Di sebuah pesta ulang tahun, 20 anak balita berlarian riang sambil berteriak-teriak, mangkuk permen sudah kosong, dan para orang tua saling melirik sambil berbisik, “Pasti karena kebanyakan gula, nih.” Adegan ini begitu akrab sehingga hampir tidak pernah dipertanyakan—termasuk oleh sebagian tenaga kesehatan sendiri. Namun ketika bukti ilmiah ditelusuri lebih jauh, jawabannya ternyata jauh lebih rumit dari sekadar “iya” atau “tidak.”
Artikel ini mengulas kembali dan memperbarui salah satu mitos kesehatan anak yang paling melekat di benak masyarakat: apakah gula benar-benar menyebabkan hiperaktivitas pada anak? Kita akan menelusuri bukti klasik dari dekade 1990-an hingga temuan terbaru 2020–2026 yang justru membuka nuansa baru, khususnya pada anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (attention deficit hyperactivity disorder/ADHD).
Asal-Usul Mitos: Dari Alergi Makanan hingga Hipoglikemia
Perdebatan soal gula dan perilaku anak sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum era media sosial. Pada 1947, Dr. Theron G. Randolph menerbitkan tulisan yang mengaitkan sensitivitas terhadap gula jagung (corn syrup) dengan apa yang ia sebut tension-fatigue syndrome pada anak—gejalanya meliputi kelelahan dan mudah tersinggung. Pada era 1970-an, gula kembali disalahkan, kali ini dikaitkan dengan hipoglikemia reaktif atau fungsional—penurunan gula darah setelah makan yang dapat menyebabkan kecemasan, kebingungan, dan iritabilitas.
Kedua teori inilah yang menjadi fondasi keyakinan populer bahwa perilaku anak dipengaruhi secara negatif oleh konsumsi gula—baik sebagai reaksi alergi maupun respons hipoglikemia. Masalahnya, tak satu pun dari kedua teori ini didukung data ilmiah yang kuat hingga saat ini. Penjelasan awam lain yang sering beredar adalah bahwa camilan manis memicu lonjakan gula darah singkat (hiperglikemia)—padahal gejala hiperglikemia sesungguhnya berupa rasa haus, sering buang air kecil, kelelahan, iritabilitas, dan mual, bukan hiperaktivitas.
Apa Kata Bukti Klasik?
Pertanyaan ini mulai diteliti secara serius pada 1990-an. Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan di JAMA pada 1995, yang menelaah 23 eksperimen dari 16 makalah ilmiah—hanya memasukkan studi tersamar ganda (double-blind) dan terkontrol plasebo, di mana anak, orang tua, maupun guru tidak mengetahui siapa yang menerima gula dan siapa yang menerima plasebo—menyimpulkan bahwa gula (terutama sukrosa) tidak memengaruhi perilaku atau performa kognitif anak secara umum, meski para penulis tidak sepenuhnya menutup kemungkinan adanya “efek kecil” yang tidak terdeteksi.
Studi lain yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine pada 1994 membandingkan anak-anak yang oleh orang tuanya dianggap “sensitif gula” dengan anak “normal,” memberikan tiga jenis diet secara bergantian (tinggi sukrosa, rendah sukrosa dengan aspartam, dan rendah sukrosa dengan sakarin sebagai plasebo). Hasilnya: tidak ada perbedaan bermakna dalam 39 variabel perilaku dan kognitif pada kelompok anak yang dianggap sensitif gula. Studi lanjutan tahun 2017 pada 287 anak usia 8–12 tahun—yang menariknya menemukan 81% anak mengonsumsi gula melebihi anjuran harian—juga menyimpulkan konsumsi gula total tidak berkaitan dengan masalah perilaku atau tidur.
Kesimpulan sementara: bila gula memang berpengaruh pada hiperaktivitas anak secara umum, efeknya sangat kecil dan tidak berlaku bagi mayoritas anak.
Pembaruan Bukti: ADHD Adalah Cerita yang Berbeda
Di sinilah letak pembaruan penting sejak studi-studi klasik di atas. Untuk populasi anak pada umumnya, kesimpulan “gula tidak menyebabkan hiperaktivitas” tetap berdiri kokoh. Namun untuk anak dengan ADHD, atau anak yang berisiko mengembangkannya, gambarannya lebih kompleks dan terus berkembang.
Sebuah meta-analisis yang menganalisis tujuh studi dengan total hampir 26.000 partisipan menemukan adanya hubungan positif antara konsumsi gula secara keseluruhan maupun minuman manis kemasan (sugar-sweetened beverages/SSB) dengan gejala ADHD—meski heterogenitas antarstudi cukup tinggi, sehingga kekuatan kesimpulannya masih terbatas. Sejalan dengan itu, studi potong-lintang (cross-sectional) pada 6.541 anak usia 6–12 tahun di Tiongkok turut mengonfirmasi asosiasi antara konsumsi SSB dan gejala hiperaktivitas, meski desain studi seperti ini tidak dapat memastikan arah sebab-akibat.
Temuan serupa juga muncul dari studi pada mahasiswa kedokteran di Thailand, yang menemukan bahwa konsumsi gula tambahan dari minuman lebih dari 25 gram per hari berkaitan dengan peningkatan risiko gejala ADHD (rasio odds 1,80). Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dipublikasikan di Journal of Affective Disorders menyimpulkan bahwa pola makan tinggi gula olahan dan lemak jenuh dapat meningkatkan risiko ADHD, sementara pola makan kaya buah dan sayur bersifat protektif—namun para penulis sendiri mengakui bukti yang mendasarinya umumnya masih lemah, karena sebagian besar studi bersifat observasional (potong-lintang atau kasus-kontrol) yang rentan bias ingatan (recall bias): orang tua anak dengan ADHD mungkin lebih cenderung melaporkan pola makan tinggi gula karena asosiasi ini sudah menjadi pengetahuan umum.
Penting juga dipahami arah hubungan yang mungkin terbalik: ada bukti bahwa anak dan orang dewasa dengan ADHD justru lebih cenderung mengalami perilaku makan berlebihan (binge eating), sehingga tingginya konsumsi makanan manis yang mengaktifkan sistem penghargaan otak (reward system) bisa jadi merupakan akibat dari ADHD, bukan penyebabnya.
Mengapa Mitos Ini Begitu Melekat?
Jika bukti ilmiah begitu lemah, mengapa begitu banyak orang tua yakin gula membuat anak mereka mengamuk? Sebagian jawabannya terletak pada ekspektasi orang tua sendiri. Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Abnormal Child Psychology pada 1994 merekrut 35 anak laki-laki usia 5–7 tahun yang oleh ibunya dianggap “sensitif gula.” Seluruh anak sebenarnya hanya menerima plasebo (aspartam), namun separuh ibu diberi tahu anaknya menerima plasebo, sementara separuh lainnya diberi tahu anaknya menerima dosis besar gula.
Hasilnya mengejutkan: ibu-ibu yang diberi tahu anaknya mengonsumsi gula menilai anak mereka jauh lebih hiperaktif dibandingkan kelompok kontrol—bahkan pengamatan perilaku menunjukkan ibu-ibu ini lebih banyak mengontrol, mendekati fisik, mengkritik, memperhatikan, dan mengajak bicara anaknya. Dengan kata lain, ekspektasi orang tua sendiri dapat membentuk cara mereka menafsirkan (dan bahkan memengaruhi) perilaku anak.
Faktor lain adalah konteks: pesta ulang tahun adalah situasi di mana anak-anak berkumpul, bersenang-senang, dan sudah cenderung bersemangat terlepas dari camilan manis yang mereka konsumsi. Media populer juga turut melanggengkan mitos ini lewat istilah seperti “sugar rush” yang begitu akrab dalam kartun maupun percakapan sehari-hari.
Konteks Indonesia: Masalah Gula pada Anak Bukan Soal Hiperaktivitas, tapi Soal Metabolik
Bagi orang tua dan tenaga kesehatan di Indonesia, kesimpulan yang lebih relevan sesungguhnya bukan soal hiperaktivitas, melainkan dampak metabolik jangka panjang dari konsumsi gula berlebih pada anak. Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) mencatat rata-rata asupan gula tambahan anak Indonesia berkisar 22 gram per hari, mendekati ambang batas aman WHO sebesar kurang dari 25 gram (setara enam sendok teh) per hari—dan Kementerian Kesehatan RI sendiri menetapkan batas konsumsi gula harian anak usia 2–10 tahun pada kisaran 19–24 gram per hari.
Konsumsi gula masyarakat Indonesia, sebagian besar berasal dari minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK), meningkat sekitar 40% dalam periode 1992–2020—jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan konsumsi gula global yang hanya 9%. Konsumsi MBDK rumah tangga bahkan melonjak dari sekitar 24 juta liter pada 1996 menjadi ratusan juta liter dua dekade kemudian, menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga konsumsi MBDK tertinggi di Asia Tenggara. Sejalan dengan tren ini, prevalensi obesitas nasional meningkat dua kali lipat dalam satu dekade, dari 10,3% (2007) menjadi 21,8% (2018), dengan anak dan remaja menjadi salah satu target utama pemasaran produk berpemanis.
Merespons hal ini, pemerintah telah menetapkan dasar hukum pengenaan cukai pada MBDK melalui Pasal 194 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan, meski implementasinya berulang kali tertunda—termasuk penundaan yang diumumkan Menteri Keuangan pada akhir 2025 dengan alasan pertumbuhan ekonomi nasional belum mencapai target. Di sisi regulasi label, kewajiban pencantuman kandungan Gula, Garam, Lemak (GGL) pada label pangan olahan sebenarnya sudah diatur sejak Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, namun dinilai belum efektif karena pengawasan lapangan yang terbatas dan rendahnya kesadaran konsumen—mendorong terbitnya kebijakan lanjutan seperti Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 tentang label GGL, meski regulasi ini juga menuai kritik dari kelompok masyarakat sipil terkait proses penyusunannya.
Bagi klinisi di layanan primer, pesan praktis bagi orang tua semestinya bukan “hindari gula agar anak tidak tantrum di pesta,” melainkan membatasi konsumsi gula tambahan—khususnya dari MBDK—sebagai bagian dari pencegahan obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit tidak menular lain yang risikonya justru terbukti kuat secara ilmiah, jauh lebih kuat dibandingkan bukti soal hiperaktivitas.
Penutup: Bukan Alasan untuk Mengabaikan Gula
Kesimpulan dari seluruh bukti di atas: bagi mayoritas anak, gula tidak menyebabkan hiperaktivitas sebagaimana yang diyakini luas oleh orang tua—mitos ini lebih banyak dibentuk oleh ekspektasi, konteks sosial, dan bahasa populer daripada oleh mekanisme biologis yang nyata. Namun bagi anak dengan ADHD, hubungan antara pola makan tinggi gula dan keparahan gejala tetap layak menjadi perhatian, meski buktinya masih bersifat korelasional dan membutuhkan penelitian jangka panjang yang lebih kuat untuk memastikan arah sebab-akibatnya.
Yang jelas, longgarnya bukti soal hiperaktivitas sama sekali tidak mengurangi urgensi membatasi asupan gula anak—karena risiko obesitas, diabetes, karies gigi, dan penyakit jantung akibat konsumsi gula berlebih tetap didukung bukti yang jauh lebih kokoh, dan di Indonesia, risiko ini sudah menjelma menjadi krisis kesehatan masyarakat yang nyata.
Daftar Pustaka (APA)
Newman, T. (2020). Medical myths: Does sugar make children hyperactive? Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/medical-myths-does-sugar-make-children-hyperactive
Farsad-Naeimi, A., et al. (2020). Sugar consumption, sugar sweetened beverages and Attention Deficit Hyperactivity Disorder: A systematic review and meta-analysis. Neurología (English Edition). https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0965229919320540
Zhang, Y., Gui, Z., Jiang, N., Pu, X., Liu, M., Pu, Y., Huang, S., Huang, S., & Chen, Y. (2023). Association between hyperactivity and SSB consumption in schoolchildren: A cross-sectional study in China. Nutrients, 15(4), 1034. https://doi.org/10.3390/nu15041034
Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI). (2026). Ini alasan penerapan label peringatan & cukai makanan tinggi gula-garam tidak bisa ditunda. https://cisdi.org/artikel/penerapan-label-peringatan
Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan RI. (2026). Pengenaan cukai atas Minuman Berpemanis dalam Kemasan. https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/lubuksikaping/id/data-publikasi/artikel/3248-pengenaan-cukai-atas-minuman-berpemanis-dalam-kemasan.html
Catatan transparansi: Artikel ini merupakan adaptasi, pengembangan, dan pembaruan dari artikel seri Medical Myths Medical News Today (ditulis Tim Newman, dipublikasikan 2020) yang merangkum bukti klasik 1990-an. Bagian pembaruan bukti ilmiah 2020–2026 mengenai hubungan gula dan ADHD ditelusuri secara independen dari basis data ilmiah, mengingat artikel asal MNT tidak mencakup periode ini. Konteks Indonesia disusun dari data SKMI, CISDI, dan Kementerian Keuangan/Kemenkes RI sepanjang 2025–2026; kebijakan cukai MBDK dan Permenkes label GGL yang dirujuk masih dalam tahap implementasi dinamis dan dapat berubah, sehingga pembaca disarankan memeriksa status terbaru regulasi tersebut secara berkala.





Tinggalkan Balasan