Pukul dua dini hari di sebuah IGD rumah sakit tipe C di Kabupaten Jember, seorang ibu datang menggendong anak laki-lakinya yang berusia empat tahun. Sejak sore anak itu muntah dan tidak mau makan. Di rumah ia sempat gemetar, lalu tertidur dan sulit dibangunkan. Perawat menusuk ujung jarinya: glukometer menunjukkan angka 32 mg/dL.
Adegan seperti ini berulang di banyak tempat — di Puskesmas rawat inap di Lombok Tengah, di ruang neonatus RSUD di Manokwari, di bangsal anak di Pekanbaru. Yang membedakan hasil akhirnya bukan kecanggihan alat, melainkan apakah petugas jaga mengenali polanya dan tahu persis apa yang harus dilakukan dalam sepuluh menit pertama.
Hipoglikemia pada anak adalah kegawatan yang murah diobati tetapi mahal bila terlambat. Otak anak menyerap glukosa jauh lebih rakus dibanding otak dewasa, sementara cadangan glikogen hatinya kecil. Karena itu, penurunan glukosa yang pada orang dewasa hanya menimbulkan rasa lapar bisa menyebabkan kejang dan cedera otak permanen pada balita.
Mengapa Anak Lebih Rentan
Pada bayi dan anak kecil, rasio massa otak terhadap berat badan jauh lebih besar. Laju produksi glukosa hati pada bayi berkisar 5–8 mg/kg/menit, sementara pada anak yang lebih besar turun ke 3–5 mg/kg/menit dan pada dewasa hanya sekitar 2 mg/kg/menit. Artinya, “mesin” penghasil glukosa bayi bekerja jauh lebih kencang untuk menghidupi otaknya — dan begitu pasokan terputus (muntah, diare, puasa panjang, sepsis), cadangan cepat habis.
Ada pula alasan fisiologis khusus pada bayi baru lahir. Ambang kadar glukosa yang menekan sekresi insulin pada neonatus lebih rendah (sekitar 55–65 mg/dL) dibanding bayi yang lebih besar dan anak (sekitar 80–85 mg/dL), dan mekanisme ini baru matang sekitar usia 72 jam. Inilah yang disebut transitional neonatal hypoglycemia — bentuk hiperinsulinisme ringan dan sementara yang membuat banyak bayi sehat memiliki kadar glukosa rendah pada hari pertama kehidupan tanpa berarti sakit (Thornton dkk., 2015).
Konsekuensinya penting: angka ambang hipoglikemia berbeda menurut usia dan konteks klinis. Menyamaratakan satu angka untuk semua pasien adalah sumber kesalahan yang paling sering.
Berapa Angka yang Disebut Hipoglikemia?
Tidak ada satu angka tunggal yang disepakati dunia. Sebuah telaah sistematis pedoman internasional menyimpulkan bahwa konsensus mengenai ambang tata laksana dan rentang target glukosa masih belum tercapai, dan rekomendasi farmakoterapinya pun masih sederhana. Yang bisa dilakukan klinisi adalah memahami logika di balik tiap angka.
| Kelompok / sumber | Ambang yang dipakai | Catatan praktis |
|---|---|---|
| Neonatus — WHO / UKK Neonatologi IDAI | < 47 mg/dL (2,6 mmol/L) | Dipakai sebagai ambang skrining dan tata laksana bayi berisiko |
| Neonatus — AAP | < 45 mg/dL | Target dinaikkan bertahap dalam 48 jam pertama |
| Neonatus — Pediatric Endocrine Society | Target > 50 mg/dL dalam 48 jam pertama, > 60 mg/dL sesudahnya | Ambang lebih ketat; menuntut lebih banyak intervensi |
| Neonatus sakit berat — WHO Pocket Book | < 40 mg/dL (2,2 mmol/L) → bolus segera | Untuk bayi letargis, kejang, atau tidak sadar |
| Anak dengan diabetes — ISPAD / PNPK Kemenkes | < 70 mg/dL (level 1); < 54 mg/dL (level 2); level 3 = gangguan kesadaran/butuh bantuan orang lain | Ambang “waspada”, bukan ambang bahaya |
| Anak tanpa diabetes — WHO Pocket Book | < 45 mg/dL (2,5 mmol/L) | Anak sakit umum di rumah sakit |
| Anak dengan gizi buruk — WHO | < 54 mg/dL (3,0 mmol/L) | Ambang lebih tinggi karena cadangan sangat tipis |
| Anak dengan gangguan hipoglikemia menetap | Pertahankan > 70 mg/dL | Target terapeutik, bukan ambang diagnosis |
Perdebatan ambang neonatus bukan sekadar akademis. Uji acak HypoEXIT di Belanda menunjukkan bahwa pada bayi baru lahir sehat dengan hipoglikemia sedang tanpa gejala, ambang terapi yang lebih rendah (36 mg/dL) tidak lebih buruk dibanding ambang tradisional (47 mg/dL) untuk perkembangan psikomotor pada usia 18 bulan (van Kempen dkk., 2020). Tinjauan terbaru menambahkan nuansa: kadar antara 36 dan 47 mg/dL tampaknya dapat diterima pada neonatus tanpa gejala, sementara cedera neurologis teramati pada kadar di bawah 36 mg/dL — sehingga cedera otak agaknya terjadi dalam suatu rentang, bukan pada satu titik potong tunggal (Garg & Devaskar, 2025).
Untuk anak yang lebih besar, definisi klasik tetap berguna: trias Whipple — ada gejala yang sesuai, ada kadar glukosa rendah yang terdokumentasi, dan gejala membaik setelah glukosa dinormalkan.
Mengenali Gejalanya: Dua Wajah yang Berbeda
Gejala hipoglikemia terbagi dua kelompok, dan urutannya bermakna secara klinis.
Gejala neurogenik (otonom) muncul lebih dulu, akibat pelepasan katekolamin: berkeringat dingin, gemetar, jantung berdebar, pucat, lapar mendadak, cemas. Ini adalah “alarm” — dan alarm inilah yang perlu dikenali anak dan orang tua.
Gejala neuroglikopenik muncul ketika otak benar-benar kekurangan bahan bakar: bingung, bicara melantur, perilaku aneh, penglihatan kabur, mengantuk berat, kejang, koma. Pada bayi, tandanya justru samar dan tidak khas — malas menetek, tangis melengking atau justru lemah, tremor, hipotermia, napas tidak teratur, apnea.
Dua jebakan klinis yang perlu diingat:
- Anak prasekolah sering tidak mampu melaporkan gejala awalnya. PNPK Kemenkes secara eksplisit meminta pemantauan glukosa lebih sering pada kelompok usia ini.
- Hipoglikemia berulang menumpulkan alarm (hypoglycemia unawareness). Bila ini terjadi, target glikemik justru perlu dilonggarkan sementara sampai kepekaan pulih.
Alur Tata Laksana
Diagram berikut merangkum langkah yang perlu dikuasai setiap petugas jaga.
Jalur A: anak sadar dan mampu menelan
Berikan glukosa oral 0,3 g/kg berat badan. Rekomendasi Italia (ISPED) yang disusun berdasarkan telaah sistematis menegaskan bahwa tujuan terapi hipoglikemia adalah menaikkan glukosa darah di atas 70 mg/dL dan mencegah penurunan lebih lanjut, dengan glukosa oral 0,3 g/kg sebagai pilihan utama pada pasien sadar, meskipun bentuk karbohidrat lain yang mengandung glukosa juga dapat dipakai (Zucchini dkk., 2024). Untuk anak berbobot 20 kg, itu berarti sekitar 6 gram — kira-kira satu setengah sendok teh gula pasir yang dilarutkan, atau setengah gelas kecil jus.
Cek ulang setelah 15 menit. Bila masih di bawah 70 mg/dL, ulangi. Bila sudah pulih, jangan berhenti di situ: lanjutkan dengan makanan utama atau kudapan berkarbohidrat kompleks agar kadar glukosa tidak kembali merosot ketika efek gula sederhana habis.
Catatan penting untuk pengguna automated insulin delivery atau pompa pintar — populasi yang mulai bertambah di kota besar Indonesia: dosis awal yang dianjurkan lebih kecil, sekitar 0,1 g/kg, karena sistem sudah otomatis menghentikan atau mengurangi insulin.
Jalur B: anak tidak sadar, kejang, atau muntah
Jangan memaksakan apa pun lewat mulut. ISPAD merekomendasikan glukosa intravena 0,2 g/kg — setara dekstrosa 10% sebanyak 2 mL/kg, dengan dosis maksimal 0,5 g/kg (5 mL/kg) — diberikan perlahan selama beberapa menit oleh tenaga terlatih.
Ada satu hal yang sering dilupakan di IGD Indonesia, tempat sediaan yang tersedia biasanya dekstrosa 40% dalam ampul 25 mL. Sediaan ini tidak boleh disuntikkan apa adanya kepada anak. Konsentrasi maksimal dekstrosa yang boleh melewati vena perifer adalah 25%, karena konsentrasi tinggi menyebabkan sklerosis vena; pemberian cepat atau konsentrasi berlebihan (dekstrosa 50%) dapat memicu perubahan osmotik mendadak dengan risiko cedera otak hiperosmolar. Praktisnya: satu bagian D40 diencerkan dengan tiga bagian akuades steril atau NaCl 0,9% akan menghasilkan larutan setara D10 — hitungan sederhana yang layak ditempel di dinding ruang tindakan.
Bila akses vena gagal atau kejadian berlangsung di rumah, glukagon adalah penyelamat. Dosisnya berdasarkan berat badan: 1 mg untuk anak di atas 25 kg dan 0,5 mg untuk anak di bawah 25 kg, diberikan subkutan atau intramuskular. Sediaan yang lebih mudah dipakai juga tersedia di beberapa negara, antara lain glukagon nasal dosis tunggal 3 mg untuk anak di atas 4 tahun dan dasiglukagon 0,6 mg dalam pena siap pakai untuk anak berusia 6 tahun ke atas. Di Indonesia, ketersediaan glukagon di FKTP masih sangat terbatas dan ini merupakan kesenjangan nyata antara rekomendasi internasional dan kenyataan lapangan.
Setelah bolus, lanjutkan infus rumatan dekstrosa 10% dan pantau. Perlu diingat bahwa WHO, dalam konteks rumah sakit dengan sumber daya terbatas, menggunakan angka yang berbeda: WHO menganjurkan pemberian dekstrosa 10% intravena 5 mL/kg untuk anak hipoglikemik tanpa gizi buruk berat, sementara untuk neonatus yang mengantuk, tidak sadar, atau kejang dengan glukosa di bawah 40 mg/dL, WHO menyarankan dekstrosa 10% 2 mL/kg IV, dilanjutkan infus rumatan 5 mL/kg per jam sementara asupan oral dibangun kembali; bila glukosa darah tidak dapat segera diperiksa, hipoglikemia diasumsikan ada dan glukosa tetap diberikan.
Kasus khusus: anak dengan gizi buruk
Anak dengan gizi buruk berat memerlukan pendekatan tersendiri. WHO menetapkan hipoglikemia pada kelompok ini bila glukosa darah di bawah 54 mg/dL, dan bila pemeriksaan tidak dapat dilakukan, semua anak gizi buruk berat dianggap hipoglikemik dan diterapi. Untuk anak yang masih sadar diberikan 50 mL larutan glukosa atau sukrosa 10% — setara satu sendok makan munjung gula dalam tiga sendok makan air — secara oral atau melalui pipa nasogastrik, disusul pemberian F-75 sesegera mungkin; bila anak tidak sadar, dekstrosa 10% intravena 5 mL/kg, atau melalui NGT bila akses vena sulit. Pemberian F-75 tiap dua jam selama 24 jam pertama adalah bagian tak terpisahkan dari terapi ini.
Sampel Kritis: Kesempatan Diagnostik yang Hanya Datang Sekali
Inilah bagian yang paling sering hilang dalam praktik sehari-hari. Ketika seorang anak datang dengan hipoglikemia yang tidak jelas sebabnya, kadar hormon dan metabolit dalam darahnya pada saat itu adalah satu-satunya jendela untuk mengetahui penyebabnya. Begitu glukosa diberikan, jendela itu tertutup — dan sering kali sulit dibuka kembali tanpa tes puasa terkontrol yang berisiko.
Pediatric Endocrine Society menganjurkan pengambilan sampel kritis pada saat hipoglikemia, sebaiknya saat kadar glukosa di bawah 50 mg/dL, meliputi glukosa plasma, beta-hidroksibutirat (keton), insulin, C-peptida, hormon pertumbuhan, kortisol, asam lemak bebas, laktat, dan bikarbonat; pemeriksaan karnitin, profil asilkarnitin, dan amonia serum dapat dipertimbangkan setelah berdiskusi dengan endokrinolog anak (Thornton dkk., 2015).
Kombinasi hasilnya mengarahkan diagnosis dengan cukup rapi:
| Pola sampel kritis | Arah diagnosis |
|---|---|
| Keton rendah, asam lemak bebas rendah, insulin terdeteksi | Hiperinsulinisme (kongenital, sindrom, atau akibat obat) |
| Keton tinggi, asam lemak bebas tinggi | Hipoglikemia ketotik, puasa berkepanjangan, defisiensi hormon |
| Keton rendah, asam lemak bebas tinggi | Gangguan oksidasi asam lemak (misalnya defisiensi MCAD) |
| Laktat tinggi, hepatomegali | Penyakit penyimpanan glikogen, gangguan glukoneogenesis |
| Kortisol dan/atau hormon pertumbuhan rendah | Insufisiensi adrenal, hipopituitarisme |
Di fasilitas dengan laboratorium terbatas, mengambil dan menyimpan serum ekstra sebelum terapi — untuk diperiksa kemudian atau dikirim ke rumah sakit rujukan — jauh lebih baik daripada tidak mengambil sama sekali. Prinsipnya sederhana: ambil sampel, lalu segera obati. Terapi tidak boleh ditunda demi laboratorium.
Konteks Indonesia: Siapa yang Berisiko
Penyebab hipoglikemia anak di Indonesia lebih luas daripada sekadar komplikasi terapi insulin.
Bayi baru lahir berisiko. Bayi dari ibu dengan diabetes, bayi besar masa kehamilan, bayi berat lahir rendah dan kecil masa kehamilan, bayi prematur, bayi dengan asfiksia, sepsis, atau hipotermia — semuanya memerlukan pemantauan glukosa terjadwal terlepas dari cara pemberian minumnya. Pemeriksaan pertama umumnya dilakukan pada usia 2–4 jam, ketika kadar glukosa mencapai titik terendahnya.
Anak dengan penyakit berat. Sepsis, malaria berat (masih endemis di Papua, Nusa Tenggara Timur, dan sebagian Maluku), diare akut dengan dehidrasi, dan gizi buruk adalah penyebab klasik. Data dari negara berpendapatan rendah menunjukkan mortalitas yang mengkhawatirkan: uji SugarFACT di Malawi mencatat angka kematian di rumah sakit sebesar 15,5% pada anak usia 1 bulan sampai 5 tahun yang sakit berat dengan kadar glukosa rendah. Yang menarik, menaikkan ambang terapi hipoglikemia dari 2,5 mmol/L menjadi 5,0 mmol/L pada anak sakit berat ternyata tidak menurunkan mortalitas keseluruhan — sebuah pengingat bahwa hipoglikemia pada anak sakit berat lebih merupakan penanda beratnya penyakit dasar daripada penyebab tunggal kematian. Mengoreksi angka glukosa saja tidak cukup; penyakit dasarnya harus dikejar.
Anak dengan diabetes tipe-1. Jumlahnya meningkat tajam. PNPK Kemenkes mencatat prevalensi DM tipe-1 anak melonjak dari 0,0038 per 100.000 pada tahun 2000 menjadi 2 per 100.000 pada 2023, dengan sekitar 1.400 anak tercatat pada 2023 — angka yang hampir pasti jauh di bawah kenyataan mengingat keterbatasan pencatatan. IDAI melaporkan 1.645 pasien anak dengan diabetes per Januari 2023 yang tersebar di tiga belas kota. PNPK juga mencatat bahwa hingga 71% anak baru terdiagnosis ketika sudah jatuh ke ketoasidosis diabetikum (Kementerian Kesehatan RI, 2024). Pada kelompok ini, hipoglikemia adalah risiko seumur hidup — dan PNPK secara tegas menyebut bahwa semakin rendah target HbA1c, semakin tinggi risiko hipoglikemia, sehingga target harus selalu bersifat individual.
Hipoglikemia ketotik idiopatik. Penyebab hipoglikemia non-diabetik yang paling sering pada balita: anak usia 1–5 tahun yang kurus, melewatkan makan malam karena sakit ringan, lalu ditemukan lemas di pagi hari dengan keton urin positif kuat. Umumnya membaik sendiri seiring bertambahnya usia, tetapi memerlukan edukasi keluarga tentang aturan hari sakit.
Paparan obat yang tidak disengaja. Menelan obat antidiabetes golongan sulfonilurea milik kakek atau nenek dapat menyebabkan hipoglikemia berat dan berkepanjangan hingga belasan jam. Anak seperti ini wajib diobservasi menginap, bukan dipulangkan setelah glukosanya membaik.
Mencegah: Bagian yang Paling Sering Diabaikan
Di rumah dan di sekolah
PNPK Kemenkes memberi daftar rinci yang layak dijadikan materi edukasi guru: sediakan makanan mengandung glukosa yang mudah diserap di sekolah, obati hipoglikemia secepatnya, jangan meninggalkan anak sendirian selama atau setelah episode, dan beri tahu orang tua setiap kali terjadi. Satu butir yang sering dilanggar: bila anak kejang atau tidak sadar, pemberian apa pun lewat mulut justru berbahaya — baringkan anak dan panggil ambulans.
Pedoman yang sama juga mencatat bahwa fungsi kognitif dapat terganggu selama beberapa jam setelah episode, meskipun gejalanya sudah hilang. Anak yang baru saja mengalami hipoglikemia saat pelajaran olahraga sebaiknya beristirahat 10–15 menit sebelum kembali beraktivitas.
Saat olahraga
Sekitar 40% episode hipoglikemia pada penyandang diabetes dicetuskan oleh olahraga, dan risikonya berlanjut jauh setelah aktivitas selesai. PNPK menganjurkan pemantauan glukosa sebelum tidur setelah olahraga siang atau sore, dengan penurunan dosis insulin basal 10–20% bila latihan lebih intens dari biasanya. Hipoglikemia nokturnal pascaolahraga berisiko tinggi terutama bila glukosa sebelum tidur di bawah 125 mg/dL.
Saat sakit
Aturan yang tidak boleh dilanggar: insulin tidak pernah dihentikan saat anak sakit. Yang disesuaikan adalah dosisnya. PNPK menargetkan glukosa darah 70–180 mg/dL dan keton darah di bawah 0,6 mmol/L selama sakit, serta menganjurkan tersedianya cairan rehidrasi oral dan cairan bergula di rumah. Konsultasi segera diperlukan bila glukosa darah tidak dapat dipertahankan di atas 60 mg/dL atau muntah berlangsung lebih dari dua jam.
Saat puasa Ramadan
Ini relevan bagi sebagian besar keluarga Indonesia. PNPK menyatakan bahwa anak dan remaja dengan DM tipe-1 dapat berpuasa dengan aman bila kontrol metaboliknya baik dan pemantauan dilakukan teratur, tetapi anak dengan riwayat hypoglycemia unawareness tidak diperbolehkan berpuasa, demikian pula mereka dengan riwayat hipoglikemia berat dalam tiga bulan terakhir. Puasa harus dibatalkan bila glukosa darah turun di bawah 70 mg/dL atau muncul gejala hipoglikemia. Studi EPIDIAR yang dirujuk PNPK menemukan risiko hipoglikemia berat meningkat 4,7 kali lipat pada penyandang DM tipe-1 yang berpuasa.
Yang Perlu Disiapkan Fasilitas Kesehatan
Bagi pengelola Puskesmas, klinik pratama, dan rumah sakit daerah, kesiapan menghadapi hipoglikemia anak dapat diringkas menjadi daftar yang sangat konkret:
| Komponen | Standar minimal |
|---|---|
| Alat | Glukometer berfungsi dengan strip tidak kedaluwarsa di IGD, ruang bersalin, dan ruang neonatus |
| Obat | Dekstrosa 10% siap pakai, atau D40 dengan panduan pengenceran tertulis; akuades steril |
| Prosedur | SPO tata laksana hipoglikemia anak dan neonatus, lengkap dengan ambang usia dan dosis per kilogram |
| Alat bantu | Tabel dosis dekstrosa 10% menurut berat badan, ditempel di dinding ruang tindakan |
| Laboratorium | Prosedur penyimpanan sampel kritis bila pemeriksaan tidak dapat dilakukan setempat |
| Rujukan | Kriteria dan jalur rujukan untuk hipoglikemia berulang, menetap, atau tanpa sebab jelas |
| Pelatihan | Simulasi berkala; kompetensi ini masuk dalam penilaian kesiapan kegawatdaruratan pada akreditasi |
Satu catatan mutu: PNPK Diabetes Melitus pada Anak secara eksplisit menyebut bahwa pedoman tersebut harus dijadikan acuan penyusunan standar prosedur operasional di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. Bagi tim akreditasi, ini berarti SPO hipoglikemia anak bukan dokumen opsional, melainkan turunan langsung dari regulasi nasional yang berlaku.
Penutup
Hipoglikemia pada anak adalah salah satu dari sedikit kegawatan di mana intervensi paling sederhana — sesendok gula, dua mililiter dekstrosa per kilogram — dapat mengubah hasil akhir secara dramatis. Yang membedakan fasilitas yang siap dari yang tidak bukanlah anggaran, melainkan kejelasan alur, ketersediaan glukometer yang berfungsi, dan kebiasaan memeriksa gula darah pada setiap anak yang datang dengan kesadaran menurun.
Bagi pembaca yang ingin memahami konteks diabetes tipe-1 pada anak secara lebih utuh, artikel pendamping di blog ini — Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun — membahas pengenalan dini dan alasan mengapa begitu banyak kasus baru terdiagnosis saat sudah jatuh ke ketoasidosis.
Catatan Transparansi
Beberapa hal perlu diungkapkan secara terbuka agar pembaca dapat menilai batas keberlakuan tulisan ini.
Perbedaan antar pedoman itu nyata dan belum terselesaikan. Dosis bolus dekstrosa 10% berbeda antara ISPAD (2 mL/kg) dan WHO Pocket Book (5 mL/kg untuk anak tanpa gizi buruk berat). Perbedaan ini mencerminkan populasi sasaran yang berbeda — anak dengan diabetes yang terpantau ketat versus anak sakit berat di fasilitas dengan sumber daya terbatas. Klinisi perlu memilih sesuai konteks, bukan menganggap salah satunya keliru. Demikian pula ambang neonatus: AAP, Pediatric Endocrine Society, WHO, dan IDAI menggunakan angka yang tidak identik.
Akses ke naskah lengkap PNPK terbatas. PNPK Tata Laksana Diabetes Melitus pada Anak (KMK Nomor HK.01.07/MENKES/2009/2024, ditetapkan 31 Desember 2024) diakses melalui laman resmi Kementerian Kesehatan. Bagian hipoglikemia dalam bab komplikasi akut tidak dapat diambil secara utuh pada saat penyusunan artikel ini; butir-butir yang dikutip berasal dari bagian yang dapat diverifikasi (pengelolaan saat sakit, saat operasi, saat puasa Ramadan, edukasi sekolah, dan target glikemik). Pembaca yang memerlukan ketentuan pasti sebaiknya merujuk naskah asli.
Tidak ada pedoman nasional khusus hipoglikemia anak non-diabetik di Indonesia. Rekomendasi pada bagian neonatus dan gizi buruk dalam artikel ini bersandar pada WHO, PES, dan praktik yang dirujuk UKK Neonatologi IDAI, bukan pada satu PNPK tunggal.
Glukagon belum tersedia luas di Indonesia. Rekomendasi ISPAD mengenai glukagon nasal, dasiglukagon, dan autoinjector dicantumkan sebagai standar internasional, bukan sebagai pilihan yang tersedia di sebagian besar fasilitas Indonesia saat ini.
Data epidemiologi DM tipe-1 anak Indonesia bersifat underreported. Angka IDAI berasal dari registri sukarela di tiga belas kota, sehingga jumlah sebenarnya hampir pasti lebih besar.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan penilaian klinis. Setiap dosis harus diverifikasi terhadap protokol institusi dan kondisi pasien.
Ringkasan
Hipoglikemia pediatrik adalah kegawatan yang murah diobati namun mahal bila terlambat. Ambangnya berbeda menurut usia dan konteks. Anak sadar diberi glukosa oral 0,3 g/kg; anak tidak sadar diberi dekstrosa 10% intravena 2 mL/kg atau glukagon. Ambil sampel kritis sebelum terapi, lalu kejar penyebab dasarnya tanpa menunda pengobatan.
Referensi
Abraham, M. B., Karges, B., Dovc, K., Naranjo, D., Arbelaez, A. M., Mbogo, J., Javelikar, G., Jones, T. W., & Mahmud, F. H. (2022). ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2022: Assessment and management of hypoglycemia in children and adolescents with diabetes. Pediatric Diabetes, 23(8), 1322–1340. https://doi.org/10.1111/pedi.13443
Baker, T., Ngwalangwa, F., Masanjala, H., Dube, Q., Langton, J., Marrone, G., & Hildenwall, H. (2020). Effect on mortality of increasing the cut-off blood glucose concentration for initiating hypoglycaemia treatment in severely sick children aged 1 month to 5 years in Malawi (SugarFACT): A pragmatic, randomised controlled trial. The Lancet Global Health, 8(12), e1546–e1554. https://doi.org/10.1016/S2214-109X(20)30388-0
Garg, M., & Devaskar, S. U. (2025). Exploring the long-term impacts of neonatal hypoglycemia to determine a safe threshold for glucose concentrations. European Journal of Pediatrics, 184(4), 263. https://doi.org/10.1007/s00431-025-06082-z
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2015). Konsensus nasional pengelolaan diabetes melitus tipe-1 (Revisi). UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, IDAI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/2009/2024 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Diabetes Melitus pada Anak. Kementerian Kesehatan RI. https://kemkes.go.id/id/pnpk-2024—tata-laksana-diabetes-melitus-pada-anak
Luo, R., Zhang, Y., Yang, X., Wang, Y., & Li, Y. (2024). Systematic review of guidelines on neonatal hypoglycemia. Clinical Endocrinology, 100(1), 36–49. https://doi.org/10.1111/cen.14995
Thornton, P. S., Stanley, C. A., De Leon, D. D., Harris, D., Haymond, M. W., Hussain, K., Levitsky, L. L., Murad, M. H., Rozance, P. J., Simmons, R. A., Sperling, M. A., Weinstein, D. A., White, N. H., & Wolfsdorf, J. I. (2015). Recommendations from the Pediatric Endocrine Society for evaluation and management of persistent hypoglycemia in neonates, infants, and children. The Journal of Pediatrics, 167(2), 238–245. https://doi.org/10.1016/j.jpeds.2015.03.057
van Kempen, A. A. M. W., Eskes, P. F., Nuytemans, D. H. G. M., van der Lee, J. H., Dijksman, L. M., van Veenendaal, N. R., Blankenstijn, J. D., Termote, J. U. M., van den Bogaard, M. J. M., de Haan, T. R., van der Schoor, S. R. D., & Boluyt, N. (2020). Lower versus traditional treatment threshold for neonatal hypoglycemia. The New England Journal of Medicine, 382(6), 534–544. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1905593
World Health Organization. (2013). Pocket book of hospital care for children: Guidelines for the management of common illnesses (2nd ed.). World Health Organization. https://iris.who.int/handle/10665/81170
Zucchini, S., Tumini, S., Scaramuzza, A. E., Bonfanti, R., Delvecchio, M., Franceschi, R., Iafusco, D., Lenzi, L., Mozzillo, E., Passanisi, S., Piona, C., Rabbone, I., Rapini, N., Rigamonti, A., Ripoli, C., Salzano, G., Savastio, S., Schiaffini, R., Zanfardino, A., & Cherubini, V. (2024). Recommendations for recognizing, risk stratifying, treating, and managing children and adolescents with hypoglycemia. Frontiers in Endocrinology, 15, 1387537. https://doi.org/10.3389/fendo.2024.1387537





Tinggalkan Balasan