Seorang perempuan berusia 32 tahun datang untuk kontrol kehamilan keduanya di usia gestasi 26 minggu. Ia merasa baik-baik saja—tidak ada keluhan berarti, hanya sedikit lebih mudah haus dan sering ke kamar mandi, yang ia anggap wajar untuk ibu hamil. Namun hasil tes toleransi glukosa oral (oral glucose tolerance test, OGTT) yang dijadwalkan rutin pada trimester ketiga menunjukkan kadar gula darah puasa dan dua jam setelah beban glukosa berada di atas ambang normal. Ia terkejut: tidak ada riwayat diabetes di keluarganya, dan kehamilan pertamanya berjalan tanpa masalah serupa. Diagnosisnya: diabetes melitus gestasional (DMG).
Kisah semacam ini jauh lebih umum daripada yang dibayangkan banyak ibu hamil. DMG adalah salah satu komplikasi metabolik kehamilan yang paling sering ditemui, namun sering luput dari perhatian karena umumnya tidak menimbulkan gejala yang mencolok.
Apa Itu Diabetes Melitus Gestasional?
Diabetes melitus gestasional adalah gangguan toleransi glukosa yang pertama kali terdeteksi selama kehamilan, pada perempuan yang sebelumnya tidak diketahui mengidap diabetes. Kondisi ini berbeda dari diabetes pragestasional (diabetes tipe 1 atau tipe 2 yang sudah ada sebelum hamil), meski keduanya sama-sama termasuk dalam payung besar “diabetes dalam kehamilan”.
Secara fisiologis, kehamilan memang membuat tubuh ibu menjadi lebih resisten terhadap insulin. Plasenta menghasilkan hormon-hormon seperti human placental lactogen, kortisol, dan progesteron yang bekerja melawan kerja insulin—sebuah mekanisme yang sebenarnya bertujuan memastikan pasokan glukosa cukup untuk janin yang sedang tumbuh. Pada sebagian ibu hamil, pankreas tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan insulin ini, sehingga kadar gula darah naik melebihi batas normal.
Seberapa Sering Terjadi?
Data global menunjukkan variasi prevalensi yang cukup lebar, dari 1 hingga 14% dari seluruh kehamilan, tergantung populasi, kriteria diagnosis, dan strategi skrining yang digunakan, sementara data Indonesia tahun 2007 berdasarkan kriteria O’Sullivan menunjukkan prevalensi 1,9–3,6%. Angka ini kemungkinan besar merupakan angka bawah (underestimate), mengingat tidak adanya standar emas skrining yang seragam serta keterbatasan cakupan data nasional untuk kondisi ini secara khusus, karena epidemiologi diabetes gestasional masih sulit ditentukan akibat tidak adanya standar emas skrining yang bersifat universal, sehingga identifikasinya heterogen dan prevalensinya kurang akurat.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023—gabungan Riskesdas dan Studi Status Gizi Indonesia—untuk pertama kalinya mencoba memilah jenis diabetes pada populasi yang terdiagnosis. Dari seluruh kasus diabetes yang terdata, diabetes gestasional menyumbang sekitar 2,6%, dengan proporsi tertinggi pada kelompok usia 25–34 tahun. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat, tren serupa juga terlihat naik cukup tajam—dari 4,6 per 100 kelahiran pada 2006 menjadi 8,2 per 100 kelahiran pada 2016, meningkat 78% dalam satu dekade—sejalan dengan meningkatnya usia ibu hamil dan prevalensi obesitas di banyak negara, termasuk Indonesia.
Siapa yang Lebih Berisiko?
Beberapa faktor risiko yang telah mapan secara klinis meliputi kelebihan berat badan atau obesitas sebelum hamil, riwayat keluarga dengan diabetes, kurangnya aktivitas fisik, riwayat diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya, penyakit hati berlemak non-alkohol (metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease), serta latar belakang etnis tertentu yang secara epidemiologis dikaitkan dengan risiko lebih tinggiseperti kelebihan berat badan, riwayat keluarga, kurang aktivitas fisik, riwayat diabetes gestasional, penyakit hati berlemak non-alkohol, serta etnis tertentu. Usia ibu di atas 35 tahun, sindrom ovarium polikistik, dan riwayat melahirkan bayi besar (makrosomia) juga menjadi pertimbangan klinis standar dalam penilaian risiko.
Pada praktik sehari-hari di fasilitas kesehatan primer maupun rumah sakit, ibu dengan indeks massa tubuh tinggi sebelum kehamilan dan usia kehamilan trimester ketiga tampaknya menjadi kelompok yang paling banyak terdiagnosis, sebagaimana tergambar dalam beberapa studi kasus rumah sakit di Indonesia, di mana kejadian diabetes gestasional paling banyak terjadi pada trimester III (27–40 minggu) dan sebagian besar ibu memiliki status gizi obesitas dengan rerata indeks massa tubuh sekitar 30,65 kg/m².
Bagaimana Cara Mendiagnosisnya?
Standar internasional terbaru dari American Diabetes Association (ADA) dalam Standards of Care in Diabetes—2026 merekomendasikan pendekatan dua tahap. Pada usia kehamilan sebelum 15 minggu, dilakukan skrining untuk mendeteksi kelainan metabolisme glukosa dini, guna mengidentifikasi ibu hamil dengan risiko luaran kehamilan dan neonatal yang lebih buruk sekaligus risiko lebih tinggi terdiagnosis DMG di kemudian hari, yang didefinisikan sebagai HbA1c 5,9–6,4% atau glukosa plasma puasa 110–125 mg/dL. Skrining utama untuk DMG kemudian dilakukan pada usia kehamilan 24–28 minggu bagi ibu hamil yang sebelumnya belum terdiagnosis diabetes atau kelainan glukosa berisiko tinggi.
Di Indonesia, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) mengadopsi kriteria diagnosis dari World Health Organization (WHO), namun belum menetapkan secara khusus kadar glukosa mana yang digunakan untuk tahap skrining awal, sehingga metode skrining ADA yang menggunakan kadar glukosa darah satu jam setelah beban glukosa 50 gram masih banyak dipakai meski dianggap kurang praktis, relatif mahal, dan kurang nyaman bagi ibu hamil. Panduan praktis yang lebih umum diterapkan di lapangan—mengacu pada rekomendasi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan PERKENI—adalah melakukan skrining gula darah pada semua ibu hamil saat kunjungan antenatal pertama, kemudian mengevaluasi ulang pada usia kehamilan 24–28 minggu menggunakan kadar glukosa darah puasa dan dua jam post-prandial.
Pemeriksaan baku emasnya adalah oral glucose tolerance test (OGTT/TTGO) dengan beban 75 gram glukosa, di mana kadar gula darah diperiksa sebelum minum larutan glukosa, satu jam, dan dua jam sesudahnya. Pemeriksaan ini memerlukan puasa 8–10 jam sebelumnya, sebuah syarat yang perlu diperhatikan secara ketat karena kondisi fisiologis kehamilan membuat ibu hamil kurang toleran terhadap penurunan gula darah dibandingkan perempuan tidak hamil.
Mengapa Kondisi Ini Perlu Ditangani Serius?
DMG yang tidak terkontrol membawa risiko bagi ibu maupun janin. Pada bayi yang lahir dari ibu dengan DMG, dilaporkan risiko hiperbilirubinemia terjadi pada 29–44% kasus, hipoglikemia neonatal pada 9–24%, serta distres pernapasan pada 3–4% kasus, sementara angka mortalitas perinatal dilaporkan dua kali lebih tinggi dibandingkan populasi ibu hamil tanpa diabetes. Bayi yang lahir dari ibu dengan gula darah tak terkendali cenderung memiliki berat badan lahir berlebih (makrosomia), sebagaimana tercermin pada studi kasus di salah satu rumah sakit Indonesia dengan rerata berat bayi 3,47 kg dan tingkat persalinan seksio sesarea yang tinggi (80%).
Bagi ibu, DMG bukan sekadar masalah sementara. Ibu dengan riwayat DMG memiliki risiko jangka panjang jauh lebih tinggi untuk berkembang menjadi diabetes tipe 2 di kemudian hari. Karena itu, ADA merekomendasikan skrining ulang pada 4–12 minggu pascasalin menggunakan OGTT 75 gram dengan kriteria diagnosis standar di luar kehamilan, dan pemantauan berkelanjutan setiap 1–3 tahun seumur hidup bagi mereka yang pernah mengalami DMG.

Tata Laksana: Dari Perubahan Gaya Hidup hingga Insulin
Lini pertama penanganan DMG adalah modifikasi pola makan (terapi nutrisi medis) dan peningkatan aktivitas fisik yang aman bagi kehamilan. Pemantauan mandiri kadar gula darah menjadi bagian penting dari pemantauan harian. Bila target glikemik tidak tercapai hanya dengan perubahan gaya hidup, terapi farmakologis—umumnya insulin sebagai pilihan utama, karena tidak menembus sawar plasenta secara bermakna—perlu dipertimbangkan. Pada praktik di beberapa rumah sakit Indonesia, mayoritas ibu dengan DMG pada akhirnya memerlukan terapi insulin, dengan proporsi mencapai lebih dari separuh kasus dalam salah satu studi.
ADA 2026 juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis tim untuk kasus diabetes dalam kehamilan yang kompleks, melibatkan spesialis kedokteran fetomaternal, endokrinologis, ahli gizi, serta edukator diabetes bila sumber daya tersedia. Bagi fasilitas kesehatan di daerah dengan keterbatasan akses ke tenaga subspesialis, rujukan berjenjang dari Puskesmas ke rumah sakit dengan layanan kebidanan risiko tinggi menjadi krusial, sejalan dengan alur rujukan JKN/BPJS Kesehatan yang berlaku di Indonesia.
Mengapa Deteksi Dini Menjadi Kunci
Karena DMG umumnya tidak bergejala, skrining terjadwal pada usia kehamilan 24–28 minggu—dan bagi kelompok berisiko tinggi, skrining lebih dini sebelum 15 minggu—menjadi strategi paling efektif untuk menangkap kondisi ini sebelum menimbulkan komplikasi. Edukasi kepada ibu hamil, terutama mereka dengan faktor risiko seperti obesitas, riwayat keluarga diabetes, atau riwayat DMG sebelumnya, perlu menjadi bagian rutin dari layanan antenatal, baik di Puskesmas maupun rumah sakit rujukan.
Pada akhirnya, diabetes gestasional adalah pengingat bahwa kehamilan bukan hanya soal janin yang tumbuh, tetapi juga jendela kesehatan metabolik ibu ke depan. Deteksi dan tata laksana yang tepat saat ini dapat mencegah komplikasi akut pada persalinan sekaligus menjadi langkah pencegahan diabetes tipe 2 di masa depan.
Catatan Transparansi
Artikel ini menggunakan data prevalensi Indonesia dari berbagai sumber dengan rentang waktu berbeda (studi tahun 2007 dan SKI 2023), karena belum tersedia data prevalensi diabetes gestasional nasional yang konsisten dan diperbarui secara berkala di Indonesia. Proporsi 2,6% dari SKI 2023 merujuk pada proporsi di antara kasus diabetes yang terdiagnosis, bukan prevalensi di antara seluruh kehamilan, sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan angka prevalensi global. Data luaran neonatal dan karakteristik klinis yang dikutip dari studi kasus rumah sakit bersifat spesifik-lokal dan belum tentu mewakili gambaran nasional Indonesia secara keseluruhan.
Referensi
American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). 2. Diagnosis and classification of diabetes: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care, 49(Suppl. 1), S27–S49. https://doi.org/10.2337/dc26-S002
American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). 15. Management of diabetes in pregnancy: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care, 49(Suppl. 1), S321–S334. https://doi.org/10.2337/dc26-S015
American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). Summary of revisions: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care, 49(Suppl. 1), S6–S12. https://doi.org/10.2337/dc26-SREV
Alomedika. (2022). Epidemiologi diabetes gestasional. https://www.alomedika.com/penyakit/endokrinologi/diabetes-gestasional/epidemiologi
Alomedika. (2025). Diagnosis diabetes gestasional. https://general.alomedika.com/penyakit/endokrinologi/diabetes-gestasional/diagnosis
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. (2024). Prevalensi, dampak, serta upaya pengendalian hipertensi & diabetes di Indonesia [Fact sheet Survei Kesehatan Indonesia 2023]. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/fact-sheet-survei-kesehatan-indonesia-ski-2023/
Databoks. (2024, Juli 26). Diabetes tipe 2 paling banyak diderita orang Indonesia pada 2023. Katadata. https://databoks.katadata.co.id/layanan-konsumen-kesehatan/statistik/66a322ac66f68/diabetes-tipe-2-paling-banyak-diderita-orang-indonesia-pada-2023
Kurniansih, F. (2003). Perbandingan akurasi skrining diabetes mellitus gestasional dengan menggunakan kadar glukosa darah puasa dibanding 1 jam setelah beban glukosa 50 gram berdasarkan kriteria diagnosis WHO [Tesis, Universitas Gadjah Mada]. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/23912
Purnamasari, D., Waspadji, S., et al. (2013). Indonesian clinical practice guidelines for diabetes in pregnancy. Journal of the ASEAN Federation of Endocrine Societies, 28(1), 1–17.
[Penulis studi kasus rumah sakit, nama tidak lengkap dalam sumber]. (2024). Gambaran penderita diabetes melitus gestasional [Artikel jurnal]. Jurnal Kesehatan Universitas Pahlawan. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/download/55287/33854/200735





Tinggalkan Balasan