Pukul dua dini hari di IGD sebuah rumah sakit daerah di Pontianak, sepasang orang tua baru datang membawa bayi berusia sebelas hari. Keluhannya: bayi bersin-bersin, cegukan, dan sekujur dadanya muncul bintik merah yang tadi sore belum ada. Bayi itu menyusu kuat, berat badannya naik, dan menangis lantang saat popoknya dibuka. Setelah diperiksa, diagnosisnya adalah erythema toxicum neonatorum — ruam jinak yang dialami hampir separuh bayi cukup bulan dan menghilang sendiri dalam beberapa hari.
Dua ranjang di sebelahnya, bayi berusia sembilan hari dari Sidoarjo dibawa dengan keluhan “kok anteng sekali, tidak rewel”. Ia tidak demam. Kulitnya tidak kuning. Ibunya justru datang karena merasa ada yang aneh — bayinya tidur terus dan menyusu hanya sebentar-sebentar. Suhu aksilanya 35,8°C. Kultur darahnya kemudian tumbuh bakteri.
Dua bayi, dua persepsi orang tua yang persis terbalik dengan kenyataan medisnya. Inilah masalah paling mendasar dalam merawat neonatus — bayi usia 0–28 hari: tanda yang paling dramatis sering kali tidak berbahaya, sementara tanda yang paling berbahaya justru nyaris tidak terlihat.
Mengapa Neonatus Sulit “Dibaca”
Bayi baru lahir tidak punya kosakata gejala. Ia tidak bisa demam tinggi secara meyakinkan, tidak bisa menunjuk lokasi nyeri, dan tidak bisa membedakan antara lapar, kolik, dan sepsis. Respons imunnya belum matang, sehingga infeksi berat bisa muncul tanpa demam sama sekali — bahkan lebih sering dengan suhu tubuh yang turun.
Akibatnya, pola kunjungan neonatus ke unit gawat darurat di banyak negara nyaris seragam. Studi prospektif di sebuah rumah sakit universitas mencatat bahwa dari 28.389 kunjungan anak ke IGD anak, 531 (1,9%) adalah neonatus, dengan keluhan utama kuning (23,4%), rewel (9,5%), dan muntah (7,1%), sementara diagnosis tersering justru “bayi baru lahir normal” (33,9%), diikuti hiperbilirubinemia indirek (13,2%) dan kolik (5,8%) (Batu et al., 2015). Studi prospektif lain bahkan menemukan angka yang lebih tinggi: diagnosis saat pemulangan adalah “bayi baru lahir sehat dan normal” pada 69,4% kasus, sementara hanya 12,9% neonatus yang benar-benar datang karena penyakit serius (Turan et al., 2021).
Artinya, mayoritas kecemasan orang tua baru bukan salah — hanya salah alamat.
Kelompok Pertama: Tampak Mengkhawatirkan, Sebenarnya Normal
Sebagian besar temuan berikut adalah bagian dari proses adaptasi dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin, dan tidak memerlukan pemeriksaan apa pun.
Pernapasan. Bayi baru lahir bernapas 40–60 kali per menit dengan pola yang tidak teratur. Jeda napas pendek 5–10 detik yang diikuti napas cepat (periodic breathing) adalah normal selama bibir dan lidah tetap merah muda. Bersin bukan tanda pilek — itu refleks pembersihan hidung. Suara “grok-grok” umumnya berasal dari lendir di hidung yang sempit, bukan dari paru.
Kulit. Ini penyumbang kecemasan terbesar. Erythema toxicum neonatorum berupa bintik putih-kekuningan berlatar kemerahan muncul pada hari ke-2 sampai ke-5, berpindah-pindah lokasi dalam hitungan jam, dan lenyap sendiri. Milia (bintik putih di hidung dan pipi), miliaria (biang keringat), cutis marmorata (kulit berpola jala saat kedinginan), bercak kebiruan di bokong (congenital dermal melanocytosis), dan tanda salmon di tengkuk semuanya jinak. Kulit yang mengelupas pada minggu pertama juga fisiologis.
Pengaruh hormon ibu. Payudara bayi — laki-laki maupun perempuan — bisa membengkak simetris. Bayi perempuan bisa mengeluarkan lendir putih atau bercak darah dari vagina (pseudomenstruasi) pada hari ke-3 sampai ke-7. Keduanya hilang sendiri. Yang dilarang keras: memijat atau memencet payudara bayi, praktik yang masih dijumpai di banyak daerah dan justru memicu mastitis neonatorum.
Saluran cerna. Tinja bayi ASI berwarna kuning, cair, dan berbiji, bisa 6–10 kali sehari atau — setelah usia 3–4 minggu — hanya sekali dalam beberapa hari. Bayi yang mengejan, memerah, dan mengerang saat buang air besar tetapi mengeluarkan tinja lunak mengalami infant dyschezia, bukan sembelit. Gumoh sedikit setelah menyusu adalah hal biasa.
Berat badan dan suhu. Penurunan berat badan sampai sekitar 7–10% pada hari-hari pertama adalah fisiologis, dan berat lahir umumnya pulih pada hari ke-10 hingga ke-14. Suhu neonatus juga labil dan mudah dipengaruhi suhu ruangan.
Kelompok Kedua: Tampak Tenang, Sebenarnya Gawat
Di sinilah letak bahaya sesungguhnya. Organisasi Kesehatan Dunia menetapkan tujuh tanda kemungkinan infeksi bakteri serius (possible serious bacterial infection/PSBI) pada bayi usia 0–59 hari melalui algoritma Manajemen Terpadu Balita Sakit. Tujuh tanda tersebut adalah: tidak mau menyusu sama sekali atau menyusu buruk, kejang, tarikan dinding dada yang berat, suhu tubuh 38°C atau lebih, suhu tubuh kurang dari 35,5°C, bergerak hanya bila dirangsang atau tidak bergerak sama sekali, dan napas cepat 60 kali per menit atau lebih (WHO, 2024). Tiga di antaranya — menyusu buruk, letargi, dan hipotermia — sama sekali tidak “terlihat gawat” bagi mata orang tua.
Beberapa catatan penting yang sering terlewat:
Hipotermia lebih menakutkan daripada demam. Bayi yang teraba dingin, mottled, dan lemas sering dianggap “kedinginan saja” lalu dibungkus lebih tebal. Pada neonatus, suhu di bawah 36,5°C — apalagi di bawah 35,5°C — adalah tanda alarm yang setara dengan demam.
Demam pada neonatus tidak pernah “sekadar demam”. Panduan American Academy of Pediatrics untuk bayi demam yang tampak sehat hanya berlaku mulai usia 8 hari, dan bahkan untuk kelompok 8–21 hari, panduan ini merekomendasikan pungsi lumbal rutin (Pantell et al., 2021). Suhu ≥38,0°C pada bayi di bawah 28 hari adalah kegawatan, tanpa pengecualian.
Kuning: yang penting bukan ada atau tidaknya, tetapi kapan dan sampai mana. Kuning yang muncul dalam 24 jam pertama, menjalar sampai telapak tangan dan kaki, atau menetap lebih dari 14 hari — apalagi disertai tinja pucat seperti dempul dan urine gelap — membutuhkan evaluasi segera. Panduan AAP 2022 menegaskan bahwa bilirubin serum total adalah pemeriksaan definitif untuk memandu fototerapi, dan pemberian air putih atau air gula tidak boleh digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin (Kemper et al., 2022). Menjemur bayi di bawah sinar matahari juga bukan terapi ikterus.
Penyakit jantung bawaan kritis sering muncul setelah bayi pulang. Duktus arteriosus biasanya menutup pada hari ke-3 hingga ke-14, dan saat itulah bayi yang tadinya tampak sempurna mendadak sesak atau membiru. Skrining oksimetri nadi adalah alat sederhana untuk menangkapnya lebih awal; algoritma AAP terbaru menetapkan ambang lulus saturasi oksigen ≥95% pada pengukuran pra- maupun pascaduktal, dengan hanya satu kali pengulangan (Oster et al., 2025). Menariknya, skrining ini juga menangkap kondisi lain: untuk setiap satu kasus penyakit jantung bawaan kritis yang terdeteksi, empat sampai lima kasus infeksi atau gangguan pernapasan penyebab saturasi rendah ikut teridentifikasi.
Muntah hijau adalah kegawatan bedah sampai terbukti sebaliknya. Muntah berwarna hijau lumut pada neonatus mengarah pada obstruksi usus — termasuk malrotasi dengan volvulus, yang dapat mematikan usus dalam hitungan jam.
Tabel Pembanding: Tampilan yang Mirip, Makna yang Berbeda
| Yang diamati | Umumnya normal bila… | Waspada bila… |
|---|---|---|
| Napas tidak teratur | Jeda <20 detik, bibir merah muda, bayi tenang setelahnya | Henti napas >20 detik, biru di bibir/lidah, merintih tiap ekspirasi |
| Napas cepat | Sesaat setelah menangis, lalu kembali 40–60x/menit | ≥60x/menit saat tenang, tarikan dinding dada, cuping hidung kembang-kempis |
| Kuning | Muncul hari ke-2–3, di wajah dan dada, bayi aktif menyusu | Muncul <24 jam, sampai telapak tangan/kaki, menetap >14 hari |
| Ruam | Bintik berpindah-pindah, bayi tetap ceria dan menyusu kuat | Vesikel berkelompok, pustula disertai demam atau letargi |
| Suhu | 36,5–37,5°C aksila | ≥38°C atau <36,5°C |
| Tali pusat | Dasar sedikit lembap, sedikit berbau, kering dalam 1–3 minggu | Kemerahan meluas ke dinding perut, nanah, bau busuk, bayi demam |
| Payudara bengkak | Simetris, tidak nyeri, tidak merah | Satu sisi, merah, panas, bayi rewel dan demam |
| Mengejan saat BAB | Tinja tetap lunak | Perut kembung tegang, muntah hijau, belum BAB >48 jam sejak lahir |
| Berat badan | Turun ≤7–10%, pulih pada hari ke-10–14 | Turun >10%, atau belum pulih pada hari ke-14 |
| Buang air kecil | ≥6 popok basah/hari setelah hari ke-5 | <6 popok basah/hari, urine pekat, mulut kering |
| Pola bangun | Bangun sendiri tiap 2–3 jam untuk menyusu | Harus dibangunkan terus, menyusu hanya sebentar, “terlalu anteng” |
Tiga Jalur Keputusan
Bagan berikut dapat dicetak dan ditempel di dinding kamar.
Apakah Kunjungan yang Tidak Perlu Benar-Benar Berbahaya?
Di sini kejujuran ilmiah menuntut kehati-hatian. Kekhawatiran bahwa neonatus tertular infeksi di ruang tunggu IGD masuk akal secara teoretis, tetapi bukti langsungnya ternyata lebih lemah daripada dugaan umum.
Sebuah penelitian kohort pada anak berusia ≤5 tahun menemukan hasil yang berlawanan dengan intuisi: kunjungan ke IGD anak tidak menghasilkan peningkatan risiko infeksi yang terdeteksi di atas risiko komunitas, kemungkinan karena risiko dasar infeksi pada anak kecil memang sudah tinggi — meski penulis tidak dapat menyingkirkan kemungkinan bahwa risiko tersebut tetap ada dan memerlukan studi lebih besar (Quach et al., 2011). Studi prospektif lain pada 615 anak selama musim dingin menyimpulkan bahwa transmisi infeksi virus pernapasan kepada anak yang berkunjung ke ruang gawat darurat sangat rendah (Maltezou et al., 2012). Perlu dicatat: kedua studi ini meneliti anak secara umum, bukan neonatus secara khusus, dan dilakukan di fasilitas dengan pengendalian infeksi yang relatif mapan.
Yang jauh lebih kokoh buktinya adalah dua hal lain.
Pertama, kerentanan neonatus di fasilitas kesehatan negara berpenghasilan menengah. Laporan global WHO mencatat bahwa rata-rata 7 dari 100 pasien di rumah sakit perawatan akut negara berpenghasilan tinggi mengalami setidaknya satu infeksi terkait layanan kesehatan, sedangkan di negara berpenghasilan rendah dan menengah angkanya dua kali lipat (15%). Khusus neonatus, angka infeksi terkait layanan kesehatan di negara berpenghasilan rendah dan menengah 3–20 kali lebih tinggi dibanding negara berpendapatan tinggi, dan sebagian besar infeksi bakteri invasif pada neonatus di sana disebabkan patogen multiresisten yang umumnya didapat dari lingkungan layanan kesehatan (Yee et al., 2021).
Kedua, dan ini yang paling nyata: air terjun pemeriksaan. Seorang neonatus berusia sepuluh hari yang datang ke IGD dengan suhu 38,1°C tidak akan pulang dengan parasetamol. Ia akan menjalani pengambilan darah, kateterisasi urine, sering kali pungsi lumbal, lalu dirawat inap dengan antibiotik intravena — semua itu benar secara klinis, tetapi semuanya juga membawa nyeri, risiko, biaya, dan paparan lingkungan rumah sakit. Kunjungan yang tidak perlu bukan sekadar membuang waktu; ia berpotensi memicu rangkaian tindakan invasif pada bayi yang sebetulnya sehat.
Dan ada biaya ketiga yang jarang dihitung: setiap bayi sehat yang mengisi antrean IGD memperlambat triase bayi di sebelahnya yang benar-benar septik.
Jalur yang Sudah Tersedia di Indonesia
Sistem kesehatan Indonesia sebetulnya sudah menyediakan mekanisme untuk menjawab kecemasan orang tua tanpa harus ke IGD.
Kunjungan neonatal (KN). Program nasional menjadwalkan tiga kunjungan: KN1 pada 6–48 jam setelah lahir, KN2 pada hari ke-3 sampai ke-7, dan KN3 pada hari ke-8 sampai ke-28, yang dapat dilakukan di Puskesmas maupun melalui kunjungan rumah oleh dokter, bidan, atau perawat, dengan penilaian mengacu pada pendekatan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM). Tiga jadwal ini sudah sengaja diletakkan tepat pada titik-titik rawan: hari ke-3 untuk puncak ikterus fisiologis, dan minggu kedua untuk memastikan berat lahir pulih.
Buku KIA. Buku ini bukan formalitas administratif. Di dalamnya ada daftar tanda bahaya, kurva pertumbuhan, dan kolom catatan kunjungan neonatal. Menuliskan berat badan, frekuensi menyusu, dan jumlah popok basah setiap hari selama dua minggu pertama memberi tenaga kesehatan informasi yang jauh lebih berguna daripada kesan subjektif “sepertinya kurang minum”.
Bidan praktik mandiri, Puskesmas, dan FKTP. Untuk hampir semua tanda kuning pada bagan di atas, fasilitas tingkat pertama sudah memadai — dan lebih cepat, lebih murah, serta lebih sedikit paparannya dibanding IGD rumah sakit rujukan.
Telekonsultasi. Untuk pertanyaan kategori hijau — “ruam ini normal tidak?”, “kok cegukan terus?” — foto dan percakapan singkat dengan bidan atau dokter keluarga sering kali cukup, dan tidak memindahkan bayi ke mana pun.
Prinsipnya sederhana: IGD adalah untuk tanda merah; fasilitas tingkat pertama untuk tanda kuning; Buku KIA dan kunjungan terjadwal untuk tanda hijau.
Lima Kalimat untuk Diingat
- Bayi yang menangis kencang, menyusu kuat, dan popoknya basah enam kali sehari hampir pasti baik-baik saja, betapapun mengkhawatirkan penampilan kulitnya.
- Bayi yang terlalu anteng adalah bayi yang perlu diperiksa, bukan bayi yang perlu disyukuri.
- Pada neonatus, suhu tubuh yang terlalu rendah sama gawatnya dengan demam.
- Demam ≥38°C pada bayi di bawah satu bulan tidak pernah boleh ditunggu sampai besok pagi.
- Naluri orang tua yang merasa “ada yang berbeda” adalah data klinis yang sah — sampaikan itu kepada tenaga kesehatan, jangan disaring sendiri.
Kecemasan orang tua baru bukan kelemahan yang perlu dihilangkan. Yang perlu dilakukan adalah mengarahkannya: dari cemas pada hal yang salah, menjadi waspada pada hal yang benar.
Catatan Transparansi
- Artikel ini ditujukan untuk edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan tenaga kesehatan. Setiap keraguan pada bayi berusia di bawah 28 hari sebaiknya dikonsultasikan, bukan ditunda.
- Bukti mengenai risiko penularan infeksi di ruang tunggu IGD disajikan apa adanya dan tidak mendukung premis yang sering diasumsikan. Studi Quach et al. (2011) dan Maltezou et al. (2012) meneliti anak secara umum di negara berpendapatan tinggi, bukan neonatus di fasilitas Indonesia, sehingga tidak dapat digeneralisasi langsung. Argumen terhadap kunjungan yang tidak perlu dalam artikel ini lebih bertumpu pada beban tindakan invasif yang mengikuti dan pada data infeksi terkait layanan kesehatan di negara berpenghasilan rendah-menengah.
- Panduan AAP (2021, 2022, 2025) dikembangkan untuk konteks Amerika Serikat dan belum seluruhnya diadopsi formal dalam regulasi Indonesia; algoritma WHO/MTBM tetap menjadi rujukan operasional di fasilitas tingkat pertama Indonesia. Skrining oksimetri nadi untuk penyakit jantung bawaan kritis belum menjadi program skrining nasional wajib di Indonesia.
- Angka penurunan berat badan fisiologis (7–10%) dan rentang laju napas normal merupakan konsensus praktik neonatologi yang dikutip luas, bukan hasil satu studi tunggal.
- Data kunjungan neonatal (KN1–KN3) merujuk pada pedoman pelayanan kesehatan neonatal esensial Kemenkes RI; pembaca profesional disarankan memverifikasi versi Buku KIA dan pedoman MTBM terbaru yang berlaku di wilayahnya.
Referensi
Batu, E. D., Yeni, S., & Teksam, O. (2015). The factors affecting neonatal presentations to the pediatric emergency department. The Journal of Emergency Medicine, 48(5), 542–547. https://doi.org/10.1016/j.jemermed.2014.12.031
Kemenkes RI. (2025). Profil Kesehatan Indonesia 2024. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kemper, A. R., Newman, T. B., Slaughter, J. L., Maisels, M. J., Watchko, J. F., Downs, S. M., … Russell, T. L. (2022). Clinical practice guideline revision: Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation. Pediatrics, 150(3), e2022058859. https://doi.org/10.1542/peds.2022-058859
Maltezou, H. C., Mougkou, K., Asimaki, H., Koniaraki, K., Katerelos, P., Giannaki, M., & Theodoridou, M. (2012). Extremely low risk for acquisition of a respiratory viral infection in the emergency room of a large pediatric hospital during the winter season. Influenza and Other Respiratory Viruses. https://doi.org/10.1111/j.1750-2659.2012.00355.x
Oster, M. E., Pinto, N. M., Pramanik, A. K., Markowsky, A., Schwartz, B. N., Kemper, A. R., Hom, L. A., & Martin, G. R. (2025). Newborn screening for critical congenital heart disease: A new algorithm and other updated recommendations: Clinical report. Pediatrics, 155(1), e2024069667. https://doi.org/10.1542/peds.2024-069667
Pantell, R. H., Roberts, K. B., Adams, W. G., Dreyer, B. P., Kuppermann, N., O’Leary, S. T., … Woods, C. R. (2021). Clinical practice guideline: Evaluation and management of well-appearing febrile infants 8 to 60 days old. Pediatrics, 148(2), e2021052228. https://doi.org/10.1542/peds.2021-052228
Quach, C., Moore, D., Ducharme, F., & Chalut, D. (2011). Do pediatric emergency departments pose a risk of infection? BMC Pediatrics, 11, 2. https://doi.org/10.1186/1471-2431-11-2
Turan, Ç., Keskin, G., Turan, B., Yurtseven, A., & Saz, E. U. (2021). A prospective investigation of factors influencing neonatal visits to a tertiary emergency department. Turkish Archives of Pediatrics, 56(4), 386–391.
World Health Organization. (2022). Global report on infection prevention and control. World Health Organization.
World Health Organization. (2024). WHO recommendations for management of serious bacterial infections in infants aged 0–59 days. World Health Organization. ISBN 9789240102903.
Yee, D., Osuka, H., Weiss, J., Kriengkauykiat, J., Kolwaite, A., Johnson, J., Hopman, J., Coffin, S., Ram, P., Serbanescu, F., & Park, B. (2021). Identifying the priority infection prevention and control gaps contributing to neonatal healthcare-associated infections in low- and middle-income countries: Results from a modified Delphi process. Journal of Global Health Reports, 5. https://doi.org/10.29392/001c.21367





Tinggalkan Balasan