temuan tersebut, karena artikel jurnal aslinya bersifat open access namun teks lengkapnya belum sepenuhnya tersedia untuk telaah mendalam saat artikel ini ditulis. Studi bersifat observasional (kohort prospektif), sehingga hanya menunjukkan asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat yang telah dibuktikan secara eksperimental. Populasi penelitian adalah tenaga kesehatan di Amerika Serikat (mayoritas perawat dan profesional kesehatan), sehingga generalisasi langsung ke populasi Indonesia—dengan pola makan, latar genetik, dan prevalensi H. pylori yang berbeda—perlu dilakukan dengan hati-hati. Jumlah kasus kanker lambung dalam studi (278 kasus) juga tergolong kecil sehingga interval kepercayaan cukup lebar (1,49–4,04), mengindikasikan ketidakpastian statistik yang perlu diperhitungkan.


Ringkasan: Studi kohort 20 tahun terhadap 112.284 tenaga kesehatan AS menemukan konsumsi minuman berpemanis gula harian berkaitan dengan risiko kanker lambung 2,45 kali lipat, diduga lewat jalur metabolik seperti resistensi insulin dan peradangan—bukan infeksi H. pylori. Temuan ini relevan bagi Indonesia yang konsumsi minuman manisnya melonjak tajam meski insidensi kanker lambungnya masih tergolong rendah secara global.


Daftar Pustaka

Alomedika. (2023). Epidemiologi kanker lambung. https://www.alomedika.com/penyakit/onkologi/kanker-lambung/epidemiologi

Gweon, T. G., Ha, J., Kim, H., Du, M., Song, M., & Chan, A. T. (2026). Association between sugar-sweetened and artificially sweetened beverage intake and gastric cancer incidence. Gastro Hep Advances. https://doi.org/10.1016/j.gastha.2026.101097

HCPLive. (2026a). Sugar-sweetened beverages associated with increased gastric cancer risk, with Andrew Chan, MD, MPH. https://www.hcplive.com/view/sugar-sweetened-beverages-associated-with-increased-gastric-cancer-risk-with-andrew-chan-md-mph

HCPLive. (2026b). Metabolic dysfunction may explain sugar-sweetened beverage–gastric cancer link, with Andrew Chan, MD, MPH. https://www.hcplive.com/view/metabolic-dysfunction-may-explain-sugar-sweetened-beverage-gastric-cancer-link-with-andrew-chan-md-mph

Hukumonline. (2025, September 11). Kebijakan cukai minuman berpemanis, antara kesehatan publik dan penerimaan negara. https://www.hukumonline.com/berita/a/kebijakan-cukai-minuman-berpemanis–antara-kesehatan-publik-dan-penerimaan-negara-lt68c2ac5d58a70/

Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2024, March 18). Menakar pembatasan minuman berpemanis dalam kemasan. Media Keuangan. https://mediakeuangan.kemenkeu.go.id/article/show/menakar-pembatasan-minuman-berpemanis-dalam-kemasan

Medical News Today. (2026, August 21). Daily sugary drink consumption linked to more than double stomach cancer risk. https://www.medicalnewstoday.com/articles/daily-sugary-drink-consumption-linked-more-than-double-stomach-cancer-risk

ScienceAlert. (2026, August). Sugar-sweetened beverages linked to stomach cancer for the first time. https://www.sciencealert.com/sugar-sweetened-beverages-linked-to-stomach-cancer-for-the-first-time

Unair News. (2021, October 11). Gambaran umum infeksi Helicobacter pylori di Indonesia: Apa yang membedakannya dari negara dengan insiden kanker lambung tinggi? Universitas Airlangga. https://news.unair.ac.id/2021/10/11/gambaran-umum-infeksi-helicobacter-pylori-di-indonesia-apa-yang-membedakannya-dari-negara-dengan-insiden-kanker-lambung-tinggi/

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Muntah Datang Seperti Badai yang Terjadwal: Mengenal Cyclic Vomiting Syndrome
    Muntah hebat yang datang berulang lalu hilang seolah tak pernah terjadi—inilah wajah cyclic vomiting syndrome, gangguan interaksi otak-usus yang sering disalahpahami sebagai gastroenteritis biasa. Artikel ini mengulas patofisiologi, kriteria diagnosis Rome IV, pembaruan pedoman NASPGHAN 2025, serta tata laksana berbasis bukti terkini bagi klinisi di layanan primer maupun rujukan.
  • Demo Besar 27 Agustus 2026: Apa yang Perlu Dicermati Pelaku Bursa Saham dalam Jangka Pendek
    Besok, 27 Agustus 2026, Jakarta akan menggadakan unjuk rasa besar oleh berbagai aliansi. Tuntutan termasuk pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor. Polda Metro Jaya telah menyiapkan pengamanan. Aksi ini dapat mempengaruhi IHSG dan rupiah, dengan proyeksi pergerakan cenderung sideways dalam beberapa hari ke depan.
  • Vaksin Kanker Personal Berbasis mRNA: Babak Baru Pencegahan Kambuhnya Melanoma
    Kombinasi vaksin mRNA personal (intismeran autogene) dan pembrolizumab terbukti unggul dibanding pembrolizumab tunggal dalam mencegah kekambuhan melanoma berisiko tinggi pasca-operasi, menurut hasil interim uji fase 3 INTerpath-001. Ini menjadi bukti fase 3 pertama untuk terapi neoantigen individual berbasis mRNA, meski data kelangsungan hidup keseluruhan masih ditunggu.
  • Segelas Manis, Risiko Ganda: Apa Kata Studi Terbaru tentang Minuman Berpemanis dan Kanker Lambung
    Studi kohort 20 tahun terhadap 112 ribu tenaga kesehatan AS mengungkap: minum minuman manis setiap hari bisa lebih dari menggandakan risiko kanker lambung—bukan lewat infeksi H. pylori, melainkan jalur metabolik seperti resistensi insulin dan peradangan. Bagaimana relevansinya dengan tren konsumsi gula di Indonesia yang terus melonjak? Simak ulasannya.
  • Ganja yang Itu-Itu Saja, tapi Tidak Lagi Sama: Apa yang Berubah dari Riwayat Kesehatannya
    WHO memperbarui tinjauan 2016 tentang dampak kesehatan penggunaan ganja non-medis: potensi THC meningkat, pasar legal meluas global, dan bukti makin kuat soal ketergantungan, psikosis, gangguan kognitif remaja, hingga risiko kardiovaskular. Di Indonesia, ganja tetap narkotika golongan I berdasarkan UU 35/2009, tanpa perubahan meski tren dunia bergeser ke legalisasi.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca