(Update artikel dari 17 Februari 2011)
Pertanyaan lama yang terus hidup: apakah cokelat benar-benar bisa memicu jerawat? Pertanyaan ini mungkin terdengar sepele, tetapi jawabannya ternyata jauh lebih rumit dari sekadar ya atau tidak. Lebih dari satu dekade setelah saya pertama kali menulis tentang topik ini, sains sudah melangkah cukup jauh — dan temuan-temuannya cukup mengejutkan.
Jerawat Itu Bukan Sekadar Masalah Kebersihan
Sebelum membahas cokelat, penting untuk memahami dulu bagaimana jerawat (acne vulgaris) terbentuk. Jerawat adalah kondisi kulit kronik yang melibatkan setidaknya empat proses utama yang saling berkaitan: produksi sebum yang berlebihan oleh kelenjar sebasea, penyumbatan folikel rambut oleh sel kulit mati, kolonisasi bakteri Cutibacterium acnes (sebelumnya dikenal sebagai Propionibacterium acnes), dan respons peradangan (inflamasi) yang menyusul. Kombinasi keempat faktor inilah yang menghasilkan berbagai bentuk jerawat, mulai dari komedo hingga pustula yang meradang (Conforti et al., 2021).
Yang menarik, penelitian modern semakin menunjukkan bahwa faktor diet — apa yang kita makan sehari-hari — berperan bukan sekadar sebagai pemicu sampingan, melainkan sebagai salah satu faktor patogenesis yang nyata. Ini yang membuat pertanyaan tentang cokelat menjadi relevan secara ilmiah.
Mengapa Cokelat Dicurigai?
Kecurigaan terhadap cokelat sudah ada sejak lama di kalangan masyarakat, dan pasien yang rutin berobat ke dokter kulit kerap melaporkan bahwa jerawat mereka memburuk setelah mengonsumsi cokelat. Namun, untuk waktu yang lama, klaim ini sulit dibuktikan karena penelitian-penelitian terdahulu menggunakan cokelat susu yang mengandung banyak bahan tambahan — susu, gula, dan kacang — sehingga tidak jelas komponen mana yang bertanggung jawab.
Titik balik penting terjadi ketika para peneliti mulai menggunakan cokelat murni (dark chocolate dengan kadar kakao tinggi) dalam studi mereka. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan di International Journal of Dermatology dan mencakup 53 artikel dari tahun 2009 hingga 2020 menegaskan bahwa cokelat termasuk dalam faktor yang berpotensi memperburuk (exacerbating) jerawat, bersama dengan makanan berindeks glikemik tinggi dan produk susu (Dall’Oglio et al., 2021). Namun, tinjauan yang sama juga menyimpulkan bahwa komponen spesifik cokelat mana yang paling berperan — apakah kakaonya, gulanya, atau lemaknya — masih belum terjawab tuntas.
Jalur Biologis yang Mungkin Terlibat
Penelitian terbaru memberikan beberapa penjelasan mekanistik yang masuk akal mengapa cokelat bisa memperburuk jerawat pada individu yang rentan.
Jalur pertama adalah melalui indeks glikemik dan insulin. Cokelat, terutama yang mengandung banyak gula, dapat memicu lonjakan kadar gula darah dan insulin. Kadar insulin yang tinggi selanjutnya merangsang produksi insulin-like growth factor-1 (IGF-1), yang diketahui mendorong aktivitas kelenjar sebasea dan produksi sebum berlebih. Kadar androgen (hormon laki-laki) juga ikut meningkat dalam kondisi ini, memperparah proses pembentukan jerawat (Ozdarska et al., 2017). Inilah mengapa diet tinggi gula dan karbohidrat olahan secara umum diasosiasikan dengan jerawat yang lebih parah.
Jalur kedua adalah melalui inflamasi. Kakao murni mengandung berbagai senyawa bioaktif. Di satu sisi ada flavonoid yang bersifat anti-inflamasi, tetapi di sisi lain, beberapa komponen kakao juga dapat mengaktifkan respons imun pada individu tertentu. Sebuah tinjauan yang diterbitkan di European Journal of Pharmacology menyebutkan bahwa mekanisme pro-inflamasi yang terkait dengan resistensi insulin — kondisi yang juga relevan dalam konteks konsumsi gula berlebih — turut berperan dalam patogenesis jerawat (Bungau et al., 2022).
Jalur ketiga berhubungan dengan mikrobioma usus. Ini adalah area penelitian yang baru dan berkembang pesat. Ada dugaan bahwa apa yang kita makan memengaruhi komposisi bakteri di usus, yang pada gilirannya memengaruhi kadar inflamasi sistemik dan kesehatan kulit. Hubungan antara usus dan kulit ini dikenal sebagai gut-skin axis, dan cokelat dengan kandungan gulanya yang tinggi berpotensi mengganggu keseimbangan mikrobioma usus.
Faktor Individu yang Tidak Boleh Diabaikan
Satu hal yang konsisten dalam literatur ilmiah adalah bahwa tidak semua orang bereaksi sama terhadap cokelat. Sebuah survei lintas seksional besar yang melibatkan lebih dari 10.000 remaja dan dewasa muda di tujuh negara Eropa menemukan bahwa konsumsi cokelat memang berhubungan dengan peningkatan risiko jerawat, tetapi faktor genetik (riwayat jerawat pada orang tua) tetap menjadi prediktor terkuat (Wolkenstein et al., 2017).
Ini sejalan dengan konsep bahwa jerawat adalah kondisi multifaktorial. Seseorang dengan kulit berminyak secara genetis, kadar androgen yang tinggi, atau respons inflamasi yang lebih reaktif, kemungkinan besar lebih sensitif terhadap efek diet dibandingkan orang dengan profil kulit yang berbeda. Studi dari Iran yang diterbitkan pada tahun 2025 menunjukkan bahwa pasien dengan jerawat berat lebih cenderung mempercayai adanya hubungan antara diet dan jerawat mereka, dan keparahan penyakit berhubungan signifikan dengan keyakinan tersebut (Salemi et al., 2025).
Apa yang Bisa Membantu?
Jika cokelat (dan diet tinggi gula secara umum) bisa memperburuk jerawat, pertanyaan berikutnya adalah apa yang bisa memperbaikinya dari sisi diet? Penelitian konsisten menunjukkan bahwa asam lemak omega-3 — yang banyak ditemukan dalam ikan laut, biji chia, dan kenari — memiliki efek anti-inflamasi yang dapat mengurangi keparahan jerawat. Diet rendah indeks glikemik (lebih banyak sayur, buah, dan biji-bijian utuh) juga secara konsisten dikaitkan dengan jumlah lesi jerawat yang lebih sedikit. Suplemen zinc, selenium, dan probiotik juga menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam beberapa studi, meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut (Conforti et al., 2021; Bungau et al., 2022).
Kesimpulan: Tidak Semua Orang Perlu Menghindari Cokelat
Jadi, apakah cokelat bikin jerawat? Jawabannya adalah: tergantung — pada jenis cokelat, jumlah konsumsi, dan terutama pada kondisi kulit serta faktor genetik seseorang. Cokelat murni dengan kadar kakao tinggi dan rendah gula memiliki profil risiko yang berbeda dibandingkan cokelat susu atau permen cokelat yang manis.
Bagi mereka yang mudah berjerawat, terutama mereka yang sudah menyadari bahwa konsumsi cokelat tampak memperburuk kondisi kulit mereka, mengurangi atau membatasi konsumsi cokelat — khususnya yang tinggi gula — adalah langkah yang masuk akal. Namun, tidak ada dasar ilmiah untuk menyarankan semua orang menghindari cokelat hanya karena takut jerawat.
Yang lebih penting, jerawat adalah kondisi medis yang kompleks dan tidak selalu cukup ditangani hanya dengan mengubah diet. Jika jerawat mengganggu kepercayaan diri atau kualitas hidup, konsultasi dengan dokter atau dokter spesialis kulit adalah langkah terbaik untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan berbasis bukti.
Referensi
Bungau, S. G., Tit, D. M., Vesa, C. M., Abid, A., Szilagyi, D. V., Radu, A. F., Bungau, A. F., Tarce, A. G., Behl, T., Stoicescu, M., Brisc, C. M., Gitea, D., Nechifor, A. C., & Endres, L. (2022). Non-conventional therapeutical approaches to acne vulgaris related to its association with metabolic disorders. European Journal of Pharmacology, 923, 174936. https://doi.org/10.1016/j.ejphar.2022.174936
Conforti, C., Agozzino, M., Emendato, G., Fai, A., Fichera, F., Marangi, G. F., Neagu, N., Pellacani, G., Persichetti, P., Segreto, F., Zalaudek, I., & Dianzani, C. (2021). Acne and diet: a review. International Journal of Dermatology, 61(8), 930–934. https://doi.org/10.1111/ijd.15862
Dall’Oglio, F., Nasca, M. R., Fiorentini, F., & Micali, G. (2021). Diet and acne: Review of the evidence from 2009 to 2020. International Journal of Dermatology, 60(6), 672–685. https://doi.org/10.1111/ijd.15390
Daszkiewicz, M. (2021). Associations between diet and acne lesions. Roczniki Państwowego Zakładu Higieny, 72(2), 137–143. https://doi.org/10.32394/rpzh.2021.0164
Ozdarska, K., Osucha, K., Savitskyi, S., Malejczyk, J., & Galus, R. (2017). Diet in pathogenesis of acne vulgaris. Polski Merkuriusz Lekarski, 43(256), 186–189.
Salemi, M., Dadkhahfar, S., Tehranchinia, Z., Razzaghi, Z., & Ghalamkarpour, F. (2025). Evaluating the association between acne vulgaris and diet: An exploratory study on patient beliefs and perceptions. Journal of Cosmetic Dermatology, 24(7), e70285. https://doi.org/10.1111/jocd.70285
Wolkenstein, P., Machovcová, A., Szepietowski, J. C., Tennstedt, D., Veraldi, S., & Delarue, A. (2017). Acne prevalence and associations with lifestyle: A cross-sectional online survey of adolescents/young adults in 7 European countries. Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology, 32(2), 298–306. https://doi.org/10.1111/jdv.14475
Berdasarkan artikel dari PubMed yang ditelusuri pada Februari 2026.

Tinggalkan komentar