Seorang ibu berusia 28 tahun di Lombok Tengah baru dua hari pulang dari rumah sakit setelah operasi sesar darurat karena persalinan macet. Hari ketiga, ia demam menggigil, perut bagian bawah terasa nyeri, dan keluar cairan dari jalan lahir yang berbau tidak sedap. Keluarga mengira itu “masuk angin nifas”. Cerita ini hanya ilustrasi, tetapi pola seperti ini sangat khas untuk endometritis, yaitu infeksi dan peradangan pada lapisan dalam rahim. Bila dikenali dini, penyakit ini umumnya sembuh dengan antibiotik. Bila terlambat, ia dapat berkembang menjadi infeksi panggul yang lebih luas dan sepsis.

Apa itu endometritis?

Endometrium adalah lapisan dalam rahim yang menebal dan luruh setiap bulan, dan menjadi tempat menempelnya janin. Endometritis berarti lapisan ini meradang, hampir selalu akibat infeksi bakteri yang naik dari vagina atau leher rahim. Para ahli membedakan dua bentuk yang sangat berbeda, baik dalam gejala maupun pendekatannya.

AspekEndometritis akut (terutama pascapersalinan)Endometritis kronis
Waktu munculBiasanya 24 sampai 72 jam setelah melahirkan, kadang lebih lambatBerlangsung perlahan, tidak terkait waktu persalinan tertentu
GejalaDemam, nyeri perut bawah, rahim nyeri tekan, keputihan berbauSering tanpa gejala, atau bercak darah di luar haid, keputihan ringan, nyeri panggul
Penyebab umumCampuran bakteri vagina dan usus (polimikroba)Bakteri bertahan di rahim, misalnya setelah infeksi panggul, keguguran, atau prosedur rahim
DiagnosisKlinis (gejala dan pemeriksaan)Biopsi endometrium dengan penanda sel plasma CD138, kadang histeroskopi
Tindakan utamaAntibiotik intravena segeraAntibiotik oral, pada kasus tertentu

Seberapa sering dan siapa yang berisiko?

Endometritis pascapersalinan merupakan salah satu infeksi nifas yang paling sering. Menurut MSD Manual, kejadiannya sekitar 1% pada persalinan pervaginam, sekitar 3% pada operasi sesar terencana, dan 5 sampai 10% pada operasi sesar yang tidak terencana (Merck & Co., n.d.). Tinjauan terbaru memperkirakan infeksi pascapersalinan terjadi pada 1 sampai 2% persalinan pervaginam dan 5 sampai 20% setelah operasi sesar (Sanchez-Ramos et al., 2025). Sebelum antibiotik profilaksis dipakai rutin, angka infeksi pascasesar bahkan dilaporkan melampaui 30 sampai 50%.

Faktor risikoMengapa berpengaruh
Operasi sesar, terutama daruratRahim terpapar kuman vagina selama operasi dan persalinan yang lama
Ketuban pecah lama dan persalinan memanjangKuman punya waktu naik ke rongga rahim
Korioamnionitis (infeksi selaput ketuban)Infeksi sudah ada sebelum bayi lahir
Pemeriksaan dalam berulang dan pemantauan janin internalMemasukkan kuman dari vagina ke leher rahim
Sisa plasenta dan perdarahan pascapersalinanJaringan mati menjadi media tumbuh kuman
Vaginosis bakterial, diabetes, kondisi sosial ekonomi rendahFlora vagina tidak seimbang, daya tahan tubuh dan akses layanan berkurang

Daftar faktor risiko tersebut mengikuti rangkuman MSD Manual (Merck & Co., n.d.). Di luar masa nifas, endometritis juga dapat muncul setelah infeksi menular seksual atau penyakit radang panggul, setelah keguguran atau kuret, dan setelah prosedur yang memasuki rongga rahim, seperti pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim.

Gejala yang perlu dikenali

Pada endometritis akut pascapersalinan, gejala biasanya muncul dalam 24 sampai 72 jam: demam (sering di atas 38 derajat Celsius), menggigil, nyeri perut bagian bawah, rahim yang terasa nyeri bila ditekan, dan cairan nifas (lokia) yang berbau busuk. Sebagian pasien hanya menunjukkan demam ringan (Merck & Co., n.d.). Karena banyak ibu dipulangkan dalam 1 sampai 3 hari setelah melahirkan, gejala sering baru muncul di rumah, sehingga bidan desa, kader, dan keluarga berperan besar dalam mengenalinya.

Demam setelah melahirkan tidak selalu berarti endometritis. Dokter akan menyingkirkan penyebab lain seperti mastitis (radang payudara), infeksi saluran kemih, infeksi luka sesar atau jahitan, pneumonia, dan trombosis vena dalam.

Bagaimana diagnosisnya ditegakkan?

Pada bentuk akut, diagnosis ditegakkan secara klinis dari kombinasi demam, nyeri rahim, dan lokia berbau, setelah penyebab demam lain disingkirkan. Biakan dari dalam rahim jarang diperlukan karena sampel yang diambil melalui leher rahim hampir selalu tercemar flora vagina (Merck & Co., n.d.). Pemeriksaan darah, biakan darah pada kasus berat, dan USG membantu bila dicurigai sisa jaringan plasenta atau abses.

Pada bentuk kronis, diagnosis memerlukan pemeriksaan jaringan. Pemeriksa mencari sel plasma di dalam stroma endometrium dengan pewarnaan imunohistokimia CD138. Histeroskopi dapat memperlihatkan mikropolip, edema, dan kemerahan setempat, tetapi sensitivitasnya sangat bervariasi, antara 22 dan 86% pada berbagai studi, sehingga hanya menjadi pelengkap, bukan pengganti pemeriksaan jaringan (Mihoci et al., 2026).

Pengobatan endometritis akut

Terapi lini pertama adalah antibiotik intravena berspektrum luas yang mencakup kuman anaerob. Kombinasi klindamisin dan gentamisin merupakan regimen standar, dengan ampisilin dapat ditambahkan untuk memperluas cakupan terhadap enterokokus. Antibiotik dilanjutkan sampai pasien bebas demam selama sekitar 48 jam (Merck & Co., n.d.). Tinjauan Cochrane yang menganalisis 47 uji acak menyimpulkan bahwa kombinasi gentamisin dan klindamisin tepat untuk endometritis, dan bahwa setelah perbaikan klinis dengan terapi intravena, melanjutkan antibiotik oral tidak memberi manfaat tambahan (French & Smaill, 2002). Kualitas metodologi studi dalam tinjauan itu terbatas, dan tinjauan tersebut sudah cukup lama, sehingga pemilihan obat di tiap fasilitas mengikuti protokol setempat dan pola kuman setempat.

LangkahIsi
1. Pastikan diagnosisPeriksa tanda vital, rahim, luka sesar, payudara, dan saluran kemih
2. Mulai antibiotik intravenaKlindamisin plus gentamisin, ditambah ampisilin bila perlu
3. Cari komplikasiUSG untuk sisa plasenta atau abses; evaluasi bila tidak membaik dalam 48 sampai 72 jam
4. PantauAntibiotik sampai bebas demam sekitar 48 jam, lalu pasien umumnya dapat pulang tanpa antibiotik oral lanjutan

Bila demam tidak turun dalam 48 sampai 72 jam, penyebab yang perlu dipikirkan adalah kuman yang tidak tercakup, sisa jaringan, abses panggul, hematoma, atau tromboflebitis panggul septik. Pada keadaan ini pasien perlu dirujuk ke rumah sakit yang mampu melakukan pencitraan dan tindakan, misalnya dari puskesmas di Lombok, Kupang, atau Ternate ke RS rujukan kabupaten atau provinsi.

Endometritis kronis: kaitannya dengan kesuburan

Endometritis kronis makin sering dibicarakan di klinik fertilitas karena diduga mengganggu penempelan embrio. Namun buktinya masih diperdebatkan. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru terhadap 39 studi menemukan bahwa endometritis kronis berkaitan dengan angka kehamilan klinis yang lebih rendah (OR 0,55) dan angka keguguran yang lebih tinggi (OR 1,43) setelah fertilisasi in vitro. Pasien yang penyakitnya sudah diobati atau sembuh memiliki hasil lebih baik daripada yang menetap. Meski demikian, sebagian besar buktinya berasal dari studi observasional dengan kepastian bukti rendah sampai sangat rendah, sehingga penulisnya menyatakan skrining rutin sebelum siklus IVF pertama belum dapat direkomendasikan, dan evaluasi terarah dapat dipertimbangkan pada perempuan dengan gagal implantasi berulang, keguguran berulang, atau infertilitas tanpa sebab jelas (Mihoci et al., 2026).

Meta-analisis lain menunjukkan bahwa derajat peradangan berperan: pada transfer embrio beku, endometritis kronis berat (5 sel plasma CD138 atau lebih per lapang pandang besar) berkaitan dengan angka kehamilan klinis lebih rendah, sedangkan yang ringan (1 sampai 4 sel) tidak (Kong et al., 2026). Sebuah studi retrospektif di San Francisco terhadap 271 biopsi pasien infertilitas bahkan hanya menemukan endometritis kronis pada 7,4%, dan angkanya tidak berbeda antara pasien dengan atau tanpa riwayat gagal implantasi. Penulisnya memperingatkan bahwa evaluasi rutin berisiko menimbulkan tindakan yang tidak perlu (Yilmaz et al., 2025). Pesannya: endometritis kronis bukan “tersangka utama” yang pasti pada setiap pasangan sulit hamil, dan keputusan memeriksa serta mengobatinya sebaiknya diambil bersama dokter spesialis kebidanan dan kandungan atau konsultan fertilitas. Bila diputuskan diobati, antibiotik oral seperti doksisiklin lazim dipakai, dengan pemeriksaan ulang sesuai pertimbangan dokter.

Pencegahan: yang terbukti bermanfaat

Pencegahan paling kuat bukti ilmiahnya berkaitan dengan operasi sesar.

  • Antibiotik profilaksis sebelum sayatan. Satu dosis antibiotik dalam 60 menit sebelum sayatan kulit menurunkan infeksi ibu secara bermakna tanpa efek buruk pada bayi. Sefazolin adalah pilihan standar, dan pada sesar tidak terencana atau berisiko tinggi, penambahan azitromisin dapat mengurangi infeksi luka dan endometritis (Sanchez-Ramos et al., 2025). Pada obesitas, dosis sefazolin dan pemberian ulang saat operasi lama atau perdarahan banyak perlu disesuaikan.
  • Pembersihan vagina dengan antiseptik sebelum sesar. Tinjauan Cochrane menyimpulkan tindakan ini kemungkinan menurunkan endometritis pascasesar dari 7,1% menjadi 3,1%, tanpa efek samping yang dilaporkan (Haas et al., 2020). Meta-analisis jaringan terbaru terhadap 50 uji (14.515 peserta) menemukan klorheksidin sebagai agen yang paling konsisten efektif, dan pasien tanpa persiapan vagina memiliki kemungkinan endometritis sekitar 3,6 kali lebih tinggi dibanding yang memperoleh klorheksidin (McKinney et al., 2026).
  • Persalinan yang bersih dan indikasi sesar yang tepat. Batasi pemeriksaan dalam yang tidak perlu, terapkan teknik aseptik, dan hindari sesar tanpa indikasi medis.
  • Penanganan faktor risiko. Kendalikan diabetes, obati vaginosis bakterial bergejala, dan pastikan plasenta lahir lengkap.

Komplikasi bila terlambat ditangani

Infeksi yang tidak terkontrol dapat menyebar menjadi parametritis, abses panggul, peritonitis, tromboflebitis panggul septik, hingga sepsis. Pada endometritis akibat infeksi menular seksual atau penyakit radang panggul, komplikasi jangka panjang berupa nyeri panggul kronis, kehamilan di luar kandungan, dan infertilitas tuba juga mungkin terjadi. Karena itu, pasangan seksual perlu diperiksa dan diobati bila penyebabnya infeksi menular seksual.

Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan?

  • demam 38 derajat Celsius atau lebih dalam masa nifas, terutama bila disertai menggigil;
  • nyeri perut bawah yang makin berat atau perut terasa tegang;
  • cairan atau darah nifas yang berbau busuk, atau perdarahan yang bertambah banyak;
  • jantung berdebar cepat, lemas, pusing, napas cepat, atau kebingungan, yang dapat menandakan sepsis.

Pesan penutup

Endometritis akut adalah infeksi yang umum tetapi sangat dapat diobati bila dikenali pada hari-hari pertama nifas. Pencegahan melalui antibiotik profilaksis dan persiapan antiseptik pada operasi sesar adalah langkah yang bukti ilmiahnya paling kuat. Sementara itu, endometritis kronis masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat dijadikan pemeriksaan rutin pada setiap pasangan yang sulit hamil. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan serta pengobatan oleh dokter atau bidan.

Daftar pustaka

French, L. M., & Smaill, F. M. (2002). Antibiotic regimens for endometritis after delivery. Cochrane Database of Systematic Reviews, (1), CD001067. https://doi.org/10.1002/14651858.CD001067

Haas, D. M., Morgan, S., Contreras, K., & Kimball, S. (2020). Vaginal preparation with antiseptic solution before cesarean section for preventing postoperative infections. Cochrane Database of Systematic Reviews, (4), CD007892. https://doi.org/10.1002/14651858.CD007892.pub7

Kong, J., Zhao, J., Sun, X., Sun, T., & Tang, L. (2026). The impact of CD138 plasma cell severity on IVF-ET outcomes in women with untreated chronic endometritis: A systematic review and meta-analysis. BMC Pregnancy and Childbirth, 26(1). https://doi.org/10.1186/s12884-026-09016-1

McKinney, J. A., Sanchez-Ramos, L., Duncan, J., Lin, L., Rhoades, C., Mateus, J., Dussan, L. E., Nino, G., Hansen, A., Messiah, C., & Pomputius, A. (2026). Chlorhexidine is the preferred agent for vaginal antisepsis prior to cesarean delivery: A systematic review and network meta-analysis. American Journal of Obstetrics and Gynecology, 233(6S), S504.e1–S504.e41. https://doi.org/10.1016/j.ajog.2025.09.046

Merck & Co. (n.d.). Postpartum endometritis. MSD Manual Professional Version. https://www.msdmanuals.com/professional/gynecology-and-obstetrics/postpartum-care-and-associated-disorders/postpartum-endometritis

Mihoci, A. M., Socolov, D., Dumitrescu, R. D., Mihoci, E. C., Voicu, I., Butureanu, T. A., Pruteanu, A. I., & Socolov, R. V. (2026). Chronic endometritis in women undergoing in vitro fertilization: Diagnostic roles of hysteroscopy and endometrial biopsy and associations with reproductive outcomes. A systematic review and meta-analysis. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 327, 115417. https://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2026.115417

Sanchez-Ramos, L., Preis, R., & Romero, R. (2025). Prophylactic antibiotics to prevent postcesarean infection: Which antimicrobial, when, how, and why? American Journal of Obstetrics and Gynecology, 233(6S), S483–S503. https://doi.org/10.1016/j.ajog.2025.09.044

Yilmaz, B. D., Schwartz, K. M., Chan, M., Cedars, M. I., Cakmak, H., & Huang, D. (2025). Chronic endometritis and its association with implantation history, BCL6, and ERA in infertility patients. Journal of Assisted Reproduction and Genetics, 42(10), 3303–3310. https://doi.org/10.1007/s10815-025-03614-2

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca